
Sebastian Pov
BRUKK!
Sontak suara itu langsung membuat gue menoleh ke asalnya, gue membulatkan bola mata gue terkejut karena cewek keras kepala yang gue sayangi itu tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri.
Rasa cemas dan gelisah datang secara tiba-tiba dan menggergoti satu persatu bagian dari diri gue. Dengan terburu-buru, gue langsung berlari kearah cewek itu dan menidurkannya di pangkuan gue.
Pipi mulusnya yang mengkilap gue tepuk-tepuk dengan pelan, berharap cewek itu bakal sedikit bereaksi dan mengerakkan salah satu bagian dari tubuhnya.
Tapi, hal itu berujung dengan sia-sia. Dia gak bereaksi sama sekali, alis yang bertaut dan deru nafas panasnya lah yang hanya terlihat dan terasa.
Bibirnya pucat, dahinya terasa panas disaat telapak tangan gue menyentuhnya. Keringat dingin terus mengucur deras didahinya yang mulus dan panas.
Rasa cemas dan gelisah itu semakin bertambah disaat gue melihat kondisi cewek yang ada dipangkuan gue, dan berakhir dengan meninggalkan bekas kejanggalan yang amat besar di hati gue.
Tak lama, kini suara kak Violetta terdengar dikala dia melihat keadaan cewek dipangkuan gue ini.
Raut kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya, dan dia pun berkata "Dek Angel kenapa bisa sampe pingsan begini?!" tanyanya cemas sambil menatap gue.
"Kayaknya dia terlalu maksain diri," jawab gue tenang, walaupun didalam hati gue penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran.
Kak Violetta tampak mengembuskan nafas gusar. "Yaudah, kamu bawa kerumah sakit gih. Kasian dek Angel, badannya panas banget," ujarnya sambil menempelkan telapak tangannya di dahi cewek yang ada dipangkuan gue.
Gue pun mengangguk dan tanpa aba-aba, gue mesen taksi online terlebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya taksi online itu pun sampai.
Gue pun menggendong dia masuk kedalam mobil lalu menidurkannya kembali di pangkuan gue.
Tatapan mata gue gak bisa lepas dari wajah cantiknya yang tampak pucat, gue menyingkirkan poninya yang menghalangi dahi nya yang terasa panas.
Sudah lama rasanya... gue merasa sekhawatir ini.
...°°°...
Catherine Pov
Gue membuka kedua kelopak mata gue sedikit demi sedikit. Hal yang menyambut gue adalah langit-langit dan pemandangan kamar bernuansa biru langit yang sangat familiar di mata gue.
Ya, kamar gue sendiri.
Tapi kenapa gue bisa berada disini? Seinget gue, terakhir kali gue lagi ada ditempat kerja.
Gue memutar balikkan otak gue berusaha untuk mengingat, tak lama kemudian setelah gue mengingat semuanya, gue pun bertepuk jidat.
Gue baru ingat bahwa gue drop saat bekerja, hah... kayaknya gue terlalu memaksakan diri.
__ADS_1
Gue berusaha duduk dari posisi gue yang awalnya masih terbaring. Setelah terduduk sempurna, gue pun menyandarkan punggung gue di dipan ranjang gue.
Saat gue menoleh kearah kanan, gue bisa melihat ada cowok yang tengah tertidur dengan posisi duduk dilantai sambil menyilangkan kaki dan tangannya.
Punggungnya ia senderkan dipinggiran ranjang milik gue, gue bisa dengan jelas melihat wajah damainya.
Kelopak matanya tertutup sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka, yang mana membuat gue tiba-tiba terkekeh kecil.
Tanpa sadar, gue malah meratapi wajahnya yang tergolong tampan, yah gue memang gak bisa nyangkal kalo dia memang benar-benar tampan.
Alisnya yang tercetak rapi, matanya yang sedikit sipit, bulu matanya yang tebal dan lentik, hidungnya yang mancung dan lurus.
Bibirnya yang sedikit tergolong tipis dan sedikit berwarna coklat muda karena kebiasaan buruknya dulu yang suka mengisap rokok, walaupun dulu bibir itu pernah gue cicipi dan jadi milik gue.
Tapi semua keunggulan itu akan menjadi milik sahabat gue, gue telah bertekad tentang hal itu.
Mulai sekarang, gue akan memulai proses pendekatan antar cowok yang tengah tertidur ini dan sahabat gue.
Belum lagi tangan berototnya, yang dulu pernah mendekap gue sangat erat, dan juga pernah melayang ke arah gue dan berakhir dengan menyakiti gue.
