Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Menyelamatkan kedua Kalinya


__ADS_3

Perasaan Dira campur aduk. Takut, gugup dan khawatir. Takut kalau mereka dikejar oleh lawan Mika, gugup karena harus membawa motor bebek yang sudah dimodifikasi hingga sulit untuk dibawa, dan khawatir kalau Mika yang saat ini dibonceng di belakangnya mati.


Sesekali Dira mengulurkan satu tangannya ke belakang, karena tubuh Mika merenggang dari punggungnya, jangan sampai pria itu jatuh.


"Aku mohon bertahanlah," bisik Dira menarik kembali punggung Mika yang akan jatuh ke belakang. Dira bahkan menitipkan air mata, ketakutan kalau sampai Mika tidak bisa selamat karena lama mendapatkan pertolongan.


Dira menarik tangan Mika, melingkarkan di pinggangnya. "Pengang aku, Mika! Aku mohon tetap bersamaku," ucapnya lirih.


Akhirnya mereka melalui sebuah klinik praktek bidan yang masih buka. "Bu, tolong teman saya," ucap Dira yang sudah memasuki halaman klinik itu, sengaja berteriak agar bidan yang bertugas keluar membantunya memapah Mika.


Bergegas dua orang wanita yang tampaknya salah satu adalah perawat membantu Dira menurunkan Mika dan membopongnya ke dalam.


"Temannya kenapa, dek?" tanya bidan itu bergidik ngeri melihat luka sayatan dan punggung dan juga perut Mika sesaat setelah membuka pakaian Mika.


"Ada orang jahat tadi menghadang kita, Bu. Begal mungkin," jawab Dira yang sejak di jalan sudah menyiapkan jawaban. Dia tahu kalau sampai Dira mengatakan yang sebenarnya, pihak klinik pasti akan memperpanjang hingga memanggil polisi, takut luka itu adalah luka perkelahian sampai ada yang mati.


"Astaghfirullah, kasihan kali kalian. Beruntung kalian bisa selamat. Lagian kenapa masih di luar, sih malam-malam begini?" tanya sang bidan mulai mengobati luka Mika, sementara pria itu sudah tidak sadarkan diri terbaring miring di ranjang dorong.


"Temannya kehilangan banyak darah hingga lemas. Jadi harus di opname bareng satu malam," terang Bidan itu.


Dira bingung, dilema banget. Kalau dia gak pulang, pasti dimarahi Tante Merlin, tapi kalau harus meninggalkan Mika sendiri di sini juga gak tega.


"Gimana dek? Biar kita pasang infusnya?" Bidan itu masih meminta persetujuan Dira.


"Ya sudah, Bu. Gak papa."


***


Dira berulang kali menghubungi Merlin malam itu, tapi wanita itu tidak menjawab. Dira tidak yakin kalau tantenya itu sudah tidur, karena biasa jam 11 malam baru pulang yang entah dari mana.

__ADS_1


Akhirnya, setelah sekian kali menghubungi tidak dijawab, maka Dira mengirim pesan, meminta izin untuk menginap di cafe tempatnya bekerja karena lembur dan takut pulang kemalaman.


Dira dengan setia menunggu Mika siuman, duduk menjaga dan menatap wajah pria yang masih belum siuman. Hingga pukul tiga pagi Dira yang juga sudah lelah bekerja akhirnya tertidur di tepi ranjang.


Suara adzan berkumandang di luar sana, mencegah kegelapan, menyingkap perasaan takut dan hadirkan ketenangan.


Mika siuman, perlahan membuka matanya dan melihat kepala Dira di dekat tangannya. Perlahan dia menggerakkan tangan yang masih melekat jarum infus, membelai rambut halus itu pelan.


"Terima kasih," bisiknya terus menatap Dira. Dia tahu gadis itu pasti sangat lelah. Mika ingat perkelahian itu tidak jauh dari tempatnya bekerja, pasti gadis itu baru pulang dan ketakutan melihat keributan itu.


Sentuhan di rambut Dira membuatnya gadis itu terhenyak dari tidurnya, dan langsung mengarahkan pandangannya pada Mika. Pria itu sigap menutup mata, berpura-pura tertidur kembali.


"Kau belum juga siuman? Aku sholat dulu," bisiknya, tapi sebelum berlalu menopangkan punggung tangannya di kening Mika. "Syukurlah demam mu udah turun," lanjutnya sambil berlalu.


