
Beberapa saat yang lalu..
Sebastian saat ini tengah berkerja paruh waktu, karena mumpung hari ini ia libur, jadi ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Saat ia tengah menyapu lantai cafe, sakunya bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Awalnya ia tak menghiraukan hal tersebut, karena ia tak ingin terganggu saat sedang melakukan pekerjaannya.
Tapi ponselnya tersebut terus bergetar, membuat ia mendengus kesal dan kemudian mengambil ponsel dari sakunya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Kucing Garong
Gue butuh bantuan lo
P
P
P
P
P
P
P
^^^?^^^
Unggah rekaman ini
di forum kampus kita,
jangan sampe dosen tau ntar
panjang urusannya
Gadis itu kemudian mengiriminya sebuah rekaman, dan karena penasaran dirinya pun memutar rekaman itu.
"Apa lo?! Natep-natep kita kayak gitu! Mau minta tampar iya?!"
"Yaudah tampar aja, Lar."
"Iya, Lar. Tampar aja!"
Plak!
"Heh, jangan diem aja! Punya mulut tuh jawab!"
"Kalian kenapa sih selalu nyakitin gue? Gue ada salah apa sama kalian?"
"Yaampun, si Catherine nangis yaampun cup cup! Sana ngadu sama nyokap lo! Oh iya gue lupa, lo kan gak punya nyokap ahahahah!"
"Hahahaha!!"
"Aduh, karena gak ada bokap lo, lo jadi takut sekarang?"
"Dasar cewek manja, beraninya pas ada bokap doang, jijik gue!"
"Udah yuk gengs, kayak nya dia udah jera nyari gara-gara sama kita. Makanya, kalo penakut tuh gak usah sok!"
Setelah mendengarkan itu Sebastian pun hanya tersenyum miring, ternyata tujuan gadis itu mau balas dendam.
Wajar saja gadis itu meminta dirinya yang menyebarkan rekaman ini, agar lebih terlihat seperti nyata dan bukan settingan.
Berpura-pura lemah didepan tapi menusuk dari belakang? Sungguh licik.
Tapi hal itu benar-benar mencerminkan sifat gadis itu.
Sebastian suka hal seperti ini, oleh karena itu dengan cepat ia mengunggah rekaman itu di forum kampus mereka yang tidak bisa dilihat oleh para dosen kecuali mahasiswa dan mahasiswinya.
__ADS_1
Setelah itu mengembalikan ponselnya pada tempatnya, dan kembali bekerja.
...°°°...
"It's showtime,"
Giselle mengernyit bingung. "Hah? Maksud lo apaan--"
"Eh liat nih!" seru beberapa dari orang-orang disekitar mereka memotong perkataan Giselle sambil mendengarkan sesuatu dari ponsel mereka.
Giselle pun melihat notifikasi dari ponselnya dan melihat ada sebuah rekaman yang dikirim oleh Sebastian.
Karena rasa penasaran yang tak dapat dibendung, ia kemudian mendengarkan rekaman itu sampai habis.
Giselle membelalakkan matanya setelah mendengar rekaman barusan.
"Jadi lo tadi dibully ama Melly?! Kok lo gak bilang sih?!" ucap Giselle histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Catherine.
Catherine merasa kepalanya pusing karena tubuhnya diguncang-guncang oleh Giselle sehingga ia mencoba melepaskan diri. "Ih apaan sih Sel, pusing tau!"
"Cepetan cerita sama gue!" ujar Giselle memaksa.
"Iya gue cerita makanya lepasin dulu!" kata Catherine kesal kemudian Giselle langsung berhenti mengguncang-guncang tubuh sahabatnya itu.
"Pas lo balik ke kelas, si Melly ama geng nya ngunci gue terus nyiram dan nampar gue,"
"Terus kenapa lo nggak ngelawan? Gak kayak lo yang biasanya."
"Buat apa gue ngelawan, buang-buang tenaga. Mending gue pake cara gini, biar mereka jera,"
"Ih pinter banget sih lo, Rin!"
"Yaiyalah, namanya Catherine,"
"Tapi gimana cara lo ngerekam omongan mereka, Rin?"
Catherine tersenyum miring mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Giselle.
"Aduh, karena gak ada bokap lo, lo jadi takut sekarang?"
"Dasar cewek manja, beraninya pas ada bokap doang, jijik gue!"
"Udah yuk gengs, kayak nya dia udah jera nyari gara-gara sama kita." ujar Melly pada geng nya. "Makanya, kalo penakut tuh gak usah sok!" lanjutnya.
Setelah itu mereka berlima pergi dengan lagak sombong mereka yang khas.
Meninggalkan Catherine yang terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa panas setelah ditampar oleh si ketua geng cewek yang berkuasa di kampusnya.
Tapi setelah kelima gadis itu benar-benar pergi, Catherine terkekeh dengan seringaian licik yang menghiasi wajah cantiknya.
Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya.
Alat perekam suara.
"Catherine!"
Suara seorang gadis memenuhi ruangan itu membuat semua orang menoleh terhadapnya begitupun dengan Catherine dan Giselle.
Itu Melly.
