
Sudah satu hari sejak Catherine terkena demam yang menurutnya menjengelkan tersebut. Tiap detik, tiap menit, dan tiap jam telah ia lewati bersama dengan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya tersebut.
Tubuhnya memang mudah terjangkit demam, tapi tubuhnya juga dengan cepat menghilangkan rasa panas tersebut.
Bahkan, dia pun melewatkan satu hari nya ke kampus tanpa kabar. Pasti sahabatnya itu akan hebohh begitu dirinya kembali masuk ke kampus hari ini.
Catherine pun melirik jam dinding bulat berwarna biru di dinding kamarnya. Waktu telah menunjukan pukul sepuluh lewat seperempat, ia bangun cukup siang. Untung saja dia tidak ada kelas pagi, jadi ia tak perlu khawatir dengan kata terlambat.
Gadis itu beranjak dari ranjangnya yang empuk tersebut, lalu berjalan menuju kebawah berniat untuk mengisi perutnya.
Ia mengernyit bingung saat telah sampai di meja makan, tidak ada makanan ataupun hal lain yang berada di atasnya.
Kosong.
Tidak seperti biasanya. Karena, walaupun Sebastian telah pergi terlebih dahulu, laki-laki itu pasti akan menyisakan makanan untuk dirinya.
'Tumben dia gak nyisain sarapan.' batinnya.
Untuk memastikan, ia pun pergi ke depan dan mengecek garasi. Motor kesayangan laki-laki itu masih terpakir rapi ditempatnya, yang mana membuat dirinya semakin kebingungan dan keheranan.
'Kalo motornya masih disini berarti dia belum pergi, dong?' batinnya kembali bertanya.
Tadi saat ia melewati kamar laki-laki itu, pintu kamarnya pun masih tertutup rapat. Apa laki-laki itu kesiangan dan belum bangun?
Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi, karena laki-laki itu selalu bangun pagi apapun yang terjadi. Dirinya berani bertaruh jika laki-laki itu tak mungkin kesiangan.
Karena tak ingin dilanda kebingungan dan untuk menjawab seluruh pertanyaan yang ada didalam pikirannya, ia pun kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah dan bergegas menaiki tangga menuju kamar laki-laki itu dan memeriksanya.
Pertama-tama, ia mengetuk pintu itu terlebih dahulu untuk beberapa saat. Karena tak ada respon apapun dari dalam, Catherine pun membuka mulut dan berkata, "Lo udah bangun?" tanyanya sambil menempelkan telinganya di pintu kamar laki-laki itu.
Tapi tetap tak ada sahutan ataupun respon dari dalam. Entah kenapa, rasa keingungan dan keheranan yang mengisi hatinya tadi, kini berubah menjadi rasa kekhawatiran.
Bagaimana jika laki-laki itu terkena serangan jantung secara tiba-tiba? Atau yang lebih parahnya mungkin tak bisa lagi bangun dari tidurnya?
Sepertinya itu terlalu berlebihan. Oh ayolah, tolong hentikan pikiran konyol mu itu Catherine.
Tak ingin berlama-lama, dirinya pun meraih gagang pintu dan membuka pintu yang terbuat dari kayu tersebut.
Ternyata pintu itu tidak tekunci, ia pun secara perlahan-lahan membukanya kemudian mengintip sejenak sebelum benar-benar masuk.
Tenang dan dingin. Kata tersebut sangat tepat untuk mendeskripsikan suasana kamar ini.
Catherine dapat melihat angin yang berhembus dari alat pendingin ruangan tersebut dan laki-laki yang tengah dicarinya itu tengah berbaring di ranjang miliknya sambil membalut seluruh tubuhnya dengan selimut berwarna putih yang tebal dan hangat miliknya.
Gadis itu mengira awalnya laki-laki yang tengah terbaring tersebut masih belum bangun dari petualangannya di alam mimpi, jadi ia mendekat dan berusaha membangunkan laki-laki itu dengan menguncang tubuhnya pelan.
"Hoi, lo gak ngampus atau kerja apa? Udah siang," ujarnya.
__ADS_1
Saat tak menerima respon sama sekali, Catherine menjadi penasaran lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah laki-laki itu yang tengah tidur dengan posisi menghadap ke samping.
Tapi wajah laki-laki itu tak terlihat sama sekali karena semua anggota tubuhnya di balut oleh selimut tebalnya hingga ke kepala.
Entah kenapa ia menjadi kesal, ia merasa menjadi emak-emak yang lagi ngebangunin anaknya yang kebo.
Dengan satu gerakan ia pun menarik selimut tebal itu sambil berdumel, "Lo bangun ato-- huwa!" ia berjingkrak kaget sambil menjauh saat telapak tangannya tertempel dengan sesuatu yang panas.
Catherine kemudian menatap kaget laki-laki itu, ia bisa melihat alis laki-laki itu yang bertaut dihiasi dengan keringat yang mengucur didahi hingga membasahi poni rambutnya yang terbilang cukup panjang.
"L-lo demam?" tanyanya untuk memastikan pada laki-laki yang masih tertidur itu. Dirinya benar-benar aneh bertanya kepada orang yang lagi berpetualang di alam mimpi.
Laki-laki itu memang tidak menjawab, tapi dia kini memutar posisi tubuhnya menjadi telentang.
