
"Sini-in dulu wajahmu, biar aku bisa obati," ucap Dira menarik dagu Mika yang buang muka tak mau melihatnya.
Setelah pengejaran itu, Mika terlibat perkelahian dengan kedua orang itu. Tidak lama untuk Mika membereskan keduanya karena selain Mika jago karate, ada Josh dan juga Agus yang ikut turut serta membantu. Namun, karena kurang fokus salah satu mereka berhasil melangkah satu pukulan ke sudut bibir Mika hingga pecah.
Keduanya singgah di apotek, dan itu pun atas paksaan Dira. Mika sudah menegaskan beberapa kali bahwa dirinya baik-baik saja tidak perlu membeli a*botil ataupun obat merah untuk mengobati lukanya.
Namun, seperti biasa Dira yang akan menang jika berdebat dengan Mika. Pria itu sudah berada dalam genggaman gadis itu, apapun yang diminta Dira pasti akan dia lakukan.
"Aduh, Mika! Lihat sini dulu!" teriak Dira hampir habis kesabarannya, pria itu terus saja bergerak. Beruntung, mereka sedang duduk di taman yang sepi.
Tidak diindahkan permintaannya, Dira kembali menarik pipi Mika agar melihat ke arahnya. Keduanya kemudian saling tatap, lama dan tanpa kata.
Momen itu membuat Mika reflek mendekatkan wajahnya pada wajah Dira. Degub jantung Dira berdetak lebih cepat, membuatnya gelisah. Wajah Mika semakin dekat, bahkan Dira bisa menghirup napas Mika yang beraroma mint.
"Jangan," desis Dira menutup bibir dengan telapak tangannya. Tapi Mika segera menarik tangan Dira dan terus maju.
Dira melemah, tangannya berhasil diturun pria itu, hingga menyentuh bibir Dira. Tangan Dira yang digenggam Mika terasa dingin. Gugup dan debar jantungnya terus bertalu, dan mungkin Mika bisa mendengar debar jantungnya yang tidak karuan.
Pria itu mencium dengan penuh perasaan, begitu lembut dan terasa memabukkan. Dira yang awalnya hanya diam, bingung harus berbuat apa hanya bisa mengikuti gerakan Mika. Dengan malu-malu mulai berani membuka mulutnya lebih lebar, memberikan akses untuk lidah Mika bermain di mulut gadis itu, mencercap, membelit dan mengisap lebih dalam.
Tubuh Dira bergetar hebat. Tangan kirinya yang berada di sisi tubuh Dira, meremas roknya. Deru napas keduanya saling berpacu. Ini yang pertama bagi Dira. Ciuman pertama yang bahkan tidak dia berikan pada pacarnya, Anja.
Berulang kali Anja meminta, entah mengapa Dira selalu merasa tidak siap dan merasa tidak nyaman untuk melakukannya dengan Anja.
Ada apa dengan dirinya? Mengapa begitu Mika yang mendekat dan mencium bibirnya, dia bukan marah, melawan atau mendorong tubuh pria itu, justru turut serta menikmati ciuman itu.
__ADS_1
Dira merasa bersalah kepada Anja karena sudah berkhianat dia menerima ciuman Mika, bahkan menikmatinya.
Mika melerai ciuman itu setelah beberapa menit me****** bibir Dira. Terlihat Dira mencoba meraup napas sebanyak-banyaknya begitu Mika melepaskan ciumannya.
Setelahnya, keduanya menatap lurus ke depan dengan gugup dan salah tingkah. Diam seribu bahasa sambil meredam degub jantung masing-masing.
Mungkin bagi Mika ini bukanlah ciuman pertamanya, tapi ciuman ini begitu berkesan untuknya karena dia mencium wanita yang benar-benar dia sukai.
"Wajah lu merah!" Mika memecah keheningan di antara mereka.
"Hah? Gak lah. Mana ada, ya," ucap Dira malu, menyentuh pipinya yang terasa panas. Dia yakin yang dikatakan Mika benar, kalau saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Jangan bilang ini ciuman pertama Lu," susulnya masih tetap melihat ke depan.
Tidak adanya jawaban dari Dira membuat Mika tersenyum. Tak perlu menjawab karena Mika sendiri yakin bahwa dialah yang pertama mencium gadis itu, terlihat dari reaksi gugup serta ketakutan di wajah Dira tadi.
