
"Lu gak masuk lagi?" tanya Mpok Lela, wanita yang biasa bersih-bersih di basecamp geng Black Davil. Menatap jengah pada Mika dan beberapa temannya yang juga masih tidur di sofa ruang tamu, hanya Mika yang sudah bangun dan terdidik dengan sebatang rokok terselip di sela jarinya.
"Udah pintar, Mpok," jawabnya tersenyum geli, wanita langsung memasang duck face, yang buat tawa Mika pecah. Hanya Mpok Lela yang mampu bertahan lama mengurus basecamp dan juga mereka. Kadang saat mau pulang, dan melihat anak-anak itu kelaparan, Mpok Lela dengan ringan tangan menyiapkan makanan bagi mereka, padahal bukan tugasnya.
"Mpok kadang gak ngerti sama kalian. Orang tua pada kaya, punya duit buat bayar uang sekolah, tapi malah gak sekolah. Di luar sana, noh, banyak yang pengen banget sekolah, tapi gak mampu karena gak punya duit," celotehnya. Selalu begitu, jadi anak-anak Black Davil sudah biasa saja menanggapi, tidak ada protes atau marah, justru mereka sangat sayang pada wanita itu.
Wanita berlalu membawa gerutunya, meninggalkan Mika larut dalam pikirannya. Seseorang yang belakangan ini masuk dalam perhatiannya, semakin mengusik hati dan pikirannya.
Mika sedang memikirkan semua kebaikan hati Dira. Selama ini dia menjadikan Dira sebagai pelampiasan amarahnya pada Anja.
Anja...
Dulu nama itu sering terucap dari bibir Mika. Tidak hanya nama, bahkan pria itu selalu ada di samping Mika sejak mereka masuk sekolah SMP. Menjadi sahabat dekat yang orang nilai tidak akan mungkin menjadi musuh. Berlanjut ke SMA, hingga saat kelas dua terjadi perkelahian yang berat di antara mereka hingga keduanya tidak bertegur sapa hingga menjadi musuh.
Kalau memikirkan permusuhan, akan ada satu nama yang memicu hal itu. Nama yang setiap saat akan mendatangkan kesedihan di hati Mika. Luna. Gadis yang kini sudah bersama pencipta nya, dan Mika tidak akan memaafkan Anja karena hal itu.
***
"Hei, kamu udah lama nunggu?" tanya Anja memberikan helm pada Dira. Mereka janji bertemu di simpang empat tidak jauh dari sekolah mereka. Hal itu demi terhindar dari pantauan Mika.
Sudah seminggu sejak kejadian perkelahian antar geng motor itu, dan selama itu pula, Dira tidak pernah bertemu dengan Mika.
Walau tidak suka pada pria itu, tapi Dira tidak bisa membohongi hatinya kalau dia merasa khawatir dengan keadaan pria itu.
"Baru aja," jawab Dira tersenyum, membuat wajahnya semakin cantik. Lalu naik ke atas motor Anja dan segera berlalu dari sana.
Mungkin benar, selama hampir seminggu ini mereka aman. Bisa pergi berdua tanpa adanya rasa takut kalau Mika adakan memergoki mereka. Tapi tidak dengan kali ini. Foto mereka yang tertawa bersama sebelum pergi, sudah sampai ke layar ponsel Mika dan saat ini sedang diamati pria itu.
Tanpa sadar dia merasa dadanya. Ada sakit, dan juga tidak suka. Kenapa Dira memilih untuk tetap pergi bersama pria itu, padahal sudah jelas kalau semua orang tahu kalau dia adalah pacar gadis itu.
__ADS_1
Namun, satu hal yang sulit dijelaskan oleh Mika, kenapa awalnya hanya main-main, tanpa melibatkan perasaan, kini justru dia merasa dikhianati?
Lagi-lagi Mika menganggap kalau hal itu hanya karena dia tidak suka miliknya disentuh orang lain, dan Dira adalah miliknya. Kalau dia sudah bosan nanti, maka dia yang akan membebaskan gadis itu.
"Sial! Lu mau main-main sama gua, ya!" umpat Mika melempar ponselnya ke atas meja, lalu menendang meja itu hingga isi yang ada di atasnya jatuh ke lantai.
***
"Selamat dat..., Kamu? Gimana keadaan mu?" tanya Dira kalau melihat Mika lah yang datang, bukan pelanggan.
