
Prang!!
Suara gelas kaca bening yang terjatuh ke lantai membuat suasana semakin mencekam.
"Kamu anak kurang ajar! Berani-beraninya!" seorang wanita bersurai hitam berusia tiga puluhan itu bereteriak sambil menampar bocah laki-laki yang berusia lima tahun itu.
Bocah laki-laki itu pun malangnya tak bisa melawan sama sekali, ia hanya bisa tertunduk meneteskan airmata di pipi tembabnya yang memerah akibat tamparan menyakitkan itu.
"Sini kamu! Dasar anak tidak berguna!" wanita itu menjambak anak laki-laki itu tanpa ada rasa kasihan sama sekali di hatinya yang dingin seperti sebongkah es, dan memaksa anak itu untuk mengikuti langkahnya.
"Ampun ma..., sakit..." mohonnya dengan isakan pilu. Tapi sayangnya, hal itu tak mempan sama sekali terhadap wanita kejam itu.
"Diam! Jangan banyak omong kamu!" bentak wanita itu dengan nada suara yang tinggi. "Saya muak melihat muka sial*n mu itu tiap hari!"
Akhirnya setelah beberapa saat, jambakan yang membuat bocah itu meringis kesakitan karena perih yang dirasakan oleh kulit kepalanya, wanita kejam itu pun melepaskannya dan melempar bocah laki-laki itu ke gudang yang kotor dan amat gelap.
"Ma.. Tian mohon jangan kurung Tian lagi mah..!" isaknya kembali memohon sambil memeluk kaki jenjang wanita itu. Ia benar-benar sangat takut jika harus kembali dikurung di gudang yang amat gelap ini.
Sontak wanita itu tak terima, ia pun melepaskan pelukan bocah laki-laki itu dengan kasar, hingga bocah laki-laki itu sedikit terpental ke lantai yang dihinggapi debu yang tak terhitung.
Wanita itu pun meludah hingga mengenai wajah bocah itu, "Ingat ya, anak pembawa sial. Saya ini bukan mama kamu! Kamu itu hanya anak tiri saya yang patut untuk disiksa! Jangan pernah memanggil saya dengan panggilan mama lagi, ngerti gak?!"
Lagi-lagi, hanya kepala yang ditundukkan yang bisa dilakukan oleh bocah itu. Ia terlalu takut, untuk membuka suara dan melawan perkataan ibu tirinya.
Hanya airmata yang sedari tadi menjadi teman setianya, yang menunjukkan betapa takut dan sakitnya hati kecilnya yang rapuh.
Wanita itu berdecih, "Dasar anak pembawa sial!" ketusnya lalu menutup pintu gudang itu dengan keras dan rapat, lalu menguncinya agar bocah itu tak bisa keluar.
Kini tak ada cahaya sama sekali yang ada diruangan kotor itu, hanya kegelapan dan hamparan debu yang mengisi.
Ketakutan itu kini semakin menjadi-jadi lalu menggerogoti dan menguasai diri bocah malang yang bernasib naas itu.
Ia meringkuk memeluk lututnya sambil menumpahkan tangis pilu yang daritadi tak dapat dibendung, ia takut, sangat takut.
Di kegelapan yang mengisi seluruh ruangan tersebut, hanya bayangan sosok ibu kandungnya yang tersenyumlah yang dapat ia lihat.
"Mama... Tian takut...!"
"Mama... keluarin Tian dari sini...!"
"Tian takut!"
"Hah!" gue langsung terduduk dan kelopak mata gue sontak langsung terbuka karena mimpi sialan itu! Lebih tepatnya kenangan yang telah berusaha gue kubur dalam-dalam sejak lama.
"Hah... hah.." gue menutup sebagian muka gue dengan telapak tangan gue, nafas gue terengah-engah disertai keringat dingin yang membasahi dan menghiasi wajah tampan gue.
Dan saat gue menolehkan kepala gue, gue baru sadar ternyata ada cewek yang tengah terkejut, tepat di samping gue. Dengan ekspresi bingung yang tercetak jelas di muka nya dan mulutnya yang sedikit ternganga.
Membuat gue ingin tersenyum tapi senyum itu tak kunjung muncul di muka gue.
"L-lo nggak papa? Soalnya lo ngigau daritadi." ucapnya sambil terlihat menetralkan ekspresi wajah kagetnya.
Mengingat kenangan lama itu lagi membuat gue muak dan jijik, wanita yang lebih dari iblis itu tak hanya menghantui masa kecil gue, tapi sampai sekarang.
Dan, wanita itu tak hanya menyakiti fisik gue, tapi juga mental dan batin gue.
Sudahlah, kalian juga gak mau mendengar cerita menyedihkan dan menjijikan kayak gini kan?
Gue pun menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir nya. "Gue gak papa," jawab gue dengan nada datar seperti biasa.
"Oh.." dia cuma ber oh ria dengan nada memelan bahkan hampir tenggelam.
__ADS_1
"Btw, sekarang jam berapa?" tanya gue karena gak tahu sudah berapa detik yang gue lewatkan untuk melihat kenangan miris itu.
"Udah hampir jam tujuh malem,"
"Daritadi lo nungguin gue?" entah atas dasar apa, pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari pita suara gue.
Dia tampak sedang berpikir, entah apa yang dipikirkannya gue gak tahu. Bukankah pertanyaan seperti itu bisa di jawab tanpa berpikir lebih dulu?
"Nggak, gue barusan disini. Giselle yang daritadi nungguin lo," jawabnya sambil mengalihkan pandangannya dari gue. Yang gak membuat gue senang sama sekali.
Bukan itu jawaban yang ingin gue dengar dari bibirnya.
"Oh." hanya kata singkat itu yang bisa gue keluarin, gue gak niat lagi bahkan cuma untuk bersuara.
