Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Berusaha Menjadi Lebih Baik


__ADS_3

Mika kesal sendiri pada dirinya. Gak seharusnya dia berkata kasar pada Dira. Sesaat sebelum dia melangkah pergi, Mika melihat air mata gadis itu merebak. Rasanya tidak kuasa untuk membentaknya lebih kasar lagi.


Mika pulang, tidak jadi menunggu Dira. Dia pulang ke rumah kakeknya malam ini karena ibunya sedang ada di sana. Awalnya dia ingin kembali ke basecamp, tapi berulang kali Diana menghubunginya, membaut Mika tidak punya pilihan lain selain pulang.


Dia bukan membenci kakeknya, sama sekali tidak. Hanya saja pria tua itu terlalu banyak menuntut pada Mika, sementara anak jalanan itu ingin bebas tanpa ada aturan yang mengekang. Namun kali ini pesan dari ibunya yang mengatakan bahwa kakeknya sedang sakit membuat Mika tidak punya pilihan lain selain datang, bagaimanapun dia sangat menyayangi kakeknya itu yang selama ini bertahan melindungi ibunya dari siksaan Alex, ayahnya.


Sementara di tempatnya, Dira duduk di luar Cafe, menggenggam amplop coklat tebal yang tadi dilemparkan Mika ke arahnya sebelum pria itu berlalu pergi.


Dira sudah membuka amplop yang berisi banyak uang merah di dalamnya. Gadis itu tidak mengerti, apa tujuan Mika memberikan amplop itu padanya. Dia yakin, bahwa kedatangan Mika ke cafenya malam itu juga ingin menyerahkan benda itu kepada dirinya, hanya saja amarah Mika membuatnya pergi sebelum menjelaskan alasannya.


Terdengar tarikan napas panjang oleh Dira sebelum gadis itu melangkah masuk ke dalam kafe dan melanjutkan pekerjaannya. Dia memutuskan akan mempertanyakan perihal amplop beserta isinya itu jika besok dia bertemu dengan Mika di sekolah.


***


"Anak Mama, akhirnya kau datang juga," sambut Diana dengan pita putih yang menghiasi rambutnya.


Wanita itu selalu berpenampilan selayaknya princess. Begitu anggun dan juga lembut. Diana juga wanita yang sangat cantik bahkan di usianya yang sudah memasuki 45 tahun, dia terlihat awet muda dan segar.


Entah apa yang lagi dicari Alex, hingga pria itu memilih untuk meninggalkan Diana dan lari ke pelukan wanita lain.


Sejarah yang Mika tahu bahwa kedua orang tuanya saling mencintai dulunya, tapi sangat berbeda dengan kenyataan yang dia dapat kini.


Apapun itu alasannya, Mika tidak bisa membenarkan perilaku dan juga perbuatan ayahnya yang memilih pergi dari rumah, meninggalkan ibunya yang senantiasa setia menunggu kepulangan sang suami.


Kali ini Mika tertipu lagi. Saat memasuki ruang makan, ibunya sedang menikmati makan malam berdua dengan sang kakek di rumah super mewahnya.

__ADS_1


Mirza Hutama adalah konglomerat yang memiliki banyak perusahaan dan juga sekolah, salah satunya adalah sekolah tempat Mika menimba ilmu. Namun, harapan sang kakek yang ingin melihat cucunya mencari siswa teladan di sekolah itu pupus sudah. Alih-alih jadi siswa membanggakan, Mika justru memilih menjadi anggota geng motor dan meninggalkan sekolahnya.


Seharusnya Mika sudah lama dikeluarkan dari sekolah. Kalau siswa lain, mungkin tidak perlu menunggu waktu lama untuk dikeluarkan dari sekolah itu. Namun, karena pemilik sekolah adalah kakeknya, maka kepala sekolah dan juga para guru tutup mata melihat tingkah laku Mika yang bertindak sesuka hatinya.


Terkadang pria itu hanya masuk sekali dalam seminggu, bahkan pernah hanya dua kali dalam sebulan, tapi tetap Mika akan datang setiap ujian diadakan.


Aneh tapi nyata, walaupun dia dicap sebagai murid berandalan dan berada di kelas buangan, tapi setiap ujian diadakan, nilainya bisa melampaui kelas unggulan bahkan berada di posisi kedua setelah Anja.


