
Pagi yang tenang. Dengan cuaca yang akhir-akhir ini selalu mendung dan sejuk, tentu efektif untuk membuat kelopak mata menjadi sayu ingin tertidur dan menuju ke alam mimpi yang menyenangkan maupun mengerikan.
Dengan berbekal baju kemeja putih bermotif dibalut cardigan bewarna navy tipis yang membungkus sebagian tubuhnya, tentu tak bisa membuat empunya merasakan kehangatan yang sempurna.
Ia pun mengusap-usap kedua lengannya dengan kedua telapak tangannya berharap kegiatan tersebut dapat menghangatkan tubuh rampingnya yang kedinginan.
Tak lama, seperti biasa, teriakan yang memanggil namanya kini menusuk gendang telinganya yang mana membuat empunya menutup lubang pendengaran nya.
"CATHERINE SAHABAT SEHIDUP SEMATI KUH!!" dengan urat malu yang mungkin sudah terputus, sosok tersebut kemudian sudah berada disamping gadis yang tengah kedinginan ini.
"Eh Rin, lo pasti gak percaya apa yang bakal gue omongin!" seru Giselle, yah bagi hidup gadis itu mustahil tiada hari tanpa teriakan yang melengking dan menusuk telinga.
"Emangnya apa?" tanya Catherine santai dan berusaha untuk tidak kesal, karena ingin membiasakan gendang telinganya mendengar teriakan melengking itu setiap hari.
"Kemarin Melly bilang katanya tuh video palsu, dia bilang dia salahpaham karena video itu. Cowok yang ada di video itu bukan Alex, dia bilang dia waktu itu dalam pengaruh mabuk jadi lupa-lupa ingat sama muka pelaku yang ngelecehin dia. Jadi dia minta maaf sama Alex, karena udah main nuduh-nuduh. Gila, tuh cewek kesambet apa ya?" seru nya panjang lebar sambil keheranan.
Catherine biasa saja mendengar hal tersebut, tak terkejut sama sekali. Karena seperti perkiraannya, rencananya kali ini pasti berhasil.
"Oh yaudah, bagus deh kalo gitu," jawabnya datar.
"Lo gak kaget atau apa, gitu?" Giselle bertanya sambil memiringkan kepala dan menautkan kedua alisnya, heran dengan sikap Catherine yang terlihat biasa saja.
"Gak, sudah gue duga tuh cewek pasti bakal minta maaf,"
Giselle semakin kebingungan. "Sudah lo duga? Emang lo udah ngelakuin apa?"
"Gue kemarin nyadarin tuh cewek, kalo dia tuh salahpaham doang sama gue. Lo inget kan sama mantan pacar brengsek nya itu? Yang pernah gue ceritain,"
"Maksud lo Kevin? Emang lo nyadarin nya kayak gimana?" tanya Giselle penasaran.
Catherine berdecak. "Ck, lo bawel banget sih. Udah deh, mending lo beliin gue teh hangat sana di Bi Idah," ujarnya dengan seenaknya memerintah.
"Dih, emang gue babu lo apa?" kesal Giselle dengan pipi yang mengembung dan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.
Catherine tertawa. "Gak mungkinlah, lo kan sahabat gue yang paling setia dan beg* sedunia!" ucapnya sambil mencubit pipi sahabat nya gemas.
"Aduh, sakit tahu!" Giselle mengaduh kesakitan lalu mengusap pipinya yang terasa sakit karena sahabatnya itu dengan seenak jidatnya mencubitnya.
Sedangkan Catherine hanya cengingisan sambil memperlihatkan senyum manisnya yang terukir cantik diwajahnya.
"Catherine!" terdengar suara yang memanggil dirinya. Sontak, Catherine berbalik badan dan menoleh ke arah tersebut.
Terlihatlah Melly beserta gengnya berjalan mendekat ke arah Catherine. Melly terlihat sedikit ragu untuk berbicara dengannya.
Raut wajah Giselle tiba-tiba langsung berubah masam melihat kehadiran gadis itu dan teman-temannya.
"Udah, Mel. Bilang aja!" ujar Ruru. Ruru yang jarang berbicara, kini mengeluarkan suara imutnya untuk menyemangati temannya, Melly.
__ADS_1
Catherine menaikkan sebelah alisnya karena gadis itu tak kunjung mengeluarkan suara nya.
"G-gue... mau minta maaf secara tulus sama lo, atas perbuatan gue ke lo selama ini," gadis itu menjeda kalimat nya kembali terlihat ragu mengeluarkan suara nya. "G-gue mau.. jadi temen lo," cicitnya hampir tak terdengar, tapi Catherine bisa mendengar jelas apa yang dikatakan gadis itu.
"Gue minta maaf karena salahpaham sama lo, gue minta maaf karena selama ini udah jahat sama lo. Dan juga, gue minta maaf karena udah ngerepotin lo,"
Ia menepuk pundak Melly pelan, sambil menampilkan senyum tipis yang tulus di wajah cantiknya. "Lo tahu? Gue suka yang namanya, damai,"
Mata Melly berbinar mendengar perkataan tersebut dari bibir Catherine, Giselle yang tadinya mengeluarkan aura permusuhan, kini tersenyum lebar kemudian merangkul Catherine dan Melly.
"DAMAII!" serunya membuat mereka yang ada disana semuanya tertawa.
...°°°...
Hari sudah siang, tapi awan mendung di langit belum juga hilang. Bahkan kini awan tersebut telah mengeluarkan air bening yang rasanya asin itu ke tanah.
