Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
7 | Melly and the Geng


__ADS_3

Tugasnya belum diselesaikan!


Catherine langsung dengan cepat mengambil buku materinya dan notebook yang sempat ia bawa kemarin.


Mana tugas ini harus dikumpul besok pagi lagi!


Sambil mengerjakan ia pun sesekali membaca materinya, jari-jari nya dengan telaten mengetik keyboard dengan cepat.


Tak terasa sudah hampir tengah malam, kelopak matanya mulai sayu tanda ingin tertutup, tapi Catherine tetap memaksakan matanya untuk terus terbuka karena tugasnya yang tak kunjung selesai.


Ia berbaring di tempat tidurnya sejenak, hanya sekedar memejamkan. Tapi siapa sangka bahwa ia akan benar-benar terlelap.


Padahal tugasnya baru ter kerjakan setengah bagian.


.


.


.


.


Catherine terbangun dari tidurnya, cahaya matahari telah menelusup masuk kedalam kamarnya lewat celah-celah tirai yang menutup jendela.


Ia menguap sejenak dan mengucek matanya dan menatap notebook dan buku materi yang ada dihadapannya sejenak.


Matanya terbelalak mengingat ia yang ketiduran saat mengerjakan tugasnya tadi malam. Huh, apes apes!


Ia langsung membuka notebook nya, dan sesuatu yang aneh terjadi.


Tugasnya telah selesai. Bahkan buku materi yang ia biarkan terbuka kini tertutup dan diletakkan dengan rapi.


Tidak mungkin tugas bisa selesai sendiri,  pikirnya.


Jadi, siapa sosok yang mengerjakan tugas nya ini?


Dia akan menyimpan pertanyaan itu untuk nanti, sekarang yang paling penting adalah dia mandi terlebih dahulu agar iler disekitar mulutnya dan belek yang ada dimatanya hilang.


Setelah mandi dan berpakaian rapi ditambah dengan polesan bedak dan liptint yang tipis, Catherine pun turun kebawah.


Sudah ada Sebastian yang tengah duduk di sofa memakan sarapan yang telah dibuat oleh laki-laki itu sendiri sambil menonton kartun yang berjudul busabob.


Padahal udah dewasa masih aja tontonannya kartun anak-anak.


Catherine pun menghampiri meja makan kemudian duduk memakan sarapan yang telah disiapkan untuknya.


"Udah gede masih aja nonton kartun." celetuknya.


Sebastian hanya menoleh sekejap, kemudian ia tak menghiraukan lalu kembali menonton ke film nya sambil memakan sarapannya dengan santai.


Catherine mendelik kesal, kemudian ia juga kembali melanjutkan sarapannya.


Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan kearah dapur untuk mencuci piringnya.


Catherine pun dengan cepat menghabiskan makanannya kemudian berlari dan meletakkan piring kotornya disamping Sebastian. "Numpang,"


Laki-laki itu tampak menghembuskan nafasnya, lalu mengambil piring kotor bekas Catherine.


Catherine hanya bisa melihat bagaimana telapak tangan yang berukuran besar itu dengan telaten melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh kaum perempuan.


"Lo yang ngerjain tugas gue?" tanya Catherine sembari sibuk melihat aksi tangan laki-laki itu.


"Mungkin,"


Ingin rasanya Catherine menjambak rambut hitam milik laki-laki itu, padahal ia bertanya dengan serius. "Gue serius,"


"Lah gue juga serius,"


Catherine mengepalkan tangannya agar tak terlepas dan berakhir dengan meninju wajah tampan nya itu.


"Lo pikir siapa lagi yang ada dirumah ini? Mikir,"


"Gue nanya baik-baik, jadi bisa gak lo jawab baik-baik?" ketus Catherine.


"Mungkin,"


"Ah terserah lah! Naik darah ngomong sama orang kayak lo!"


"Ya tinggal turunin,"


"Arghh!! Siapapun tolong gue!!" teriak Catherine frustasi.


Sebastian hanya tersenyum tipis melihatnya. "Gue bercanda. Gue yang ngerjain tugas lo. Hitung-hitung sebagai permintaan maaf untuk hari itu,"


Catherine sontak menoleh kearah laki-laki itu. Tidak ia sangka laki-laki itu akan melakukan hal seperti ini sebagai permintaan maaf. "O-oke. Kalo gitu makasih," ucapnya kikuk. Tidak biasanya dia seperti ini.


