
"Lo tau gak?! Gue tuh muak sama lo! Lo selalu pengen ikut campur dalam urusan gue! Lo selalu ngerepotin gue! Lo selalu nuntut gue untuk ceritain semuanya ke lo! Lo jangan ngerasa istimewa hanya karena lo itu pacar gue!"
Perkataan laki-laki berambut hitam legam mengkilap dan berpakaian abu-abu putih pada kekasih yang ada dihadapannya lebih dari cukup untuk membuat hati gadis itu merasa tersayat oleh perkataan laki-laki itu.
"Aku bukan nuntut kamu cerita ke aku! Aku cuman mau ngeringanin beban kamu dengan nyeritain masalah kamu ke aku! Itu aja!" ujar gadis itu sambil menahan rasa sakit dihatinya dan menahan airmatanya yang ingin meluncur dari tempatnya.
"Akhir-akhir ini kamu selalu kasar sama aku! Akhir-akhir ini kamu selalu ngebentak aku! Akhir-akhir ini kamu selalu nyakitin aku! Sebenernya aku ada salah apa sama kamu?! APA?!" lanjut gadis itu tak kuasa lagi menahan airmatanya. Bibirnya bergetar dan wajahnya memerah.
Amarah laki-laki itu memuncak saat gadis dihadapannya berbicara dengan nada tinggi padanya. "SIAL*N!!" teriaknya memenuhi ruangan kelas yang kosong itu kemudian mendorong gadis dihadapannya dengan kuat dan kasar.
Gadis itu pun langsung terhuyung kebelakang dan naasnya kepalanya membentur ujung sebuah meja besi yang tajam, sehingga membuat gadis itu mengalami rasa sakit yang luarbiasa dikepalanya.
"Akh!" ringisnya seraya memejamkan kelopak matanya dan memegangi kepalanya yang membentur tadi.
Darah merah segar langsung membanjiri telapak tangannya yang baru saja memegang kepalanya yang terbentur.
Laki-laki yang ada dihadapannya kini sontak terkejut karena melihat darah tersebut, ia berniat menghampiri gadis itu tapi niatnya urung karena suara pintu kelas yang didorong dengan sangat keras.
BRAK!!
Kedua laki-laki yang berseragam abu-abu putih kini terlihat di ambang pintu tersebut, mereka sontak terkejut melihat sahabat mereka yang tengah terduduk beserta dengan tangannya yang dibanjiri dengan darah merah segar.
"*RIN!" teriak mereka berdua penuh kekhawatiran dan langsung mengampiri gadis itu.
Salah satu dari mereka berdua yang mempunyai rambut berwarna hijau terang yang menyakitkan mata, kini meraih gadis itu dan menahan badannya yang bahkan tak kuat untuk duduk*.
"Rin, ya Tuhan, Rin! Lo kenapa, Rin?!" tanyanya histeris sambil mengelap tangan gadis itu yang penuh darah dengan baju seragam putihnya.
Gadis itu tak menjawab, gadis itu hanya mengeluarkan airmatanya sambil terisak pilu. "Vin... sakit.. Vin.." lirihnya dengan kelopak mata yang hanya terbuka sebagian dan bibirnya yang memucat.
Airmata tak henti-henti nya mengalir dari pelupuk mata gadis itu yang mana membuat kedua temannya tak kuasa untuk menahan tangisnya, melihat sahabat mereka kesakitan dan menangis pilu seperti itu.
Laki-laki keturunan jepang, sahabat gadis itu yang satunya kini menatap tajam sosok yang terduga menjadi pelaku dari kejadian yang menimpa sahabat yang hampir ia anggap sebagai adik sendiri.
Ia langsung berdiri dengan cepat dan menghampiri laki-laki itu lalu meninjunya dengan sangat kuat sehingga wajah pelaku itu terpaling.
"BANGS*T!! LO APAIN SAHABAT GUE ANJ*NG!! SIAL*N!!" amarahnya laki-laki jepang itu tak dapat terkendali. Ia seperti kesetanan, tak terhitung berapa kali ia meninju laki-laki dihadapanya.
Tetapi, laki-laki yang ditinju itu sama sekali tak membalas. Ia hanya diam menerima seluruh pukulan itu, seakan ia sadar bahwa ia pantas mendapat itu semua.
"Mi, udah Mi! Mi!" laki-laki berambut hijau itu menahan sahabatnya itu yang tak dapat mengendalikan amarahnya.
__ADS_1
"BAJ*NGAN LO!" umpatnya pada laki-laki yang menjadi sasaran tinjuan nya. "LEPASIN GUA VIN! GUE BELUM PUAS NGEHAJAR SI ANJ*NG INI!" ujarnya masih penuh emosi pada sahabatnya.
"Mi udah Mi! Lo gak kasihan sama temen lo yang lagi kesakitan?! Lo gak kasihan buat dia menderita dalam waktu yang lama?! Jernihin pikiran lo, Mi! Jangan terbawa emosi! Temen kita lagi ngebutuhin kita!"
Amarah laki-laki jepang itu yang memuncak kini akhirnya dapat mereda mendengar nasihat dari sahabatnya. Dirinya yang awalnya memberontak, kini akhirnya menurut.
Ia kemudian melihat kearah sahabatnya yang sudah tak sadarkan diri bersandar didinding. Ia kemudian menghampiri gadis itu diikuti dengan sahabatnya kemudian memapah gadis yang tak berdaya itu.
