Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Mika yang Baru


__ADS_3

Ada yang aneh pada diri Mika. Pria itu berubah sangat drastis. Kalau kedatangannya kemarin siang ke kelas sudah membuat Dira kaget, dan tentu saja teman-temannya juga pasti tidak menduga kalau gangster sekolah akan datang ke kelas mereka.


Namun, keterkejutannya tidak sampai di situ. Dira semakin dibuat gak habis pikir akan perubahan signifikan dari Mika.


Coba saja bayangkan, berandalan sekolah itu kini hampir tiap hari hadir di sekolah, mengikuti pelajaran. Kalau hal itu belum membuat tercengang, maka lihat saja di mushola sekolah, maka sosok yang dianggap tidak akan mungkin ada di sana, justru sudah beberapa kali mampir.


"Gila, kamu luar biasa sekali jadi pacar. Bisa mengubah hitam jadi putih, berandalan jadi anak baik-baik, iblis jadi malaikat. Bangga banget punya teman kayak kamu," ucap Rini menatap kagum pada Dira.


Sejak itu satu sekolahan memandang takjub pada Dira. Bahkan guru dan staf administrasi jadi segan pada Dira. Kalau dulu menghargai gadis itu karena prestasinya, kini karena dianggap berhasil menjinakkan Mika. Sampai muncul semboyan Dira pawang Mika.


Perhatian kepala sekolah pun tidak luput pada Dira. Pria itu bahkan memanggil Dira ke ruangannya.


"Bapak manggil saya?" tanya Dira setelah mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.


"Oh, silakan masuk, Andira. Duduk," ucap kepala sekolah kini memusatkan perhatiannya pada Dira.


Sebelum mengatakan keinginannya, Pak Saiful tersenyum pada Dira. "Bapak dengar, kamu dan Mika pacaran, ya?"


"Hah? Itu... Bukan begitu, Pak. Saya sama Mika cuma teman," jawab Dira kikuk. Dia pikir kepala sekolah memanggilnya teringat bea siswanya.


"Loh, tapi kabar yang saya dapat, kamu pacaran dengan Mika, hingga buat anak badung itu jadi lebih baik sekarang," jawab kepala sekolah, mengunci tatapan Dira hingga tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kami gak paca-"


"Sudah. Kamu tetap aja pacaran sama dia kalau memang itu bisa buat dia berubah seperti ini. Kamu tahu betul satu sekolahan pusing dibuatnya selama ini, tapi setelah berubah, kini bapak, guru dan semua murid bisa tenang, tidak ada lagi preman sekolah. Lihat aja, dia malah mau ke mushola," tukas kepala sekolah mengunci jawaban Dira hingga gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi.


Dia memilih untuk pamit. Dia sendiri bingung dengan perubahan Mika selama hampir dua Minggu ini.


Sejak dia mendatangi dirinya dan mengajak makan siang bersama di kantin, pria itu akhirnya terus melakukan. Selalu berada di sisinya, mengikuti kemana pun Dira pergi.

__ADS_1


"Ke kantin, yuk. Para guru lagi rapat tuh," ucapnya muncul di depan Dira. Sontak semua anak di kelas itu terdiam. Mana berani ribut kala ketua geng motor masuk ke kelas mereka.


"Aku gak bisa, mau ke mushola," jawab Dira yang sedikit jengah diikuti Mika terus. Ruang geraknya di sekolah dipersempit. Bahkan Dira juga gak punya waktu untuk bercanda ria bersama teman sekelasnya. Jam istirahat Dira selalu dimonopoli oleh Mika.


"Ngapain ke sana?" tanya pria itu tanpa beban. Dia ini bodoh atau apa, memangnya dia gak tahu, mushola itu tempat apa?


"Menurut kamu?" tanya Dira jengah, memutar bola mata bentuk kekesalannya pada Dira. Gara-gara perubahan Mika, dia jadi dianggap jadi orang yang bertanggung jawab menjaga laku pria itu, seolah dia adalah baby sitter Mika.


Hidupnya sudah berat, ditambah lagi masalah dengan Mika. Dia tidak mau selalu dihubung-hubungkan dengan Mika terus. Bahkan Anja juga sempat menghubunginya mengenai perasaan Dira pada Mika.


