Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
17 | Kenyataan yang Pahit


__ADS_3

Melly sangat sangat terkejut melihat itu. Bagaimana bisa, video rekaman itu ada ditangan laki-laki yang menjadi korbannya?


Matannya membulat, tenggorokannya seakan tercekat oleh sesuatu yang aneh, suara nya susah untuk ia keluarkan.


"G-g-gimana vi-video itu bisa ada di lo?"tanyanya seraya terganga.


Sebastian hanya tersenyum miring. "Ra.ha.si.a," ucapnya masih setia dengan senyumannya. "Jadi, apa gue langsung sebar aja yah video ini?" tanyanya seolah-olah bertanya pada diri sendiri, padahal untuk mengancam gadis itu.


"G-gue mohon jangan," Melly berkata lirih. Jika ayahnya melihat video ini, sudah pasti dia akan dimarahi habis-habisan. Dan mengkin lebih parahnnya, kemungkinan drinya akan diusir oleh ayahnya.


"Hm?"


"G-gue mohon jangan! Gue minta maaf sama lo, gue ngelakuin ini semua untuk ngebales Catherine. Gue gak sengaja ngelibatin lo," Melly berkata dengan lirih sambil menundukkan kepalanya dan terlihat tengah menjeda kalimatnya.


Sebastian hanya menatap gadis itu datar sambil menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.


"G-gue bakal ngomong sama dosen kalo itu cuma kesalahpahaman. Jadi gue minta tolong, jangan sebarin video itu," mohonnya, yang terlihat sangat pilu.


"Apa yang ngejamin kalo lo gak bakal ngelakuin hal yang sama ke Catherine?" tanya Sebastian dengan nada dingin dan menusuk seperti biasa.


Melly berdecak kesal. Kenapa semua orang selalu memuja-muja gadis itu?! Kenapa seolah-olah hanya dirinya yang jahat disini?! Bahkan gadis itu... telah merebut orang yang sangat disayanginya!


"Kenapa sih kalian semua selalu ngebelain cewek jal*ng itu?! Padahal hidup gue dulu sangat bahagia sebelum cewek itu ngerebut segalanya!"


Gadis itu seakan menggila, dan meluapkan seluruh amarahnya. Tapi Sebastian tetap menatap datar dan dingin gadis itu, seperti tidak tertarik sama sekali dengan perubahan emosi gadis itu.


"Lo juga waktu itu selalu dihina kan sama dia?! Jadi kenapa lo malah ngebantuin cewek itu?!" ujarnya pada Sebastian mengingatkan dirinya akan hinaan dari gadis itu yang selalu dilontarkan pada dirinya dulu.


Sebastian diam sejenak, lalu selang beberapa saat ia pun berkata, "Itu karena kebodohan gue, jadi gue pantas nerima itu. Bahkan perlakuan gue pada dia waktu itu gak ada bandingannya dengan hinaan dia selama ini ke gue," ucapnya panjang lebar dan penuh arti.


Terlihat penyesalan yang amat mendalam di netra coklatnya yang teduh.


"Lo mungkin terima, tapi gak dengan gue. Dia udah ngerebut Kevin, dia bahkan ngebikin Kevin benci dan ngefitnah gue! Sebenernya, gue ada salah apa sama dia sampe dia berbuat gitu sama gue?!" teriaknya histeris, untung saja disini sepi dan hampir tak ada orang. Jika tidak, maka sudah pasti orang-orang akan menganggap gadis itu gila.


Kevin adalah orang yang pernah menjadi orang yang paling dicintai oleh Melly. Dimata Melly, Kevin merupakan sosok yang menjadi belahan jiwanya. Ia bahkan rela memberikan kesuciannya pada laki-laki itu hari itu.


Tapi tak lama dari itu, mantan pacarnya itu dulu mengaku bahwa ia lebih mencintai Catherine daripada dirinya.

__ADS_1


Tentu hal itu membuat Melly membenci Catherine. Dan lebih parahnya lagi, laki-laki itu dulu bahkan memfitnah dirinya bahwa dirinya adalah pel*cur murahan, dan memberi bukti palsu pada semua orang.


Hal itu membuat Melly berpikir bahwa Catherine lah penyebab semua itu, ia berpikir bahwa Catherine lah menyuruh Kevin untuk memfitnahnya, yang mana membuat kebenciannya pada Catherine tak dapat dihilangkan dan makin bertambah.


Padahal, semua pemikiran gadis itu adalah salah.


Suasana kembali hening selepas Melly meluapkan amarahnya, tapi beberapa saat ada suara yang tiba-tiba menyahut perkataannya.


"Oh, selama ini lo selalu ganggu hidup gue karena itu?" seorang gadis tiba-tiba muncul dari semak-semak yang lumayan tinggi sambil melipat tangan didepan dada.


Gadis itu bernama Catherine, yah sejak awal dia memag berada disana untuk mengawasi Sebastian, apakah laki-laki itu melaksanakan rencananya dengan baik atau tidak.


"Sejak kapan lo disitu?" ujar Melly ketus melihat kehadiran Catherine.


