Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
25 | Awal dari Semua Itu


__ADS_3

Mereka pun kini telah selesai dengan aksi yang mereka lakukan. Dua insan Tuhan ini tengah terdiam sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Catherine yang menunduk menatap lantai, dan Sebastian yang menatap kepala gadis itu yang tertunduk.


"Gue mau nanya sama lo," gadis itu melipat bibirnya seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Kenapa ada nama kontak papa gue di ponsel lo?"


Seperti disetrum oleh aliran listrik yang konslet, Sebastian membolakan matanya. Darimana gadis itu tahu?


"Apa maksud lo?" tanya Sebastian seolah-olah tak tahu. Kalimat yang ia lontarkan dari bibirnya terdengar sangat mulus, seolah-olah dia memang benar-benar tak tahu apapun.


Catherine berdecak, ia sangat membenci orang yang berpura-pura tak tahu. "Jawab dengan jujur! Ada hubungan apa lo dengan papa gue?"


Apa ini saatnya untuk memberitahu semua kebenarannya? Apa ini saatnya untuk menghentikan semua kebohongan ini?


Wajah Sebastian masih senantiasa tenang, walaupun saat ini pikrannya tengah berkecamuk.


Bagaimana jika gadis itu akan kembali membencinya jika ia memberitahukan segalanya?


Namun, setiap kebohongan pasti akan terungkap cepat maupun lambat, bukan?


Jadi sepertinya, lebih baik mengungkapkan kebenaran itu sekarang dengan jujur daripada nanti gadis itu akan mengetahuinya sendiri, bukan?


"Gue sama papa lo yang udah bikin hidup lo kayak gini sekarang," ucapnya membuat Catherine terkejut dan mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Sebastian.


"Maksud lo?"


"Gue yang udah minta sama papa lo untuk bohongin lo. Sebenarnya, semua ini terjadi karena permintaan gue."


"Sebenarnya ada hal apa yang terjadi antara lo dan papa gue?" Catherine semakin penasaran dan bingun dengan semua kejadian ini.


Sebastian menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya pelan. "Gue bakal ceritain, awal dari semua ini."


Flashback on


Setelah ia melakukan keji tersebut beberapa hari yang lalu, laki-laki itu pun terduduk di kamarnya sambil menjambak kasar rambut hitam legamnya.


Laki-laki itu seakan baru tersadar dengan apa yang telah di lakukannya selama ini, ia kemudian menatap telapak tangannya.


Telapak tangan yang telah mendorong gadis yang sangat ia sayangi sampai terluka parah. Sebenarnya, seberapa banyak kesalahan yang telah ia lakukan selama ini?


Tak terhitung sudah berapa kali tangan ini melukai fisik gadis malang itu, sudah tak terhitung berapa kali bibirnya melontarkan kalimat yang menusuk dan menyakiti hati gadis itu.


Ah, apa yang ia lakukan selama ini?


Kenapa hanya karena mimpi buruk yang menghantuinya, ia malah melukai gadis yang ia sayangi?


Kenapa semuanya menjadi seperti ini?


Tidak, ia harus menghentikan semua ini, ia harus meminta maaf pada gadis itu. Laki-laki itu kemudian menyusul menyusul ke tempat di mana gadis itu di rawat.


Setelah sampai, dia pun sampai di depan pintu masuk ruangan gadis itu di rawat.


Awalnya ia ragu untuk melangkahkan kaki ke dalam, tapi ia tak ingin bertindak seperti pengecut, ia pun akhirnya melangkahkan kaki ke dalam ruangan tersebut.


Terdapat seorang gadis berparas manis yang tengah berbaring di ranjang di sertai alat-alat medis di sekelilingnya, tak lupa dengan perban putih yang membalut kepalanya.


Rasa bersalah dan rasa sakit menyerbu hatinya di kala ia melihat kondisi gadis itu yang tak berdaya.


