
Giselle Pov
Saat ini gue lagi duduk di sebuah kursi kafe, sebagaimana yang kami berdua rencanain. Ya, hari ini Catherine bilang katanya kami bakal buat rencana reunian lagi.
Gavin, Takumi, Alex, Catherine, gue, bakal makan di kafe ini sambil ngobrol-ngobrol mengenang masa-masa SMA, hihi.
Catherine tadi lagi pergi ke kamar mandi karena katanya kebelet, dan yang lainnya belum ada satu pun yang datang.
Gue pun terduduk sambil terlarut dengan pikiran gue, tapi beberapa menit kemudian muncul lah cowok yang telah menjadi cinta pertama gue sejak SMA.
Walaupun dulu gue gak berani nyatain perasaan gue, tapi sekarang berbeda. Berkat dukungan dan bantuan Catherine, entah kenapa membuat gue percaya diri dan lebih berani untuk nyatain perasaan gue.
Memang cowok itu bilang kalo dirinya punya pacar, tapi sebelum janur kuning melengkung, tak ada salahnya kan berusaha merebut hati nya?
Namun, ada sesuatu yang membuat gue janggal. Karena Catherine yang dulu sangat berbeda drastis dengan yang sekarang. Alex pun juga begitu, walaupun gak sebanyak Catherine.
Tapi gue gak terlalu mikirin hal itu, karena mungkin aja mereka berdua ada masalah pribadi yang gak bisa di omongin kan?
Dan gue menghormati privasi Catherine, sebagai sahabat yang paling ngertiin dia.
Alex terlihat lagi nyari seseorang, mungkin dia gak lihat kalo gue ada di sini. Jadi gue pun berinisiatif memanggil nya.
Awalnya Alex tak menoleh ke arah gue, tapi itu mungkin aja dia gak terlalu kedengaran. Harus sebesar apa suara gue biar dia kedengaran kalo gue manggil dia?
Setelah gue panggil beberapa kali lagi, dia pun akhirnnya menoleh ke arah gue. Lalu dia pun berjalan ke arah gue lalu duduk di hadapan gue.
Jujur, saat dia duduk di hadapan gue dan muka nya dekat banget sama gue, gue gak bisa nahan senyum yang terukir di muka gue.
Gue ngerasa senang banget, bahkan gue pun gak bisa nyembunyiin salah tingkah gue.
"Lo ada lihat Catherine?" dia bertanya yang mana membuat gue sedikit kecewa. Bukan kalimat itu yang ingin gue dengar dari bibirnya.
Gue gak tahu kenapa, raut wajah dia hari ini kelihatan lebih cerah dan bahagia daripada hari sebelum-sebelum nya.
Tentu gue tahu hal itu karena gue udah mendam perasaan hampir empat tahun pada nya. Dan, gue pun selalu memperhatikan dia secara diam-diam.
Mungkin sebagian dari kalian ada yang jijik atau gak suka dengan perlakuan gue yang kayak stalker.
Tapi gue gak peduli, asalkan gue bahagia, gue gak bakal mikirin hal yang lain. Gue pun menjawab pertanyaan sambil menampilkan senyum terbaik gue. "Gue belum lihat dia, padahal dia yang ngajak gue kesini," jelas gue.
Seketika raut wajahnya yang terlihat cerah dan bahagia tadi, langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat.
Gue sempat kaget dan kebingungan di buatnya, bagaimana gak? Raut wajahnya dengan cepat berubah seperti itu.
Netra matanya yang menggelap, senyum tipis yang nyaris tak terlihat tadi langsung menghilang dan musnah begitu aja dari wajah tampannya, dan raut wajahnya yang kembali berubah menjadi dingin.
Dia pun menggebrak meja secara tiba-tiba sambil berdiri, tentu hal itu membuat gue kaget banget dengan perlakuan dia yang secara tiba-tiba.
Pandangan di kafe itu sontak langsung mengarah ke kami berdua, tapi Alex seakan gak peduli lalu pergi begitu aja ningalin gue dengan langkah cepat.
