Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Menunggu Mika


__ADS_3

"Sampai sini aja," ujar Dira menepuk pelan pundak Mika, ketika mereka tiba di persimpangan perumahan tempat tinggalnya.


"Kenapa gak sekalian ke rumah?" tanya Mika ingin melihat reaksi Dira. Gadis itu masih saja menyimpan jati dirinya yang sudah menjadi dewi penolong bagi Mika.


"Ga usah. Om ku pemarah. Kamu pulang aja, ya. Hati-hati di jalan. Ingat, kamu udah janji sama aku untuk masuk sekolah besok," ucap Dira menatap penuh harap.


Mika tidak menjawab. Dia masih ragu atas permintaan gadis itu. Lagi pula apa yang ada dipikiran Dira tiba-tiba saja peduli akan masa depannya. Apa gadis itu tidak ingat kalau dirinya sudah mencampakkan Mika?


"Ya udah sana jalan," ujar Mika menunjuk gang sempit yang harus dilalui Dira.


Dira mengangguk, lalu memutar tubuhnya dan mulai menapaki langkahnya. Lima langkah berjalan, dia menoleh kebelakang, pria itu masih ada di sana, memperhatikan dirinya.


Debar jantung Dira kian terpacu, tatapan Mika selalu mampu membuatnya salah tingkah. Tiba-tiba langkahnya terhenti kala mengingat sesuatu yang membuatnya pucat.


"Tunggu dulu, bagaimana Mika tahu kalau gang ini yang harus dia lalui untuk sampai ke rumah?" batinnya. Reflek, dia kembali menoleh kebelakang, tepat saat pria itu bersiap pergi dari sana.


Apa mungkin Mika udah tahu kalau aku tinggal di rumah Lily? Tapi sepertinya, saat pria itu datang, Dira tidak menunjukkan wajahnya!


Semua pertanyaan itu dibungkus untuk besok. Semoga saja hanya kebetulan, Mika menebak gang itu.


***


Dira tiba di sekolah lebih cepat 20 menit dari bisanya. Dia juga tidak serta-merta masuk ke kelas setelah tiba di sekolah, justru berdiri di pos satpam, sembari memperhatikan satu persatu siswa yang mulai berdatangan.


Hingga 30 menit berlalu, orang yang dinanti tak kunjung datang. Tapi dia belum putus harapan, mungkin saja Mika terlambat.


"Ngapain kamu disitu? Jangan bilang nungguin aku datang? Kamu kangen sama aku?" tanya Anja tersenyum, mendekati Dira di pos satpam.


Saking fokus pada sosok urakan namun tampan itu, Dira bahkan tidak sadar kalau Anja sudah datang.


"Oh, Ja. Aku... aku lagi nungguin... Rini," ucapnya cepat. Dia tidak mungkin mengatakan sedang menunggu Mika.


"Maaf, Ja. Aku bohong sama kamu," batin Dira merasa bersalah. Ini semua demi masa depannya. Lagi pula Dira tidak punya pilihan lain, selain mengikuti permintaan tuan Hendardi kalau tidak dia akan dikeluarkan dari sekolah.

__ADS_1


"Nunggunya di kelas aja, yuk," Anja sudah menarik tangan Dira dengan posesif. Dira tidak punya pilihan selain mengikuti langkah pria itu.


Tanpa diketahui Dira, orang yang sedari tadi dia tunggu ada dibelakangnya. Melihat dengan tatapan penuh kecewa.


Mika tidak jadi melangkah masuk ke gerbang sekolah, justru memutar tubuhnya kembali dan pulang.


Seharusnya dia tidak perlu marah melihat apa yang ada di depannya tadi. Dira memang memintanya untuk datang kembali bersekolah seperti anak lainnya, tanpa mengiming-imingi bahwa gadis itu akan kembali padanya. Tapi sejujurnya, hati Mika belum siap melihat kedekatan Anja dan juga Dira.


"Dira, nanti aku ada rapat, kamu tungguin atau pulang duluan?" tanya Anja saat di kantin pada jam istirahat kedua.


