Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
14 | Apa Dia Malu?


__ADS_3

Saat laki-laki itu asyik menatapnya, kini tiba-tiba terdengar suara cempreng nan melengking yang khas. Yang akhir-akhir ini selalu Catherine dengar.


"Kalian berdua ngapain jongkok didepan minimarket malam-malam begini?" tanya Violetta bingung melihat dua pegawainya ini.


Catherine pun sontak gelagapan dan langsung berdiri. "Uh.. itu.."


Violetta pun dapat melihat mata sembab gadis itu dan rambutnya yang acak-acakan. "Ini dek Angel kenapa kayak habis nangis? Dek Alex yang bikin dek Angel nangis, iya?" tanyanya histeris dan penuh selidik.


"Eng-enggak kak, kami.." entah bagaimana Catherine bingung menjelaskannya.


"Aduh kalian tuh makanya jangan berantem kenapa? Udah malem begini masih aja berantem. Udah-udah, dek Angel cepet masuk kedalam ganti baju dulu, kita mau tutup," ucap Violetta sambil mendorong-dorong Catherine untuk masuk kedalam.


Tapi sebelum itu, ia sempat berujar pada Sebastian. "Dek Alex, kalo berantem sama pacar sendiri tuh jangan sampe dibuat nangis, dong. Laki-laki yang ngebuat perempuan nangis itu laki-laki banci, tahu,"


Setelah mengatakan itu, Violetta pun masuk kedalam meninggalkan Alex yang masih tetap pada posisi awalnya.


Padahal mereka tidaklah bertengkar, mereka juga bukanlah sepasang kekasih. Apa yang membuat bos nya itu berpikir seperti itu?


Sebastian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak cukup dirinya di cap laki-laki brengsek, kini dirinya dibilang sebagai lelaki banci.


Mirisnya.


...°°°...


Seorang laki-laki tampak tengah duduk di kursi kafe yang menghadap jendela, sengaja dia datang terlebih dahulu dan berpakaian dengan rapi karena dirinya akan bertemu dan berbincang-bincang dengan gadis yang ia sukai.


Dengan perasaan senang dia pun menunggu kedatangan gadis itu.


Rean kemudian melihat arloji nya untuk melihat waktu tengah menunjukkan pukul berapa sekarang.


Pukul dua belas lewat seperempat, waktu yang tertera di arlojinya, yang mana menunjukkan bahwa gadis yang ditunggunya itu terlambat.


Mereka telah berjanji untuk bertemu dikafe dimana ia berada ini jam setengah dua belas, yang mana membuatnya sedikit gelisah.


Apa gadis itu ada urusan mendadak? Atau membohonginya?


Pertanyaan yang bermunculan dipikirannya itu tak bisa ia jawab, jadi yang ia lakukan hanyalah setia menunggu.


Dan dia juga tak ingin berpikiran negatif terlebih dahulu.


Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Rean melihat pintu untuk masuk kekafe terbuka dan menampilkan sosok yang ditunggunya yang terlihat tengah tergesa-gesa.


Sebuah senyum kebahagiaan terukir di wajahnya yang tampan, saat gadis itu melihat kearahnya, ia pun melambaikan tangan untuk menandakan bahwa ia berada disini.


Gadis berpostur badan lumayan pendek itu pun langsung mendekatinya dan duduk dikursi yang berada dihapannya. "Sori banget, Yan. Gue tadi disuruh mama gue untuk beli bahan kue dulu buat dia, jadi lama. Sori banget yah,"


Giselle, gadis yang akhir-akhir ini lumayan dekat dengannya. Sepertinya kisah pdkt nya akan berjalan lancar dengan gadis yang ia sukai pada pandangan pertama akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Gapapa kok, Sel," ujar Rean memaklumi. "Lo pesen minum dulu, gih. Gue bayarin," dirinya menawari.


Raut wajah Giselle berubah menjadi tidak enak. "Gak usah, gue bayar sendiri aja,"


"Udah gapapa, Sel. Sekali-kali juga," ucap Rean kekeuh.


"Ehm, yaudah deh," Giselle pun tersenyum tak enak, padahal ia telah membuat laki-laki itu lama menunggu, dan sekarang minumannya pun laki-laki itu yang membayar.


Giselle pun memanggil pelayan kafe itu, kemudian salah satu dari mereka pun kini berjalan mendekati meja miliknya dan Rean.


"Pesanannya, mbak?" tanya pelayan itu tersenyum ramah.


"Kopi hitam aja mas, satu. Gula nya dikit aja yah," ujar Giselle.


Pelayan itu pun mengangguk sambil menulis pesanan Giselle. "Pacarnya pesen apa, mbak?" tanya pelayan itu seketika membuat Giselle sedikit terkejut dan salah tingkah.


Pacar? Ayolah, mereka hanya berteman!


"E-ehm, kami bukan--"


"Saya udah mesen tadi, mas," potong Rean membuat pelayan itu kembali mengangguk, kemudian pergi menjauhi mereka.


Giselle menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinganya, untuk menutupi salah tingkahnya.


Hanya karena kesalahpahaman kecil seperti itu, kenapa dirinya tiba-tiba salah tingkah?


