
"Katanya mau antar aku ke tempat kerja, kenapa malah dibawa ke sini?" Pekik Dira ketika motor pria itu sudah berhenti di depan basecamp mereka. Dira harus masuk kerja karena sudah beberapa kali libur.
Setelah dari taman kota, Mika memaksa untuk singgah ke warteg.
"Aku lapar, temani aku makan!" ucapnya santai sembari menghidupkan mesin motor. Dira menurut, naik ke motor gede itu dengan sedikit kesusahan.
Ketika sudah selesai makan tadi, Mika berjanji akan mengantarnya ke tempat kerja. Dia sudah minta untuk pulang naik ojek saja, tapi Mika tentu saja bersikeras memaksa untuk mengantar.
"Gua yang akan ngantar lu!" serunya memaksa. Tapi kenyataannya, Mika justru membawa Dira kembali ke basecamp.
"Kita singgah dulu, gua mau ganti baju," jawab Mika memaksa Dira turun dari motornya. Dira tidak punya pilihan, dia memang masih memiliki beberapa jam lagi untuk masuk kerja.
Namun, lagi-lagi tingkah Mika buat Dira kesal. Bagiamana tidak, setelah menunggu setengah jam di ruang tamu, pria itu tidak kunjung keluar dari kamar, yang terpaksa membuat Dira memanggil ke sana.
"Loh, katanya mau ganti baju, kok malah tiduran?" tanya Dira mengerutkan kening.
"Aku capek. Aku tidur bentar ya," ujar Mika mendudukkan dirinya, menatap Dira yang cemberut diambang pintu. Dia merasa dipermainkan pria itu.
"Ya udah, kamu istirahat aja, aku pulang naik ojek," jawab Dira memutar badan bersiap pergi, tapi sigap Mika menarik tangannya.
Tanpa diduga, Mika sudah membawa Dira masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan Dira di ranjang.
"Mika! Kamu apa-apaan, sih?" pekik Dira yang terkejut, tapi anehnya dia tidak takut pada pria itu. Dia percaya pada Mika kalau pria itu tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
"Aku mau lagi, Dira," bisiknya duduk di sebelah Dira.
Sontak gadis itu menarik tubuhnya menjauh dari pria itu. Mau lagi? Maksudnya apa?
"Mau lagi apa?" tanya Dira mulai gugup. Perasaannya mulai gak enak melihat air muka pria itu.
"Mau ini," bisiknya mendekat, menyentuh bibir Dira dengan lembut dan memuja. Pria itu terlena akan rasa yang dicercap nya dari bibir gadis itu. Dira pasrah, tidak ada penolakan, memberikan akses seluas-luasnya pada Mika.
Dering telepon Mika membuatnya harus menghentikan ciuman itu. "Nanti kita lanjutkan," bisiknya membelai pipi Dira yang sudah memerah. Dalam satu hati ini dia sudah dua kali dicium Mika, dan dia tidak menolak!
Wajah Mika memucat, entah siapa temannya bicara di seberang sana.
"Lu tunggu gua di sini!" perintahnya dengan serius, lalu pergi meninggalkan Dira di kamar itu.
__ADS_1
***
Sudah setengah jam Mika pergi, Dira ingin memutuskan pergi saja, tapi pria itu berulang kali memperingatkannya untuk menunggu. Anehnya hatinya tidak ingin membantah.
Lagi pula sebenarnya tubuh Dira juga sangat lelah, dan terasa tulangnya linu semua, matanya juga panas, mungkin karena dia kemarin kehujanan saat pulang dari tempat kerja.
Entah ke mana Mika pergi, nomornya tetap tidak bisa dihubungi. Dira sudah beberapa kali mencoba, tapi tetap tidak aktif.
Dira memutuskan untuk menunggu di luar, duduk di ruang tamu. Dia gak mau nanti teman-teman Mika datang dan mendapati dirinya di kamar.
Dia memilih untuk tetap duduk di tempatnya menyibukkan diri memperhatikan media sosial miliknya melalui layar ponsel.
Akhirnya Dira harus rela gajinya dipotong lagi. Dia meminta maaf, sekaligus meminta izin untuk tidak masuk kerja lagi, dengan alasan sakit.
Beruntung, temannya mau menggantikan nya lagi hari ini, hingga tidak perlu diketahui oleh big bos cafe.
Lelah menatap layar ponselnya, Dira jatuh tertidur. Entah sudah berapa lama dia tertidur hingga dia tidak sadar kalau Mika sudah kembali.
Ternyata Mika pergi untuk membantu Josh dan Agus yang dikeroyok oleh teman-teman kedua pria yang coba menculik Dira tadi.
"Woi, udah tidur aja Lu," Hardiknya meletakan kantong plastik putih berlogo swalayan tepat dia belanja. Dia sengaja singgah ke Indomart membelikan minuman dan cemilan untuk Dira.
"Lu demam?" ujarnya lebih pada dirinya sendiri.
"Bangun, Ra. Lu kalau mau tidur jangan di sini," ucapnya, tapi Dira masih bergeming, larut dalam pusaran mimpinya.
Tidak ingin melihat tubuh Dira yang kesakitan tertidur di kursi kecil itu, Mika memutuskan untuk mengangkat gadis itu ke kamarnya.
