Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
13 | A Hug


__ADS_3

Catherine Pov


Bola mata gue membulat sempurna seakan ingin keluar dari tempatnya, ya gak selebay gitu sih sebenarnya.


Tapi tetep aja, ngelihat sosok yang barusan lewat dihadapan gue ngebuat badan gue seakan kaku kayak manekin, lidah gue terasa kelu dan tenggorokan gue terasa kering banget.


Apa bener itu sosok yang selama ini hilang dari hidup gue?


Apa bener itu sosok yang tiba-tiba ninggalin diri gue tanpa sebab?


Apa bener itu sosok cinta pertama gue?


Apa bener itu sosok pahlawan keluarga gue?


Semua pertanyaan tak terjawab itu mengiang-ngiang diotak gue, dengan langkah kaki yang tergesa-gesa dan bergetar, gue berlari kearah sosok itu dan langsung membuka pintu minimarket dengan kasar kemudian berhenti melihat dunia sekitar gue.


Tapi sosok itu telah menghilang, seperti ditelan oleh kegelapan malam yang sunyi ini.


Apa itu semua cuma halusinasi gue karena terlalu kangen dengan sosok itu?


Gue terjongkok didepan pintu minimarket, gue memeluk kedua kaki putih gue sambil menyembunyikan muka gue.


Kini airmata gue lolos lagi dari tempat seharusnya itu berada, walaupun gue udah nahan sekuat tenaga, tapi airmata itu dengan lancang masih meluncur dari pelupuk mata gue.


Keadaan sekitar yang sunyi seakan ikut berkabung dengan kesedihan gue, angin malam yang dingin seakan ingin menenangkan hati gue dari sakit hati karena ditinggalkan oleh sosok papa yang selama ini gue sayangi dengan sepenuh hati.


Gue gak tau kenapa akhir-akhir ini gue selalu emosional dan rasa yang ada dihati gue gak bisa gue kontrol sepenuhnya. Yang mana membuat gue sangat kesal dan muak.


Seluruh badan gue bergetar dengan isakan tangis yang gue gak ingin orang lain mendengarnya atapun melihatnya.


Muka cantik gue mungkin saat ini sangat buruk keadaannya, karena setiap gue nangis mata gue selalu memerah dengan hidung yang mengeluarkan cairan bening yang lengket dan disertai nafas gue yang seakan berkejar-kejaran.


Bahkan surai rambut hitam mengkilap gue pun selalu berantakan mengikuti rupa muka gue.


Kalo ada orang yang bilang muka kalian pas nangis itu cantik, maka sudah dipastikan orang itu pembual besar atau orang yang buta.


Jangan percaya pada orang sejenis itu!

__ADS_1


Saat gue tengah asik dengan momen kesedihan hati gue, gue ngerasa seperti ada sesuatu yang menjulang tinggi dihadapan gue.


Dengan sontak gue mengangkat kepala yang gue sembunyikan, dan sosok laki-laki dengan rambut hitamnya dan badannya yang menjulang kini menatap gue dengan pandangan yang sama sekali gue gak ngerti.


Gue langsung mengusap airmata bening gue yang mengalir dengan derasnya, karena gue gak mau orang lain ngelihat sisi lemah gue selain diri gue sendiri.


Kenapa dia selalu ada disaat yang tidak diinginkan seperti saat ini?


"Nangis dijalanan? Gak elit banget," ujarnya yang mana membuat gue ingin mencakar wajahnya yang tenang.


Gue hanya diam karena tak ingin merubah mood gue jadi lebih buruk lagi. Dan beberapa saat kemudian, suasana kembali sunyi yang hanya suara angin dan suara serangga menyebalkan yang mengisinya.


Dia terus natep gue tanpa menoleh sedikitpun, sedangkan gue hanya memalingkan muka sambil kembali mengusap cairan bening yang keluar dari lubang kehidupan gue dengan punggung tangan gue yang putih.


Tak sampai lima detik, tiba-tiba laki-laki yang membuat perasaan gue kacau akhir-akhir ini berjongkok sama seperti posisi gue persis dihadapan gue.


Dia kemudian ngeluarin beberapa lembar kertas tisu dari kantong jaketnya, lalu mengusap cairan bening yang terus mengalir yang mana membuat gue terpelotot kaget karena tindakannya yang terlihat tidak jijik sedikitpun saat mengelap cairan lengket itu.


Dia kemudian melempar asal tisu itu dan kembali natep gue dengan tatapan dingin, tetapi terselip sedikit kekhawatiran yang ada didalam iris coklatnya yang terang.


Entah apa yang terjadi sama diri gue sendiri gue juga gak tahu, tapi yang gue tahu saat ini ada perasaan hangat yang meraih dan hinggap hati gue lalu menggelitiknya.


