Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
10 | Suatu Pernyataan


__ADS_3

Catherine Pov


Dengan suaranya yang bernada rendah dan nafasnya yang menerpa leher gue, laki-laki itu berkata, "Gue juga mau ngomong sama lo,"


Nafas gue tercekat, seakan suara gue tak ingin keluar. Tapi gue memaksakannya untuk keluar, tapi dengan volume yang kecil. "A-apa?"


"Apa bener lo cuma nganggep gue sebagai teman?" tanyanya dengan suara yang sangat mendalam sampai gue ngerti apa maksudnya.


"Lo udah baik sama gue, setidaknya gue bisa ngebalas kebaikan lo dengan menganggap lo sebagi teman gue," gue menjawab dengan jujur meskipun tidak sepenuhnya.


Gue mati-matian mengontrol kegugupan gue karena wajahnya dihadapan gue yang sangat dekat dengan wajah milik gue.


"Oh gitu," ujarnya singkat sambil menatap gue dengan tatapan gelapnya, tapi entah kenapa gue bisa melihat ada kesedihan yang amat tersembunyi dibalik tatapannya.


Dia kemudian pergi berlalu begitu saja tanpa berbicara lebih jelas dan bahkan tanpa mendengar ataupun menjawab pertanyaan yang ingin gue tanyakan.


Tapi gue gak semudah itu menyerah dengan tujuan gue, gue sedikit berlari mengejar langkah nya yang cukup jauh lalu meraih pergelangan tangannya yang kekar itu.


Dia tidak berjalan lagi saat gue menahan pergelangan tangan dia, dia kemudian berbalik kembali menatap gue dengan kedua alisnya yang saling bertaut.


"Lo udah punya pacar?" tanya gue langsung ke intinya tanpa berbasa-basi.


"Apa urusan lo?" tanyanya sarkastis membuat gue tersentak. Sebenarnya ada apa dengannya tiba-tiba berubah seperti ini.


Laki-laki yang bawaannya selalu tenang, kini berubah seakan menjadi seperti singa yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Siap menerkam kapan saja disaat kita mengganggunya, mengingatkannya terhadap kejadian lama.


Gue berusaha bertanya dengan baik-baik karena rasa penasaran dan juga berkata dengan pasti kepada pasti kepada sahabat gue apa laki-laki dihadapan gue ini benar-benar telah memiliki pacar atau belum.


"Gue cuma mau nanya, karena ada seseorang yang butuh kepastian dari lo," gue berucap.


"Maksud lo temen lo yang waktu itu dateng kesini?" ujarnya tepat sasaran, bagaimana dia bisa tahu?


"Darimana lo tau?" tanya gue secara spontan.


Laki-laki itu tersenyum pahit, "Sudah gue duga, ternyata memang lo yang berusaha deketin kami,"


"Ya, kalo memang itu gue memang kenapa? Asal lo tahu, gue berusaha ngedeketin lo sama Giselle karena Giselle itu cewe baik-baik. Dia juga udah suka sama lo sejak lama, cewek kayak dia cocok sama lo,"


"Lo selalu mikirin perasaan sahabat lo. Tapi, apa pernah lo mikirin perasaan gue?" ucapannya dan tatapannya entah kenapa seakan menusuk diri gue sehingga tak bisa membuat gue berkata apa-apa.


"Gue memang gak pernah mikirin peraaan lo terhadap pacar lo. Makanya sekarang gue mau nany--"


"Pacar? Apa maksud lo? Gue gak punya pacar." ucapnya membuat gue bingung, bukannya kata Giselle dia sudah punya pacar?


"Tapi Giselle bilang lo udah pacar?"


Dia tampak berpikir dan mengingat-ingat sesuatu. Lalu ia kembali berkata, "Ya, lo pacar gue,"


"Hah?"


"Lo, masih punya tempat dihati gue,"

__ADS_1


Apa maksudnya?


Catherine Pov End


Catherine seakan membisu, mendengar ucapan laki-laki itu membuat pikirannya bingung dan hatinya berdesir.


Apa ini? Ia merasa deja vu. Dirinya mengingat perasaan ini, perasaan ini terjadi disaat dirinya masih berada di bangku SMA dulu.


Disaat kejadian itu belum terjadi. Tidak, ini tidak mungkin.


Tidak mungkin ia kembali menyediakan tempat untuk laki-laki itu dihatinya kan? Tidak, ini tidak mungkin dan tak boleh terjadi.


Dirinya tak ingin merasakan rasa sakit itu lagi yang pernah menghampiri dan hinggap dihatinya.


Dan juga, ini tidak boleh dibiarkan. Karena... itu sama saja dirinya mengkhianati sahabatnya.


Ia tidak boleh egois, dan tidak boleh menjadi seorang gadis yang bodoh karena telah memberikan kesempatan pada laki-laki yang salah.


Dirinya tidak tahu bagaimana merespon hal ini, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah melarikan diri kekamarnya secepat mungkin dengan airmata yang ia tahan agar tidak jatuh.


Airmata yang mewakili rasa kesedihan, rasa bersalah, dan rasa sedikit senang yang menyelip diantaranya.


Mengapa ia menjadi seperti ini?


...°°°...


Pikirannya tak bisa berhenti memikirkan kejadian semalam, bahkan soto ayam yang ada dihadapannya hanya ia aduk-aduk dan tak selera untuk dimakan.