"Dia sampai berubah segitunya, benar kamu gak jatuh cinta sama dia? Hingga bisa buat dia berubah? Jangan-jangan kalian benar-benar pacaran?" tanya Anja terdengar lirih lewat pesawat telepon.


"Aku gak mungkin jatuh cinta sama dia, Ja. Aku juga gak tahu kenapa dia bisa berubah kayak gitu," jawab Dira berulang kali meyakinkan Mika kalau dia tidak ada hubungan apapun dengan Mika, sekalian pura-pura menjadi pacarnya.


"Ingat ya, Ra. Kamu jangan kasih hati kamu sama dia, jangan mau menerima apapun dari dia," ucap Anja tegas.


"Aku gak bisa terima uang ini. Ambil," pinta Dira pagi itu saat mereka baru tiba di sekolah.


"Itu uang mu. Biaya berobat gua waktu itu."


"Tapi ini kebanyakan. Lagi pula aku ikhlas membantumu saat itu," ucap Dira memaksa, meletakkan amplop itu ke pangkuan Mika.


Pria itu melemparkan kembali pada Dira, lalu pergi meninggalkan gadis itu.


Mika sudah mendatangi klinik itu dan bertanya berapa biaya yang dibayarkan Dira malam itu, dan setelah mendapatkan rinciannya, Mika bergegas datang malam itu ke cafe untuk mengembalikan uang itu. Dia sengaja mengembalikan hingga dua puluh kali lipat. Berencana mengucapkan terima kasih, tapi yang ada justru pertengkaran yang terjadi di antara mereka.


"Mau sholat? Tanya Mika cengengesan.


"Nah, itu kamu tahu. Mika bisa gak kamu gak usah ikutin aku terus. Menjauh dariku!" pekiknya.

__ADS_1


"Gak bisa, Lu kan pacar gua!" jawabnya santai.


"Tapi aku gak suka sama kamu. Kita sama-sama tahu, kalau hanya kau yang mengakui hubungan itu dan kau lakukan karena ingin menyakiti Anja!" tukas Dira nyelekit. Dia sama sekali tidak takut jika karena perkataannya Mika jadi marah.


"Oh, Lu ngebelain baji*ngan itu?" hardiknya tegas, mengubah riak air wajah Mika.


"Iya. Bagi aku Anja lebih baik dari kamu. Aku suka nya sama Anja!"


Mika mengepal tinjunya. Ingin sekali marah tapi dia tidak tega. Menatap emosi pada gadis itu dan memilih untuk pergi membawa amarahnya. Sementara Dira hanya bisa melihat punggungnya dengan hati bergemuruh sedih.


***


"Kenapa cemberut?" tanya Anja lembut. Menyentuh pipi Dira saat makan di warung bakso langganan mereka.


Dira hanya tersenyum, lalu menggeleng lemah. Dia masih memikirkan wajah Mika yang terlihat kecewa dan penuh sedih.


Kenapa hal itu begitu mengganggu pikirannya. Harusnya dia lega mengatakan hal itu pada Mika, agar pria itu sadar dan mulai menjauhinya.


"Sayang, baksonya kok gak dimakan?" Anja meletakkan sendok dan memutar kepalanya ke arah Dira, menatap wajah gadis itu yang sejak tadi bengong.


"Hei, aku gak suka kamu melamun gini, saat aku lagi sama kamu," ujarnya dengan begitu lembut.


"Maafkan ya, Ja," jawab Dira mencoba tersenyum.


Keduanya saling menatap lama hingga jantung Dira berdegup kencang. Wajah Anja semakin dekat, seiring jantung Dira yang semakin bertalu. Jarak diantara keduanya bahkan tidak ada lagi, hingga Dira bisa merasakan napas Anja menyapu wajahnya. Dira tahu kalau Anja akan menciumnya dan memilih menutup mata.


Namun, saat menunggu bibir pria itu sampai, justru suara gaduh yang didengarnya. Dira membuka mata dan mendapati Mika sudah menyeret Anja menjauh. Mika menarik kerah baju Anja, lalu melemparkan kan ke sudut warung.


"Gua habisi Lu! Berani-beraninya Lu nyentuh dia!" umpat Mika memberikan satu bogem mentah ke rahang Anja.

__ADS_1


__ADS_2