
Hampir dua jam lebih, Dira menunggu, tapi Mika tidak kunjung datang, tapi dia tidak punya pilihan lain selain menunggu. Hujan turun dengan lebatnya, hingga untuk pergi kerja pun rasanya Dira jadi malas.
Bergegas gadis itu meminta izin tidak masuk, dan memohon pada rekannya untuk menggantikan, dan saat libur nanti dia akan menggantikan temannya itu kembali.
Dari tempat kerja tidak masalah, dan sudah memberinya izin. Yang jadi soal adalah, justru orang yang ditunggu gak tak muncul.
"Masuk Lo, gak takut petir dari tadi menyambar?" ucap Ken yang sudah ke sekian kali memintanya untuk masuk, tapi Dira menolak.
Awalnya Ken sempat meminta Dira untuk pulang saja setelah 30 menit menunggu dan Mika tidak datang, tapi Dira menolak. Bukan tanpa sebab Ken melakukan hal itu, dia sudah menghubungi Mika dan memberitahukan perihal keberadaan Dira di basecamp mereka, dan Mika dengan segala keterkejutannya, memerintahkan Ken untuk mengusir gadis itu.
Walau Ken merasa heran atas keputusan Mika, pria itu tidak punya pilihan lain selain menemui Dira dan menyampaikan perintah Dira agar lebih baik dia pulang saja.
"Mika lama baru balik, lebih baik Lu pulang aja. Bahkan gua rasa dia gak balik ke sini hari ini," ucap Ken memperhalus niatnya mengusir Dira. Ken tentu tidak menyampaikan ucapan Mika yang mengatakan untuk mengusir Dira karena tidak ingin bertemu dengan gadis itu.
Bahkan menurut Ken, justru karena tidak ingin bertemu dengan Dira lah, makanya Mika tidak kembali ke basecamp. Biasanya, setiap jam dua siang Mika sudah nongkrong di basecamp mereka.
"Gak papa. Aku akan tunggu," jawab Dira yakin.
Dan kini, setelah hujan turun justru yang tidak tega untuk mengusir Dira lagi dan meminta garis itu untuk masuk dan menunggu mereka di dalam saja tapi dia menolak dia tidak ingin berduaan dengan kami di dalam sana.
"Gak usah, makasih, aku tunggu di sini aja," jawab Dira, kini dia tersenyum ramah pada Ken. Lagi-lagi Ken kini menyadari mengapa Mika bisa suka, gadis itu sangat cantik kalau sedang tersenyum.
Masuk ke tiga jam menunggu, Ken tidak tahan lagi, segera menghubungi Mika di dalam rumah.
"Lu balik deh, kasihan gua lihat dia. Cewek Lu tetap nggak mau pulang, apalagi saat ini hujan deras banget. Gua suruh masuk, dia juga nggak mau kasihan banget. Lu balik, ya, Mik!"
__ADS_1
"Dia bukan cewek gua!" bentak Mika dari sebelah telepon.
"Tapi tadi dia bilang pacar Lu. Ya udah, kalau emang bukan cewek lu, gua dekati dia, ya?" ucap Ken, dan tepat saat itu sambungan telepon langsung diputus oleh Mika.
Dira tidak tahu kenapa bibirnya memilih kata pacar Mika, saat ditanya Ken tadi, hanya itu yang terlintas dibenaknya, dengan pertimbangan, dengan menyebut dirinya sebagai pacar Mika maka Ken tidak akan mengganggu sekaligus mengizinkannya untuk menunggu pria itu pulang.
Tidak selang berapa lama, mungkin hanya 10 menit, Mika kembali ke basecamp. Ken yang melihat kedatangan sahabatnya itu, yang saat itu berdiri di ambang pintu hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Mika yang menempuh jarak panjang dengan basah kuyup di bawah siraman hujan lebat hanya karena terusik dengan ucapan Ken yang ingin mendekati Dira.
Sebenarnya tidak hanya itu alasan Mika memutuskan untuk pulang. Dia tahu gadis itu tidak akan pergi sebelum dia kembali dan seperti perkataan Ken, dia menunggu dengan setia di teras rumah dengan hujan dan petir yang saling menyambar.
Mika mengkhawatirkan Dira masuk angin dan akhirnya nanti sakit.