Ucapnya membuat suasana hati gue berubah seketika. Dan dengan tak sabaran, mulut gue pun membalas perkataannya. "Mau kayak anak kecil kek, itu bukan urusan lo!"


Tapi bukannya marah atau tersinggung karena perkataan gue, dia malah mengukir senyum tipis bahkan hampir tak terlihat di wajahnya yang gue akui cukup tampan.


Tak butuh waktu lama, dia merengkuh badan gue untuk masuk kedalam dekapannya.


Mata gue kini kembali membesar, perlakuan laki-laki ini sungguh membuat gue selalu heran, dia memeluk gue dengan erat sehingga kepala gue tesandar didada bidangnya.


Hati gue yang awalnya gelisah, kini menjadi tenang dan damai dalam seketika. Seakan hati gue terkena sihir yang aneh tapi nyata.


Gak hanya hati gue, tapi seluruh badan gue pun kini diselimuti kehangatan yang amat nyaman.


Telapak tangan laki-laki itu kini beralih kesurai pucuk rambut gue, dan mengelus nya pelan.


Gue pun membalas pelukan itu dengan menaruh kedua tangan gue dibelakang punggungnya.

__ADS_1


Entah kenapa, saat ini gue ingin dunia berhenti dan membiarkan kehangatan yang menyelimuti seluruh bagian diri gue bertahan untuk waktu yang sedikit lama.


Seperti dunia yang hanya milik kami berdua, kami berdua tidak mempedulikan bahwa saat ini kami tengah berada di depan pintu minimarket.


Angin malam yang dingin dan berhembus lumayan kencang tak cukup untuk menghilangkan rasa hangat yang saat ini gue rasakan.


Laki-laki itu tak berkata sepatah katapun, dia hanya memberi pelukan yang mana membuat gue sangat nyaman.


Dan dia seakan tahu, bahwa pelukan inilah yang gue butuhkan sekarang. Setelah beberapa saat pelukan hangat ini berlangsung, akhirnya laki-laki itu melepas dekapannya dan hanya menatapku dalam, tanpa sepatah kata pun.


Ah, sial. Tatapan itu beserta pelukan hangat yang dia berikan tadi kini kembali membawa perasaan rindu dan hangat yang menyebalkan itu kembali menggerogoti dan menguasi pikiran dan hati gue yang terkadang saling bertolak belakang.


Mulai sekarang, apa yang harus gue lakuin?


Gue udah mengkhianati perasaan sahabat gue dengan perasaan gue sendiri.


Sungguh munafik nya diri gue.


...°°°...


"Tuan, mau berapa lama lagi anda menyembunyikan diri anda seperti ini? Apa Tuan tak khawatir dengannya?"


"Kau tak perlu khawatir. Saat anak itu datang kepadaku, aku bisa melihat penyesalan yang amat didalam tatapannya. Ia tak mungkin macam-macam," ujar pria yang tengah santai meminum segelas kopi panas sambil berkutat dengan pekerjaannya.


Matanya tak bisa lepas dari layar benda berlipat itu, dan jari-jarinya tak bisa berhenti mengetik sesuatu dipapan keryboard.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan nona muda? Apa nona muda akan terbiasa dengan gaya hidup seperti itu?" tanya pelayan dari pria paruh baya yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Dia harus berusaha terbiasa, karena hidup itu kejam dan tak semenyenangkan seperti yang ia bayangkan,"


"Tetap saja Tuan, Nona Muda dilahirkan dan dibesarkan dengan keperluan yang lebih dari cukup, bagaimana caranya untuk melewati hidup dengan keperluan yang kurang?" tanya pelayan nya itu terlihat sangat khawatir.


"Justru itulah tujuanku, agar anak itu tahu bagaimana menghasilkan uang dari hasil jerih payah dan keringatnya sendiri.


Agar ia bisa belajar untuk tidak membuang-buang uang untuk hal tak berguna, agar belajar untuk hidup mandiri, dan memikirkan masa depannya dengan sungguh-sungguh," ucap pria itu menjelaskan tujuannya yang mana membuat pelayan yang berada disebelahnya diam dan tak mengeluarkan suara lagi.


Pria paruh baya itu tersenyum, "Sudahlah, kau tak perlu secemas itu. Aku tahu apa yang kulakukan, dan aku juga melakukan itu demi kebaikan dirinya sendiri." pria itu melanjutkan perkataannya kemudian meniup asap yang mengepul dan mengambang diatas kopi nya, kemudian kembali menyesapnya untuk membuat matanya tetap segar.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan. Tapi, rumor bahwa perusahaan kita telah bangkrut kini telah menyebar di Indonesia,"


"Biarkanlah tetap seperti itu, agar kejadian ini terlihat lebih nyata." pria paruh baya itu terkekeh sehingga menampilkan kerutan yang telah tercipta diwajahnya dan usianya yang semakin bertambah.


__ADS_2