
Sebastian Pov
"Jadi gue harus gimana?" tanya gue bingung dan sedikit frutasi karena pendapat mereka berdua yang berbeda-beda.
Gavin tampak berpikir. "Yaudah sih gas terus aja! Tembak Catherine lagi, sana! Lo masih cinta sama Catherine, kan? Buat apa bingung?" ujarnya menyalurkan pendapat nya.
"Lo yakin lo masih cinta sama Catherine? Lo gak bakal perlakuin dia kayak dulu?" ucap Takumi memastikan, "Jujur ya Lex, walaupun gue udah maafin lo, tapi gue masih ragu apa lo bisa jaga janji lo." jujurnya. Itu karena dia telah menganggap Catherine sebagai adiknya sendiri.
Takumi tak ingin hal yang sama kembali terulang, dan berakhir membuat Catherine tersakiti seperti dulu.
Gue terdiam sejenak, wajar aja kalau Takumi ragu terhadap gue. Karena mau bagaimanapun, perlakuan gue dulu terhadap cewek itu sangat sulit untuk di terima, dan gue juga lah yang telah membuat persahabatan mereka waktu itu hampir pupus.
Ya, itu semua terjadi karena kebodohan gue sendiri.
Walaupun julukan brengsek memang gak cukup untuk mewakilkan semua perbuatan gue, tapi gue udah bertekad dengan semua itu. "Gue janji untuk gak lakuin itu lagi." ujar gue sambil mengingat-ingat kembali bayangan dia.
Ya, gue memang benar-benar ingin memperbaiki hal itu semua. Gue gak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Gue akan berjanji untuk memperlakukan dia itu sebaik mungkin, dan akan memberikan perasaan pada dia sebanyak mungkin.
Awalnya, gue ingin melupakan semua hal tentang cewek itu.
Wajahnya yang cantik dan manis, senyum tulusnya yang mampu membuat diri gue merasa gak membutuhkan hal yang lain lagi di dunia ini, dan airmata yang mengalir di pipinya yang mampu membuat gue kehilangan kewarasan gue.
Tapi mau bagaimana pun gue gak bisa.
Sekeras apapun gue berusaha, gue gak bisa ngelupain itu semua. Ya, gue memang egois, gue akui itu. Gue bisa ngelakuin apa aja dan merelakan segala hal asalkan dia bisa berada di dalam dekapan gue.
Seperti yang gue lakuin sekarang, agar dia tetap berada di dekat gue.
"Lex! Kok bengong sih?!" ujar Gavin yang menyadarkan gue dari lamunan gue.
"Oh, sori. Lo ngomong apa barusan?"
"Ck" Gavin berdecak, "Gue tadi bilang, kalo lo memang tulus sama Catherine, yaudah berusaha sana. Tunggu apa lagi?"
Senyum kecut langsung terukir di muka gue sesudah Gavin bicara seperti itu. Berusaha katanya?
Untuk ngebuat dia maafin gue aja gue harus berbohong, untuk gak mendengar hinaan dari mulut dia aja gue harus setiap hari memohon sama papanya, untuk berusaha membuat dia peduli sama gue aja rasanya seperti menaikki seribu anak tangga.
Mustahil.
Gue harus berusaha gimana lagi?
Apa gue harus mati terlebih dahulu agar dia bisa cinta sama gue seperti dulu?
Kalau memang hal itu bisa, maka gue bakal dengan senang hati melakukannya. Apapun untuknya, asalkan gue bisa kembali mengisi hatinya dan mendapatkan tempat di hatinya.
Dan, asalkan gue bisa melihat senyum tulusnya yang dia lontarkan ke gue, gue ikhlas memberi nyawa gue sebagai bayarannya.
Namun sepertinya itu gak mungkin, mau gue mati atau apapun, kalo memang dia udah mengisi hatinya dengan kebencian yang di tujukan pada gue,
Gue bisa apa?
Mau gue mati pun, rasanya sia-sia.
...°°°...
Catherine Pov
__ADS_1
Saat ini gue tengah terduduk di sofa ruang tengah rumah milik Sarah. Ya, cewek itu mengizinkan gue untuk nginap di tempatnya.
Untung cewek itu tinggal sendirian, jadi gue dengan senang hati menginap.
Gue gak tahu lagi harus gimana sekarang. Semua udah kebongkar semua, akhirnya gue gak perlu berpura-pura lagi.
Tapi bagaimana cara gue ngehadapin Giselle besok? Apa dia bakal kecewa? Atau bahkan dia gak mau teguran lagi sama gue?
Apa semuanya bakal sama seperti biasa? Apa Giselle bakal benci sama gue? Apa dia bakal move on dari cowok itu? Atau dia tetap kekeuh untuk menyukai cowok itu?
Entahlah, gue gak tahu sama sekali.
Kenapa sih semuanya jadi rumit begini? Setiap masalah berdatangan satu persatu ke gue setelah kejadian itu.
Dan di saat gue tersesat di dalam hutan kebingungan ini, kenapa gue gak bisa berhenti mikirin dia?
Kenapa gue gak bisa lupain pelukan di malam itu? Kenapa gue gak bisa singkirin dia dari pikiran gue?
Ah terserahlah, lebih baik gue tidur cantik terlebih dahulu daripada kembali terbelenggu di kebingungan tiada ujung ini.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, gue ada kelas. Seperti biasa, gue pergi ke kampus, tempat kerja, dan pulang. Tidak ada yang baru, ngebosenin kan?
Gue pun memesan ojek online, setelah beberapa saat ojek yang gue pesen telah sampai. Beberapa menit dalam perjalanan, gue telah sampai di rumah ini.
