Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor

Bad Boy : Hitam Putih Ketua Geng Motor
Perkelahian Geng Motor


__ADS_3

Mungkin pagi tadi langit Dira mendung, tapi tidak dengan sore ini. Setelah kedatangan Anja, dan mereka bicara panjang lebar, hati Dira menjadi tenang. Dia juga lebih bersemangat menjalani hidupnya.


"Keadaan ini mungkin membuat kita gak bisa bersama, tapi percayalah, aku akan selalu memperhatikan mu, dan akan selalu melindungi mu dari Mika," ucap Anja mengusap pipi Dira yang lagi-lagi basah karena air mata.


Dia bukan menangis karena bersedih, tapi terharu, Anja bisa menenangkan dirinya. Bagi Dira, Anja adalah mataharinya.


"Maaf kalau aku gak bisa mengantarmu ke tempat kerja. Aku sih, ingin sekali tapi kita gak tahu mata-mata Mika ada dimana aja," ucap Anja menggenggam tangan Dira.


"Iya, aku ngerti. Gak papa kok, Ja," jawab Dira tersenyum manis lalu naik ke taksi yang sudah dipesan oleh Anja, bahkan pria itu membayar ongkos Dira yang semakin membuat Dira merasa tersanjung karena hal sekecil itu pun diperhatikan Anja.


Sebelum masuk ke dalam taksi, Dira masih mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling, memastikan sosok yang dia hindari tadi, tapi tidak ada. Bahkan warung pak Jono tempat anak-anak nakal sekolah mereka nongkrong pun terlihat sepi.


***


Hari ini, Dira bekerja hingga malam. Kalau biasanya toko sudah tutup jam sembilan malam, untuk kali ini berbeda. Ada yang membooking cafe mereka, sekelompok anak muda yang sedang berulang tahun, jadi bos cafe meminta Dira untuk lembur dan pastinya akan menambah bonus Dira.


Gadis itu tidak masalah, justru senang karena tidak perlu terlalu cepat pulang ke rumah.


"Kamu saya antar aja, ya?" ucap kokoh pemilik cafe yang tumben-tumbenan hadir di cafe. Biasanya hanya ada kak Yayuk, orang yang sudah dipercaya olehnya untuk mengurus cafe itu.


"Oh, gak usah, Koh. Makasih. Aku pulang jalan aja, nanti di pertigaan naik ojek," ucap Dira tidak ingin merepotkan. Lagi pula dia pasti sangat segan, apa kata karyawan lainnya.


"Yakin? Gak papa, kok. Sekalian juga saya mau pulang," ucap pria tampan keturunan Tionghoa itu ramah.

__ADS_1


"Iya, Koh. Gak papa. Aku juga harus beberes ini. Kokoh duluan aja," jawabnya malu-malu.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Dira pamit pada karyawan yang lain untuk pulang lebih dulu. Hatinya sangat gembira, tadi siang dia bicara dengan Anja, dan malam ini dia dapat amplop sebagai bonus dari pemilik cafe. Uang itu nanti akan dia simpan di tabungan untuk menambah biaya kuliahnya.


Saat hati senang, perjalanan dalam kegelapan dan sepi itu tidak menjadi menakutkan. Dira sudah sampai di simpang tiga tempat dia biasa menunggu ojek pangkalan yang mangkal di situ, tapi tidak ada satu pun. Dira masih menunggu, hingga dari arah kejauhan terdengar suara deru motor. Bukan satu tapi banyak, dan bukan dari satu arah, tapi dua arah yang berbeda dan sialnya dia ada di tengah-tengah.


Di depan matanya segerombolan orang menaiki motor berteriak diantara deru suara motor dan knalpot yang bising. Tanpa menunggu lama, begitu kedua kubu sudah saling berhadapan, para pengendara motor itu menghentikan begitu saja dengan melempar motor mereka, lalu dengan senjata di tangan mulai mendatangi geng motor lain yang menjadi lawan mereka.


Saling baku hantam tidak terelakkan lagi. Dan Dira, di tengah keterkejutannya, hanya bisa bengong memandangi kejadian itu hingga tidak bisa menggerakkan kakinya untuk pergi dari sana, walau alam bawah sadarnya sudah mengirim sinyal kalau saat keadaan sangat berbahaya dan seharusnya dia pergi dari sana, tapi Dira masih tertegun di sana mengamati perkelahian, pemukulan dengan balok dan senjata tajam lainnya.