Hanya Mika yang tidur di kamar itu, dan tidak ada siapa pun yang boleh masuk ke dalam.
Di rumah itu terdapat lima kamar, dan empat diantaranya boleh ditempati siapa saja yang datang ke sana tapi tidak untuk kamar Mika.
Pria itu memang sangat bersih dan selalu mengganti seprei nya. Mika membaringkan Dira di sana dengan perlahan, agar gadis itu tidak terbangun, lalu membuka sepatunya dan menyelimuti.
Kembali dia meletakan telapak tangannya di atas kening gadis itu, memastikan memang Dira sedang demam.
Mika bingung, dia ingin pergi ke apotik membeli obat, tapi khawatir kalau harus meninggalkan Dira sendiri dalam keadaan tidur seperti ini.
__ADS_1
Tidak ada jalan lain, Mika memutuskan untuk pergi ke apotek terdekat, dan demi keamanan Dira, dia mengunci pintu kamarnya.
Dengan kecepatan tinggi, dia ngebut menuju ke apotek terdekat untuk membeli paracetamol dan alat kompres.
Dia kembali, berlari memasuki rumah seolah tidak punya waktu untuk menyelamatkan Dira kalau berjalan dengan santai.
"Minum dulu," ucapnya membantu Dira untuk duduk dan memasukkan sebutir pil paracetamol ke dalam mulutnya.
Gadis itu sempat menolak tapi Mika memaksa lalu meminta dengan lembut, hingga gadis itu menurut dan mau mendorong obat dengan air dalam botol yang dia sodorkan.
Lalu perlahan Dira dibaringkan kembali, karena tampaknya gadis itu begitu lemas karena demamnya, hingga dia dengan cepat sudah kembali tertidur dengan pulas.
Mika ingin menarik tangannya yang menyangkut di leher Dira, namun melihat gadis itu tidak mau bergerak untuk mengangkat kepalanya, Mika akhirnya memutuskan untuk membiarkan saja gadis itu tertidur dengan menimpa pergelangan tangannya.
Dia duduk di tepi ranjang sembari menatap wajah Dira yang tertidur pulas. Mika berinisiatif untuk melepaskan ikat rambut gadis itu agar membuat Dira merasa nyaman untuk tidur.
Lama dia mengamati wajah gadis itu, tampak sangat teduh dan dia merasa ada getaran aneh di hatinya. Entah mengapa sorot mata Dira begitu menghipnotis Mika.
Pertemuan pertama mereka di sekolah bahkan sanggup membuat pria itu uring-uringan karena mengetahui bahwa Anja mengejarnya dan lebih dari itu, karena Dira juga memberi respon positif kepada perhatian Anja.
Mika tidak akan membiarkan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Menyadari akan hal itu membuat Mika memilih untuk pergi menjauh dari Dira. Mungkin dia malu dan tidak siap mengakui kalau dia sudah terjerat oleh seorang gadis cupu yang bahkan tidak diperhitungkan di sekolah itu.
Bukan termasuk gadis yang berada diurutan gadis tercantik, bukan juga gadis yang diminati banyak pria bahkan dari segi penampilan pun Dira jauh dari gadis-gadis sebayanya di sekolah itu. Kalau bukan karena beasiswa, Dira tidak mungkin ada di sekolah itu. Tapi Mika suka!
Justru kesederhanaan dan kepolosan gadis itu yang membuat Mika menoleh ke arahnya. Dia suka keberanian dan ketulusan gadis itu.
Dulu Anja sudah membuat gadis yang dia sayangi pergi untuk selama-lamanya, tapi tidak dengan yang ini. Mika akan mempertahankan Dira di sisinya, walau hanya sekedar jadi pengagum rahasia.
Ketika Josh memberikan solusi padanya untuk merebut Dira dari tangan Anja, tentu saja dia ingin melakukan, hingga terpikirkan untuk memancing Anja dan teman-temannya untuk bertanding basket.
Dia memang sempat memiliki Dira, tapi gadis itu justru menyukai Anja. Apa gunanya dia merebut Dira dari tangan pria itu, sementara gadis itu justru hanya menyukai Anja?
Bisa saja dia merebut paksa gadis itu, bahkan mengancam kalau tidak mau berpacaran dengannya maka dia akan menyusahkan Dira selama di sekolah itu, tapi dia tidak sanggup melihat gadis itu menderita, hingga Mika memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka dengan diakhiri baku hantam dengan Anja di warung bakso.
Dira sangat berarti baginya. Pada saat Josh memberitahu kalau gadis itu diculik, Mika seperti dicekik, sulit bernapas karena mengkhawatirkan Dira. Tidak ada yang boleh menyakiti gadis itu. Wajah Mika memucat, jantungnya seolah berhenti berdetak dengan sekuat tenaga dia mengejar Jeep itu, dan menyelamatkan Dira.
__ADS_1
Panjangnya khayalan Mika yang saat ini terpesona menikmati wajah gadis itu, semakin membuatnya tidak bisa melepas Dira. Tapi apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan gadis itu?
"Apa yang harus gua lakukan buat lu jatuh cinta sama gua?" bisiknya mengecup pelan bibir Dira untuk ketiga kalinya.