Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
26 | I Hope This Happiness Lasts Forever (END)


__ADS_3

"Giselle?" ucap Catherine sedikit tidak percaya, tidak di sangka-sangka mereka bisa bertemu di sini.


"Lo ngapain di sini? Sendirian aja?" tanya Giselle.


Catherine menampakkan raut wajah tidak enak, setelah kejadian waktu itu. "I-iya, kalo lo ngapain di sini?"


"Gue sendirian, kok. Gue boleh duduk gak?"


Catherine segera menggeserkan tubuhnya memberi ruang untuk Giselle. Setelah Giselle duduk, entah kenapa keheningan melanda mereka.


Padahal biasanya jika mereka sudah bertemu, keheningan sedikitpun tak bisa mendekati mereka. Sangat jauh berbeda seperti sekarang.


"Uhm, Rin ... soal yang kemarin ...."ujar Giselle sedikit ragu. Namun, Catherine sangat tahu apa yang ingin di bicarakan sahabatnya itu.


Catherine melipat bibirnya. "Sel ... gue minta maaf sama lo karena udah nyembunyiin semua itu dari lo selama ini." ungkapnya dengan raut wajah bersalah.


Giselle yang melihat raut wajah Catherine seperti itu malah terkekeh. "Lo kenapa sih, Rin? Santai aja kali sama gue."


"Gimana gue mau santai, coba? Gue udah ngebohongin lo, dan..." Catherine menjeda kalimatnya, ia ragu untuk mengatakannya.


Memang benar jika ia telah menaruh perasaan kembali pada laki-laki itu, tapi dirinya juga tak ingin mengkhianati sahabatnya. "Gue udah ngekhianatin lo, Sel."


Sungguh munafiknya dia, dan betapa jahat dirinya sebagai seorang sahabat.


"Gue gak bakal maaafin lo, Rin." jawab Giselle membuat Catherine tercengang. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga memang murni kesalahannya.


"Karena dari awal lo gak bersalah." Giselle melanjutkan kalimatnya membuat kepala Catherine tertoleh ke arah gadis itu.


"Gue tahu kok kalau lo itu mantannya Alex." Catherine tak bisa berhenti terkejut.


"Gue juga tahu kok kalo lo sekarang tinggal sama Alex. Dan, gue tahu kalo lo nyembunyiin ini semua karena gak mau gue sakit hati, kan?"


Catherine tak bisa berkata apa-apa, ia hanya diam mendengarkan setiap kalimat yang terlontar dari bibir sahabatnya tersebut.


"Lo itu sahabat paling baik yang pernah gue temui, Rin. Lo waktu itu juga bilang kalo gue mendingan hilangin perasaan gue ke Alex, itu karena lo khawatir kan kalo Alex bakal ngelakuin hal yang sama kan ke gue?" ujar Giselle panjang lebar sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya.


"Gue tahu kok Rin, apa yang udah Alex lakuin ke lo. Jujur gue ngerasa bersalah banget sama lo karena gak tahu apa-apa tentang apa yang udah lo alami."


Catherine terkekeh. "Pasti Gavin sama Takumi kan yang bilang ke lo?"


Giselle menyengir. "I-iya, hehe."


"Memang yah tuh anak, gak bisa banget jaga rahasia." Catherine mendengus dan mengembungkan pipinya.


"Jadi, lo gak perlu minta maaf sama gue, Rin. Karena gue tahu, lo itu peduli banget sama gue." ucap Giselle sambil tersenyum manis.


Entah kenapa dirinya merasa terharu mendengar kalimat itu dari bibir sahabatnya, Giselle benar-benar telah seperti saudari kandungnya sendiri.   


"Huwa Giselle lo baik banget sih!" seusai beujar seperti itu, Catherine langsung memeluk sahabatnya itu.


"Gue juga sayang lo, Rin. Wahai sahabat sehidup sematikuh!!" teriaknya kemudian membalas pelukan sahabatnya erat.


Seakan dunia millik mereka berdua, kedua sahabat ini berteriak dan berpelukan seperti orang gila dan tak menghiraukan pandangan orang-orang yang berada di sekitar mereka.


Tak lama, kini Catherine menjauhkan dirinya dan melepaskan pelukan mereka dan berkata. "Tapi, gimana perasaan lo terhadap Alex, Sel?" tanyanya ragu.


Giselle hanya tersenyum simpul. "Lo gak perlu khawatir. Gue bakal berusaha hilangin perasaan gue ke Alex." jawabnya penuh yakin. 


Catherine kembali menatap sahabatnya sendu. "Giselle...."


"Lagian, mau sampai kapanpun juga, Alex gak bakal pernah ngelirik gue. Apalagi suka sama gue, karena dia cintanya cuma sama lo, Rin." ucapnya yang diakhiri dengan senyum pahit.


