
"Rin, lo kemarin kemana sih? Main ninggalin aja,"
"Kepo lo,"
Giselle mendengus kesal, karena Catherine yang bersikap tidak acuh.
"Eh rin, gue kemarin kayaknya denger Takumi neriakin nama lo deh. Sebenernya ada apa sih?"
"Gak tau," jawab Catherine malas karena ia tengah sibuk membereskan barangnya.
"Ck," Giselle berdecak. "Gue serius Rin!"
"Lah gue juga serius," Catherine kemudian menaruh tas nya di lengannya. "Udah ya gue mau pergi dulu, gue sibuk,"
"Eh Rin! Gak jadi nontonnya? Katanya tadi mau nonton!" teriak Giselle saat gadis itu berlari menjauhinya.
"Sori gak jadi! Gue lupa ada urusan! Bye!"
"Rin! Rin! Catherine! Ish!"
Akhir-akhir ini Catherine agak sedikit beda menurutnya, gadis itu sering menghilang entah kemana.
Juga setiap kali ia ingin main kerumah tante gadis itu karena katanya dia tinggal disana, Catherine selalu nolak dengan alasan yang beragam.
Bahkan saat dia berbaik hati ingin mengantar Catherine, gadis itu selalu menolak.
Aneh.
...°°°...
"Oke, hari pertama kerja. Semoga aja gak ada cobaan," Catherine kemudian melangkahkan kakinya kedalam tempat kerja pertamanya.
Saat ia berniat mencari bosnya, pas sekali bos nya itu berada di dekat rak makanan ringan tengah berbicara pada pegawai yang lain.
Catherine kemudian berjalan menghampirinya. "Maaf kak, saya orang yang melamar kerja kemarin,"
Violetta menoleh. "Oh iya si adek manis,"
"Iya kak,"
"Ngomong-ngomong nama adek siapa? Kemarin sih, adeknya langsung nyelonong aja padahal kakak gak tau namanya siapa."
"Catherine kak. Catherine Angelina. Maaf ya kak soalnya kemarin buru-buru," Catherine tersenyum.
"Iya. Yaudah dek Angel ganti dulu deh pake baju seragam toko kita. Ruang gantinya di sebelah kanan, lurus aja."
"Oke kak." Catherine kemudian menuju ke arah kamar ganti setelah itu memasukinya dan mengganti pakaiannya.
Menurutnya sih baju seragam ini simple, gak ribet amat, bahannya juga katun, jadi enak dipakai.
Udah jadi kebiasaan tersendiri baginya untuk menilai setiap baju yang dipakainya.
Bahkan ada topinya juga. Catherine kemudian mengikat rambutnya menjadi ponytail agar rambutnya tidak menghalangi nya saat bekerja.
Setelah itu memakai topi itu dan meletakkannya dengan rapi dikepalanya.
Serasa siap, ia pun keluar dan kembali menghampiri Violetta. "Kalo cantik kek gini pegawainya, banyak pembelinya pasti," Violetta terkekeh. "Yaudah, kamu jaga kasirnya yah. Soalnya yang lain banyak yang sibuk, jadi kamu disini cuma sendiri, gak papa kan?"
"Iya, gak papa kak,"
"Dek Angel tenang aja, nanti sebentar lagi bakal ada yang dateng sendiri sama kayak kamu juga paruh waktu, kamu tunggu aja sebentar lagi yah."
Catherine mengangguk, kemudian ia menghampiri kasir sambil menunggu ada pembeli yang membeli.
...°°°...
Sebastian saat ini sedang bersiap untuk pergi ketempat ia pergi bekerja. Saat ia ingin pergi beranjak dari kelasnya, ada seorang gadis yang tengah menghampirinya dan memanggilnya.
"Lex,"
Sebastian menoleh dan melihat siapa itu, ternyata adalah sahabat dari gadis yang beberapa hari tinggal dirumahnya.
"Apa?"
Gadis itu tampak ragu dan gugup. "Um, i-itu.."
Ia sangat membenci orang yang memakan waktu yang lama hanya untuk berbicara. "Cepetan, gue gak ada waktu.,
"Um.. gue cuma mau minta tolong sama lo,"
"Apa?" tanya nya sedikit ketus.
