Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Mencari Mika


__ADS_3

Satu hari sudah berlalu, tapi Dira masih belum menjalankan misinya. Pasalnya selain belum berani dan belum tahu langkah awal apa yang harus dia lakukan terhadap Mika, pria itu juga tidak muncul di sekolah, lantas bagaimana dia bisa mendekati pria itu.


Harus kemana dia mencari Mika? Dia buta segala info penting tentang Mika. Data yang didapat mengenai Mika selama ini hanya sosok dirinya yang menjadi geng motor dan seorang berandalan sekolah.


Informasi yang diketahui mengenai teman-teman Mika juga tidak banyak. Dia hanya tahu bahwa Mika memiliki teman dekat dan orang kepercayaannya yang selalu setia di sisi pria itu yaitu Josh.


Namun, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, begitu pula mencari keberadaan Josh, bahkan lebih parah pria itu sudah hampir satu bulan tidak masuk sekolah.


Tiba-tiba saja Dira ingat basecamp mereka. Saat Mika selesai dirawat di klinik, Dira membonceng Mika kembali ke sebuah rumah yang dikata pria itu sebagai basecamp.


Begitu bel pulang berbunyi, Dira bergegas mengumpulkan semua alat tulis dan bukunya ke dalam tas. Dia harus cepat, berharap bisa bertemu dengan Mika,.berbicara dengannya, walau masih belum terpikirkan mau bicara apa nanti pada lelaki itu, lalu setelahnya, Dira bisa mengejar agar tidak terlambat pergi ke tempat kerja.


"Dira, kita jadi kerja kelompok?" tanya Rini mengingatkan tugas kelompok mereka yang lusa harus segera dikumpulkan.


"Oh, iya. Tapi sorry Rin, hari ini aku gak bisa, ada kerjaan penting yang harus aku bereskan. Besok aja, ya, please," pinta Dira menyatukan telapak tangan di depan dadanya.


"Gitu ya, oke deh. Btw, kamu buru-buru amat, mau kemana? Bukannya jam kerjamu jam empat?" tanya Rini masih mengamati keriuhan temannya itu.


"Iya. Ada tugas dari big bos," celetuknya asal, menjawab pertanyaan Rini, lalu setelah semua sudah masuk ke dalam tas, Dira melambai pada Rini dan setengah berlari keluar kelas. "Duluan, Rin."


Dira terus berjalan dengan langkah seribu menuju gerbang sekolah, mengabaikan panggilan Anja yang sejak tadi berteriak ingin menyusulnya. Dira bukan sengaja, dia memang tidak mendengar panggilan itu, fokus pikirannya ingin segera sampai ke basecamp dan menemui Mika.


Seolah seperti sudah diatur, taksi lewat dari depan gerbang. Tanpa pikir panjang, Dira menyetop dan naik, padahal dia tahu betul ongkos taksi itu begitu mahal, tapi untuk kali ini, dia coba mengabaikannya, yang terpenting dia bisa bertemu denganmu Mika.


Walau Tuan Hendardi tidak mengatakan batas waktu uji coba itu namun, Dira merasa terus dihantui oleh tuntutan kakek tua itu sebelum berhasil berbicara dengan Mika.

__ADS_1


Kalau memang akan gagal nantinya, yang terpenting dia sudah berusaha terlebih dahulu, jadi memiliki bukti yang akan bisa dikatakannya kepada Tuan Hendardi, bahwa dia tidak berhasil menyelamatkan Mika, sehingga perjanjian itu harus dibatalkan.


Walau samar, Dira mencoba mengingat alamat basecamp itu, berada di perumahan elit tidak terlalu jauh dari sekolah.


Tampaknya, ingatan Dira masih bisa diacungin jempol. Akhirnya dia menemukan basecamp itu. Dia ingat betul, di depannya ada lapangan basket dan juga tempat duduk di halaman depan yang terbuat dari ban motor yang ditumpuk dan dibentuk menjadi tempat duduk dan juga tempat duduk yang terbuat dari tong bekas.


"Stop di sini, Pak," pinta Dira pada sopir taksi, menyerahkan uang merah dan meminta kembaliannya.


Lama gadis itu berdiri dan depan gerbang pintu rumah, mengamati sekeliling. Tampak sepi dan tidak ada tanda-tanda ada orang di sana. Motor juga tidak ada yang terparkir. Bisa disimpulkan bahwa rumah itu kosong.