Garasi dihadiri dengan sebuah motor, yang menandakan bahwa cowok itu masih berada di rumah. Karena pintunya terkunci, gue pun memencet bel yang berada tepat di samping pintu masuk itu.
Selang beberapa saat, Tuan rumah dari rumah ini membukakan pintu. Dan wajahnya masih sama seperti biasa, datar.
"Ada yang harus gue ambil di dalam, boleh gue masuk?" tanya gue se tenang mungkin.
Cowok itu hanya mempersilakan gue masuk tanpa berkata sepatah apapun, dan karena tak ingin berlama-lama, gue pun masuk dan menaikki tangga menuju kamar gue.
Sesudah gue mengambil barang yang gue perlukan, gue pun kembali berjalan menuju luar. Tapi sebelum itu, gue sempat berpapasan dengannya dan dia pun berkata, "Apa gue bener-bener orang asing bagi lo?"
Dalam sekejap, gue menghentikan langkah gue mendengar pernyataannya.
"Apa maksud lo?" tanya gue berusaha membuat dia berkata jelas tentang maksud dari perkataannya.
Dan dari situ gue langsung merasakan sebuah tangan kekar yang melingkar di tubuh gue dari belakang.
"Gue harus bagaimana lagi untuk dapetin lo?" ujarnya yang terdengar lirih di telinga gue, gue bisa ngerasain deru nafas hangat nya menerpa leher gue.
Nada itu kembali berhasil membuat hati gue seakan tersayat. Sial, kenapa saat dia meluk gue kayak gini gue ngerasa sangat nyaman dan aman?
Tapi gue harus melepaskan ini secepatnya, karena gue takut... gue gak bisa nahan diri gue untuk terus berada di dekapannya.
"Lepasin," ucap gue penuh penekanan sambil berusaha melepaskan dekapannya, tapi dia malah memperkuat dekapan itu agar gue gak bisa melepasnya.
"Gue bilang lepasin!"
__ADS_1
*Gak bakal.* ujarnya membuat gue gak bisa nahan ini lebih lama lagi.
"Kenapa?! Kenapa lo baru bersikap lembut sekarang?! Kenapa gak dari dulu lo kayak gini, kenapa?!?!"
Ah.
Akhirnya rasa janggal yang telah lama hinggap di hati gue, kini langsung menghilang secara tiba-tiba.
Bahkan airmata kemarahan yang bercampur kesedihan langsung mengalir deras dari pelupuk mata gue.
Dia kayaknya sedikit tersentak karena perkataan gue yang tiba-tiba, hal itu bisa gue rasain dari dekapan tangannya yang kini melonggar.
Gue pun mendapati tubuh gue berputar dan berakhir menghadap padanya, gue pun menunduk. Namun, dia malah mengangkat dagu gue untuk mendongak dan menatap muka nya.
"Lo... nangis?"
Ah.. baru kali ini gue melihat ekspresi itu di wajahnya, jujur gue tenggelam di pandangan matanya menatap khawatir gue.
Untuk menghindari hal itu, gue pun mengalihkan pandangan gue dari mukanya.
"Mmph!"
Tak lama, gue langsung membelalakkan bola mata gue. Dia mencium bibir gue. Gue berusaha mendorong dada bidangnya agar ciuman ini terlepas, tapi dia langsung menggenggam kedua tangan gue agar berhenti untuk mendorongnya menjauh.
Namun, sentuhan dan gerakan lembutnya di bibir gue, membuat gue gak bisa menolak untuk menerima itu semua dan kelopak mata gue pun menjadi sayu hingga akhirnya tertutup sempurna.
Bahkan kedua tangannya yang tadi menggengam tangan gue, kini telah beralih di punggung gue dan di tengkuk gue.
Dia memiringkan kepala nya dan semakin menekan tengkuk gue, seakan dia gak ingin membiarkan pangutan ini terlepas sedikit pun.
Airmata gue terus mengalir seraya pangutan ini semakin mendalam, gue gak tahu lagi sekarang itu adalah airmata yang mewakilkan apa.
Yang pasti, gue gak bisa menolak untuk setiap gerakan yang dia sertakan di dalam pangutan ini.
Dan, gue gak bisa berbohong, bahwa perasaan yag telah lama gue kubur itu kembali menimbul dan memuncak di hati gue.
Karena gak ada tanda-tanda dia bakal ngelepasin pangutan ini, gue pun menangkup wajahnya dengan telapak tangan gue dan mulai menjauhkan wajahnya dari gue secara perlahan.
Awalnya, dia tak rela untuk melepaskannya. Tapi gue tetap kekeuh untuk menjauhkannya dengan cara perlahan.
Dia pun mulai menatap gue dengan pandangan teduhnya yang dalam dan mulai menghapus airmata gue dengan ibu jarinya.
"Gue mohon jangan nangis, gue bisa gila." ujarnya lalu menunduk membenamkan mukanya di bahu gue.
Gue bisa gila, katanya.
Kayaknya kata itu juga cocok untuk mendeskripsikan keadaan gue sekarang. Selanjutnya, entah dasar apa gue malah mendekapnya.
Mungkin untuk memenuhi sesuatu yang disebut rasa rindu.
Gue munafik bukan? Di awal-awal gue dengan yakinnya bilang pada sahabat gue sendiri, kalo gue gak mungkin memiliki rasa ini lagi terhadap cowok ini.
Tapi pada akhirnya, sampai kapan pun gue gak akan pernah menghilangkan rasa ini dari dari gue.
Hei, boleh gue bertanya?
Kenapa dibandingkan dengan sahabat gue yang tulus cinta sama lo, lo malah memilih cewek egois dan munafik kayak gue?
Tentu gue gak berani nanyain itu ke lo secara langsung.
__ADS_1
Karena, cewek yang egois dan munafik ini takut kehilangan lo untuk kedua kalinya.