"Uhh.. gue butuh bantuan lo. Lo kan anak jurusan komputer, jadi gue butuh orang yang pinter ngedit untuk tugas gue. Gue tau nya cuman lo, jadi lo mau gak tolong gue?"
Sebastian berpikir-pikir sejenak. Hanya sekedar mengedit tidak akan memakan waktu. "Kapan lo butuh bantuan gue?"
"Hari ini bisa gak?"
"Yaudah nanti malem lo kerumah gue, gue ada urusan sekarang."
"Oke, makasih banyak ya Lex. Gue pergi dulu, sekali lagi makasih," setelah itu gadis itu pergi dengan cepat disertai senyuman diwajahnya.
Sebastian hanya menaikkan alis sebelah melihat tingkah gadis itu.
Aneh, pikirnya.
...°°°...
Catherine merasa bosan karena tidak ada seorang pun yang masuk kesini untuk membeli, hanya ada beberapa orang tadi yang membeli minuman dan makanan ringan.
Untuk menghilangkan bosannya, ia kemudian menghidupkan ponsel dan data selulernya yang tadi sempat ia matikan untuk menghemat baterai.
Banyak spam chat dari Giselle dan spam chat dari haters nya. Tapi ia mengabaikan spam chat haters itu karena menurut pendapatnya, haters itu hanya merasa iri pada dirinya yang sempurna.
Jadi ia tak ambil pusing, ia kemudian membuka chatroom nya dengan Giselle dan membaca pesan tersebut.
Giselle
P
P
P
P
P
__ADS_1
P
Rin
Rin
Catherine
Gila sih gua ada berita baik nih!
^^^Apa?^^^
Sebastian mau bantuin gue Rin, gue seneng banget sumpah ih!
Catherine tersenyum karena Giselle yang kelihatannya sangat bahagia, tapi ada kejanggalan yang tak dapat diartikan berlabuh dihatinya.
^^^Kan udah gue bilang, pdkt tuh harus alami kayak gitu, biar gak keliatan banget lo ngejer dia.^^^
Ih jadi makin sayang deh gue ama lo Rin!
^^^Giliran kayak gini aja lo bilang sayang.^^^
:v
Catherine kemudian kembali melihat pesan-pesan yang belum dibaca, dan ia melihat ada satu nomor tidak dikenal mengiriminya chat.
628xxxxxxx
Ini cewek chili-chilian kan?
Hello, it's me Sarah, pacarnya my sweety baby honey!
^^^Dapet darimana nomor gue?^^^
Dari my sweety baby honey darling Gavin.
Ya sudah pasti lah, pikirnya. Orang dia masih pake nomor yang lama kok.
^^^Ohh.^^^
Oh doang? Gak nanya about profil pribadi ku atau home adress aku nih?
^^^Gak.^^^
Hmm, gak fun deh. Yaudah ya, kalau gitu chat aku another time yah kalo perlu sesuatu.
"Belepotan banget bahasa Indonesia nya nj*r,"
"Si Sarah?"
"Hua!" Catherine langsung melayangkan ponselnya terkejut karena ada seseorang yang tiba-tiba bersuara dihadapannya, untung saja ia dapat menangkap ponselnya kembali.
"Lo ngapain disini?!" tanya Catherine sewot.
"Yah kerja lah, lo pikir mau maling?" Sebastian berbalik tanya.
"Lo kerja disini juga?! Hah apes banget hidup gue," Catherine menghela nafas sambil memegangi kepalanya.
Sebastian hanya menatap gadis itu dengan raut wajahnya yang biasa, misterius dan datar.
Entah apa yang ada dipikirannya.
"Kalo tau dia ternyata yang dateng, ngapain juga gue tunggu." gumam Catherine.
"Yaudah, dek Alex ganti dulu deh terus bantuin dek Angel yah."
Sebastian mengangguk kemudian pergi mengganti pakaian nya.
"Dek Angel, coba kesini dulu kakak mau ngomong,"
Catherine kemudian menghampiri Violetta yang memanggil nya. "Kenapa kak?"
"Nih lantai nya kan kotor, dek Angel tolong pel yah, tuh pel nya ada digudang. Bisa kan? Kasirnya biar dek Alex aja yang jagain. Maaf yah kakak nyuruh kamu,"
Catherine merasa aneh dan lucu terhadap bosnya ini, kenapa dia tidak enak menyuruh pegawainya melakukan sesuatu?