Gue pun memanggilnya berharap dia mendengar gue dan berhenti, tapi hal itu sia-sia karena dia gak menghiraukan gue dan masih setia dengan langkah cepatnya.
Dan saat itu juga, gue melihat Catherine yang tengah lari tergesa-gesa mengejar Alex. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?
Sumpah, kebingungan yang tiada tara menghampiri gue. Karena penasaran, gue pun ngikutin mereka berdua.
__ADS_1
Namun, saat gue baru saja keluar dari pintu kafe gue melihat Alex yang kayaknya sedang marah besar.
"Gue suka sama lo, gue cinta sama lo! Tapi kalo lo gak bisa ngebales itu semua, lo bilang secara jelas! Lo jangan maksa gue untuk sama cewek lain! Gue muak!"
Sekitika sekujur tubuh gue kaku kayak manekin, bola mata gue melotot seakan bisa lepas dari tempatnya, gue gak tahu harus bereaksi kayak gimana.
Sakit, hanya itu lah yang saat ini gue rasakan.
Sumpah, itu sakit banget. Hati gue rasanya kayak diremuk oleh tangan raksasa dengan kuat, sakit banget hingga airmata gue lolos gitu aja.
Gue hanya bisa diam mendengarkan dua orang yang paling berarti di hidup gue saat ini tengah bertengkar hebat persis di hadapan mata gue.
"Di saat sahabat lo suka sama mantan lo, tapi mantan lo suka sama diri lo! Gue benci semua drama murahan ini! Gue bingung dengan perasaan gue!"
Lagi-lagi gue hanya bisa diam, jadi selama ini Catherine adalah mantan Alex? Dan ternyata Alex masih cinta sama Catherine?
Jadi selama ini, gue yang ternyata udah ngekhianatin Catherine?
Apa ini juga alasan Catherine berubah waktu itu? Apa in juga alasan kenapa Catherine waktu itu benci banget sama Alex sampe dia ngehina Alex?
Tapi, atas dasar apa? Atas dasar apa Catherine ngebenci Alex? Sebenarnya, berapa banyak rahasia lagi yang belum gue ketahui?
Seberapa banyak lagi rahasia yang mereka sembunyikan dari gue?
Ini semua terlalu tiba-tiba, gue menutup mulut gue dengan kedua telapak tangan gue agar isakan gue yang memaksa keluar bisa gue tahan.
Catherine terlihat sangat frustasi, dia meremas kuat rambut miliknya sambil menundukkan kepalanya. Yang entah kenapa membuat gue merasa bersalah.
Tapi kenyataan bahwa Alex selama ini masih cinta sama Catherine, membuat gue gak rela.
Cewek mana yang gak sakit hati, kalo cowok yang di sukainya menyatakan perasaan terhadap cewek lain tepat di hadapannya?
Walaupun sia-sia menanyakan hal ini, tapi pertanyaan itu tetap keluar dari bibir gue, "Apa itu semua bener?"
Catherine langsung menoleh ke arah gue sambil menumpahkan airmatanya. Jujur, gue belum pernah ngelihat Catherine menangis kayak gini.
"Gi... selle...?"
Dia menyebut nama gue dengan raut muka terkejut yang gak bisa dia sembunyiin, suara nya lirih dan hampir tenggelam.
Lalu gue pun nge lihat Alex yang ada di belakangnya, mengingat kembali pernyataan bahwa dia masih cinta sama Catherine, membuat hati gue pedih.
Gue gak sanggup, pikiran gue kacau.
Gue merasa kesal, sedih, marah, kecewa, rasa bersalah. Semua nya menggumpal menjadi satu sehingga susah untuk memisahkan setiap perasaan itu.
Semua kenyataan ini terlalu tiba-tiba. Entah apa yang merasuki gue, kaki gue pun tergerak untuk berlari dari sini.
Dapat gue dengar teriakan Catherine yang memanggil gue, tapi gue tak menghiraukan itu semua dan berlari sekencang mungkin dari sana.