Sebastian mengangguk. "Yaudah lo siap-siap, gue anter. Lo ada kelas pagi kan?"


"Ya."


"Gue tunggu diluar." ujar laki-laki itu lalu  meletakkan piring nya yang sudah bersih di rak piring, kemudian ia mengambil kunci motor dan pergi menghidupkan motor dan memanaskan nya sebentar.


Sementara Catherine mengambil tas dan barang-barang yang diperlukannya dan kembali menuruni tangga dan menghampiri Sebastian yang telah menunggu digarasi.


Setelah itu mereka pun berangkat menuju tujuan mereka.


...°°°...


Catherine berjalan menuju kelas dan duduk di bangku sambil menunggu kedatangan sahabat sejatinya.

__ADS_1


Ya, siapa lagi kalau bukan Giselle.


Selang beberapa menit, kedatangan sahabatnya itu akhirnya tiba. Tapi dengan sedikit berbeda, gadis itu tidak seberisik seperti biasanya.


Pandangan gadis itu tampak kosong, dan dirinya tampak tak bersemangat. Giselle kemudian duduk disebelah Catherine.


"Selamat pagi sahabatku yang terbaik sedunia!" Catherine berusaha menghibur sahabat karib nya ini.


Tapi gadis itu tampak tak berkutik. "Sel! Giselle! GISELLE!"


"Apa sih Rin?!" bentak Giselle.


"Lo kenapa sih?" tanya Catherine heran.


"Gak papa."


"Sel, yang jujurlah sama sahabat sendiri."


"Gue kesel Rin, gue sedih! Gue kayak orang **** tau gak?!" Giselle sedikit berteriak dengan airmatanya yang hampir tumpah.


Catherine menjadi tidak enak karena menjadi pusat perhatian orang, jadi ia berusaha membawa Giselle ke tempat yang lebih tenang.


Sebelum itu, ia sempat menitipkan tas dan tugasnya dengan orang yang berada dibelakangnya, setelah itu baru membawa Giselle ke tempat yang enak untuk diajak curhat.


Ya, toilet wanita.


.


.


.


.


"Lo kenapa sih Sel? Perasaan gue kemarin lo masih hepi-hepi aja deh," tanya Catherine khawatir.


Sekarang mereka telah sampai ditempat tujuan, beruntung sekali di toilet tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua.


"Alex, Rin," ucapnya dengan terisak dan berusaha menghapus air mata yang berada dipelupuk matanya.


"Tuh cowok kenapa? Dia macem-macem sama lo? Kalo iya langsung gue tonjok sekarang "


"Ih lo mah, orang lagi sedih juga masih aja bercanda!" kesal Giselle.


"Lah gue serius," Catherine menjawab dengan polos.


"Ih pokoknya kemarin gue tuh galau banget, Rin!"


"Iya iya lo galau, lo galau gara-gara apa, Sel?? GiSelena Gomesss," ujar Catherine gemas.


"Dia bilang.... dia punya pacar, Rin..."


"Salah paham gimana, orang dia yang bilang sendiri kok," gadis itu kembali meneteskan air matanya.


"Padahal gue udah suka sama dia dari SMA, Rin. Gue waktu itu gak berani ngungkapin karena takut ngerusak persahabatan kita! Kalo tau begini, gue ungkapin aja perasaan gue dari dulu!" ucapnya mencurahkan seluruh kekesalan dan kesedihan hatinya yang tak dapat dibendung.


Gadis itu langsung memeluk Catherine dengan sangat erat, Catherine pun membalas pelukan kesedihan sahabatnya tersebut sambil membelai pucuk kepalanya guna untuk meredakan tangisnya.


Catherine menjadi merasa bersalah. Ia dulu berbahagia diatas penderitaan Giselle.


Disaat ia bersenang-senang saat berpacaran dengan Sebastian, Giselle malah merasakan sakit hati karena memendam perasaan terhadap laki-laki itu.


Dan sekarang, ia tambah merasa bersalah lagi karena mengira laki-laki itu sekarang tidak mempunyai pacar dan berusaha mendekatkan sahabat nya dengan laki-laki itu dan berakhir dengan kesedihan sang sahabat.