"Kalo gitu kakak ke atas dulu yah, ada urusan sebentar,"
Catherine mengangguk kemudian berjalan menuju gudang yang terletak di ujung kemudian mencari pel.
Setelah ditemukan, ia pun mengeluarkan pel tersebut, dan bersiap untuk mengepel lantai.
Tapi saat ia meraih gagang pel itu, ada sesuatu yang mengganggunya.
Bagaimana caranya menggunakan benda ini?
Ia memang sering melihat pelayan rumahnya mengepel lantai, tapi ia tak terlalu memperhatikan jadi ia lupa.
"Kenapa lo?" tanya Sebastian yang kebetulan lewat.
"Hah? Gue gak kenapa-kenapa tuh," jawab Catherine ketus.
"Masih marah gara-gara kemarin?"
Catherine mendelik kearah laki-laki itu. "Pikir aja sendiri,"
"Menurut gue kayaknya masih marah," ucap Sebastian santai.
"Emang gue pikirin? Udah ya, mending lo cepet kerja sana, gak usah ganggu gue!"
"Oke," Sebastian kemudian berjalan menuju kasir, tapi sebelum itu ia berhenti sejenak dan berkata "Itu pel dikasih air dulu terus diperas."
Catherine merasa malu, bagaimana dia tahu kalau dirinya tak bisa mengepel?
...°°°...
Hari sudah mulai gelap. Catherine bisa melihatnya dari dinding minimarket yang terbuat dari kaca yang tebal.
"Giselle temen lo mau dateng kerumah, lo mau pulang sekarang gak?" ujar Sebastian yang telah mengganti pakaiannya dan bersiap pulang.
"Gak,"
"Katanya dia mau minta bantuin kerjain tugas, gak mau sekalian?"
"Gak, udah kalian nikmatin aja quality time kalian,"
"Cemburu?"
__ADS_1
Catherine memasang tampang jijik. "Dih, amit-amit."
"Yaudah gue pulang. Nanti gue telpon kalo temen lo udah pulang dari rumah," Sebastian kemudian memakai jaket yang ia gantung di bahu kanannya lalu keluar menghidupkan motornya dan pergi.
Catherine berusaha menghilangkan rasa ganjal di hatinya ini, tapi tak kunjung hilang.
Ia menggelengkan kepalanya untuk tidak terlalu memikirkan rasa janggal ini, dan mulai kembali fokus dengan pekerjaan nya.
"Eh dek Angel belum pulang? Udah malem loh, emang gak capek? Kalo capek berhenti aja, nanti juga ada yang lain bisa gantiin," ujar Violetta yang melihat Catherine masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Ah gak kok kak, aku masih kuat kok. Lagian tanggung juga,"
"Oh yaudah kalo gitu, gantinya nanti kakak kasih bonus aja. Dek Alex udah pulang duluan yah?"
"Iya kak,"
"Okelah, kamu juga jangan maksain diri yah, ntar tiba-tiba drop lagi,"
"Iya kak." Catherine menghela nafas, ia sebenarnya juga ada tugas yang belum ia kerjakan, tapi ia tak ingin mengganggu Giselle yang tengah pdkt dengan laki-laki itu.
Mau bagaimana lagi, sepertinya hari ini ia harus menunda tidur cantik nya.
...°°°...
Sebastian memakirkan motornya di halaman rumahnya, kemudian ia melihat Giselle yang telah berdiri di depan pintu depan rumahnya. "Sori, nunggu lama?"
"Ah gak kok, gue baru aja nyampe," jawab Giselle dengan senyum manis.
Sebastian mengangguk tanpa menjawab. Ia kemudian mengambil kunci rumah dari kantongnya lalu membuka pintu itu. "Masuk,"
Giselle mengangguk kemudian mengikuti Sebastian didepannya memasuki rumah laki-laki itu. "Permisi...,"
Aroma kopi yang khas dari laki-laki langsung menyeruak ke indra penciuman nya begitu ia memasuki rumah ini, tapi ada sedikit aroma lain yang menyempil diantaranya.
"Duduk disini dulu, gue buatin minum," ujar Sebastian lalu pergi menuju dapur untuk membuatkan Giselle minuman.