Mika tidak menjawab, mengambil tempat duduk dimana biasanya berada. Memasang wajah tidak peduli dan dingin seperti biasanya.
Dira ingin sekali tidak memedulikan, tapi tidak bisa. Dia mendatangi pria itu, membawakan teh untuknya.
Mata Mika melirik gelas yang ada di depannya. Kenapa gadis itu menyuguhi nya minuman, padahal dia belum pesan.
"Tapi gua belum pesan. Ini apa? Warnanya kok butek begini?"
"Air jahe gila aren," jawab Dira memperhatikan reaksi Mika. Tampak geli dan tidak suka pada apa yang ditawarkan Dira.
Mika mendorong gelas itu menjauh, bentuk penolakannya terhadap minuman itu. Dira mengulum senyum, lalu mendorong lagi ke hadapan Mika. Pria itu mengangkat wajahnya, melihat Dira yang mencoba memaksanya untuk minum.
Tatapan Dira tidak memaksa, tapi jelas berharap kalau dirinya mau menghabiskan minuman itu, hingga Mika mengalah dan menghabiskannya.
"Puas?"
"Terima kasih," jawab Dira tersenyum, lalu membawa gelas itu ke dalam. Untuk beberapa jam ke depan, Dira sibuk dengan banyak pelanggan datang silih berganti. Sesekali dia melirik ke arah Mika, pria itu masih tetap betah di sana, bermain game dalam ponselnya.
Suatu hal luar biasa seorang Mika Angelo bisa bertahan duduk diam di kursinya menunggui Dira. Pengorbanan yang tidak pernah dia lakukan pada gadis manapun.
__ADS_1
"Kau lapar? Mau makan?" tanya Dira yang pada akhirnya mendatangi Mika.
"Kau sudah selesai bekerja?" pertanyaan Dira dijawab dengan pertanyaan oleh Mika. Tampaknya pria itu memang sudah tidak bersemangat dan bosan untuk menunggu lebih lama. Empat jam bukan waktu yang sebentar. Dari terang di luar sana hingga berubah jadi gelap, Mika tetap setia.
"Belum. Aku selesai jam 9 malam. Kamu pulang aja duluan. Jangan menungguku," ucap Dira lembut. Wanita itu hanya tidak ingin Mika kelelahan pasca luka di tubuhnya.
Namun, berbeda dengan isi pikiran Mika. Pria itu justru berpikir kalau Dira memintanya pulang agar dia bisa jalan berdua dengan Anja.
Anja akan menjemput Dira saat nanti pulang kerja. Memikirkan hal itu membuat amarah pria itu bangkit. Dia merasa kedua orang itu sudah membohonginya.
"Biar apa? Biar lu bisa pulang bareng si brengsek itu? Jangan lu pikir gua gak tahu, kelakuan lu sama dia di belakang gua! Dasar cewek ganjen!" umpatnya membuang muka. Lagi-lagi dia tidak bisa mengontrol emosinya.
Dira tersinggung, menyambut panji perang yang dikibarkan Mika.
"Kamu kenapa, sih? Pikiran kamu itu kotor!"
"Lu mau mau ngelak?!" teriak Mika hingga membuat beberapa pelanggan menoleh kearah mereka.
Dira yang gelagapan akhirnya menarik tangan Mika keluar lewat pintu samping. Jangan sampai pria gila itu membuat onar di dalam cafe.
"Maksud kamu apa, sih? Kenapa buat ribut di dalam? Itu tempat kerja aku. Gimana kalau sampai aku dipecat?" pekik Dira mulai mengeluarkan amarahnya.
Dia tidak akan diam saja kalau Mika berusaha membuatnya dipecat.
"Gua gak peduli! Gua muak sama sikap munafik lu! Apa lu pikir gua gak tahu kalau lu sering jalan sama si brengsek itu? Kemana lu tadi pulang sekolah? Pinter lu ya, janjian di perempatan jalan dekat sekolah!"
Asli, wajah Dira berubah pucat. Dia tidak menyangka kalau pria itu mengetahui kejadian itu. Mika maju lebih dekat pada Dira, menangkup dagu gadis itu dan memegangnya kuat.
"Jangan pikir lu bisa begoin gua! Sekali lagi gua lihat lu dekat sama dia, gue mampusin Anja!" umpatnya segera mengeluarkan amplop coklat dari balik jaket jeans nya lalu melemparkan ke arah Dira, jatuh tergeletak di ujung sepatu Dira.
__ADS_1