Sebelum keluar dari ruangan kelas, laki-laki itu kembali menatap tajam sejenak pelaku yang membuat sahabatnya seperti ini. Kemudian mereka pun memapah gadis itu untuk mendapatkan pertolongan.
Selepas kepergian mereka, laki-laki yang menjadi pelaku atas kejadian ini kemudian terduduk dan menatap lantai dengan tatapan kosong.
Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu saat itu.
...°°°...
Catherine memasuki kampusnya untuk memenuhi ruintinitas nya, yaitu mengisi kehadirannya dan menggali ilmu lebih dalam.
Saat tengah berjalan santai dilorong, kini suara teriakan yang memanggil namanya terdengar digendang telinganya.
Entah kenapa akhir-akhir ini telinganya selalu menangkap suara teriakan yang melengking yang membuat gendang telinganya seakan tuli.
Seketika sosok yang meneriaki namanya itu berada disampingnya, "Rin! Rin!"
"Apa sih, Sel!" hardik Catherine, membuat Giselle sebal.
"Jangan galak-galak amat, napa?!"
Catherine menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan-lahan. "Iya, Giselle. Ada apa?" ucapnya dengan nada selembut kapas sambil tersenyum manis, lebih tepatnya tersenyum kesal.
"Gue mau ngomong sama lo, ayo ikut gue!" ujarnya tak sabran lalu menarik tangan Catherine untuk ke tempat yang lebih sepi.
Catherine pun hanya mengomel kesal karena sahabatnya itu main tarik-tarik dan tak sabaran.
Setelah sampai ditempat yang agak sepi, Giselle pun mendekatkan bibirnya pada daun telinga Catherine.
Giselle berbisik. "Gue tahu gimana cara ngebales perbuatan Melly,"
Hal itu membuat Catherine sedikit terusik, dirinya menjadi penasaran sedikit. Ya, sedikit. Tidak banyak.
Giselle pun kemudian mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya, kemudian memutar video yang telah ia minta pada Rean kemarin.
__ADS_1
Catherine pun awalnya sedikit bingung saat Giselle malah menyuruhnya untuk melihat sebuah video. Tapi selang beberapa saat, kedua alisnya terangkat menandakan dirinya sedikit terkejut.
"Lo udah kasih video ini sama dia?" tanya Catherine.
Giselle menggelengkan kepala. "Belum," ujarnya menjeda perkataannya dan tampak berpikir. "Jadi, apa kita langsung sebarin aja?"
Catherine menaruh jari telunjuknya dibawah bibirnya, tampak berpikir-pikir.
Setelah beberapa saat, bola gadis itu tampak berbinar menandakan bahwa ia memiliki sebuah ide yang bagus. "Eh, Sel. Kirimin video ini ke gue,"
"Hah? Emang mau lo apain? Mau lo buat untuk yang aneh-aneh ya?" selidik Giselle.
"Ya, enggaklah," Catherine memutar bola matanya. "Udah, lo kirim aja video itu ke gue. Nanti lo bakal tahu," ujarnya.
Giselle mendecak kesal karena sahabatnya satu ini yang sok misterius. "Yaudah sini gue kirimin! Sok misterius banget lo!"
Catherine hanya nyengir menampilkan senyum manis yang terukir di wajahnya yang cantik.
...°°°...
Hari minggu. Hari yang biasa digunakan orang untuk bersenang-senang atau santai, sama seperti laki-laki yang santai membaca buku materinya.
Karena biasanya, semua kegiatan dan pekerjaannya diliburkan pada hari itu, Sebastian semaksimal mungkin mengistirahatkan raga dan jiwanya.
Siang yang biasanya dihiasi oleh panas yang terik dan menyengat, kali ini yang menghiasi adalah awan gelap dan air yang turun dari langit dengan sangat deras disertai angin kencang yang kuat.
Tak lupa pula dengan aliran listrik yang menari-nari dilangit dan bernyanyi, menghasilkan suara yang tak jarang membuat orang terkejut dan ketakutan.
Suhu kamarnya yang sejuk dan dingin, sangat mendukung untuk menghabiskan waktu dengan santai.
Ia duduk ditempat tidurnya sambil bersandar didinding dan menggulung dirinya dengan selimut yang hangat dan tebal, ia membaca buku materinya dengan khidmat ditemani dengan secangkir kopi hangat yang ia letakkan di atas meja yang berada tepat disamping tempat tidurnya.
Tak lama kemudian, sekitarnya berubah menjadi gelap gulita. Membuat aktivitasnya terganggu. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur untuk mencari ponselnya dan menyalakan senter.
Tapi sebelum itu, ia mendengar suara gaduh dari kamar sebelahnya. Ia menaikkan alisnya sebelah bingung, apa gadis itu baik-baik saja? Pikirnya.
Setelah mencari-cari, akhirnya ponselnya tersebut ditemukan. Ia langsung menyalakan senter agar ia dapat melihat dengan jelas.
Ia juga berniat mengecek keadaan gadis itu. Lantas, ia membuka pintu kamarnya. Tapi bahkan sebelum di cek pun, gadis itu datang dengan sendirinya.
Gadis itu terlihat menundukkan kepala dan berbicara lirih, "Temenin gue."
__ADS_1