Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
16 | Rain


__ADS_3

Gadis itu terlihat menundukkan kepala dan berbicara lirih, "Temenin gue,"


Suasana hening, hanya suara deras hujan dan angin yang kencang mengisi keheningan.


Tapi keheningan tersebut tak bertahan lama, karena ada suara petir yang menggelegar seakan bumi bergetar dan akan terbelah dibuatnya.


JEDER!!


"Mama!!" sontak Catherine langsung teriak dan mendekap laki-laki dihadapannya.


Entah kenapa, tapi dari dulu memang dia sangat takut akan hujan deras dan suara aliran listrik langit tersebut.


Oleh karena itu ia keluar dari kamarnya dan langsung ke kamar Sebastian untuk meminta laki-laki itu untuk menemaninya.


Sebastian dapat melihat gadis itu menutup kelopak matanya erat-erat dan badannya yang gemetaran, hingga bantal guling yang gadis itu bawa terlepas dari genggamannya dan jatuh kelantai.


Sebastian pun mendorong pelan gadis itu yang tengah mendekapnya. Catherine tersadar atas apa yang dilakukannya barusan, dan berkata, "M-maaf," lalu ia pun kembali mengambil bantal guling nya yang terjatuh dan memeluk erat benda itu.


"Masuklah," ujar laki-laki itu mempersilakan Catherine masuk.


Catherine pun masuk kekamar itu dengan langkah pelan, sambil melihat sekitarnya. Walaupun dia hanya dua kali masuk ke ruangan ini, tapi Catherine entah kenapa merasa nyaman berada didalamnya.


Dinding ruangan yang bercat abu-abu polos, buku yang tersusun rapi di rak kayu, meja belajar yang minimalis, lemari pakaian yang sudah pasti berisi pakaian laki-laki itu, dan tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang.


Sebastian kembali ke posisi awalnya, yaitu duduk diatas tempat tidurnya sambil membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, dan kembali membaca buku materinya.


Sedangkan Catherine duduk dilantai yang dialasi kapet bulu yang tebal dengan menyilangkan kakinya dan masih setia memeluk bantal gulingnya erat.


Ia sungguh menyesal tadi karena tidak sempat mencharger ponselnya sehingga ponselnya tak dapat ia mainkan karena kehabisan baterai.


Karena bosan tak ada hal yang dapat ia lakukan, ia pun berdiri dan mulai menghampiri rak buku yang berada diruangan itu dan mencari-cari buku yang menurutnya menarik.


Sebastian hanya menatap gadis itu yang sibuk mencari-cari buku, dirinya hanya akan membiarkan gadis itu melakukan apa yang ia inginkan asalkan tak mengganggu.


Semua buku yang ada di rak itu hanyalah buku materi dan buku pelajaran saja, yang mana membuat Catherine tidak tertarik sama sekali.


Karena tak kunjung menemukan buku yang membuatnya tertarik, Catherine pun  mendengus kesal dan mulai mengusik Sebastian yang tengah fokus dengan buku yang dipegang dan dibacanya.


"Lo lagi baca buku apa?" tanya Catherine sambil mendekat kearah Sebastian dan melirik isi buku yang laki-laki itu baca.


Sebastian dapat mencium wangi tubuh gadis itu yang manis, dan juga posisi gadis itu sedikit menunduk membuat bajunya sedikit melorot dan menampilkan belahan dadanya.


Ia langsung memalingkan iris beserta pupil matanya, dirinya langsung merasakan panas diseluruh tubuhnya, walaupun suhu diruangan itu sangat dingin.


Ia merasa gerah kemudian melepaskan selimut yang dipakainya dan memberikan selimut itu pada Catherine.


Catherine bingung. Bukannya menjawab pertanyaannya, laki-laki itu malah memberinya sebuah selimut. "Buat apa?" tanyanya dengan alis nya ia naikkan sebelah sambil memegang selimut berwarna hitam itu.


"Pake selimutnya, cuaca dingin," jawabnya singkat tapi cukup membuat perasaan Catherine menghangat.


"Gak usah baper, sadar diri," peringatnya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Makasih," ujarnya singkat.


Setelah itu suasana kembali hening, tidak ada lagi percakapan diantara mereka.


Sebastian sudah tak bisa fokus lagi pada buku yang tengah dibacanya, karena baju laknat itu yang melorot.


Ia kemudian menutup bukunya dan membuka suara. "Lo gak marah atas apa yang gue lakuin ke lo dulu?" tanyanya tiba-tiba, sambil menatap langit-langit kamarnya.


Catherine sedikit tertegun. Kenapa laki-laki itu tiba-tiba membahas hal ini? Ia melipat bibirnya sambil tertunduk. "Kalo iya, apa yang bakal lo lakuin?" bukannya menjawab, ia malah berbalik bertanya. Sambil mendekap bantal gulingnya.


Perlu beberapa saat untuk Catherine menunggu laki-laki itu menjawab.


"Gue bakal berusaha buat lo maafin gue," ujarnya datar.


Gadis itu tak menjawab, kini kalimat pertanyaan kembali terlontar dari bibirnya. "Gimana kalo gue udah maafin lo?"