"Bukan begitu. Hanya saja aku belum siap memberikan ciuman pertama ku pada Anja!" protesnya yang justru membuat Mika tersenyum. Beberapa detik kemudian berubah menjadi tawa panjang hingga membuat bibir Dira cemberut.
Angin sore itu membelai lembut wajah mereka, mengacak rambut Mika yang terlihat sedikit lebih panjang pada bagian depan. Harusnya pria itu merapikan rambutnya, karena berstatus seorang pelajar.
"Kenapa tadi gak ke sekolah?" tanya Dira setelah beberapa menit diam. Dira sudah berani menoleh pada Mika.
"Aku kesal karena tadi Anja menggandeng tanganmu!"
Dira ingin protes, menyangkal hal itu karena dia tidak merasa kalau hari ini dia jalan dengan Anja. Buktinya saja dia meninggalkan pria itu di sekolah memilih untuk pulang lebih dulu hanya untuk mencari Mika.
__ADS_1
Namun, Dira kemudian ingat saat pagi tadi menunggu Mika, Anja yang juga baru tiba di sekolah, menariknya untuk masuk ke dalam kelas. Jadi, artinya Mika sudah datang ke sekolah, tapi ketika melihat mereka berjalan bersama, pria itu memilih untuk pulang.
"Gua mau masuk sekolah, asal lu jangan lagi bareng Anja!" seru Mika setengah berteriak, suaranya terbawa angin siang itu.
"Mika! Gak bisa gitu. Aku ingin kamu tuh berubah untuk dirinya sendiri, jangan karena keinginan orang lain. Aku di sini karena peduli padamu. Aku mohon," ucap Dira. Dia ingat cerita Anja padanya bahwa Mika adalah anak yang pintar.
Seminggu lalu, saat Anja mengajaknya makan bakso di tempat perkelahian mereka tempo hari, tiba-tiba saja Anja buka cerita.
Awalnya, keduanya membahas mengenai pelajaran terlebih soal yang akan keluar saat ujian nasional nanti. Lalu, Anja memuji Dira yang sangat pintar pelajaran matematika.
"Kamu dong hebat, pintar semua mata pelajaran," jawab Dira. "Sekolah bangga punya siswa yang sering menang lomba olimpiade sains," jawab Dira merendah.
"Sebenarnya, ada siswa yang jauh lebih pintar dari ku. Kalau saja dia masih tekun dan selalu rajin masuk sekolah, mungkin dialah yang berada di peringkat satu. Siswa terbaik dan terpintar di sekolah, bahkan satu kotamadya," ucap Anja menoleh pada Dira dan tersenyum.
Dira diam sesaat, menatap lekat wajah Anja yang saat itu juga tengah melihat padanya. "Siapa?" Akhirnya Dira melayangkan pertanyaan itu. Rasa penasaran dan ingin tahu tentang sosok yang dikatakan oleh Anja yang jauh lebih pintar darinya, membuat gadis itu tidak bisa menahan bibirnya.
Jelas-jelas satu sekolahan tahu bahwa Anja lah yang berada di peringkat satu sejak masuk sekolah Bhinneka.
"Mika!" jawab Anja singkat dan lagi-lagi bibirnya tersenyum.
"Aku dan Mika dulu adalah sahabat baik. Kita berteman sejak kelas 1 SMP. Semua tampak baik-baik saja, kita juga memutuskan masuk di SMA yang sama hingga suatu hari keadaan berubah. Kita berdua menjadi orang yang saling bermusuhan dan Mika sangat membenciku," terang Anja mengenang masa itu. Sorot matanya memperhatikan sekeliling warung itu mengingat pertengkaran mereka tempo hari.
Dira yang baru mendengar kenyataan itu tentu saja terkejut. Bahkan bakso yang sedang dia kunyah, begitu saja dia telan hingga nyangkut di tenggorokannya.
Dira sama sekali tidak menyangka bahwa kedua pria yang saling bermusuhan itu adalah teman dekat. Rasa penasarannya kembali membuat gadis itu menanyakan lebih jauh pada Anja.
__ADS_1
"Kenapa kalian bisa jadi musuhan?"