
"Kamu belakangan ini, sibuk terus, gak ada waktu lagi buat aku," ucap Anja protes. Kalau seminggu terakhir ini dia berusaha menekan perasaannya, kali ini dia gak bisa lagi. Anja memutuskan untuk angkat bicara. Begitu bel pulang berbunyi, Anja segera menghampiri Dira ke ruang kelasnya sebelum gadis itu pergi.
Satu langkah lebih cepat membuat Anja bisa bertemu dengan Dira. Gadis itu terkejut dengan kehadiran Anja di dekat pintu kelas, menunggu guru keluar.
"Sorry, Ja. Aku ada kerjaan tambahan, jadi lebih sibuk," jawab Dira merasa tidak enak hati. Sebenarnya tidak semua perkataannya itu bohong, karena memang Dira kini mendapat pekerjaan tambahan. Dia mengajar Mika setiap hari sepulang sekolah guna mengejar ketinggalannya.
Mika juga sudah rajin ke sekolah. Bahkan hampir tiap hari masuk. Mau tidak mau, Josh juga pada akhirnya ikut masuk sekolah setiap hari, meski dalam hatinya mungkin menahan jengkel.
"Kerja apa?" desak Anja memperhatikan mimik wajah Dira, tampak gadis itu tidak berani melihat ke arahnya.
"Ngajar les. Udah ya, Ja, aku duluan," ucap Dira menyandang tasnya dan segera pergi dari sana. Tangan Anja menangkap pergelangan tangan Dira yang sekaligus menghentikan langkah gadis itu.
"Aku antar," sambarnya berjalan di samping Dira. Gadis itu gelagapan, bagaimana ini? Kalau sampai Anja mengantarnya, lalu Mika?
Setiap siang Mika akan menunggunya di simpang sekolah, jauh dari arah para siswa pulang. Mereka akan memilih tempat untuk belajar. Biasanya cafe belajar. Tempat anak-anak singgah untuk belajar dan dimudahkan memesan cemilan.
Dan biasanya Mika yang akan mengantar Dira ke tempat kerjanya sore hari. Dira terus berpikir mengenai Mika yang pasti sedang menunggunya saat ini, sembari berjalan di sisi Anja dengan menunduk.
Setidaknya dia harus memberi kabar pada Mika agar pria itu langsung ke cafe belajar aja, bertemu di sana, agar Anja tidak curiga.
Baiknya Mika, walau, yah, dengan keadaan terpaksa, mau mengerti keadaan Dira yang masih berpacaran dengan Anja. Dia tidak mau menyulitkan Dira dengan berdebat harus memutuskan pacarnya itu.
"Dimana tempat ngajar lesnya?" tanya Anja di tengah perjalanan. Dira diam, memikirkan jawaban yang tepat. Hanya bisa menatap rambutku yang tertutup helm dari belakang.
"Harusnya di dekat rumah, tapi katanya hari ini dia gak les. Jadi, kita langsung ke tempat kerja aja," jawab Dira pada akhirnya.
Dia sudah mengabari Mika lewat sepenggal pesan. Mengatakan kalau hari ini mereka tidak usah les karen harus menggantikan temannya yang berulang kali menggantikan dirinya kemarin.
Pesan itu belum di baca Mika, tapi Dira sudah yakin bahwa pesan itu sudah cukup menjelaskan pada pria itu untuk tidak perlu menunggunya di cafe belajar lagi.
__ADS_1
"Udah sampai," cicit Dira pelan, turun dari motor gede Anja. "Makasih udah dianter," ucapnya melengkungkan senyum di bibirnya yang menambah kecantikan gadis itu.
"Kerja yang baik ya, aku pulang. Nanti pulang nya jangan kelamaan dan hati-hati di jalan. Kalau udah sampai rumah, jangan lupa kabari aku," pesan Anja bak orang tua memberi petuah pada anaknya sebelum berpisah.
"Iya, Ja. Makasih banyak. Udah pulang sana," ucap Anja menepuk pundak pria itu.