Yah gue harap, cukup gue yang pernah menjadi korbannya. Jangan sampai terulang kembali dengan orang yang berbeda.
Tipe cowok sepertinya pasti akan cocok dengan tipe cewek periang seperti Giselle.
Sangat berbeda dengan diri gue yang tergolong dingin, kasar, egois, licik, dan sombong.
Walaupun gue gak tahu apa cowok itu masih mengingatnya, atau pun menyesalinya.
Tapi yang jelas, gue bakal biarkan hal itu berlalu, karena sosok yang dulu selalu nyakitin gue kini datang disaat yang paling terburuk dalam hidup gue. Bahkan dia pun ngebantu gue melewati semua ini.
Dan juga gue bakal berharap yang terbaik untuknya dan juga sahabat gue, walaupun ada perasaan janggal dan tidak rela hinggap di hati gue.
Sebenarnya, apa yang terjadi dengan diri gue?
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tak lama dari Catherine yang tengah sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, Sebastian pun sedikit demi sedikit membuka kelopak matanya kemudian mengerjapkannya
Sontak Catherine yang melihat hal itu langsung menjauhkan wajahnya yang terbilang dekat dengan laki-laki itu, lalu memainkan kuku-kuku jari nya dan berpura-pura tak melihat apa-apa.
"Gimana keadaan lo?" tanyanya.
"Baik-baik aj--" ucapan Catherine dikala Sebastian menaruh telapak tangannya didahi miliknya.
Entah kenapa, ia langsung terkesiap dan menahan hembusan nafasnya saat laki-laki itu mendekatkan wajah tampannya.
"Masih panas, mending lo makan obat lo,"
Catherine pun mengangguk patuh lalu menundukkan kepalanya. Ia memegangi jantungnya yang berdetak kencang. 'Gue kenapa sih?!'
Kini keheningan melanda diantara mereka. Keheningan selalu ada diantara mereka berdua, yang mana membuat suasana menjadi canggung.
"Gue sempet bawa lo ke rumah sakit. Dokter bilang lo kecapekan, juga terlalu banyak pikiran. Lo mikirin apa sih?" jelas Sebastian panjang lebar sambil menatap gadis itu.
Catherine terdiam. Ada benarnya kata dokter itu, akhir-akhir ini terlalu banyak beban dipikirannya.
Tentang ayahnya yang menghilang, tentang bagaimana nasibnya untuk kedepan, ketakutan akan ayahnya benar-benar pergi meninggalkannya, rasa penasarannya akan sosok yang waktu itu berlalu di hadapannya, perasaan gelisah dan bimbang yang menghantui, dan banyak-banyak lainnya.
Karena dulunya selalu dipenuhi kenikmatan, ketika dihadapi situasi seperti ini, tentu dirinya akan bingung dan tidak siap.
Pernyataan laki-laki yang dihadapannya ini waktu itu, perasaan sahabatnya, dan perasaan nya sendiri.
Disaat laki-laki ini menyukai dirinya, sahabatnya malah menyukai laki-laki ini. Dan hatinya pun merasa tak rela ketika ia membayangkan laki-laki yang pernah mengisi hatinya ini menjadi milik orang lain.
Sungguh hal ini membuat pikirannya berkecamuk dan kembali dipenuhi dengan rasa kebingungan.
Tentu ia tak bisa mengatakan hal itu, jadi Catherine hanya menjawab "Gue cuman kepikiran tugas gue yang numpuk,"
Sebastian tentu tahu kalau gadis itu tengah berbohong, tapi ia hanya mengangguk mengingat kondisi gadis ini yang tengah sakit.
Ia tak ingin menambahi beban pikiran orang yang tengah sakit.
"Oh ya, lo sendirian ngangkat gue kesini?" tanya Catherine.
"Ya, lo berat banget," jawabnya sedikit menyindir Catherine.
Catherine tak terima kalau laki-laki itu berkata bahwa dirinya berat, padahal beratnya hanya empat puluh dua kilogram. "Lo nya aja yang lemah gak bisa ngangkat gue yang ringan begini,"
Laki-laki itu tertawa singkat, yang mana membuat Catherine terpesona. Sudah lama ia tidak melihat laki-laki itu mengeluarkan tawa dari bibirnya.
"Kalo gitu, gue buatin lo makanan dulu sama ambilin kompres. Mending lo baring dulu aja dulu biar enakan," ujarnya lembut lalu berdiri dan pergi kebawah meninggalkan Catherine.
__ADS_1
Catherine meremas kuat selimut yang menutupi kaki hingga pinganggnya, ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
'Kenapa lo baru bersikap lembut sekarang?'