Seorang pria terlempar hingga ke dekat kakinya, kepalanya bersimbah darah. Dira ingin menjerit, sungguh, dia takut, tapi dia hanya membeku di sana.


Pria yang menjadi penyebab pria itu terkapar kembali mendatangi korbannya dengan balok di tangan. Dira tidak tega melihat pria itu akan kembali memukul korban yang sudah pingsan, Dira maju selangkah mengangkat tangan agar pria berhenti, tapi pria yang tampak mabuk itu tidak memperdulikan tanda dari Dira dan mengayunkan balok itu hingga hampir mengenai Dira, beruntung gadis itu segera menunduk, lalu terlihat pria yang tadi akan memukulnya jatuh terjerembab ke tanah.


Namun, tanpa disadari Mika, seorang musuh dari arah belakang datang menyerangnya, lalu menusuk punggung Mika dengan belati hingga pria itu roboh, berlutut di tanah, dengan mata masih menatap mata Dira.


"Woi, kita mampusin ketuanya ini! Sini, kita ramaikan. Dia udah sekarat!" teriak pria itu dengan hati yang gembira.


Teriakan pria itu membawa beberapa pria mendekat penuh nafsu ingin menghajar Mika. Dira yang melihat hal itu tentu saja sangat panik. Kelima orang itu bisa membuat Mika mati seketika.


Dira masih melihat mata Mika yang mencoba menyuruhnya untuk pergi, di sela ada rasa sakit yang dia rasakan.


"Pergi lu dari sini. Selamatkan diri lu!"teriak Mega mencoba menghalau niat Dira yang justru semakin mendekat ke arah Mika ingin memastikan bahwa luka di punggung pria itu tidak membuatnya mati.

__ADS_1


Kelima orang itu sudah mengelilingi Mika, hal itu membuat Dira semakin panik. Dia menoleh pada tangan pria yang tadi ditendang oleh Mika hingga tersungkur di tanah dan pingsan.


Spontan Dira menarik dan mengambil balok yang dijadikan senjata oleh mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Dira memukul punggung seseorang di antara kelimanya yang bersiap menghabisi Mika. Merasa kesakitan dan tidak menyangka akan mendapatkan pukulan dari gadis itu, sang pria berjambang memutar tubuh menoleh melihat Dira.


Gadis itu ketakutan hingga balok terlepas dan jatuh tepat di sebelah Mika. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Mika meraih balok itu lalu berdiri. Kekuatannya kembali seketika karena tidak ingin si brewok menyentuh dan menyakiti Dira.


Dengan membabi-buta, Mika melakukan perlawanan kepada kelima orang itu. Lukanya bertambah salah satu, salah satu dari mereka menyayat hingga perutnya tergores dan mengucurkan darah segar.


Melihat hal itu, Dira hanya bisa menjerit kaget, mengamati perkelahian itu dengan penuh ketakutan. Dalam kesakitan, Mika melawan kelimanya hingga jatuh babak belur di tanah.


"Lu gak papa?" tanya Mika mendekat, memeriksa tubuh Dira, lalu memutar tubuh gadis itu untuk lebih memastikannya.


"Aku gak papa, tapi kamu? Lihat punggung dah perutmu yang terluka," ujar Dira dengan kepanikan yang liat biasa. Jangan sampai Mika meninggal.


"Gua gak papa, lu pulang sana!" seru Mika tepat saat pria itu kembali terhuyung jatuh ke tanah.


Salah satu temannya, yang sedikit berbeda karena menggunakan motor bebek menghampiri. "Mika, lu gak papa? Gerombolan si brewok datang lagi. Bangun, Mika. Lu harus segera pergi, lu lagi terluka parah ini. Biar mereka kita yang urus," ucap teman Mika.


Namun, Mika sudah kehilangan kesabarannya, dia darah semakin banyak keluar hingga bajunya pun sudah bersimbah darah.


"Lu, temannya Mika? Lu bisa bawa dia pergi dari sini?" tanya pria itu pada Dira setelah mengamati gadis itu.


"Hah? Tapi aku gak bisa bawa motor gede Mika," jawab Dira spontan.

__ADS_1


"Lu bisa bawa motor gue, bawa Mika menjauh dari sini kalau lu gak mau dia mati!"


__ADS_2