Mika mengalah, menurunkan egonya demi gadis yang sudah pernah menolaknya. Itulah cinta, kadang mengalahkan logika. Dari sekian banyak wanita yang mau kepada dirinya dan hanya dengan menjentikkan satu jari, dia mampu mendapatkan gadis mana pun, kenapa dia justru memilih Dira. Dia bisa mendapatkan gadis manapun, kecuali Dira.
"Mika," sambut Dira berdiri dari duduknya. Saking senangnya melihat kedatangan Mika, tanpa sadar dia berlari menyongsong pria itu hingga ke pintu gerbang, membukakan pintu untuk motor Mika.
"Aku... Nungguin kamu pulang," jawabnya santai, mencoba menyapu rambutnya yang basah kena air hujan.
"Maksud gua, ngapain Lu lari ke depan?"
"Oh, itu, ya, mau buka pintu gerbang buat kamu masuk," jawab Dira mengerutkan kening. Memangnya apa yang salah dengan yang dia lakukan? Bukankah dia sudah membantu Mika untuk masuk ke dalam rumah? Harusnya pria itu berterima kasih bukan justru memarahinya.
"Bego! Gua gak minta lu bukain pintu. Lihat baju lu basah gitu!" seru Mika menoleh sesaat ke arah Dira, lalu kembali membuang muka ke tempat lagi. Bagaimana dia tidak gugup, seragam sekolah Dira yang basah pada bagian dada menjiplak warna b*ra yang gadis itu pakai, dan bentuk kedua bukit indah milik Dira membayang.
"Aaackh, kamu ngeliatin dada aku, ya?" pekik Dira yang baru sadar kalau bajunya basah dan buru-buru menyilangkan tangan di dada.
__ADS_1
"Bego!" umpat Mika masuk ke dalam rumah. Namun, kala mendapati gadis itu tidak mengikutinya, Mika kembali muncul di teras rumah.
"Masih disitu, Lu? Ayo, masuk!"
Permintaan masuk ke dalam rumah dengan pilihan kata yang tidak ramah itu, akhirnya dituruti oleh Dira. Dia mengekori Mika, mengacuhkan tatapan Ken yang geli melihat ke arahnya.
Mika terus berjalan melewati ruangan tamu hingga sampai masuk ke ruang tengah, menuju sebuah kamar. Dia tepat berdiri di depan pintu kamar itu lalu menoleh ke arah Dira karena menyadari gadis itu tidak berada di belakangnya.
"Ngapain lu masih ada di situ, kesini!" perintah Mika, tapi tidak serta merta dipatuhi Dira.
Tentu saja Dira tidak mau, untuk apa dia dibawa masuk ke dalam kamar itu? Gimana kalau nanti Mika berbuat macam-macam padanya?
Pikiran buruk Dira sangat berbanding terbalik dengan isi pikiran Mika. Dia meminta Dira untuk mengikuti ke kamarnya karena tidak mau Ken melihat bagian tubuh Dira yang basah. Dia tidak rela!
Gemas melihat tingkah Dira yang tidak mau mematuhi perintahnya, Mika memutuskan untuk menjemput gadis itu dengan paksa. Menarik tangan Dira untuk mengikutinya.
Ken yang mereka lewati hanya bisa tertawa tertahan. Dira yang sempat melihat hal itu, hanya bisa memasang wajah kesal terhadap Ken yang menertawakannya karena dijajah oleh Mika.
"Masuk!" perintah Mika setelah membuka pintu kamar. Kali ini Dira terpaksa ikut perintah. Dia mengamati kamar itu yang sangat luas dan tampak sangat bersih.
Dira tebak, ini pasti kamar Mika. Banyak hiasan gitar dan juga hal yang buat Dira takjub, banyak terdapat poster penemu dan ilmuan dengan segala penemuan mereka. Banyak buku yang disusun rapi pada rak, hampir seperti perpustakaan mini.
Satu hal lagi yang Dira baru tahu tentang pribadi dan kehidupan Mika.
"Ini, segera ganti pakaian mu!" ucap Mika menyerahkan kaos oblong bergambar Linkin Park di bagian depan kaos itu.
__ADS_1
"Gak usah, Mik. Makasih," ucapnya gugup. Mereka hanya berdua di kamar itu, dan dia harus ganti baju di depan Mika?
"Ganti, atau gua yang pakein!"