Suasana hati gue yang buruk kini bertambah jadi buruk, kayaknya memang mustahil untuk ngedapetin cewek yang selalu nempatin hati gue.
Bahkan di saat gue dalam keadaan kayak gini, dia kelihatan gak peduli sama sekali.
Sebegitu brengsek nya kah gue di mata nya?
Sebegitu benci nya kah gue dia sama gue?
Hah... gue kayak orang **** yang ngelakuin hal yang sia-sia.
...°°°...
Catherine Pov
Apa gue langsung tanya aja yah tentang kontak itu?
Tapi langsung nanyain hal semacam itu sama orang yang baru bangun saat sakit, bukannya itu agak terlalu memaksa?
Terlebih lagi, dia kayak habis bangun dari mimpi buruk. Bukannya itu agak sedikit gak wajar?
Mending gue pikirin rencana untuk besok.
"Lo udah baikan?" tanya gue. Dia cuma melirik gue sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya dari gue.
Tatapannya terihat sedikit tak mengenakkan. Apa karena mimpi buruknya? Atau sesuatu yang lain?
Lagian kenapa sih gue selalu penasaran tentang dia akhir-akhir ini?!
Sadarin diri lo Catherine! Kendaliin perasaan lo!
"Ya," jawabnya datar dan singkat, yang mana ngebuat gue gak enak ngelanjutin pembicaraan ini.
Tapi, gue harus tetap melakukannya!
"Lo sibuk gak besok?" tanya gue berusaha setenang mungkin biar kelihatan cool.
"Gue selalu sibuk," ujarnya, tapi lebih kelihatan kayak bentakan bagi gue. Dan, entah kenapa dada gue sesak mendengarnya.
"Untuk satu hari aja, bisa gak lo luangin waktu lo? Gue mau ngajak lo ke suatu tempat, sebagai imbalan yang gue bilang waktu itu," gue berusaha ngebujuknya. Dan tak disangka ternyata cowok itu langsung menerimanya.
"Ya,"
Kalimat setuju nya setidaknya membuat gue sedikit tenang, karena sesuai seperti rencana, dan berjalan mulus, semulus kulit gue.
Oke, tinggal menunggu untuk rencana selanjutnya besok.
Semoga berjalan dengan lancar.
__ADS_1
...°°°...
Seperti yang ia katakan kemarin pada gadis itu, ia akan pergi ke tempat dimana gadis itu telah memberikan alamatnya.
Jujur, ia merasa sedikit senang di saat gadis itu berinisiatif ingin mengajaknya ke suatu tempat.
Namun, yang membuat Sebastian heran, kena gadis itu repot-repot memberi alamat, padahal akan lebih mudah jika langsung pergi berdua?
Entahlah, dirinya tak akan pernah tahu dan mengerti apa yang dipikirkan gadis itu.
Bahkan gadis itu telah pergi terlebih dahulu agar dirinya terpaksa pergi sendirian.
Hah.. sudahlah. Daripada tersesat di dalam kebingungan yang tak ada ujungnya, lebih baik dirinya segera pergi dan melihat kemana tempat gadis itu mengajaknya.
.
.
.
.
Setelah mengikuti arahan dari ponselnya, Sebastian pun sampai di tujuan. Ternyata tempat ini hanyalah kafe.
Tak ingin membuang-buang waktu, dengan langkah cepat ia memasuki tempat tersebut.
Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya begitu dirinya melangkahkan kaki ke dalam bangunan itu.
Seperti kafe pada umumnya, tapi dengan sedikit dekorasi yang berbeda. Dekorasi nya terlihat sedikit lebih romantis... mungkin?
Tapi dirinya tak begitu menghiraukannya, karena yang penting baginya sekarang adalah menemukan keberadaan gadis yang saat ini ia cari.
Ia sudah mencari keeradaan gadis itu dengan teliti, namun gadis itu tak ada dimanapun.
"Lex!"
Terdengar suara panggilan yang tak asing di pendengarannya, tapi bukan pemilik suara itulah yang ia cari.
Awalnya ia bersikap tak acuh, tapi karena gadis itu terus memanggilnya, membuat dirinya mau tak mau harus mendekati gadis itu.
Sebastian pun duduk di kursi yang ada dihadapan gadis itu, dan dirinya tak ingin berbasa-basi dan langsung menanyakan keberadaan gadis yang tengah ia cari itu.
"Lo ada lihat Catherine?" tanyanya.
Sontak gadis itu tampak berpikir-pikir. "Dia pergi ke toilet sih tadi, tapi udah hampir setengah jam dia gak balik-balik," jelas Giselle.
Wajah Sebastian yang awalnya terlihat sedikit cerah dan ceria, kini secara drastis berubah berbanding terbalik dari sebelumnya.
"Oh iya, btw lo kemarin sakit kan? Maaf, gue kemarin memang sempet jengukin lo, tapi gak bisa bantuin ngerawat lo karena gue ada urusan kemarin,"
Sebastian menaikkan alisnya bingung sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Bukankah gadis itu bilang bahwa Giselle yang telah merawat nya dan menunggui nya saat dirinya sakit?
"Bukannya lo yang udah ngerawat gue?" tanya nya.
Giselle juga memasang raut bingung, "Mana mungkin lah, orang gue kemarin langsung pulang kok bantuin mama gue,"
Sebastian semakin bingung dibuatnya, kenapa gadis itu berbohong kepadanya? Dan kenapa juga ia melakukan hal seperti itu? Kenap-- ah.
Sudah pasti karena hal itu lagi.
__ADS_1
Kenapa dirinya tak kepikiran hal ini sebelumnya? Beraninya gadis itu membohongi dirinya, membuat dirinya semakin muak.
Sudah cukup dengan semua omong kosong ini.