
Catherine membuka pintu rumah dengan raut wajah penuh lelah. Karena habis pulang dari kampus, ia langsung ke minimarket untuk bekerja.
Dan sekarang sudah malam, ia benar-benar lelah dan hanya memakan makanan ringan untuk mengganjal perut.
Semoga saja laki-laki itu memasak sesuatu yang dapat ia makan kemudian menghilangkan demo yang ada didalam perutnya.
Saat ia melepas sepatu nya dan menginjakkan kaki dirumah, ia mencium aroma ayam goreng kesukaannya.
Ia pun dengan cepat mengarah dapur, ia melihat Sebastian yang tengah menggoreng ayam.
Lalu ia bertanya, "Masih lama? Gue udah laper,"
"Baru pulang lo?" bukannya menjawab Sebastian malah berbalik tanya.
"Iya. Gue habis dari minimarket, kelas gue baru habis pas sore,"
Sebastian hanya ber oh ria kemudian fokus menggoreng ayamnya.
Daripada lama menunggu Sebastian yang tengah menyiapkan makanan, Catherine lebih memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Ia kemudian menaiki tangga dan masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti dan handuk.
Karena kamar mandi yang berada di lantai bawah, ia harus berganti baju dikamar mandi.
Tidak mungkin ia berjalan dari bawah keatas hanya dengan selembar handuk yang hanya mampu menutupi dari dada sampai paha, disaat ia tinggal bersama dengan seorang laki-laki.
Setelah selesai, ia pun berjalan kearah meja makan yang telah tersedia makan malam dan juga Sebastian yang tengah duduk disana.
Catherine pun duduk dan mulai memakan ayam goreng itu dengan sangat husyuk.
"Gimana acara balas dendam lo tadi? Lancar?" Sebastian membuka suara.
"Lancar. Lagian itu juga bukan bales dendam," jawab Catherine.
"Licik ya lo."
Catherine tersenyum pahit. "Baru tahu lo?"
Seusai Catherine berkata seperti itu, Sebastian tidak menjawab dan mereka kembali fokus dengan makanan mereka.
Seketika... suasana jadi hening.
...°°°...
Catherine terbangun dari tidur cantik nya. Cahaya matahari yang menelusup melalui celah-celah tirainya kini sangat terang.
Ia tak tahu jam berapa sekarang, jadi ia menggambil ponselnya yang berada dibawah bantal, kemudian menghidupkannya dan melihat pukul berapa sekarang.
Matanya membelalak saat melihat jam telah menunjukkan pukul 10.30 pagi.
Tapi wajar, karena hari ini libur ia semalam bergadang menonton film horror kesukaan nya sampai pukul tiga pagi.
Ia mengambil handuk dan pakaian ganti kemudian turun kebawah dengan matanya yang masih sayu. Saat ia menuruni tangga, terdengar suara berisik yang berasal dari ruang tamu.
Catherine berusaha membuka matanya lebih lebar agar dapat melihat jelas penyebab suara berisik tersebut.
"Eh, Rin! Lo tinggal disini?!"
Catherine membulatkan mata saat melihat lima mahluk Tuhan yang tengah berkumpul diruang tamu. "Kalian ngapain disini?!"
__ADS_1
"Ya mainlah, Sebastian yang ngajak kok," jawab Takumi.
"Enak aja, orang kalian yang maksa," tolak Sebastian.
Takumi hanya menyengir. "Hehe, bener juga sih,"
"Kok lo gak bilang sih?!" ujar Catherine kesal terhadap Sebastian.
Sebastian menjawab santai. "Lupa,"
Catherine mendengus kesal, ia kemudian beranjak untuk kembali menuju kamarnya.
Ia jadi tidak mood bahkan untuk mencuci muka.
"Eh, Rin! Ayoklah sini ngumpul, udah lama kita gak mabar! Lo masih main kan?" ajak Gavin yang berada disebelah pacarnya.
Catherine mengibaskan rambutnya ala-ala iklan menyombongkan diri. "Ya masihlah, udah top global malahan,"
"Heleh, sombong lu!" celetuk Takumi. "Jangan banyak omong lo, ayok buktiin!"
"Nafas lo bau," ledek Sebastian sontak membuat mereka yang berada di ruangan itu tertawa.
Catherine kesal kemudian dengan sengaja menghembuskan nafasnya persis didepan wajah Sebastian. "Hah!"
Sebastian langsung menutup hidungnya agar terlindungi dari bau nafas Catherine yang amat-teramat wangi.
"Udahlah, lagi gak mood gue. Males liat muka-muka kalian," ujar Catherine dengan pakaian dan handuk yang bertengger di bahunya lalu pergi kekamar mandi untuk membersihkan mulutnya dan tubuhnya.
"Ah, bilang aja takut!" celetuk Takumi.
Catherine memutar bola matanya malas kemudian kembali dengan tujuan utamanya.
...°°°...
