
"Mika, anak Mama, kamu pulang, Nak," sambut Diana penuh suka cita, menyambut kedatangan anak kesayangan sekaligus semata wayangnya.
Mika hanya diam, membisu dalam pelukan ibunya. Dia tidak akan mau pulang kalau tidak ingin melihat ibunya, memastikan wanita itu baik-baik saja, terlebih setelah apa yang dia lihat.
"Mana si brengsek itu?" tanya Mika tajam. Dia menatap dalam mata ibunya. Seperti biasa, mata ibunya merah dan sembab, lingkar mata berwarna hitam juga menghiasi bawah matanya. Pemandangan yang sudah biasa dia lihat di wajah ibunya sejak dia masih kelas 6 sekolah dasar.
"Jangan bicara begitu," ucap Diana mengurai pelukan mereka, lalu menarik tangan Mika duduk di ruang tamu.
Rumah itu begitu besar, megah dengan memiliki halaman yang luas. Bahkan kelebihan tanah di sekitar rumah itu bisa membuat beberapa rumah petak.
Rumah itu dihuni ayah dan ibunya dengan lebih dari 10 pelayan, termasuk tukang kebun dan sopir, tapi tetap terasa sepi dan menyedihkan, bak kuburan yang penuh kesedihan.
Mika tinggal disitu... Dulu! Tiga tahun lalu dia keluar dari ruang itu setelah melakukan perlawanan pada ayahnya. Keduanya bertengkar, saling adu kekuatan. Baku hantam tanpa ada yang melerai.
Mika yang sejak sekolah dasar sudah ikut ekskul karate, tentu saja merasa bisa melawan ayah. Bahkan pernah dia menyerang Sandi, ayahnya karena melihat pria itu jalan berdua dengan wanita lain.
Mika tidak terima, tanpa mengatakan apapun pada ayahnya, langsung memukul wajah ayahnya yang saat itu Baru saja sampai di rumah.
"Apa yang sudah kau lakukan? Apa kau sudah gila?" pekik Sandi terkejut.
"Dasar pria brengsek! Menjijikkan! Cuih!" umpat Mika meludah. Dia benar-benar sedang dikuasai amarah. Setelah menangkap basah ayahnya jalan mesra dengan seorang wanita yang jelas lebih muda darinya, Mika mengikuti pria itu. Awalnya dia ingin buat keributan di mall agar ayahnya malu, tapi Josh melarangnya, menarik pria itu keluar.
"Apa kau sudah gila? Kau kenapa?" pekik Sandi berteriak hingga Diana keluar.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya wanita itu menatap suami dan anaknya bergantian. Dia melihat sudut bibir Sandi berdarah lalu segera mendekati suaminya dan memeriksa luka itu.
"Kau kenapa? Kenapa kalian berkelahi?" tanya Diana pada Sandi.
"Tanyakan pada anakmu! Panggil dokter, bawa dia periksa, mungkin saja anak ini sudah mengkonsumsi nar*Koba!" umpat Sandi meludah ke tanah, merasakan denyut di sudut bibirnya. Mimpi apa dia tadi malam, begitu pulang langsung disambut bogem mentah anak lajangnya.
"Mika, apa yang kamu lakukan oleh? Kenapa kamu mukul Papa?" tanya Diana lembut. Dia berdiri diantara kedua pria yang begitu dia sayangi itu.
"Tanya saja pada pria brengsek itu!" seru Mika.
"Jaga mulut mu! Begini caramu bicara pada papamu?" hardik Sandi tidak terima.
"Kalau Anda ingin dihormati sebagai orang tua, maka berperilaku lah sebagai orang tua!" umpat Mika lalu pergi dari rumah itu.
Dan hari ini dia datang ke rumah itu ingin melihat kondisi ibunya. Perselingkuhan Sandi sudah menjadi rahasia umum.
"Kenapa kau jarang sekali pulang?" tanya Diana masih menggenggam tangan Mika. Dia begitu merindukan putra tunggalnya itu.
Mika hanya bisa diam menatap wajah sendu ibunya. Dia tahu kalau wanita itu baru saja menangis, hal yang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu.
Mika benci atas kelemahan ibunya, tapi dia juga tidak bisa memaksa ibunya untuk meninggalkan pria itu.
"Tuhan membenci perceraian," ucap Diana setiap Mika meminta wanita itu untuk berpisah dari Sandi.
__ADS_1
"Mika, Mama mohon, kembali lah ke rumah. Mama kesepian," ucap Diana merebahkan kepalanya di pundak Mika. Diana begitu kesepian. Mika sudah tidak tidak tinggal di rumah itu, sementara Sandi? Jangan tanya. Pria itu akan datang saat dia ingin.
"Aku kan sudah bilang, aku gak akan kembali ke rumah ini untuk tinggal. Kalau bukan karena mama menghubungi sejak kemarin, aku juga gak akan datang ke sini," ucap Mika datar. Hanya wanita ini yang paling dia cintai. Mika begitu kasihan melihat ibunya yang masih saja bertahan bersama pria yang sudah jelas-jelas menyia-nyiakan dirinya.
"Kamu harus bisa memaafkan papamu. Bagaimanapun, dia adalah ayahmu," ucap Diana menarik wajah Mika agar mau melihat ke arahnya.
"Aku tidak memiliki hati selimut mu, Mama. Sudahlah, aku gak mau bicarakan hal yang gak penting. Kalau Mama baik-baik saja, aku pamit pulang," ucap Mika ingin bangkit dari duduknya, segera Diana menarik tangannya hingga kembali duduk.
"Mama kesepian, kenapa kau tidak kembali saja ke sini?"
"Kalau Mama kesepian, dan ingin tinggal dengan ku, kita di rumah opa," sahut Mika tegas. Tidak ada tawar-menawar, dia tidak akan mau tinggal satu atap dengan pengkhianat.
"Kamu tahu sendiri, Opamu lagi marah dengan Mama," jawab Diana pelan.
Mika menarik napas dalam. Tentu saja Opanya akan membenci ayahnya. Orang tua mana yang bisa menerima putrinya dikhianati dan disia-siakan oleh menantunya.
"Opa benar. Sampai kapan Mama akan terus menunggu perubahan pria itu? Dia tidak akan berubah lagi, selamanya akan jadi pria brengsek!"
Diana diam. Hatinya juga sakit dengan apa yang dilakukan oleh Sandi, tapi karena hatinya tidak bisa membenci pria itu, bagaimana pun dia berusaha, rasa cintanya begitu besar untuk pria itu.
"Aku pulang, Ma," ucap Mika ingin segera keluar dari rumah itu.
"Kita makan siang dulu. Temani Mama makan," paksa Diana hingga Mika mengalah.
__ADS_1