Bahkan air langit itu jatuh dengan sangat deras, sehingga membuat jalanan menjadi becek dan kotor.
Catherine saat ini tengah berada dipintu masuk kampus sambil menatap langit, bertanya-tanya kapan hujan yang turun sangat deras ini berhenti.
"Hujan kapan berhenti nya, sih?!" gerutunya.
Ia bahkan dengan bodohnya lupa membawa payung, sedangkan jika ingin naik taksi online, saat ini ponselnya kehabisan paket data untuk memesan, begitupun dengan pulsanya.
Betapa beruntungnya dia.
Ia juga ada part-time hari ini, tapi langit gelap masih saja setia dengan meneteskan air nya dengan deras.
Sepertinya, tak ada pilihan lain.
Karena tak ada tanda hujan akan kunjung berhenti, Catherine pun nekat dengan menerobos hujan, ia menggunakan tas nya sebagai payung untuk menutupi kepalanya.
Untung saja tas nya tahan air, jadi barang-barang nya yang ada didalam tidak akan basah dan rusak.
Dan yang lebih untung lagi, tempat dirinya bekerja tak jauh dari kampusnya. Sehingga dengan berlari saja, sepuluh sampai lima belas menit pun dirinya akan sampai.
Tapi di setiap keberuntungan, pasti ada keburukan.
Saat ia berjalan di trotoar, ada sebuah genangan air yang kotor dan mobil yang melaju dengan kencang.
Alhasil, dari kaki hingga pinggangnya basah kuyup karena terciprat oleh genangan air kotor dan berakhir dengan celananya yang basah.
"HOI KALO BAWA MOBIL LIAT-LIAT SEKITAR NAPA?! PUNYA MATA GAK?!" teriaknya kesal pada mobil yang tadi menabraknya kini kian menjauh.
Tentu saja orang-orang disekitar langsung mengarahkan pandangan kearahnya, tapi ia tak menghiraukan sama sekali, dan kembali mengumpat seolah tak punya urat malu.
Catherine mendengus kesal meratapi celananya yang basah. Tapi mau bagaimana lagi, ulat telah menjadi kupu-kupu. Semua itu telah terjadi.
__ADS_1
Ia pun menghembuskan nafas kasar, kemudian kembali berlari menuju ke tempat kerjanya.
...°°°...
Akhirnya setelah beberapa saat, ia sampai di tempat kerjanya. Ia pun membuka pintu masuk, dan disambutlah dirinya oleh udara dingin yang menusuk kulitnya.
Entah kenapa, kepalanya mulai pusing. Pandangan sekitarnya mulai berputar, kaki nya pun seperti ikut melemas.
Tapi ia memaksakan dirinya agar tidak terjatuh, kemudian menggosok kedua lengannya untuk mencari kehangatan.
"Dek Angel!"
Catherine pun mengedarkan pandangannya kesekitar untuk mencari asal suara tersebut. Disaat ia telah menemukannya, ia pun tersenyum kearah sosok tersebut.
Sosok tersebut kemudian menghampiri dirinya dengan raut wajah khawatir.
"Yaampun dek Angel kenapa basah kuyup begini?! Nanti bisa masuk angin loh! Pulang dulu mandi, biar gak masuk angin! Tuh liat, bibir kamu pucet banget astaga!" cecar Violetta dengan khawatir.
"Udah kok kak, gak papa. Catherine langsung ganti baju aja, soalnya kalo balik kerumah juga ujung-ujungnya pasti bakalan hujan-hujanan lagi," jawabnya.
"Tapi kamu pucet banget loh, mending gak usah kerja dulu deh hari ini," nasihat Violetta, tapi Catherine tetap keras kepala.
"Catherine masih kuat kok kak, tenang aja," ucapnya bersikeras.
Violetta menghela nafas. "Yaudah, kalo misalnya kamu gak kuat gak usah dipaksain yah,"
Catherine mengangguk, kemudian ia pergi untuk mengganti pakaiannya. Lalu seperti biasa pergi untuk menjaga kasir nya.
Hari in Sebastian juga bekerja, karena sepertinya laki-laki itu libur hari ini. Laki-laki itu tampak serius dalam menata barang-barang yang berantakan di rak.
Rasa sakit dan pusing itu kini kembali menyerang, Catherine memegangi dahinya agar pusing itu dapat sedikit mereda.
Panas, itulah yang ia rasakan di telapak tangannya saat mnyentuh dahinya. Tapi, ia tetap menahan hal itu semua dan bersikap seperti biasa.
Sebastian merasa ada yang aneh dari gadis itu. Gadis itu seperti tengah memaksakan diri, karena khawatir ia pun bertanya "Lo kenapa?" tanyanya sambil menatap gadis itu.
"Gak papa," bohong Catherine. Padahal gadis itu merasa dirinya akan tumbang saat ini juga, jika tangannya tak menahan di meja kasir.
Sebastian tak berbicara lagi dan kembali fokus pada kegiatannya.
Ah, sial. Catherine tak kuat lagi, sepertinya ia memang terlalu memaksakan diri.
Pandangannya mulai buram dan menjadi gelap, keringat dingin mendarat mulus didahinya, bibir pucatnya bergetar. Dan saat itu juga, tubuhnya kehilangan kekuatan dan keseimbangan.
BRUKK!!
Yang bisa ia rasakan adalah dinginnya lantai menyentuh kulitnya, dan suara orang yang tengah memanggilnya dengan nada khawatir, hingga akhirnya ia tak bisa mengingat apa pun lagi dan tak sadarkan diri.
__ADS_1