Saat ia melihat sekitar, suasana tiba-tiba menjadi sepi. Tidak seberisik seperti tadi saat ia tengah melaksanakan ritualnya tadi.
Hanya ada seorang gadis berambut pirang yang tengah duduk di sofa sambil asyik memainkan ponselnya.
"Yang lain pada kemana?" tanya Catherine pada Sarah yang tengah sibuk memainkan aplikasi sosial medianya.
"They said they want to go to kampus Sebastian and Takumi, but I dont know mau ngapain. I want to go too, tapi gak boleh," jawab Sarah dengan sediki kesal.
"Oh," Catherine hanya ber oh ria. "Yaudah, gue keatas dulu,"
"Wait a minute!" ucap Sarah menhentikan langkah Catherine. "You live here?"
"Ya,"
"Kalo gitu, can I ikut ke your bedroom?"
"Yaudah ayo cepetan,"
Mereka berdua pun kemudian menaiki tangga dan memasuki kamar Catherine.
Catherine merapikan tempat tidurnya yang belum sempat ia rapikan tadi. Sedangkan Sarah sibuk menelusuri kamar Catherine sambil melihat-lihat.
Saat Catherine telah selesai merapikan tempat tidurnya, secara cepat Sarah pun duduk diatasnya.
"Baru aja gue rapiin, lo udah ngeberantakin aja," omel Catherine. Sarah pun hanya menyengir tanpa dosa.
__ADS_1
"My honey baby sweety darling Gavin said, Sebastian is your ex. Is that true?"
"Ya, terus?"
"Tapi kok kalian lived together?"
"Kenapa gue harus bilang itu sama lo?" tanya Catherine terdengar sedikit ketus dengan raut wajahnya yang sedikit beda.
Sarah menyadari hal itu, jadi ia berkata "Well, Im just asking,"
Catherine pun hanya diam, tidak ada lagi percakapan diantara mereka.
"But in my opinion, I think you cocok with Sebastian,"
"Oh gitu,"
"You guys gak pernah pikir untuk balikan?"
Pertanyaan Sarah membuat Catherine terusik. "Maksud lo?"
"I can see it with my eyes, the way Sebastian looked at you is different. Sebastian seperti masih suka sama kamu,"
"Lo jangan ngawur, mana mungkin cowok itu masih suka sama gue," tolak Catherine cepat dengan ekspresi wajahnya yang misterius. "Kalo dia memang suka sama gue, kenapa dia lakuin itu ke gue dulu," gumamnya hampir tidak terdengar oleh Sarah.
"I'm sorry what did you say?" tanya Sarah karena ia tak bisa mendengar kalimat Catherine yang terakhir kali.
"Lo gak usah pikirin lagi tentang hubungan kami, karena sekarang kami cuma temen, gak lebih," ujar Catherine dengan penuh yakin. "Karena dia juga udah punya pacar." lanjutnya mengingat Giselle yang menangis berat karena mendengar laki-laki itu telah mempunyai pacar.
Oh iya ia baru ingat, ia belum menanyakan dengan pasti apa laki-laki itu benar-benar telah memiliki pacar. Ia harus benar-benar memastikan, karena ia tidak ingin sahabatnya selalu tersakiti oleh laki-laki itu.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya, Catherine pun langsung menghampirinya dan membukanya. Sosok yang baru saja mereka bicarakan, kini muncul tepat dihadapannya.
"K-kenapa?" ucap Catherine sedikit gugup. Entah apa yang tiba-tiba membuatnya seperti ini.
"Anak-anak yang lain udah pada pulang, mereka bawa snack sama minuman dingin. Lo mau?"
"I-iya, gue mau,"
"Yaudah lo--"
"My sweety baby honey darling Gavin berarti udah ada dibawah ya?" Sarah memotong perkataan Sebastian dengan pertanyaan nya.
Sebastian mengangguk.
Sarah meloncat-loncat kegirangan, ia langsung berlari kebawah dengan cepat untuk menemui kekasihnya.
Catherine hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan gadis bule itu.
...°°°...
Ketika hampir menjelang malam, sahabat mereka pun akhirnya pulang meninggalkan sisa-sisa sampah dan botol kosong yang berserakan diruang tamu.
Sebastian mengutip sampah-sampah tersebut diikuti Catherine yang membantunya.
Catherine pun teringat dengan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada laki-laki itu. Ia pun membuka suara, "Ada yang ingin gue omongin sama lo,"
Laki-laki itu menoleh, dan sedetik kemudian Catherine sangat terkejut dengan apa yang dilakukan laki-laki yang ada dihadapannya ini.
__ADS_1
Laki-laki itu menghimpitnya kedinding tanpa memberikan dirinya celah untuk membebaskan diri. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga miliknya, membuat dirinya menahan nafas secara spontan.
Dengan suaranya yang bernada rendah dan nafasnya yang menerpa leher miliknya, laki-laki itu berkata terhadapnya, "Gue mau ngomong sama lo."