Tapi untuk sejenak ia ingin melupakan semua hal itu, lalu laki-laki itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di dekat ranjang gadis itu tengah berbaring.


Gadis itu menatapnya di kala laki-laki itu berada di sampingnya, dan ia pun berkata. *Buat apa lagi lo dateng ke sini? Belum puas nyakitin gue?* ketus nya.


Namun laki-laki itu tak menghiraukannya, wajar jika gadis itu berkata seperti itu terhadapnya.


"Gue mau minta maaf atas semuanya." ujarnya dengan tulus sepenuh hati yang malah mengundang senyum kecut di wajah gadis itu.


"Gak perlu, karena kita udah gak punya urusan apa-apa lagi." jawab gadis itu dengan cepat membuat laki-laki itu bingung.


"Maksud lo--"

__ADS_1


"Kita putus. Jadi tolong jangan gangguin hidup gue lagi." ucap gadis itu tak terbantahkan.


"Gak, gue mohon jangan. Kasih gue kesempatan untuk memperbaiki semuanya!"


"Udah gak ada lagi yang harus diperbaiki. Kita udah berakhir. Jadi gue mohon sama lo, tolong jangan gangguin hidup gue lagi."


.


.


.


.


.


Hampa.


Hanya itulah yang dapat ia rasakan. Dirinya benar-benar bodoh, dirinya telah membuat sumber kebahagiaannya hilang begitu aja.


Ah, sial. Ia tak bisa mengeluarkan gadis itu dari pikirannya sedetik pun. Dirinya sangat sangat menyesal.


Kenapa tidak dari dulu ia sadar akan kebodohannya?


Seakan ia ingin memutar waktu dan kembali ke masa-masa itu.


Tidak, ia tidak boleh menyerah sekarang, ia masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.


Laki-laki itu pun dengan cepat berlari menuju ke suatu tempat, berharap ia bisa mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.


.


.


.


.


"Saya meminta maaf setulus hati pada om, tapi saya mohon tolong berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan saya." mohonnya dngan pnuh hormat pada pria paruh baya itu.


"Tidak perlu, karena satu kesempatan yang saya berikan padamu kau buang begitu saja!


Saya tak akan pernah mempercayakan anak saya lagi pada laki-laki sampah sepertimu! Menyerahlah, dan cari saja gadis lain untuk kau sakiti!" ujar pria itu sangat menusuk lalu menutup pintu tepat di depan laki-laki itu.


Tapi, laki-laki itu tak menyerah begitu saja. Ia berusaha untuk membujuk pria itu, agar memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya.


Jadi, setiap hari laki-laki itu memohon pada pria itu tanpa pamrih. Walaupun makian, sindiran, hujatan yang selalu ia terima tiap hari, tapi tak membuat keputusannya gundah.


Ia benar-benar menyesal dan benar-benar tulus ingin memperbaiki kesalahan dan kebodohannya.


Yang mana membuat pria paruh baya itu akhirnya mengubah keputusannya dan memberilaki-laki itu ksempatan kedua yang amat berharga bagi laki-laki itu.


Flashback end


"Dari situ lah papa lo dan gue berencana untuk membuat kejadian palsu ini. Sebenarnya, papa lo bukan bangkrut, dia cuma nutup cabang perusahaan nya di Indonesia, dia masih punya banyak cabang perusahaan di negara lain." ungkap Sebastian.


Catherine seakan tak bisa mempercayai ini, ternyata semua kejadian ini hanyalah rencana laki-laki itu dan papanya?


Dan hal itu hanya karena laki-laki itu ingin kembali bersamanya?


Bagaimana ia harus bereaksi terhadap semua kejadian ini?


"J-jadi lo ngelakuin itu semua ke gue karena mimpi buruk lo?" tanya Catherine.


Sebastian mengalihkan pandangannya. "Ya, sebenarnya mimpi buruk itu adalah kenangan masa kecil gue." ungkap nya dengan Catherine yang setia mendengarkan.