Raut wajah Cathherine kembali menjadi tidak enak, tapi kemudian perkataan Gislle selanjutnya membuat kembali tersenyum.


"Udah ih, lagian kita juga jadi galau-galauan cuma karena cowok. Kita kan cewek bar-bar, jadi galaunya jangan lama-lama!" Giselle berseru untuk mencairkan suasana di antara mereka. "Kuy kita beli eskrim, gue traktir!"


Giselle berdiri kemudian mengulurkan tangannya mengajak sahabatnya untuk pergi ke kedai eskrim yang tak jauh dari mereka.


Catherine mengangguk dan mengukir senyum lebar yang manis di wajah cantiknya sambil menerima uluran tangan Giselle.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke kedai eskrim yang mereka tuju. Saat di tengah perjalanan, ponsel Catherine berdering dan bergetar di saku celananya.


Ia kemudian mengambil ponsel miliknya, ternyata yang menelponnya adalah Sebastian, ia pun langsung mengangkatnya.


Tapi saat ia mengangkat panggilan tersebut, bukan suara Sebastian lah yang muncul melainkan suara sahabatnya, Takumi.

__ADS_1


Dan saat ia mendengar kalimat yang dilontarkan Takumi, matanya langsung membola besar tak percaya.


Sekujur tubuhnya kaku seperti patung, ia membungkam mulutnya yang terbuka dengan tak percaya.


Kakinya pun lemas dan tak bertenaga, membuat dirinya langsung terjatuh dn terduduk di tanah.


Giselle pun terkejut karena sahabatnya tersebut yang tiba-tiba terjatuh. "Rin! Lo kenapa, Rin?!" ia berjongkok sambil memegang pundak sahabatnya tersebut.


Catherine menoleh dengan airmata yang tertahan menghisasi bola matanya, ia benar-benar tak percaya dengan semua ini.


"Tian... kecelakaan...."


...°°°...


Catherine Pov


Gue berlari secepat yang gue bisa, jantung gue berdetak kencang bukan karena gue kelelahan berlari melainkan berdetak karena ketakutan tiara tara.


Keringat bercucuran bukan karena gue yang tengah berlari, tapi keringat dingin yang mewakilkan rasa khawatir gue.


Kaki gue yang lemas bukan menandakan gue gak kuat belari lagi, melainkan gue gak kuat jika harus berhadapan kenyataan yang pahit.


Kenapa ini bisa terjadi?


Kenapa secara mendadak?


Kenapa semuanya selalu rumit sejak saat itu?


Lagi-lagi, kepala gue di penuhi dengan pertanyaan yang tak bisa terjawab oleh diri gue sendiri.


Bahkan gue gak peduli lagi dengan Giselle yang tengah berlari dibelakang gue sambil memerintahkan gue untuk tenang, gue gak bisa tenang kalau hal ini sudah menyangkut nyawa.


Setelah beberapa langkah yang gue tempuh, gue pun sampai di tempat yang menjadi tujuan gue.


Gue pun secara perlahan membuka pintu berbahan kayu itu dan mulai melangkahkan kaki gue ke dalam ruangan itu.


Entah kenapa ruangan ini gelap, hanya ada sedikit cahaya yang menelusup dari balik tirai jendela.


Dan saat itu lah netra gue menangkap sosok yang daritadi ingin gue temui.


Dengan langkah bergetar, gue pun mendekatinya. Entah sudah berapa liter airmata yang mengalir deras dari mata gue akhir-akhir ini, gue gak tahu.


Gue meraih telapak tangannya  dan menggenggamnya dengan kedua tangan gue, lalu menempelkannya di dahi gue.


Seketika tangis gue pecah dan mata gue meluncurkan air beningnya dengan mulus di kedua pipi gue.


Kenapa... orang yang gue sayangi perlahan-lahan meninggalkan gue?


Pertama, mama yang gak pernah gue lihat rupa mukanya sejak lahir.


Kedua, papa yang tiba-tiba ninggalin gue begitu aja.


Dan ketiga, dia... yang sekarang malah ninggalin gue sendiri.


"Kenapa sih kalian semua ninggalin gue...." gue gak bisa nahan isak tangis gue.


Gue benci mengakui ini, tapi sekarang gue benar-benar takut kehilangan dia. Gue takut terjadi apa-apa sama dia.


"Gue mohon jangan tinggalin gue ... gue takut kehilangan lo...." dengan bodohnya gue malah ngomong sama orang yang gak sadarkan diri.


Berharap dia bakal bangun dan kembali menunjukkan raut wajah datarnya seperti biasa.


Kemudian tiba-tiba seluruh penjuru ruangan ini menjadi terang, dan suara teriakan yang tidak asing kini terdengar di telinga gue.