Gadis itu kemudian berjalan kearah Catherine dan Giselle dengan geng setianya.
Terdengar banyak bisikan di sekitar mereka, yang terdengar jelas oleh Melly dan membuat gadis itu sangat kesal.
"Liat deh, masih belum puas juga ngebully Catherine,"
"Iya, belum puas apa ngebully anak orang terus?"
"Catherine sampe nangis loh! Gila banget sih si Melly itu!"
"Namanya orang jahat ya kek gitu, mana bisa berhenti nebar kejahatan mereka,"
__ADS_1
"Kasihan banget ga sih Catherine, ditampar kek gitu terus dihina-hina. Mana pas masuk ke kelas dia basah-basahan lagi,"
"Kata Catherine dia kecebur got kan? Mungkin aja dia bukan kecebur melainkan di ceburin sama Melly?"
"Gak ada akhlak banget jadi cewek mentang-mentang cantik sama tajir,"
Melly mengepalkan tangannya dengan wajahnya yang kini memerah menahan amarah.
"Ngapain lagi lo kesini?! Belum puas nyakitin sahabat gue?! Iya?!" aksi Giselle membuat seluruh pasang mata tertuju pada gadis itu.
Catherine yang mengerti maksud dari perlakuan gadis itu, kini ikut menambahi. "Udah Sel, Melly pasti gak sengaja, maafin aja," ucapnya dengan penuh palsu sambil memeluk lengan Giselle.
"Gak usah munafik lo anj*ng! Lo sengaja kan tadi pura-pura dihadapan gue?!" sembur Melly.
"Maksud lo apa sih, Mel? Gue gak pura-pura kok," ujar Catherine dengan raut wajah sedih.
Jika ia masuk ke dunia akting, mungkin ia akan terpilih menjadi pemeran utama.
"Tuh liat, kurang baik apa lagi si Catherine? Cewek baik kayak gitu masih aja dibully sama Melly itu,"
"Parah emang,"
"Liat, dari ngomong nya aja udah keliatan sifatnya kayak gimana,"
"Eh jangan sok suci lo jadi cewek!" sahut Lara.
"Kalian! Bisa diem gak?! Mau gue tamparin satu-satu disini?!" teriak Farah terhadap mahasiswi yang tengah sibuk berbisik.
"Kenapa kita harus diem?! Orang memang temen lo yang salah! Udah salah malah nyolot lagi!" jawab seseorang mahasiswi yang ada diruangan itu.
Melly menggertakkan giginya, ia kemudian mendekati Catherine dan berbisik kepada gadis itu. "Lo mungkin menang kali ini, tapi lo gak bakal gue biarin gitu aja," ancam nya.
Catherine tersenyum remeh. "Heh! Lo pikir gue takut sama lo? Kalo lo masih mau nyari masalah sama gue silahkan. Gue bakal terima dengan senang hati dan gue bakal balas dengan lebih buruk lagi,"
"Lo..!"
"Perlu lo ingat. Kalo lo baik sama gue, gue baik sama lo. Kalo lo jahat sama gue, gue jahat sama lo. Karena gue orang yang adil," ancam Catherine dengan tatapan tajam dan raut wajahnya yang penuh ancaman.
Melly merasa sedikit takut dengan tatapan itu, tapi ia berusaha menutupinya. "Lo menang kali ini! Ingat, lo masih ada urusan sama gue!" ujarnya lantang lalu meninggalkan ruangan itu diikuti oleh anak buahnya yang setia mengekorinya kemana saja.
"Udah salah masih aja main ngancem-ngancem. Emang gak bisa tobat itu anak!" kesal Giselle, udah ayok ke kantin, Rin. Jadi laper gue!"
Catherine hanya terkekeh dengan tingkah sahabatnya satu ini.
...°°°...
"ARGHHHH! CATHERINE BANGS*T!!" teriak Melly meluapkan seluruh kekesalannya dan melempar vas bunga yang ada dihadapannya hingga hancur berkeping-keping di lantai.
"Kita gak bisa diem, Mel. Nama lo udah tercoreng di kampus kita!" ucap Lara.
"Bener! Kita harus bales si Catherine itu!" sahut Farah.
"Setuju, pokoknya kita gak bisa biarin Melly di ejek-ejek kayak gitu aja!" timpal Rara dan Ruru menyetujui.
"Bahkan Sebastian pun ada di pihak cewek ngeselin itu!"
"Kalian ada rencana gak?" tanya Melly.
Mereka berempat pun memikirkan sebuah rencana untuk menyerang musuh besar mereka.
Mereka tak bisa diam membiarian musuh mereka menang dengan begitu mudah.
Mata Melly berbinar. Ia mempunyai ide yang menurutnya bagus. "Gue ada ide bagus!"
Mereka berempat pun penasaran. "Apa Mel?" tanya mereka serempak.
Melly pun membisikkan rencana yang ada di otaknya kepada mereka. Setelah selesai mendengarnya, Lara, Farah, Rara, dan Ruru langsung mengangguk setuju.
"Ide bagus, Mel!"
Melly pun hanya tersenyum licik. "Lihat aja nanti, Catherine Angelina."
__ADS_1