"Pas gue masih kecil, gue tinggal sama mama tiri gue. Mama tiri gue selalu nyiksa gue setiap hari sampai-sampai gue harus di bawa ke psikolog waktu itu." lanjutnya.


"Bahkan mimpi itu masih menghantui gue sampai sekarang." Sebastian kembali mengingat-ingat paras iblis itu.

__ADS_1


Catherine ternganga. "Gue gak tahu bagaimana mencerna ini semua."


Sebastian kembali menatap dalam gadis itu. "Gue tahu semua perbuatan gue ke lo dulu gak bisa dimaafkan, tapi Catherine,"  jedanya sambil memegang kedua baju gadis itu. "Gue bener-bener minta maaf sama lo."


Raut wajahnya penuh penyesalan, Catherine bisa melihat hal itu semua.


Sudah lama laki-laki itu tidak menyebut namanya seperti ini.


Ia berusaha untuk menahan air mata nya yang kembali hendak turun, "Lo gak perlu minta maaf." jawabnya sambil menatap dalam laki-laki itu.


"Gue waktu itu udah ngehina lo dan juga sering ngejek lo. Jadi, kita impas kan?" ujarnya dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya.


Sebastian sedikit terkejut dengan respon gadis itu, ia tak menyangka bahwa gadis itu akan berkata seperti ini.


Ah, dia benar-benar bodoh waktu itu menyakiti dan menyia-nyiakan gadis yang sangat baik hati seperti nya.


Sebastian pun mengangguk, kemudian ia menyunggingkan senyum lebar yang tulus.


Entah kenapa, dirinya benar-benar bahagia sekarang.


"Ah, sumpah! Gue ngerasa lega banget! Haha!"


Sebastian tertawa lepas, yang mana juga membuat Catherine tertawa. 


Sudah berapa lama mereka tidak tertawa lepas bersama seperti ini?


Entahlah, yang penting mereka ingin menikmati momen yang telah lama pupus ini.


"Jadi kalau gitu, dimana papa gue sekarang?" tanyanya.


Sebastian mengedikkan baju. "Gue gak tahu, yang gue denger dia pergi ke luar negeri."


Catherine hanya ber oh ria. Setelah itu ia kemudian terpikir dengan sahabatnya, "Tapi ... gimana sama Giselle?" ujarnya dalam hati.


...°°°...


Saat ini Catherine tengah berjalan-jalan di taman kota.


Karena bosnya yakni Violetta tengah berlibur, jadi minimarket tempat ia bekerja saat ini sedang tutup.


Dia merasa suntuk jika hanya berguling-guling di kasur sambil memainkan ponsel, jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan.


Langit sore menjadi salah satu favoritnya.


Warna jingga yang bercampur dengan warna merah muda, putih, maupun kuning sangat memanjakan matanya.


Dan ia juga sangat menyukai suasana sore, karena sinar matahari sore tak sepanas sinar matahari siang.


Ia kemudian duduk di salah satu bangku di bawah pohon yang tinggi dan rindang.


Dirinya kembali mengingat-ingat tentang semua kejadian hari ini.


Ia benar-benar tidak menyangka bahwa laki-laki itu melakukan semua ini hanya untuk bisa kembali dengannya.


Jujur, ia sangat senang mendengar hal itu.


Tapi ia juga masih penasaran, di manakah ayahnya sekarang berada?


Dan, bagaimana cara ia menghadapai Giselle nantinya?


Bahkan sahabatnya itu tak masuk ke kampus hari ini, apa sahabatnya itu benar-benar kecewa padanya?


Atau lebih buruknya, sahabatnya itu malah membencinya?


Entahlah, semua ini terlalu rumit dan tiba-tiba.


Ia kemudian mulai menutup matanya sambil menikmati terpaan angin yang membelai kulitnya.


"Catherine?"

__ADS_1


Suara tersebut sangat tak asing baginya, ia kemudian sontak membuka matanya.


"Giselle?"


__ADS_2