Giselle pun duduk disofa yang terletak diruang tamu, ia melihat sekitar, rumah ini terlihat sangat nyaman.
Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, ukuran yang sangat pas.
Ia asyik menelusuri rumah ini dengan matanya sembari menunggu Sebastian yang tengah membuatkan minum untuknya.
Setelah beberapa saat, Sebastian pun datang dengan dua gelas sirup jeruk dingn dan meletakkannya diatas meja.
"Thanks,"
Sebastian mengangguk kemudian duduk disebelah gadis itu. "Jadi, yang mana yang lo gak bisa?" tanyanya.
"Oh ya, tunggu bentar," Giselle pun mengambil laptop dari tasnya, setelah itu menunjukkan tugasnya yang baru ia kerjakan sebagian.
Sebastian pun melihat tugas yang Giselle kerjakan, setelah itu mereka saling berdiskusi dan Sebastian yang sedikit mengajari tentang hal yang gadis itu tidak ketahui.
.
.
.
.
Catherine mendengus kesal sambil berusaha menahan kantuk nya. Sudah beberapa jam berlalu, dan sekarang waktu menunjukkan pukul 22.17.
Karena Sebastian yang tak kunjung meneleponnya, ia akan mengechat laki-laki itu duluan.
Sambil mengetik pesan yang akan dikirimkan nya kepada laki-laki itu, Catherine berjalan menuju sebuah tempat minuman dingin kemudian mengambil sekaleng kopi dari sana kemudian meminumnya untuk menghilangkan rasa kantuk nya.
Giselle udah pulang belum?
Itulah pesan yang di ketiknya. Selang beberapa menit, laki-laki itu pun membalas.
^^^Belum.^^^
Kok lama banget,
kalian ngapain aja sih?!
^^^Nge*e.^^^
Seketika Catherine langsung menyemburkan kopi yang ada di mulutnya hingga menyembur dan memandikan layar ponselnya.
"Eh eh hape gue!" ucapnya panik sambil mengelap layar ponselnya dengan tisu yang ia selalu bawa kemana-mana.
Sehabis ia mengelap layar ponsel nya pun, ia mengecek ponselnya baik-baik saja atau tidak.
Catherine pun menghembuskan nafas lega saat ponselnya baik-baik saja.
Tapi ia masih terkejut dengan pesan laki-laki tersebut, gila aja.
Anj*ng yang bener aja woy!
^^^Ya gak lah b*go,^^^
^^^ini juga bentar lagi tugasnya^^^
^^^dia siap^^^
Catherine menghembuskan nafasnya, ia kira tadi mereka berdua benar-benar melakukan itu, makanya memakan waktu yang lama.
Disisi lain, Sebastian yang sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum tipis membuat Giselle berkutik.
Giselle tidak pernah melihat laki-laki itu tersenyum seperti ini. Jadi ia memberanikan bertanya "Siapa? Pacar ya?"
Sebastian menoleh sekejap, kemudian fokus kembali pada ponselnya. "Ya," jawabnya asal.
Tapi laki-laki tak tahu, bahwa jawaban asalnya cukup untuk mematahkan dan menghancurkan hati seseorang.
...°°°...
Catherine akhirnya mendapat telepon dari laki-laki itu ketika sudah menunggu sekitar setengah jam.
Katanya laki-laki itu akan menjemputnya, ia hanya mengiyakan saja karena itu adalah tumpangan gratis, dan juga dia juga ngeri untuk berjalan tengah malam begini, apalagi wanita cantik macam dirinya.
Ia kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia gunakan saat ke kampus dan juga kesini, setelah itu berpamitan dengan kakak pegawai yang juga menemaninya daritadi.
Catherine menunggu di area parkiran sampai akhirnya laki-laki itu datang juga. Sebastian memberinya helm untuk keselamatan setelah itu mereka melakukan menuju rumah.
Saat sampai dirumah, dua dari mereka dari mereka tidak ada yang membuka percakapan, jadi Catherine langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Ia membantingkan tubuhnya dikasur setelah itu memejamkan matanya. Tak sampai semenit, ia langsung membuka kelopak matanya lebar-lebar.
Tugas miliknya belum diselesaikan!