
Pertengkaran itu tidak bisa terelakkan. Kedua pemuda yang mencoba memperjuangkan harga dirinya itu saling baku hantam. Dira bahkan sudah berdiri di antara mereka, tapi dengan kasar Mika yang sudah diselimuti amarah, tidak sadar mendorong gadis itu menjauh hingga terjungkal ke belakang, lalu seperti kesetanan terus menghajar Anja.
Pria berkaca mata itu sudah jatuh tersungkur akibat bogem mentah Mika yang bersarang di pelipis nya. Bahkan kaca matanya saja sudah terlempar dan hancur.
"Lu harus mati di tangan gua!" jerit Mika semakin menggila. Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan, menghabisi nyawa Harianja!
Wajah Anja sudah babak belur, bahkan napas pria itu sudah tersengal-sengal, tak berdaya saat Mika sudah duduk di perutnya. Pria itu mengepal tinju dan mengangkat tangannya akan memberikan satu hantaman penutup yang pasti akan membuat Anja jatuh pingsan atau bisa mati, dan saat itu Dira tertatih berlari lalu mendorong tubuh Mika sekuat tenaga, tapi usaha nya tidak berhasil.
Mika masih akan memposisikan tangannya di wajah Anja, spontan Dira mengambil balok dan memukul tubuh Mika hingga jatuh ke samping.
Dira bukan ingin mencelakai Mika, bukan. Dia bahkan tidak ingin pria itu terluka. Dira mengambil keputusan itu agar Mika tidak jadi seorang pembunuh.
Kalau sampai Anja meninggal, maka Mika juga akan masuk penjara.
Melihat gadis itu membela Anja, membuat amarah Mika semakin terbakar.
"Jadi, Lu belain ba*nci ini? Bahkan Lu mukul gua?" bentak Mika menyentak dan mendorong Dira hingga mentok ke dinding.
"Segitu cintanya Lu sama dia, hah?" bentak Mika melotot. Air wajahnya sudah tidak terlukiskan lagi. Marah, kecewa, bahkan benci untuk Dira.
"Benar. Aku mencintai Anja, hingga gak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Kamu sadar gak kalau tadi kamu bisa aja bunuh dia!" pekik Dira.
"Jadi, Lu milih dia? Dengan semua yang udah gua lakukan? Semua pengorbanan dan perubahan yang gua lakukan demi Lu?" tanya Mika dengan nada bergetar, tidak percaya dia bisa merasa sesakit ini. Kenapa gadis itu begitu mampu memporak-porandakan suasana dan isi hatinya.
Melihat Dira hanya diam sembari menatapnya dengan mata berkaca-kaca, Mika menegakkan tubuhnya, melepas pegangan tangannya di pergelangan gadis itu.
"Baiklah!" ucapnya singkat, lalu melangkah keluar dari warung bakso itu.
Ibu pemilik warung yang tadi sempat kaget dan lari tunggang langgang kini datang lagi bersama beberapa orang yang bisa dia mintai tolong.
__ADS_1
"Itu tadi siapa, Neng? Seram amat. Lihat semua meja kursi ibu jadi berantakan begini," ucap pemilik warung.
"Maaf ya, Bu. Saya akan ganti," jawab Dira merasa tidak enak dan sangat malu.
***
Dira membawa Anja ke klinik guna mengobati luka memar di wajahnya. Setelah cukup tenang dan punya tenaga, Anja yakin bisa membawa motornya, keduanya pamit pada ibu pemilik warung sekaligus berulang kali meminta maaf atas pertengkaran yang terjadi di warung baksonya. Anja juga memberikan sejumlah uang ganti rugi pada wanita itu yang membuat senyumnya kembali merekah.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Dira menatap aneh pada Anja setelah mereka pulang dari klinik dan memilih untuk duduk sejenak di taman kota.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" goda Anja tersenyum. Namun, tidak lama meringis kesakitan kembali karena luka di sudut bibirnya.
"Anja!"
"Oke... Oke...," jawabnya meraih jemari Dira dan menggenggamnya erat.
Gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk. Harusnya dia bahagia mendengar penuturan Anja. Iya, dia senang, tapi... Kenapa saat ini pikiran Dira justru tertuju pada Mika.