"SURPRISE!!"


Gue langsung membelalakkan mata gue seraya membalikkan tubuh gue menghadap ke belakang, ke sumber asal suara tersebut.


Dengan sisa-sisa bekas airmata yan berada di pelupuk mata gue dan pipi gue, gue kembali menutup mulut gue yang ternganga tak percaya.


"HAPPY BIRTHDAY CATHERINEE!!"


Ruangan yang tadinya gelap dan kosong, kini menjadi terang benderang dan di hadiri dengan orang-orang terdekat gue.


Bahkan gue pun hampir lupa kalau ini adalah hari ulang tahun gue.

__ADS_1


Giselle, Takumi, Gavin, nona bule, Rean, dan.... satu orang lagi.


Gue benar-benar gak percaya ini semua, apa itu benar-benar dirinya?


Dengan suara tercekat dan tertahan, gue pun berusaha mengeluarkan suara gue.  "P-papa...?"


Sosok itu pun hanya menampilkan senyum khas di mukanya.


Tanpa aba-aba, kaki gue tergerak sendiri untuk berlari kecil menghampiri sosok itu.


Gue pun langsung menghamburkan sebuah pelukan padanya, dan dengan senang hati, papa pun membalas pelukan gue seraya dengan telapak tangannya yang mengelus pucuk surai gue.


"Catie kangen papa..." ucap gue lirih sembari berada di pelukannya.


"Catie pasti kangen kan sama papa yang ganteng ini?" ujar papa sambil terkekeh, yang mana membuat gue langsung melepas pelukan gue dan memutar bola mata jengah.


"Pas kayak gini, papa masih aja kepedean." ucap gue membuat papa malah makin terkekeh.


"Udah Catie jangan lama-lama peluk papa, ntar ada yang cemburu tuh." papa melirik ke arah belakang gue.


Dan gue pun secara langsung membalikkan badan gue, ternyata sosok yang tadi berbaring lemah kini tengah berdiri bersandar di dinding dengan kedua tangannya dilipat di depan dada, dan kepalanya yang sedikit dimiringkan.


"Ternyata ini semua cuma prank doang?!"


Semua yang ada di ruangan ini langsung tertawa menertawakan gue.


"Ih sumpah ya! Gue tuh khawatir banget tau gak!" teriak gue sambil mengusap sisa-sisa bekas airmata gue.


"Salahin tuh orang di belakang lo, dia yang ngerencanain semua ini." seru Gavin dengan kekehan yang menghiasi mukanya.


Gue pun langsung menatap tajam pelaku dari semua ini, tapi dia malah menunjukkan senyum miringnya.


"Lo takut kehilangan gue?" tanyanya, sontak membuat rona merah langsung menghiasi pipi gue.


Sial, ternyata dia memang udah ngerencanain ini dari awal!


"Ya, kalau memang gue takut kehilangan lo kenapa?!" ungkap gue. Karena kalau gue berusaha menutupinya, dia pasti akan tambah senang menjahili gue.


Dia masih setia dengan senyumnya, tak lama kemudian dia langsung berlutut di hadapan gue membuat gue sontak kaget.


"Kalau gitu, izinkan gue jadi milik lo sekali lagi."


Ujarnya lantang membuat gue merasa senang bukan main, kebahagiaan yang berjibun seakan mendatangi gue.


"CIEE! UHUYY!!!" teriak Gavin dan Giselle heboh di belakang gue.


Mata gue kembali memanas. Kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena kebahagiaan.


Tanpa aba-aba, gue langsung memeluknya dan dia dengan senang hati pun membalas pelukan gue.


"Udah dong mesra-mesraannya, gue mau makan kue nya nih!" celetuk Takumi membuat mereka yang ada di sini tertawa.


"Sirik aja lo! Makanya jangan ngejomblo!" jawab gue dengan kekehan yang setia menemani gue.


Gue pun bangkit dan berjalan menuju ke arah Giselle yang tengah membawa sebuah kue ulang tahun.


Api yang menyala di atas lilin itu pun padam di saat gue meniupnya, dan terdengar suara tepuk tangan riuh yang mengisi seluruh penjuru ruangan.


"Make a wish, Rin!" seru Giselle sambil tersenyum ke arah gue.


Dengan segera gue pun menutup kedua kelopak mata gue dan membuat harapan.


Kali ini gue gak akan minta tentang barang mewah atau semacamnya.


Gue hanya berharap...


...semoga kebahagiaan ini bertahan selamanya.


...END ...


Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, tetapi orang itu tidak berhak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Janganlah kau mengeluh, karena ketika kau mengeluh, kebahagiaan akan lari darimu.


Dan, semua hal adalah kebahagiaan, jika kau menikmatinya.

__ADS_1


__ADS_2