"Mama bilang Opa sakit. Begini orang sakit? Atau mungkin sakit jiwa?" celetuk Mika malas, menarik kursi di sebelah kiri kakeknya.


Sontak ujung tongkat Opa Mirza mendarat mulus di kepala Mika, dan terlihat pria itu kaget, mengusap kepalanya yang sedikit sakit.


"Jaga mulutmu, Anak muda! Kalau kau masih mau tetap bernapas!" umpat sang Kakek tajam, tapi cucunya malah memutar mata, melirik jengah pada kakeknya.


"Siapa suruh membohongiku!" sambarnya masih merasa tidak bersalah.


"Papa, Mika, bisakah kalian hentikan perdebatan ini? Hargai dong wanita cantik yang ada di ruangan ini," ucap Diana lembut sambil tersenyum manis.


Kedua pria itu sontak saling pandang lalu tertawa terbahak.


"Kalian ini!" seru Diana tahu kalau mereka mentertawakan kalimatnya yang super percaya diri, walau benar adanya dia cantik.


Mirza dan cucunya memang kompak dalam beberapa hal. Walau terlihat kakeknya galak pada Mika, semua itu hanya ingin Mika bisa berbenah diri menjadi orang yang lebih baik.


Setelah makan malam usai, Mika mencari ibunya yang sedang asik menonton televisi.

__ADS_1


"Mama belum tidur?" tanya Mika duduk di samping ibunya. Dia tahu ibunya sangat kesepian. Kadang dia mengutuk dirinya sendiri tidak bisa membuat ibunya bahagia.


"Mama lagi nonton drama Korea, seru banget, deh. Temani Mama nonton sebentar, ya," pinta Diana memeluk tangan pria itu dan merebahkan kepalanya di sana.


Mika mencoba bertahan, mengamati tayangan dalam layar kaca sebesar setengah dinding ruangan itu.


"Lihat tuh, Mik. Cowoknya kan berandalan, udah buat cewek yang dia sukai nangis dan jadi benci sama pria itu. Tapi karena cinta, sang pria berusaha untuk mendapatkan kembali perhatian dan cinta dari gebetannya itu," terang Diana.


Mika sontak menoleh pada ibunya, tapi wanita itu tetap pada posisi awal, artinya dia bukan sengaja menceritakan masalah yang saat ini dihadapi Mika.


Lagi pula, dari mana ibunya tahu soal Dira dan dirinya?


"Terus, apa yang dilakukan si cowok itu?" tanya Mika tanpa sadar. Dia mengutuk lidahnya yang begitu cepat berkata-kata tanpa memikirkan terlebih dulu.


"Berubah. Lagi pula mana ada cewek yang mau sama cowok urakan, berandalan dan gak bisa dibanggakan. Makanya pria itu berubah melakukan apapun yang bisa membuat gadis itu terpesona lagi padannya. Lihat tuh, pakaian sekolahnya udah rapi, dia udah mulai masuk sekolah lagi bahkan dia nggak marah-marah lagi dan berkata kasar sama pacarnya," terang Diana.


Eheem... Mika membersihkan tenggorokannya. Tampaknya dia menemukan satu cara untuk menebus kesalahannya.pada Dira. Satu senyaman mengembang dalam di bibirnya.


***


"Demi apa, aku gak salah lihat, Mika masuk sekolah, dia masuk kelas, Woi!" pekik Rini yang baru masuk ke dalam kelas, membawa berita yang bagi seluruh umat di sekolah itu adalah sebuah fenomenal, sangat langka dan hanya keajaiban alam yang bisa membuat itu terjadi.


"Hah? Serius? Salah lihat kali Lu," sambut Vena yang lagi ngobrol bareng Dira dan teman yang lain.


"Masa aku salah lihat, jelas-jelas itu Mika. Josh juga ada di sampingnya. Itu Mika! Kalau kalian gak percaya, bisa datangi kelasnya!" ujar Rini mengambil tempat duduknya.

__ADS_1


Benar saja, saat istirahat pertama, Mika datang ke kelasnya, dan tentu saja mencari Dira.


"Hei, kita ke kantin, yuk. Temani gua makan," ucapnya duduk di atas meja Dira, membuat Rini dan teman-teman yang lain keluar ketakutan.


__ADS_2