"Kalo gitu gue bakal buat lo jadi milik gue lagi,"


Catherine menggigit bibir bawahnya, kemudian ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Tenang aja, gue gak maafin lo kok," ujarnya lalu berdiri dan menatap ke arah Sebastian.


Entah sebenarnya apa maksud tatapan itu, Sebastian sama sekali tak tahu dan tak mengerti.


"Begitu. Berarti perjalanan gue masih panjang buat dapetin lo," ucapnya penuh arti.


Catherine tak menjawab dan malah beralih ke topik lain. "Oh iya, gue tahu gimana caranya supaya lo bisa ngebales Melly."


Sebastian menghembuskan nafas jengah. "Udah gue bilang, gue gak--"


"Gimana kalo gue kasih imbalan buat lo?"


"Ya, imbalan. Asalkan lo mau ngikutin rencana gue, gue bakal kasih lo imbalan," entah kenapa ini menjadi acara tawar-menawar.


"Jadi, dalam bentuk apa imbalan yang lo maksud?" tanya Sebastian mulai tertarik.


"Rahasia,"


"Oh. Kalo gitu gimana rencana lo?"


Catherine tersenyum miring. Ia kemudian berjalan mendekati Sebastian dan berbisik pada laki-laki itu. "Kayak gini rencananya...."


...°°°...


Terdapat lima gadis yang tengah menikmati makan mereka sambil tertawa riang. Seolah tak ada beban dalam hidup mereka dan seolah tak ada orang disekitar mereka, tawa mereka menggelegar dikantin itu.


Mereka adalah Melly, Lara, Farah, Rara, dan Ruru.


"Kayaknya si Catherine gak tau gimana ngebales rencana lo, Mel," puji Farah.


"Ya pastilah. Kan udah gue bilang, rencana ini tuh rencana terbaik," jawab Melly merasa bangga pada diri sendiri.


"Tapi lo gak takut nanti diapa-apain sama Sebastian, Mel? Secara kan, lo itu udah ngebuat reputasi nya buruk di kampus," tanya Lara khawatir.

__ADS_1


"Lo gak perlu khawatir soal itu. Lagian Sebastian itu kan gak ada apa-apa nya kecuali mukanya yang agak ganteng. Cowok kayak dia pasti gak berani lah sama gue!"


"Tapi, Mel..."


"Udah deh, Lar. Lagian lo kenapa takut banget sih! Ini gue loh, papa gue pemegang perusahaan besar, gak mungkin dia berani sama gue!" lanjutnya menyombongkan diri.


"Iya, cowok kampungan kayak gitu mah gak usah kita takutin," celetuk Rara.


"Hahaha!" mereka berlima pun tertawa mengejek. Tapi, tawa itu tak bertahan lama karena ada seseorang yang menginterupsi.


"Sebenernya, cowok kampungan itu mau ngomong sama ketua kalian,"


Mereka berlima sontak langsung menghentikan tawa mereka dan menoleh ke arah tersebut.


Sosok tersebut mengukir senyuman manis di wajah tampannya. Tapi, senyum manis itu malah seperti senyuman yang menyeramkan.


"Boleh kita ngomong sebentar? Anak dari pemegang perusahaan besar?" tanyanya menyindir.


Melly berdecih, "Cih, buat apa gue harus ngomong sama lo? Dasar cowok kampungan!"


Ya, yang menginterupsi mereka adalah Sebastian. Kini laki-laki itu kembali tersenyum. "Begitu. Oke, tapi lo harus ikut kalo gak mau aib lo terbongkar,"


"Aib? Apa maksud lo?!" hardiknya sambil menautkan kedua alisnya.


Sebastian tak menjawab, ia kemudian pergi begitu saja.


Melly merasa kesal karena laki-laki kampungan itu mengabaikannya. Tapi ia juga penasaran apa maksud dari aib yang dikatakan oleh laki-laki itu.


Dengan langkah kesal, dia pun mengikuti kemana arah Sebastian pergi.


.


.


.


.


.


Setelah beberapa meter ia mengikuti Sebastian, kini laki-laki itu akhirnya berhenti. Melly melihat sekitarnya yang mana sangat sepi hampir tak ada orang.


Sebastian pun kini menoleh menghadap gadis itu. Seketika Melly merasa tidak nyaman karena laki-laki itu menatapnya dengan pandangan biasa.


Selang beberapa saat, Melly membelalakkan matanya ketika punggungnya menyentuh dinding dan laki-laki itu kini mengurungnya.


"N-ngapain lo?" tanyanya terkejut.


Sebastian tak bersuara dan malah menampilkan senyum itu lagi, yang mana membuat Melly merasa sedikit takut.


Senyum licik laki-laki itu entah kenapa mengingatkannya pada senyum licik gadis yang telah lama menjadi musuh bebuyutannya.

__ADS_1


Sebastian merogoh saku jaketnya kemudian mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video dan menunjukkannya persis didepan wajah Melly.


Melly sangat sangat terkejut melihat itu. Bagaimana bisa, video rekaman itu ada ditangan laki-laki yang menjadi korbannya?


__ADS_2