"Hm... sejak kapan yah?" gadis itu seolah-olah tak ingat sambil menaruh jari telunjuknya didagu tampak berpikir-pikir. "Sejak cewek gobl*k yang cinta sama cowok sampah curhat, mungin?"


"Apa maksud lo cowok sampah?" tanya Melly tampak tersindir dan bingung akan perkataan Catherine.


"Mantan pacar lo itu loh, si pakboy. Oh ya, lo gak tau ya kalo sebenernya lo itu cuman dimanfaatin doang?"


"Nih, lo denger baik-baik yah, pasang kuping lo. Jadi, sebenernya cowok pakboy itu cuman manfaatin lo sebagai pemuas nafsu nya doang,"


Seakan tersetrum oleh aliran listrik yang konslet, Melly membulatkan matanya. Tubuhnya pun seakan kaku seperti patung.


"Tuh cowok cuma mau badan lo doang. Karena udah bosen sama lo, dia lari ke gue. Tapi gue gak seb*go lo yang kemakan omongan manisnya. Makanya, jangan mudah kemakan omongan manis cowok, karena tipe-tipe kayak gitu ya pakboy semua," ujar Catherine panjang lebar sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada.


Melly merasa semua kekuatan kakinya untuk berdiri hilang, sehingga ia langsung terduduk sambil menjambak surai rambutnya frustasi. "Itu gak mungkin! Lo pasti bohong kan?! Gak mungkin Kevin kayak gitu, gak mungkin!" teriaknya frustasi seolah tak percaya dengan semua kenyatan ini.


Melihat Melly seperti itu, membuat Catherine sedikit iba. Tapi mau bagaimana lagi.


Terkadang kenyataan itu sangat pahit, sehingga tak bisa kita terima dengan begitu mudahnya.


Catherine menghampiri gadis itu yang telihat sangat menyedihkan dengan isak tangis nya. Ia berjongkok untuk mengelus pundak Melly lembut, berupaya menenangkan gadis itu walaupun sedikit.


Tangis Melly semakin menjadi mengingat betapa bodohnya dirinya, membuat ulah hanya karena kesalahpahaman, tidak mencari kenyataan yang sebenarnya terlebih dahulu, dan menyesal karena memberikan kesuciannya pada laki-laki seperti itu.


Rasa sedih, kesal, dan bersalah menjadi satu. Hanya tangisan pilu yang dapat mewakilkan rasa itu semua.

__ADS_1


Setelah mengelus lembut pundak gadis itu, Catherine pun memberi pelukan hangat yang pernah ia dapatkan dulu pada Melly.


Melly pun membalas pelukan itu dengan dekapan erat, sambil membenamkan wajahnya dipundak Catherine sambil melontarkan pernyataan maaf. "Maafin gue... hiks... udah jadi cewek b*go selama ini... "


Catherine hanya mengelus pucuk surai gadis itu, sebenarnya dia tidak pernah membenci Melly. Ia hanya kesal karena gadis itu karena dengan begitu mudahnya salah paham.


Sebastian hanya diam dan besuara sedikitpun menatap drama menyedihkan dihadapannya.


Beberapa saat kemudian, tatapan mereka saling bertemu. Kini dirinya dan Catherine saling berpandangan. Sebastian mengukir senyum tipis diikuti dengan gadis itu.


Rencana mereka, telah berhasil.


...°°°...


"Kamu telah mencelakai anak saya dan masih berani menampakkan diri dihadapan saya?!" murka seorang pria pada anak laki-laki yang tengah menunduk padanya saat ini.


"Saya meminta maaf setulus hati pada om, tapi saya mohon tolong berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan saya." mohonnya dngan penuh hormat pada pria paruh baya itu.


"Tidak perlu, karena satu kesempatan yang saya berikan padamu kau buang begitu saja! Saya tak akan pernah mempercayakan anak saya lagi pada laki-laki sampah sepertimu! Menyerahlah, dan cari saja anak gadis lain untuk kau sakiti!" ujar pria itu sangat menusuk lalu menutup pintu tepat di depan laki-laki itu.


Tapi, laki-laki itu tak menyerah begitu saja. Ia berusaha untuk membujuk pria itu, agar memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya.


Jadi, setiap hari laki-laki itu memohon pada pria itu tanpa pamrih. Walaupun makian, sindiran, hujatan yang selalu ia terima tiap hari, tapi tak membuat keputusannya gundah.


Ia benar-benar menyesal dan benar-benar tulus ingin memperbaiki kesalahan dan kebodohannya, yang mana membuat pria paruh baya itu akhirnya mengubah keputusannya dan memberi laki-laki itu kesempatan kedua yang amat berharga bagi laki-laki.


"Tuan!"


Suara pelayan nya membuat pria paruh baya yang tengah melamun ini pun menyadarkannya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Sebenarnya apa yang dari tadi Tuan lamunkan?" bukannya menjawab, pelayannya itu malah berbalik tanya dengan rasa khawatir dan penasaran.


"Tak ada," ujarnya tenang, kemudian senyum terukir diwajahnya yang mulai ada kerutan.


"Hanya mengingat kenangan masa lalu."

__ADS_1


__ADS_2