Tentu saja Giselle khawatir dengan sahabatnya itu. Biasanya, Catherine dan dengannya selalu berisik dan tidak hentinya berbicara satu sama lain walaupun entah apa yang mereka bicarakan.


Catherine menghembuskan nafas. "Gak nafsu gue,"


"Kalo gak nafsu ngapain dibeli coba? Mumbazir tahu,"


Catherine hanya diam tidak berniat membalas.


"Eh, Rin. Siang ini ke mall yok, udah lama gak ke mall kita," ajak Giselle.


"Tapi bayarin yah," wajah memelas Catherine membuat Giselle mendengus. "Yaudah deh," jawabnya pasrah membuat raut wajah Catherine yang tadinya cemberut kini tersenyum bahagia.


Beberapa jam kemudian akhirnya mereka berdua bebas dari jadwal mereka dan bergegas ke mall seperti yang mereka rencanakan tadi.


Setelah mereka berdua sampai, Giselle melihat toko aksesoris yang menarik menurutnya."Eh, Rin. Kesana dulu yuk!" ujarnya tanpa aba-aba dan langsung menarik tangan Catherine dengan cepat.


"Sabar kenapa sih!" ucap Catherine sedikit kesal karena Giselle yang begitu tak sabaran.


Saat mereka memasuki toko itu, Giselle seperti anak kecil yang baru pertama kali memasuki toko mainan. Membuat Catherine mendengus saat gadis itu terus menanyainya yang mana kalung yang menurutnya bagus.


Padahal ia tidak terlalu peduli dengan kalung, ia hanya ingin duduk dikursi bioskop dan menonton film horrornya dengan tenang dan tentram.


"Sel, udah cepetan milihnya orang tinggal dipilih aja mau yang mana kok ribet," sewot Catherine.


"Sabar ih, orang cuma sebentar doang,"

__ADS_1


"Sebentar dengkulmu!" ujarnya kesal, lalu menatap sekitar dengan tangan yang dilipat didepan dada.


Akhirnya, setelah menunggu sekian lama Giselle pun telah selesai dengan acara membeli aksesoris tersebut.


Karena Catherine yang tak sabar untuk menonton film horror nya, mereka pun langsung membeli tiket untuk masuk ke dalam bioskop.


Catherine membeli popcorn dengan ukuran besar, dan minuman ukuran besar. Karena mumpung ditraktir, pikirnya.


Membuat Giselle menatap miris bagaimana nasib uang tercintanya.


...°°°...


Sehabis mereka menonton film pilihan Catherine, mereka pun sekarang tengah duduk disebuah restoran untuk mengisi perut mereka yang kosong.


Catherine membuka akun media sosialnya sejenak, saat asyik melihat postingan-postingan yang muncul diberandanya, ada sesuatu yang membuatnya heran dan terkejut.


Sebastian, laki-laki itu memposting sebuah video di story nya, dan bahkan lokasinya pun tertera disana.


Sebuah video dimana laki-laki itu, Takumi, Gavin, dan Rean tengah berada di sebuah club malam bersama Melly dan gengnya tengah minum minuman keras.


"Sel, coba liat nih!" seru Catherine sambil menunjukkan video itu.


Mata Giselle membulat sempurna, "I-ini beneran Alex yang ngepost Rin?!" tanyanya tak percaya.


"Yaiyalah siapa lagi, orang jelas-jelas ini akun dia kok."


"Eh, liat deh Rin. Gavin sama si Lara ini nempel banget gak sih?" tunjuk Giselle pada video itu yang memperlihatkan Lara yang mengalungi lengan Gavin manja.


"Gak bener nih, gue chat si nona bule dulu. Si Gavin ini, katanya mau tobat. Mana buktinya coba?" celetuk Catherine sambil mencari kontak Sarah. Setelah ketemu, ia kemudian mengirimkan pesan pada gadis bule itu.


Nona Bule


^^^Pacar lo lagi dikelilingin sama pelac*r. ^^^


^^^Kalo lo mau ngelabrak, alamatnya di club xxx dijalan xxx.^^^


I'm on my way.


Gadis itu langsung menjawab begitu Catherine mengirimkan pesan terhadapnya.


"Rin, ayo kita kesana,"ujar Giselle.


"Hah?! Mau ngapain coba kita kesana?!" ucap Catherine heran dengan yang dikatakan oleh Giselle.


"Itu temen kita lho, Rin. Lo mau temen-temen kita ngelakuin hal gak bener?" tanya Giselle yang ada benarnya juga.


"Ya lo bener juga sih, tapi pesenan kita giman--"


"Udah ayo cepet!" ujar Giselle tak sabaran lalu menarik paksa tangan Catherine untuk mengikutinya.


"Permisi mbak! Makanan mbak udah kami siapkan, mbak harus bayar dulu dong, jangan main pergi nyelonong gitu aja!" kata pelayan yang ada direstoran itu.


Giselle mendengus kesal, ia kemudian mengeluarkan beberapa uang lembar berwarna merah. "Nih. Makanannya untuk orang-orang disini aja. Makanan gratis!!" teriaknya membuat seluruh pelanggan disitu langsung bahagia mendengar ada makanan gratis.

__ADS_1


"MAKASIH SULTAN!!"


__ADS_2