Sampai Anja sudah tidak tampak lagi, baru lah Dira masuk ke dalam cafe sekaligus toko roti tempatnya bekerja. Pikirannya terus diganggu sosok Mika. Sampai detik ini pun, pesan Dira tidak dibaca oleh pria itu, entah dimana dia berada. Padahal satu hari ini, Dira sempat melihat nya menuju kantin bersama Josh saat istirahat kedua.
***
"Selamat datang," sapa Dira dengan ramah pada pelanggan pertamanya. Tari celemek sudah melingkar di pinggangnya setelah Dira berganti seragam.
"Mau pesan es krim vanila, ada, Mbak?" tanya wanita itu ramah. Tampaknya usianya tidak terpaut jauh dari Dira.
"Oh, ada, Mbak," jawab Dira sembari tersenyum dan mengamati pelanggannya. Pandangan Dira justru tertarik pada gadis kecil yang berada di samping wanita itu.
"Dinda mau pesan yang itu juga, Bunda," ucap anak kecil itu menunjuk cup cake berbentuk beruang.
"Iya, boleh," jawabnya tersenyum lembut.
Dira mengambil pesanan mereka, meski sesekali mencuri pandang pada wajah wanita itu. Ada yang aneh. Jelas mata sembabnya menandakan dirinya baru saja menangis.
Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela, agar bisa melihat luar, mobil lalu lalang dan juga orang yang lewat.
"Bunda, kapan kita ketemu papa lagi? Kenapa papa marah dan pergi, Bun?" celoteh anak itu memainkan boneka Elsa yang sejak masuk berada di dekapannya.
"Nanti, papa pasti datang," jawab wanita itu kembali tersenyum. Tak lama dia membuka tas, memperhatikan ponselnya.
Dira datang mengantar makanan melihat wajah wanita itu semakin gamang. Kegelisahan yang sangat jelas. Dira tebak pasti sedang ada masalah.
__ADS_1
"Mbak," ucapnya menghentikan niat Dira yang hendak berbalik. Terlihat wanita itu menghampiri Dira, sedikit mengajak Dira berjalan sedikit lebih jauh dari anak kecil itu.
Gadis berusia belum genap empat tahun itu masih asyik bermain sembari menikmati es krimnya.
"Maaf, Mbak, saya mau ke ATM sebentar, boleh gak saya titip putri saya di sini?" tanya wanita itu sedikit gugup.
Dira sedikit bingung atas permintaan wanita itu, tapi pada akhirnya mengangguk juga.
"Saya gak akan lama, kok," ucapnya lalu kembali ke tempat duduknya.
"Dinda, Bunda pergi sebentar ya, mau ke ATM. Kamu di sini dulu," ucapnya mencium puncak kepala anak itu lama dan penuh kesedihan. Dira yang berada di sana saat wanita itu pamit pada putrinya, bisa menebak gelagat lain dari sang wanita tapi tidak ingin mempertanyakan.
Dira mencoba berpikir positif, mungkin pergi hanya sebentar.
Gadis itu sangat tenang, duduk di bangkunya sembari melihat ke arah Dira. Ekor matanya terus mengikuti kemana gerak Dira. Dia tahu ibunya menitipkan pada Dira, dan karena hingga dua jam ini sang ibu belum kembali, maka satu-satunya orang yang dipercaya Dinda untuk menjaganya hanya Dira.
"Kamu mau minum jus jeruk?" tanya Dira mendatangi Dinda. Sejak tadi melihat gelisah ke arah pintu, sang ibu tidak juga datang.
Janji yang hanya sebentar, kita sudah berjam. Kemana wanita itu pergi? Apa hal buruk terjadi pada wanita itu hingga tidak bisa langsung kembali ke cafe itu?
Dinda mengangguk, lalu Dira menyodorkan jus yang tidak perlu waktu lama sudah habis. Kekenyangan, Dinda akhirnya tertidur di sofa.
Dinda yang merasa kasihan mengambil sweater nya dan menyelimuti tubuh kecil itu. Kepanikan Dira semakin nyata kalau dia akan pulang kerja, tapi wanita itu belum datang.
Bagaimana dengan anak kecil ini? Gak mungkin dia meninggalkannya di cafe!
"Lu udah mau pulang? Ayo, gua antar," suara Mika dari belakang pundaknya membuat Dira bisa tersenyum lega.
.
__ADS_1