Gue gak melihat ke arah depan saat berlari, alhasil gue pun menabrak seseorang hingga gak bisa menjaga keseimbangan gue dan berakhir dengan terduduk di lantai yang kotor.
"M-maaf, lo gak papa?"
Gue pun terbelalak mendengar suara yang sangat tak asing itu di pendengaran gue. Gue mendongakkan kepala gue untuk melihat muka nya.
__ADS_1
Tak salah lagi, dia orangnya.
Cowok yang akhir-akhir ini membuat gue nyaman, yang akhir-akhir ini membuat gue bahagia, dan yang belum lama gue temui.
"Giselle?!"
Gue pun kembali meloloskan airmata gue dan langsung mendekap dada bidangnya, entah dorongan apa yang membuat gue ngelakuin hal itu.
Tapi yang anehnya, bukannya mendorong gue, dia malah membuat gue semakin tenggelam ke dalam dekapannya yang hangat dan nyaman.
Astaga, kenapa bisa se nyaman ini berada di dalam pelukannya?
Hingga mampu membuat jantung gue berdetak lebih cepat, sekaligus mampu menimbulkan kehangatan yang menjalar di seluruh bagian tubuh gue.
Kenapa gue tidak merasakan hal yang sama pada Alex?
.
.
.
.
.
Saat ini kami lagi duduk di sebuah bangku taman yang berada di bawah pohon yang besar, sehingga membuat udara menjadi sejuk dan teduh.
Dengan dia yang masih setia menatap gue dengan raut wajah kekhawatirannya, yang mana membuat gue sedikit senang.
Gue pun meminum sebotol kopi hitam dingin yang di belikannya buat gue, entah kenapa rasa sedikit pahit dari kopi hitam memang selalu sukses membuat gue sedikit lebih tenang.
"Udah sedikit lebih tenang?" dia bertanya dan gue pun mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Makasih, udah ngebantu nenangin gue," ujar gue sambil tersenyum simpul.
Dia pun membalas senyuman gue sambil berkata, "Sama-sama,"
Lalu setelah itu gak ada lagi dialog yang terlontar dari kami berdua, mungkin kami terlalu bingung bagaimana membuka percakapan.
"Lo ada masalah apa?" tiba-tiba dia membuka percakapan, nada bicaranya terdengar sangat hati-hati, mungkin dia takut kalo dia terlalu mencampuri urusan gue.
Gue pun kembali berusaha menampilkan senyum gue, "Gue gak papa kok, cuma kaget aja," ucap gue tenang. "Lo udah tahu kan kalo Catherine mantannya Alex?" tanya gue berhasil membuatnya berkutik dan sedikit mebelalakkan bola matanya.
"Lo udah tahu?" tanyanya kembali memastikan.
Gue mengangguk. "Bahkan Alex sendiri yang bilang kalo dia masih cinta sama Catherine," gue tersenyum pahit. "Gue harus gimana sekarang? Gue ngerasa kecewa sama Catherine, tapi gue juga tahu kalo Catherine juga sebenernya menderita...."
Ah.. kenapa sih airmata ini keluar dengan seenaknya lagi?
Tapi tak lama dari itu gue merasakan sentuhan lembut yang menyapu airmata gue, gue langsung menoleh ke arah sosok yang telah memberi sentuhan lembut tersenyum.
Dia pun menampilkan senyumnya yang sangat manis di mata gue, dan dia pun berkata, "Gak usah terlalu bingung. Masalah kayak gini akan selalu ada untuk menghiasi hidup kita, apa yang harus lo lakukan adalah berusaha membuat semuanya kembali seperti biasa dan menyelesaikannya dengan cara baik-baik,"
Dia menjeda kalimatnya sambil menatap gue dalam, lalu dia kembali berkata, "Lo hanya harus lakukan hal yang menurut lo benar, barulah lo bisa menyelesaikan masalah lo,"
__ADS_1
Entah kenapa seluruh kalimatnya membuat gue terpana, dan berhasil membuat jantung gue kembali berdetak dengan cepat.
Seakan jantung ini bakal lepas dari tempatnya saat ini juga.