Pukul enam pagi, bidan yang bernama Wati itu datang memeriksa kondisi Mika, sekaligus memberinya sarapan bubur. "Disuapin ya dek kalau nanti temannya udah bangun," ujarnya meninggalkan mereka di ruangan itu.


"Mika, bangun, dong. Kamu kok tidur terus. Kata bidan pendarahannya udah berhenti," ucap Dira menatap wajah Mika, pria itu bergeming, diam seolah tak sadarkan diri.


"Entah untuk apa aku mengajak mu bicara, toh, kamu juga gak denger. Lagi pula aku berani bicara memang karena yakin kamu gak dengar. Aku gak mau kamu tahu kalau aku yang menyelamatkan mu dari tepi jurang malam itu."


"Maaf, dek, ibu Wati memanggil," ucap perawat menghentikan monolog Dira.


"Ada apa ya, kak?"


"Maaf, kamu harus membayar biaya berobat teman kamu dulu, karena begitu prosedurnya," terang perawat itu tidak enak hati. Dia masih ingat cerita Dira kalau mereka hampir dibegal, tapi masih minta Dira membayar di depan.


"Oh, iya, Kak," jawab Dira bangkit dari duduknya.


Setelah mendengar daun pintu ditutup, Mika membuka mata. Pikirannya berkecamuk. Tidak bisa dijabarkan satu persatu. Satu hal yang pasti dia menyesal.

__ADS_1


Ternyata Dira lah Dewi penyelamatnya, bukan Lily. Dan yang paling mencengangkan, mereka berdua sepupu. Mika semakin penasaran dengan kehidupan Dira. Banyak pertanyaan yang ingin diutarakan pria itu, tapi bingung harus berkata apa.


Mika menyentuh Dadanya. Perasaannya campur aduk kini. Ada satu kegembiraan dalam hatinya, bahwa Dira lah gadis yang menyelamatkannya.


Tidak lama, Dira kembali. Ditangannya terlihat memegang dompet lusuhnya. "Kamu sudah siuman?" pekiknya gembira, menghambur mendekati Mika. Senyum syukur Dira tidak lepas di bibirnya.


"Hati lu terbuat dari apa? Lu bisa segembira itu lihat gue siuman, padahal lu udah susah gara-gara gue," batin Mika.


"Dari mana?" tanya Mika dengan suara datar. Jujur setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, dia semakin gugup bicara dengan Dira. Wajah polos gadis itu tetap tersenyum, menatapnya dengan kegembiraan bocah yang tulus.


"Oh, dari- Itu ngobrol sama Bu Wati. Kamu sarapan dulu, ya," jawab Dira mengambil nampan berisi bubur untuk Mika. "Udah dingin, aku panaskan dulu. Kamu tunggu bentar," lanjutnya berlalu.


Kembali Mika ditampar oleh kenyataan bahwa Dira adalah gadis yang baik. Selama ini dia sudah bersikap buruk pada gadis itu.


"Buka mulutnya," ucap Dira menyodorkan bubur yang sejak tadi sudah ditiupnya. Mika hanya diam melihat semua perhatian gadis itu. Tanpa sadar tangannya yang baru saja dilepas jarum infus memegang dadanya. Ada getar yang lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa? Dada kamu sakit? Aku panggilkan Bu Wati, ya?" Dira bersiap bangkit tapi terhenti kala Mika menarik tangannya.


"Gua baik-baik aja. Cuma lapar. Suapi!"


Mika adalah Mika. Tetap saja dia minta tolong dengan nada memerintah dan tanpa ada kata tolong.


***


Bidan sudah mengganti perban Mika. Pendarahannya juga sudah berhenti.Terpaksa mereka bolos sekolah hari itu.


"Terima kasih, Bu, atas bantuannya," ucap Mika menyalami Bu Wati dan juga perawat yang tidak diketahui namanya itu.


"Bawa mari kuncinya," pinta Mika mengulurkan tangan pada Dira.

__ADS_1


"Loh, kamu bisa bawa motor? Kamu kan masih belum sembuh. Aku aja yang bawa," ucap Dira bersikeras.


Mika gak mau mendebat. Sudah terlalu banyak dia membuat susah gadis itu. Kenapa dia semakin tertawan pada pesona Dira, hingga sulit berpaling?


__ADS_2