Untuk sekarang. Untuk menebus rasa bersalah nya, ia hanya bisa memberi kata-kata semangat dan hiburan untuk meredakan tangis kesedihan hati sang sahabat.


"Udah Sel, masa cuma gara-gara cowok lu nangis kayak gini. Udah ih, jangan ditangisin terus,"


Tapi sahabatnya tersebut masih setia dengan isakan samar-samar nya. "Udah Sel jangan sedih ih. Kayak kata orang, sebelum jamur merah melangkah, lu jangan nyerah dulu lah,"


"Sebelum janur kuning melengkung kali!" ucap Giselle sedikit terkekeh disertai dengan airmatanya yang mengalir di pipi nya.


Catherine tersenyum. "Nah gitu dong! Jangan galau-galau mulu napa! Kita kan cewek bar-bar,  jadi galau nya jangan lama-lama,"


"Ih makin sayang deh ama lo, Rin! Makasih yah cinta sejatiku!!" Giselle kembali memeluk Catherine.


"Eh lu kayak lesbi tau gak. Udah lepas-lepas ah!"


"Ih lu mah!" ucap Giselle dengan wajah cemberut.


"Canda kok. Ayo sini sahabatku! Berpelukan!" ujar Catherine sambil meniru kata-kata dari kartun teletubles dan kedua sahabat bar-bar ini pun berpelukan.


"Eh btw, udah masuk belum sih? Kita udah lama loh disini. Balik yuk," tanya Giselle.


"Lo duluan aja, gue kebelet," jawab Catherine.


"Yaudah gue duluan deh! Dadah zeyeng!" Giselle pun melambaikan tangannya dan pergi menuju kelas.


Catherine pun berjalan menghampiri toilet dan masuk kedalamnya lalu mengunci pintunya.


Setelah berhasil memenuhi panggilan alamnya, ia pun kembali membuka pintu tapi tidak bisa terbuka.


Pintu ini terkunci dari luar, jadi ia tak bisa membukanya dari dalam. Catherine kemudian menggedor-gedor pintu itu tapi sepertinya tidak ada orang yang akan membukakan nya.


Ia pun mendengar seperti ada suara. Saat ia sibuk mendengarkan suara itu, tiba-tiba ada seember air yang jatuh dari atas memandikan seluruh badannya.


Seluruh baju dan rambutnya basah, dan berbau busuk. Ya, itu adalah air bekas pel.


Catherine bisa mengetahui hal itu karena eksperimen nya yang pertama kali memakai pel kemarin.

__ADS_1


Selang beberapa saat, terdengar suara kunci dari luar dan pintu toilet pun terbuka menampilkan lima gadis yang selalu iri dan membenci seorang Catherine.


"Enak yah mandinya hahahah!" ujar Melly, ketua dari kelompok mereka.


"Yaiyalah orang mandi air pel kok ahahah!" sahut Lara, anak buahnya Melly.


"Btw itu air pel bekas kemarin loh! Pasti luarbiasa banget baunya kan ahaha!" anak buahnya yang lain, Farah.


"Pfft! Bau nya luar biasa hahahah!" dan si dua kembar yang tertawa terbahak-bahak, Rara dan Ruru.


Catherine hanya diam, menatap tajam kearah lima gadis yang meyebalkan ini. Ia memasukkan tangannya sejenak ke sakunya setelah itu mengeluarkan nya kembali dengan cepat.


"Apa lo?! Natep-natep kita kayak gitu! Mau minta tampar iya?!" sewot Lara.


"Yaudah tampar aja, Lar." jawab Farah.


"Iya, Lar. Tampar aja!" sahut Rara dan Ruru.


Saat Lara hendak menampar Catherine, ada tangan yang lebih mendahului nya dan menampar Catherine dengan sangat keras.


Itu Melly.


Catherine merasa panas di pipi nya, tapi ia hanya diam.


"Heh, jangan diem aja! Punya mulut tuh jawab!" bentak Melly.


"Kalian kenapa sih selalu nyakitin gue? Gue ada salah apa sama kalian?" ujar Catherine dengan airmata yang mengalir di pipi nya.


"Yaampun, si Catherine nangis yaampun cup cup! Sana ngadu sama nyokap lo! Oh iya gue lupa, lo kan gak punya nyokap ahahahah!"