Lebih 10 menit bergumul dengan pikirannya, apakah dia lebih baik pulang saja atau tetap menunggu?


Saat itu lah, lamunan Dira buyar mendengar klakson motor yang begitu kencang dari arah belakangnya.


"Hey, Minggir!" perintah pria itu dengan sombongnya dari atas motor. Dira menyingkir dan si pria itu sudah turun dari motor, membuka gerbang, dan kembali ke atas motornya lagi tanpa menoleh dan menganggap Dira ada di sana.


"Tunggu! Apa Mika ada? Aku perlu bicara dengannya," ucap Dira menahan pintu gerbang yang hendak ditutup pria itu.


Mendengar nama Mika keluar dari bibir Dira, sesaat pria itu menghentikan gerakan tangannya.


"Siapa Lu? Ngapain cari Mika?" Kembali dengan suara dingin, menghardik Dira. Tapi pria itu salah menilai Dira. Gadis itu tentu saja tidak akan ciut kalau hanya dibentak.


"Mmm... Aku..., Aku pacarnya!"


Entah pemilihan kata dari mana itu, tapi begitu saja keluar dari bibir Dira, tanpa sempat dia rem.

__ADS_1


"Pacar?" Pria itu menatap Dira dari atas hingga ke bawah, merasa gadis sesederhana Dira bisa menjadi pacar Mika Angelo. Tapi tidak heran, banyak yang mengaku-ngaku jadi pacar pria itu. Siapa sih, yang tidak ingin menjadi kekasih dari putra mahkota keluarga Hendardi?


Baru akan memerintah Dira pergi, dia ingat ucapan Josh yang pernah bercerita kala dia bertanya mengapa Mika minum sampai mabuk malam itu. Hal yang belum pernah dilihatnya selama berteman dengan Mika selama hampir tiga tahun ini.


"Dia lagi jatuh cinta sama cewek, tapi malah ditolak sama cewek itu!" terang Josh.


"Cakep banget pasti cewek, ya? Seksi? To*ketnya gede pasti, ya?" tanya Ken semakin liar. Kalau tidak begitu mana mungkin beruang kutub itu bisa mencair.


"Cantik, tapi sederhana banget. Teman sekolah kita," jawab Josh kala itu. Dan kini Ken melirik lengan Dira guna melihat nama sekolah Dira.


"Lu teman sekolah Mika?" tanya Ken memastikan. Dira dengan cepat mengangguk.


"Mika gak ada di sini. Tahu lagi kemana, mungkin jenguk nyokap nya," terang Ken mengamati wajah Dira.


Gadis itu memang tidak se-stylish gadis-gadis zaman sekarang, tapi ada sesuatu dalam pribadi Dira yang menarik, Ken yang baru bertemu saja bisa merasakan hal itu.


Selain itu, Ken tidak menampik kalau wajah Dira memang sangat cantik dan enak dipandang, walaupun gadis itu tidak memakai riasan apapun di wajahnya. Justru terkesan alami dan sangat menawan, wajar kalau Mika jatuh cinta. Gadis itu berbeda, tidak genit dan bersikap sok cantik, seperti gadis yang biasa bertingkah di depannya.


"Apa aku boleh menunggu?" pinta Dira. Dia memutuskan hal itu dengan cepat. Toh, kalau dia kembali sekarang, terlalu cepat untuk masuk kerja. Tidak salah menunggu, siapa tahu Mika cepat datang dan mereka bisa bicara.


Dira sudah memikirkan, kalau dia ingin meminta Mika sekolah lagi. Bukan, pertama-tama, dia akan minta maaf pada pria itu atas perkataannya yang sudah menyakiti hati pria itu beberapa Minggu lalu.


"Lu mau nunggu? Di sini? Gak takut gua apa-apain? Di sini lagi gak ada orang, loh!" goda Ken. "An*jir, kok, gue jadi suka sama gadis ini?" batin Ken terus menatap mata Dira.


"Gak papa. Aku gak takut. Lagi pula, aku tunggu di teras aja," ujar Dira mengeloyor masuk, melewati tubuh Ken yang semakin buat pria itu tercengang.

__ADS_1


__ADS_2