
Matahari telah menerangi bumi dengan cahaya nya yang indah, yang menandakan hari baru kini telah dimulai kembali.
Dengan kelopak matanya yang sebelumnya terpejam, perlahan-lahan terbuka diiringi dengan denyut dan pusing yang luarbasa di kepalanya. Ia sontak memeganginya untuk sedikit meredakan rasa sakit itu, tapi tetap tak mempan.
Ia menapakkan kakinya dilantai dan mulai berjalan gontai dikarenakan rasa sakit dikepalanya akibat terlalu mengkonsumsi banyak alkohol tadi malam.
Dirinya merasa menyesal untuk tidak berpikir lebih jauh, karena secara tak langsung cairan pahit tersebut kini telah membuat dirinya menciptakan suatu kesalahan yang sangat sangat ia hindari dan ia sesali.
Tentu saja otaknya mengingat jelas tentang perbuatan bodoh yang ia lakukan semalam, mengingatnya pun membuat ia kesal sendiri.
Ia telah menjadi laki-laki brengsek yang mencumbui dua perempuan sekaligus dalam satu malam.
Wah, sungguh jantannya kau Sebastian.
Tak ingin berlama-lama dengan penyesalan dan kekesalannya, kini laki-laki itu pergi untuk mmbersihkan tubuhnya agar merasa sedikit segar untuk kembali memulai aktifitasnya.
Sebastian melihat jam di ponselnya, waktu menunjukkan pukul 08.26 pagi, ternyata dirinya belum terlambat untuk mengkuti kelas pertamanya yang akan diadakan pukul 09.00.
Ia baru sadar bahwa daritadi ia tidak menemukan gadis itu disetiap penjuru dan setiap sudut rumahnya, apa gadis itu marah lalu pergi terlebih dahulu karena tak ingin melihat wajahnya, seperti adegan di film-film?
Yah, dia akan mempermasalahkan hal itu nanti karena tak ingin membuang-buang waktu. Sebastian pun segera berangkat ke kampusnya dengan menggunakan kendaraan yang ia selalu pakai, yaitu motor kesayangannya.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa meter menempuh perjalanan, akhirnya ia telah sampai dikampusnya, ia memarkirkan motornya kemudian masuk kedalam bangunan tersebut.
Anehnya, begitu ia menapakkan dan melangkahkan kakinya di bangunan ini, semua pandangan menuju kepadanya dan banyak orang berbisik-bisik kearahnya.
Hal itu membuatnya keheranan sebentar, tapi ia memilih untuk tidak peduli, dan dengan santai kembali melanjutkan langkahnya untuk ketempat ia mendapat ilmu-ilmu baru setiap harinya.
Tepat saat ia sampai dikelasnya, semua pandangan yang ditujukan padanya tadi kini kembali terulang, membuat dirinya yang tadi tak peduli kini menjadi peduli.
Seketika ada sebuah suara yang tengah memanggilnya dari belakang, ternyata itu adalah dosennya.
Dan saat dosen itu membuka mulutnya dan bersuara, kini Sebastian lansgung mengutuk kebodohannya sendiri.
Mempunyai masalah seperti ini, membuat dirinya mendengus karena merasa waktu nya terbuang-buang untuk hal yang tak berguna.
Dosen itu menyuruh dirinya untuk mengikuti nya, dan mau tak mau ia menuruti semua perintah yang dilontarkannya, karena semua masalah ini tercipta oleh kebodohan dirinya sendiri.
...°°°...
__ADS_1
Catherine akhir-akhir ini tidak bisa mengendalikan emosi dan amarahnya karena gadis berambut sebahu yang menjengkelkan dihadapannya ini. "Apa maksud lo nyebarin video itu diforum yang ada dosennya? Lo gak bisa ngelakuin hal yang berguna apa selain bikin hidup orang sengsara?"
Melly tersenyum mengejek. "Bikin hidup orang sengsara? Gue korban loh disini asal lo tahu,"
Catherine mendecih. "Cih, lo korban? Lo pikir gue gak tahu? Kalo lo yang bikin dia mabuk berat dan lo berakting jadi korban?"
"Emang lo punya bukti gue ngelakuin hal itu?"
Catherine memilih tak berdebat lebih lama dengan gadis pembuat sengsara hidupnya itu, karena lebih baik ia memikirkan rencana yang benar-benar membuat gadis itu menderita.
Kali ini ia benar-benar kehilangan kesabarannya.
Ia pergi meninggalkan gadis menjengkelkan dihadapannya ini dan berniat mencari laki-laki yang saat itu tengah di cap sebagai laki-laki bejat yang melecehkan seorang gadis yang lemah.
Saat ia asyik berjalan dengan cepat, kini ia langsung terduduk karena orang bodoh yang tak melihat kedepan saat berjalan, hingga alhasil menabrak dirinya hingga terjatuh.
Catherine meringis karena pantatnya yang terasa sakit dan ngilu, "Woy kalo jalan tuh pake mata!" teriaknya sambil meringis.
"Jalan tuh pake kaki,"
Catherine sontak mendongakkan kepalanya mendengar suara itu. Ternyata tanpa dicari pun, laki-laki itu akan muncul sendiri persis dihadapannya.