"Lo suka kopi hitam, ya?"


"Gue sih gak terlalu suka kopi, tapi yang menurut gue lumayan, ya Cappucino,"


Giselle hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi, sebenernya lo ngajak gue ketemuan kayak gini lagi mau ngebahas apa?"


Raut wajah Rean tampak terlihat menjadi serius, ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku bajunya kemudian memutar sebuah video. "Coba lo liat dulu deh,"


Giselle pun melihat apa yang tengah Rean ingin tunjukkan padanya, saat pupil matanya menonton video itu, dirinya pun sangat terkejut. "J-jadi ternyata Melly pura-pura jadi korban?" tanya nya tak percaya.


"Ya, dariawal gue juga tahu kalo Alex dalam suasana hati yang gak baik. Dan kebetulan, Melly dan temen-temennya ngajak Alex ketempat itu. Gue juga awalnya gak nyangka Alex bakal nerima ajakan dari Melly, karena Alex bukan tipe-tipe laki-laki yang suka ke tempat kayak begitu," ucap Rean panjang lebar.


"Jadi gimana sekarang? Apa video ini langsung kita sebarin aja?" tanya Giselle bingung.


"Sebelum itu, gue mau nunjukin video yang lain," ujar Rean lalu menunjukkan video yang berbeda. Giselle pun kembali dikejutkan dengan apa yang dilihatnya, disana terlihat Melly yang tengah bercumbu dengan laki-laki asing persis setelah ia menjebak Sebastian malam itu.


"Habis gue ngerekam Melly yang ngejebak Alex, gue ngikutin cewek itu. Ternyata gue dapet dia lagi nges*ks sama cowok lain. Gue ngerekam ini, mana tau aja nanti perlu,"


Giselle tiba-tiba tertawa. "Jadi lo ngerekam dan nyaksiin orang lagi asyik nges*ks secara diam-diam?"


"Terpaksa! Itu karena terpaksa, demi bukti!" bantah Rean.

__ADS_1


"Iyain aja dah," ucap Giselle masih setia dengan tawa nya.


"Kita harus nyebarin video ini kekampus," perintah Giselle.


"Jangan terburu-buru, lebih baik kita kasih dulu video ini ke Alex. Karena, mau gimana juga ini kan masalah dia," saran Rean "Lagian, kalo kita sebarin video ini, masalahnya malah makin nambah runyam,"


Giselle tampak berpikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Rean.


"Jadi, kita disini cuma mau ngomongin itu doang?" tanya Giselle.


"Sebenernya pas gue lagi ngerekam Melly sama Alex lagi gitu-gituan, ada Catherine tiba-tiba nerobos masuk dan marah besar sama Alex,"


"Catherine?" tanya Giselle sedikit terkejut.


Sebenarnya Rean ragu mengatakan hal ini, tapi ia sudah keceplosan terlebih dahulu. "Iya, terus Catherine sama Alex--"


"Ini pesanannya mbak," ucap pelayan kafe tadi tiba-tiba menginterupsi percakapan mereka dan memotong perkataan Rean.


"Oh, ya. Terimakasih," jawab Giselle ramah kemudian pelayan itu pun menganguk dan kembali meninggalkan mereka.


"Catherine sama Alex kenapa?" tanya Giselle karena perkataan Rean yang terpotong.


Rean menjadi semakin ragu. Karena Alex, Catherine, Gavin, dan Takumi terlihat merahasiakan bahwa Catherine adalah mantan Alex dari Giselle pada waktu itu.


'Apa gue gak usah kasih tahu aja, yah? Lagian ini juga bukan urusan gue.'


"Yan!" panggil Giselle membuyarkan lamunan Rean.


"Oh iya, sori. G-gue lihat kalo Catherine nampar Alex waktu itu," bohongnya. Ya, walaupun tak sepenuhnya bohong.


"Catherine nampar Alex? Lo yakin?" tanya Giselle memastikan.


"Ya, mungkin Catherine nampar Alex buat nyadarin dia. Karena Alex mabuk berat waktu itu," ucap Rean asal-asalan yang hanya dibalas anggukan oleh Giselle.


Tiba-tiba ponsel Giselle bergetar dan berdering, menandakan ada panggilan masuk. "Dari mama gue, bentar yah," ujar Giselle pada Rean.


Rean pun mengangguk, kemudian gadis itu mengangkat telepon itu. Setelah beberapa saat Giselle sibuk berbicara dengan mamanya, kini dia pun menutup telepon itu.


"Yan, gue disuruh mama pulang nih bantuin dia buat kue. Gue duluan gak papa kan?" tanyanya tak enak.


"Gue anter lo," ujar Rean.


"G-gak usah, gue bisa naik Gicar," tolak Giselle dengan halus.


"Udah gak papa, hemat ongkos,"


"Ehm..." Giselle tampak ragu. Tapi beberapa detik kemudian ia menghembuskan nafas. "Yaudah deh,"

__ADS_1


Kini mereka pun pergi kerumah Giselle menggunakan motor Rean, saat Rean mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu naik, laki-laki itu bisa melihat ada rona merah dipipi gadis itu melalui kaca spionnya.


'Apa dia barusan malu?'


__ADS_2