Tawa gelak dari mereka langsung menggema di toilet itu.


"Aduh, karena gak ada bokap lo, lo jadi takut sekarang?"


"Dasar cewek manja, beraninya pas ada bokap doang, jijik gue!"


"Udah yuk gengs, kayak nya dia udah jera nyari gara-gara sama kita," ujar Melly pada geng nya. "Makanya, kalo penakut tuh gak usah sok!" lanjutnya.


Setelah itu mereka berlima pergi dengan kagak sombong mereka yang khas.


Meninggalkan Catherine yang terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa panas setelah ditampar oleh si ketua geng cewek yang berkuasa di kampusnya.


...°°°...


Giselle gelisah karena sahabat nya yang kunjung tidak datang, padahal kelas sudah dimulai dari tadi.


Setelah beberapa saat bergulat dengan kegelisahannya, Giselle pun langsung menghela nafas lega ketika sosok yang dicarinya dari tadi akhirnya menampakkan diri dihadapannya.


Tapi, sahabatnya itu tampak sangat berantakan. Rambutnya yang kusut, dan pakaiannya yang terlihat lembab.


"Astaga, dari mana saja kamu Catherine? Basah-basahan seperti ini. Dan juga, kamu bau busuk. Habis ngapain kamu?" tanya dosen yang tengah mengajar.


"Maaf buk, tadi saya kecebur di selokan,"


Sontak jawaban Catherine membuat seluruh orang yang berada di ruangan itu tertawa.


"Yaampun Catherine, kamu kenapa ceroboh sekali sih?" Dosen tersebut tampak mengehela nafas. "Ya sudah. Sebelum kamu duduk, saya mau minta tugas yang sudah diberikan padamu,"


"Tugas saya ada pada teman saya buk, Giselle."


Giselle langsung menoleh kebelakang untuk meminta kepada teman di bangku belakang nya meminta tugas Catherine yang gadis itu titipkan tadi.


"M-maaf, Sel. Tadi Melly sama geng nya minta tugas Catherine. Kalo gak gue kasih dia bakal ngancem gue, Sel. Jadi tugas Catherine gue kasih sama dia. Maafin gue Sel," ujar teman di belakangnya dengan penuh penyesalan.


Giselle jadi bingung dan kesal, dia juga tidak bisa menyalahkan gadis di belakang nya karena teman yang berada dibelakang nya pun ini diancam.


Melly dan geng nya itu selalu membuat masalah dengan Catherine, sahabatnya. Membuat dirinya selalu kesal dengan kelakuan gadis pembuat onar itu.


"Giselle, dimana tugas Catherine?"


"Hah.. um.. uh.. itu.."


"Dimana Giselle?"


"Maaf buk, tugas Catherine hilang. Saya lupa meletakkan nya,"


Dosen itu tampak kesal dan marah. "Sudahlah! Tak usah membuat alasan!" Dosen itu kemudian menoleh dan menatap Catherine. "Catherine, kalo memang kamu tidak membuat tugas, tidak udah libatkan temanmu! Saya tahu jelas bagaimana sifatmu dari dulu!"


Giselle tidak suka bila sahabatnya dituduh seperti itu. "Buk, Catherine memang sudah membuat tugas tersebut, tapi tugasnya memang benar-benar hilang!"


"Saya tidak ingin mendengar alasan apapun lagi! Dan kau Catherine, kamu sudah dewasa! Kamu harus bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah! Kamu seperti anak SD saja! Sudahlah, kau kembali duduk saja, menghabiskan tenaga untuk berbicara dengan orang sepertimu,"


Catherine tiba-tiba menunduk. "Maafkan saya, saya memang bersalah. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ujarnya kemudian berjalan ke arah bangku nya kemudian duduk disebelah Giselle.


"Rin, kok lo terima kayak gitu aja sih?!" ucap Giselle kesal karena Catherine menerima sesuatu yang bukan salahnya.


Catherine hanya diam.


"Rin--!"


Tring!!


Suara bel memotong perkataan Giselle, ia kembali menoleh kearah Catherine untuk menyelesaikan perkataan nya.


Tapi raut wajah Catherine membuatnya terdiam.


Wajah Catherine yang datar, kini dihiasi dengan seringaian yang sangat licik dan menyeramkan.


"It's showtime."

__ADS_1


__ADS_2