Sebastian mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, dan Catherine pun menerimanya disertai dengan gerutuan yang dilontarkan dari bibirnya yang mungil.
"Gimana rasanya dicap laki-laki bejat oleh seluruh kampus?" tanya terdengar ketus padahal ia menaruh sedikit kekhawatiran dihatinya.
"Biasa. Lagian itu memang salah gue, jadi gak ada hak untuk ngebantah," ucapnya santai seolah menerima semua kejadian ini.
Walaupun ia masih tak bisa melupakan laki-laki ini yang seenaknya menciumnya dan mengatakan hal itu padanya. Entah bagaimana bentuk perasaan yang ia rasakan pada laki-laki ini sekarang, ia juga tak tahu.
Yang penting saat ini adalah, ia harus memberi pelajaran yang setimpal pada gadis bernama Melly itu.
"Gak bisa kayak gitu. Lo mau selamanya di cap jadi cowok brengsek di kampus ini?" tanya Catherine.
"Memang kenyataan nya, kan? Gue cowok brengsek, persis kayak yang lo bilang," jawab Sebastian yang terdengar menyindir dan menohok di telinga Catherine.
"Denger yah, gue disini mau ngebantuin lo. Bisa gak lo gak usah nyebelin?" ujar Catherine mulai kesal.
"Yang nyuruh lo untuk ngebantuin gue siapa?" kini raut wajah laki-laki itu terlihat berubah.
Catherine terdiam. Kenapa saat ia ingin membantu laki-laki itu, dia seperti tidak menghargainya?
"Lo pikir diri lo istimewa bagi gue karena waktu itu gue bilang masih suka sama lo dan nyium lo? Lo ngerasa istimewa, karena ngegantungin perasaan gue?" ketusnya tajam.
Seketika cairan bening mengalir di pipi Catherine, alis nya bekerut, dan bibirnya terkatup terlihat menahan isakan yang akan keluar.
Sebastian tertegun ketika airmata itu mengalir dengan mulus dipipi gadis itu, meninggalkan rasa bersalah didalam dirinya ketika gadis itu berlari meninggalkannya.
Laki-laki itu mengepalkan tangannya karena telah benar-benar menjadi brengsek sesungguhnya.
__ADS_1
'Disaat gue bersikap kayak gini ke lo, tapi gue minta lo untuk jangan tinggalin gue. Gue lebih buruk dari julukan cowok brengsek, Cat.'
...°°°...
Seperti biasa, kegiatannya sekarang adalah pergi kekampus, makan, bekerja, dan tidur. Begitulah hari-hari Catherine berlalu dari saat itu.
Yah, walaupun ada juga hal yang tidak mengenakkan terjadi. Yang mana membuat mood nya memburuk.
Dan juga, saat ia ingin memperbaiki hubungannya dengan laki-laki itu dengan cara membantunya, laki-laki itu malah tidak menghargainya.
Memperbaiki hubungan yang berarti pertemanan maksudnya. Karena ia telah bertekad untuk menyatukan laki-laki itu dengan Giselle.
"DEK ANGELL!!"
Saat ia tengah melamun, ada teriakan cempreng nan melengking yang langsung mengagetkannya dan membuat jantungnya seakan lepas dari tempatnya.
"Komodo darat!" kagetnya sambil mengusap dada kirinya untuk menenangkan jantungnya yang tengah berdetak cepat.
Violetta yang melihat Catherine yang begitu terkejut, menyengir dan terkekeh. "Maaf, kaget ya dek?"
Catherine mendengus. "Kaget lah kak,"
Violetta hanya menyunggingkan senyum manisnya, "Kakak seneng banget soalnya, dek,"
Catherine menaikkan sebelas alisnya, "Emang kenapa, kak?"
Violetta masih setia dengan senyum lebar, "Kakak habis dilamar sama pacar kakak aaaaa!!" pekiknya kesenangan.
Catherine menutup kedua lubang telinganya disaat Violetta terpekik kesenganan. "Ih beneran?! Selamat ya kak!!"
"Makasih! Kakak seneng banget deh! Soalnya hampir enam tahun kami pacaran, akhirnya pacar kakak ngelamar kakak juga!!"
Catherine tersenyum melihat Violetta, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah gadis itu. "Jadi, Catherine diundang gak?"
"Diundang dong! Dek Angel kan pekerja keras akhir-akhir ini, sampe malem banget baru pulang. Pasti kakak undang!"
"Berarti, yang bukan pekerja keras gak diundang yah kak?" ujar Catherine terkekeh.
"Pasti diundang semua dong, biar meriah hihi!" jawab Violetta. "Kakak keatas dulu yah, dek. Soalnya ada yang penting nih,"
"Oh, iya kak."
Setelah itu Violetta menuju keatas, dan Catherine kembali pada pekerjaannya sambil menunggu ada orang yang datang untuk membeli.
Tapi saat ia melihat kearah keluar, dirinya tertegun. Matanya melotot tak percaya, seluruh tubuhnya seakan kaku.
Lidahnya terasa kelu, dan bibirnya seakan tak ingin bergerak untuk mengeluarkan suara.
Apa benar itu sosok yang seperti ia bayangkan?
__ADS_1
Apa benar itu adalah orang yang selama ini ia rindukan keberadaannya?
"Papa?"