Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Terima kasih Sudah Merawat ku


__ADS_3

Dira mengerjapkan matanya, mencoba mengenali tempat itu, tapi tetap saja tidak mendapatkan gambaran. Lalu saat menoleh ke samping dan mendapati Mika yang tidur di sampingnya dengan posisi setengah terduduk, barulah Dira ingat semuanya. 


Dira seketika menyadari kalau ada yang mengganjal di lehernya, dan setelah menyadari kalau itu adalah tangan Mika, dia segera mendudukkan dirinya yang juga berhasil membuat pria itu terbangun.


"Kau sudah bangun?" Tanya Mika menatap lembut ke wajah Dira, sesekali dia masih mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan penerangan cahaya dari jendela kamar yang masuk.


"Kenapa aku bisa tidur di sini?" Tanya Dira berubah pucat, memeriksa pakaiannya, lalu seperti yang diterangkan oleh guru biologi, jika seorang pria dan wanita melakukan hubungan intim, maka akan terasa sakit di bagian inti tubuh, oleh karena itu Dira mencoba menggerakkan, mencari tahu apakah rasa sakit itu ada, tapi setelah berusaha bergerak selama lima menit, akhirnya dia bisa memastikan tidak terjadi sesuatu diantara mereka.


"Kau demam, dan aku memberikanmu obat, lalu kau tertidur pulas," jawab Mika mengurai cerita sebenarnya. Dia bangkit dari duduknya, mengepalkan tangan mencoba mengalirkan kembali tangannya yang sempat kesemutan.


Dira melihat masih ada sisa obat dan juga botol air minum mineral di atas nakas di samping ranjang yang artinya apa yang dikatakan pria itu tidak bohong.


Dia juga ingat kok kalau tadi sempat pusing dan sembari menunggu Mika pergi yang nggak tahu entah ke mana, dia duduk di sofa dan ternyata mungkin dia ketiduran di sana dan Mika memindahkan dirinya ke kasur.


"Aku pulang, ya. Ini udah sore, nanti orang rumah mencariku," ucapnya merapikan pakaiannya.


Keduanya berjalan keluar dari kamar. Dira yang berjalan lebih menyadari bahwa di ruangan itu sudah berkumpul setidaknya enam orang yang kini semuanya melihat ke arahnya.


Dia memekik kaget bahkan wajahnya memucat, terbelalak kala beradu pandang dengan teman-teman Mika. Dia ingat empat orang diantaranya adalah teman satu sekolah mereka, terlebih Josh.


"Wow, gak nyangka," celetuk Ken terperangah, menatap kedua anak manusia yang baru saja keluar dari kamar, soalnya mereka belum boleh melakukan perbuatan yang tidak semestinya.

__ADS_1


Josh bahkan sampai bangkit dari duduknya menyongsong kedatangan mereka untuk memastikan bahwa Dira adalah gadis yang sama dengan gadis yang disukai Mika.


Dira ingin pingsan. Dia tidak mungkin lagi berpura-pura tidak terlihat keenam orang itu. Jangan lupa diantaranya adalah teman sekolahnya yang pastinya akan bertemu di lingkungan sekolah besok ataupun lusa.


Bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai tersebar di sekolah bahwa dia dekat dengan Mika dan sampai ke telinga Anja? Intinya Dira takut kalau akan beredar gosip di sekolah bahwa dia bergabung dengan anak-anak berandal sekolah itu.


Mika seolah mengerti rasa malu yang dirasakan Dira, hingga membatu di tempatnya saat ini. Dia paham bahwa gadis itu ketakutan melihat enam serigala lapar yang ingin menggodanya.


Tanpa pikir panjang, Mika segera menggenggam tangannya dan menarik Dira untuk mengikuti langkahnya. Sementara Dira hanya menunduk berjalan mengikuti langkah Mika dengan titik netranya dipusatkan pada tumit pria itu.


Bukan bermaksud untuk membawa Dira segera pergi dari sana, Mika justru membawanya duduk di sofa panjang di depan keenam teman-teman Mika yang masih terpaku padanya.


Mungkin dalam benak mereka ingin menyelidiki gadis seperti apa yang mampu membuat ketua geng mereka jatuh cinta.


Dira yang tidak berani melihat mereka hanya bisa menunduk, sembari meremas jemarinya. Dia takut kalau teman-teman Mika menganggap mereka baru saja melakukan hubungan se*ks, dan menganggap Dira adalah cewek gampangan.


"Jadi, ini cewek baru lu, Mik?" tanya salah satu diantara teman Mika yang pasti bukan Ken atau Josh.


"Gua nggak ada hubungan apa-apa dengan gadis ini, kebetulan tadi pas tawuran, dia udah nolong gua. Kalau gak ada dia, gua pasti udah mati sejak geng neraka nyerang kita waktu itu!"


"Maksud lu malam kita nongkrong di d'king?" tanya Ken penuh semangat. Dia ingat itu terakhir kali mereka berseteru dengan geng berbahaya itu.

__ADS_1


Mika hanya mengangguk. "Dia udah dua kali menyelamatkan nyawa gua," ucap Mika menoleh pada Dira yang saat itu juga tengah melihat ke arahnya.


Melihat sorot mata tajam Mika yang mematikan tentu saja keenamnya ketakutan. Mika hanya sesekali bicara, dan dia adalah pimpinan mereka, jadi apapun yang diperintahkan oleh pria itu tidak ada yang bisa membantah.


Mereka tidak masalah dengan siapapun yang dibawa oleh kelompoknya ke rumah ini, terlebih wanita. Mereka juga sudah biasa membawa kekasih mereka ke sini bahkan ada yang menginap tapi ini Mika, pemimpin mereka yang paling tidak peduli dengan wanita bahkan bisa dibilang dingin, tapi justru bisa bersikap lembut kepada gadis sederhana yang kini ada di sampingnya.


Josh masih tidak melepaskan netranya dari wajah Dira. Memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


Cukup manis dan bersih, dia juga memiliki rambut yang indah tapi gaya dan penampilannya, sama sekali bukan tipe gadis yang glamor di sekolah mereka. Dira jenis gadis kutu buku yang lebih sering menghabiskan waktunya membaca novel picisan.


"Hanya karena lu adalah orang nya Mika, maka kita berenam bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan lu di sekolah ataupun di manapun kita ketemu. Kalau lu ada masalah, lu tinggal sebutkan nama salah satu diantara kita," ujar pria yang tampak memiliki tato di lehernya.


Melihat segerombolan orang menyeramkan itu, tentu saja membuat Dira ketakutan, telapak tangannya berkeringat, meratapi nasibnya yang mungkin akan berubah kelam.


Mika bangkit dan membawa Dira bersamanya. Tanpa mengatakan apapun pada teman-teman, Mika terus menuntut Dira hingga ke teras depan. Keenamnya kompak mengintip di balik pintu, mereka benar-benar tercengang melihat sikap Mika yang begitu lembut memperlakukan Dira, bahkan pria itu memasangkan helm untuk Dira.


"Tunggu kayaknya ikat rambutku tinggal di kamar," jawab gadis itu dengan memelankan suaranya.


"Lo tunggu di sini, biar gue ambil ke kamar," jawab Mika melangkah masuk kembali ke rumah.


Gelagapan, keenam sahabatnya itu berlari dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing seolah tidak bergerak sejak tadi.

__ADS_1


"Lo semua gak usah kayak orang kurang kerjaan pakai acara ngintip, udah kayak anak kecil aja!" Umpatnya sembari lewat dari hadapan mereka.


__ADS_2