Mi ayam yang ada di hadapannya tidak sedikitpun disentuh oleh Dira. Dia sudah menolak ketika Anja memaksa untuk memesankan mi ayam untuk nya. Dira sama sekali tidak punya selera makan, pikirannya terus melayang kepada sosok Mika yang tidak datang ke sekolah hari ini.


"Ra, kamu dengar, gak?" tanya Anja menyentuh lengan Dira lembut.


"Hah? Kenapa, Ja?" jawab Dira gelagapan.


"Nanti kita pulang bareng apa kamu mau pulang duluan? Aku ada rapat OSIS sebentar," ulang Anja berharap kalau Dira akan memilih option pertama.


***


Begitu bel pulang bunyi, Dira segera mengambil langkah seribu setelah guru keluar dari kelas. Bahkan untuk berpamitan pada hari ini pun dia tidak sempat.


Dia harus mencari Mika lagi dan mempertanyakan alasan pria itu tidak masuk sekolah hari ini.


Dira sudah setengah jam menunggu, tapi orderan ojeknya belum juga sampai. Dira memutuskan untuk berjalan ke arah halte, siapa tahu ada angkot yang lewat walau dia pesimis.


"Lu anak Bhineka, ya?" hardik seseorang yang sudah berdiri di depannya. Tempat tunggu angkutan umum itu memang sepi. Hampir tidak ada lagi orang yang menggunakan fasilitas umum itu karena sudah banyaknya ojek online yang lebih murah dan juga lebih efisien dalam memesan.


"I-iya, kenapa?" tanya Dira gugup, tapi berusaha untuk menutupinya.


"Jadi, Lu teman satu sekolahnya Mika? Ketua geng motor Black Davil?" lanjut pria yang satunya. Dira memperhatikan seragam sekolah mereka yang sangat familiar. Sekolahnya dan sekolah anak-anak itu selalu menjadi musuh bebuyutan.


"Iya..."

__ADS_1


"Mana teman Lu itu? Bang*sat itu udah buat adik gua masuk rumah sakit?" umpat pria yang miliki tubuh lebih berisi itu.


Wajah Dira seketika memucat. Baru menyadari kalau kedua orang itu adalah musuhnya Mika.


"Gimana kalau kita bawa aja dia ke basecamp, suruh Mika datang sendiri, terus kita pukuli?" saran pria yang mirip dengan Vicky Prasetyo.


Dira tidak bisa lagi mengatur detak jantungnya bahkan untuk bernapas saja dia sudah ketakutan.


"Jangan dekati aku. Pergi, kalau gak aku akan teriak!" seru Dira


Seperti sudah biasa menggunakan senjata pria yang lebih tambun itu segera mengeluarkan belati dari balik pinggangnya dan mengarahkannya ke hadapan Dira membuat gadis itu tidak punya pilihan lain selain menutup mulutnya.


"Lu ikut atau gua habisi lu di sini!"


Keduanya menarik paksa Dira yang tidak berdaya masuk ke dalam mobil Jeep milik mereka. Air mata Dira tumpah seiring bibirnya menyebut nama Mika.


Mika dibawa entah kemana, melewati simpang empat, dan sempat berpapasan dengan Josh.


Untungnya Jos melihat kedua musuh mereka itu bersama Dira di dalam mobil tanpa pintu itu. Seketika Josh bingung harus mengejar mobil itu atau mencari Mika dan mengabarkan perihal penculikan Dira.


Josh memutuskan mencari Mika di warung Abah Tohir.


"Apa kata Lu?"


"Buruan, biar sempat mengejar mereka!" ujar Josh penuh semangat.


Bukan waktunya untuk panik. Bayangan wajah Dira yang penuh ketakutan membuat Mika mengepal tinjunya. Segera Mika menghidupkan motornya dan dengan penuh amarah mengejar mobil Jeep yang membawa Dira.


Dengan kecepatan penuh, akhirnya Mika yang memang mengenali mobil itu berhasil menghentikan niat jahat kedua orang itu.


Mika menghadang laju mobil dengan berhenti di depannya, lalu tanpa peduli dengan motor itu, Mika keluar dan menarik kerah kemeja pria yang mirip dengan Vicky Prasetyo hingga keluar dari dalam mobil.


"Ba*jingan! Berani Lu nyentuh dia, hah! Gua mampusin Lu sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2