Dira tahu ucapannya pada pria itu sudah berhasil membuat perasaan Mika sakit dan kecewa padanya. Tapi dia terpaksa melakukan hal itu. Semua ini juga demi kebaikan Mika dan juga dirinya.
Dira hanya berharap kalau Mika akan baik-baik saja. Dia ingin pria itu berubah jadi lebih baik karena memang dari keinginannya sendiri bukan karena ingin disukai dirinya.
***
Sejak hari itu, Mika kembali pada kebiasaan lamanya. Tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar berita.
Setelah seminggu berlalu, baru sekali Dira melihat pria itu. Ketika saling bertemu pandang, Mika dengan wajah dinginnya buang muka.
Ada kesedihan di sudut hati Dira. Bahkan dia merasa kehilangan atas perhatian Mika selama ini. Entah sejak kapan bermula, tapi dia sudah terbiasa dengan keberadaan pria itu di sampingnya.
__ADS_1
Tira dipanggil kepala sekolah ujar Silvia ketika memasuki ruangan kelas mereka.
Dira yang saat itu sedang menyalin di buku tulisnya mengernyitkan kening memikirkan tujuan kepala sekolah memanggilnya. Dengan langkah malas Dira menyeret kakinya menuju ruangan yang terletak di dekat pintu utama.
"Bapak manggil saya?" tanya Dira setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk. gadis itu mengikuti instruksi tangan kepala sekolah yang menunjuk satu kursi yang kosong, sementara kursi lainnya sudah ditempati oleh seseorang yang terlihat dingin dan memiliki aura menakutkan.
Dira sempat menoleh hanya ingin mengetahui siapa pria tua itu, tapi karena pria itu juga sedang menatapnya, membuat Dira segera memalingkan wajah menunduk karena merasa tidak nyaman katakan pria itu seolah mengintrogasi dirinya.
"Dira perkenalkan ini adalah tuan Hendardi, beliau ingin bertemu dan berbicara denganmu," ujar kepala sekolah dan setelahnya mengangguk kepada pria tua yang ada di hadapan Dira sesaat sebelum meninggalkan keduanya di ruangan itu.
Duduk Dira semakin gelisah, pria yang bernama tuan Hendardi itu terus mengamati dirinya.
"Maaf, Bapak ingin bicara dengan saya?" tanya Dira takut-takut, mereka sudah diam hingga 10 menit, dan Dira gelisah menunggu pria itu buka suara.
Tante Merlin begitu kejam dan menakutkan bagi Dira, tapi pria yang ada di hadapan ini jauh lebih menyeramkan. Dira yakin tidak akan ada yang bisa berbohong di depan pria ini, tatapan matanya begitu tajam menguliti setiap bangsa yang ada di depannya.
"Apa benar namamu Andira Putri?" tanya pria itu tanpa berkedip dengan suara tegas dan lagi-lagi menggetarkan keberanian Dira.
"Benar, Pak." suara Dira masih jelas terdengar bergetar meskipun dia sudah berusaha untuk tidak gugup. Kebiasaan Dira untuk menghilangkan kegugupannya dengan meremas ujung roknya, berusaha merajut kembali keberanian untuk berhadapan dengan siapapun termasuk Pria tua yang tidak dia kenal ini.
"Kau masuk ke sekolah ini dengan jalur khusus, yaitu beasiswa untuk orang-orang miskin, benar begitu?" tanya Tuan Hendardi dengan tajam.
Bisakah seseorang di luar sana datang untuk membantunya? Dia begitu ketakutan dengan sorot mata pria itu. Apa salahnya yang harus dihadapkan dengan pria menakutkan seperti Tuan Hendardi ini?
Dira hanya bisa mengangguk. Dia perlu waktu untuk menguasai dirinya, menghilangkan sedikit ketakutannya agar bisa kembali bicara, tubuhnya saja sampai bergetar gugup, bahkan untuk menahan salivanya saja terasa susah.
"Apa kau masih ingin sekolah di sini?" tanya pria itu, dan lagi-lagi diangguk Dira.
"Saya punya penawaran untukmu!"
__ADS_1