Ia kemudian kembali mendekatkan diri pada laki-laki itu, kemudian mendaratkan telapak tangannya di dahi mulus yang berkeringat itu.
Panas.
Hanya itulah yang dapat ia rasakan. Apa laki-laki itu demam karena tertular olehnya?
Entahlah, yang paling penting sekarang adalah, ia tak bisa mengabaikan orang sakit. Apalagi jika orang itu sakit karena dirinya sendiri.
Pertama-tama, ia mematikan alat pendingin ruangan itu yang menhembuskan angin yang amat sejuk, lalu ia pun kembali membalutkan selimut tebal itu pada pemiliknya dari kaki hingga leher.
Kedua, ia turun ke bawah untuk mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil dan kembali naik ke atas menuju kamar laki-laki itu.
Setelah itu mencelupkan handuk kecil tersebut kedalam baskom yang berisi air hangat, lalu memerasnya dan menpelkan handuk tersebut ke dahi laki-laki itu.
"Gini aja kayaknya udah cukup," ia berpikir-pikir sambil mengingat-ingat kembali, mungkin saja ada hal lainnya yang bisa ia lakukan.
Oh ya! Kalau tidak salah ada obat penurun panas yang masih tersisa dikamarnya.
Dengan gerakan cepat, ia pun berlari menuju kamarnya dan mengambil obat penurun panas tersebut yang terletak di meja belajarnya, lalu kembali ke kamar laki-laki itu dan menaruhnya di atas meja tidur miliknya.
Dengan begini seharusnya lebih dari cukup. Dirinya juga harus bersiap untuk pergi ke kampus, dia tak bisa terus menunda-nunda waktu. Ia menatap laki-laki itu sejenak.
Catherine menghembuskan nafas pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada, "Dengan begini, kita impas kan?"
...°°°...
Hari-hari yang sangat sangat membosankan, yaitu melakukan kegiatan yang sama setiap harinya. Tidak ada hal yang lebih membosankan dari hal itu dalam suatu kehidupan insan Tuhan.
Seperti biasa, Catherine melangkahkan kakinya ke dalam kampusnya untuk menggali ilmu, bekal untuk kesuksesan dan kemakmuran di masa depan.
Dan juga seperti biasa, sebentar lagi ia pasti akan mendapat asupan tiap hari nya, yaitu...
Satu...
__ADS_1
Dua...
Tiga...
"CATHERINEEE!!"
Teriakan yang mencetar membahana itu telah menjadi asupannya setiap hari. Ya, tiada hari tanpa teriakan.
"Catherine lo kemarin kemana aja sih?! Lo gak papa kan?! Lo gak depresi atau semacamnya kan? Lo kenapa gak nelpon gue sih?! Kenapa gak ngasih kabar ke gue sih?! Gue sahabat lo bukan sih?!" cerocos nya tak henti-henti membuat kepala Catherine tiba-tiba kembali pusing mendengar hal itu.
Ia menghembuskan nafas berat. "Gue demam, hape gue lowbat, gak bisa ngabarin lo," ucapnya.
Tentu saja itu semua bohong, walaupun sedang sakit, tapi matanya tentu tidak sakit sama sekali untuk melihat stok film kesukaannya.
Gadis itu memang kehabisan paket data dan pulsanya, oleh karena itu ia hanya menonton stok filmnya yang bisa ditonton tanpa perlu data seluler.
Dan juga, sebenarnya dirinya memang sengaja untuk tidak memberi kabar kepada sahabatnya bahwa ia tengah sakit.
Karena jika ia memberi tahu sahabatnya tersebut, sudah pasti sahabatnya tersebut akan memaksa untuk menjenguk dirinya.
Tentu saja hal itu tidak mungkin ia lakukan, karena ia merahasiakan tempat tinggalnya pada sahabatnya itu.
"Rin..! Rin!" panggil Giselle membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Oh, sori. Lo tadi ngomong apa?" tanyanya karena tak sempat mendengar perkataan yang Giselle lontarkan untuknya.
"Lo masih gak enak badan, Rin? Kalo iya, mending gue anter pulang sekarang daripada lo maksain diri," ujar Giselle terdengar khawatir, membuat Catherine tersenyum simpul.
"Gue gak papa kok, santai aja kali. Jadi, lo tadi ngomong apa?" tanyanya.
"Jadi gini, gue tadi sempet ke kelas nya Alex untuk nengokin dia, tapi dia nya gak ada. Biasanya kan jam segini Alex udah dateng.."
"Lo nekat ke kelas tuh cowok cuman mau lihat dia, doang?" tanya Catherine tak percaya.
Giselle hanya mengangguk dengan raut wajah polosnya. Sedangkan Catherine bertepuk jidat. "Yaampun Sel, lo segitu sukanya sama tuh cowok?"
Giselle malah terlihat tersipu malu dengan rona merah yang tercipta di pipinya. "Iya, Rin. Gue suka banget sama dia,"
Pengakuan jujur yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut sangat mengenai hatinya. Ia merasa sangat jahat terhadap sahabatnya sendiri.
Senyum simpul yang tercetak diwajahnya, kini menghilang.
Disaat sahabatnya mati-matian untuk mendapatkan perhatian laki-laki itu, tapi dirinya malah enak-enakan membiarkan perasaan hangat ini kembali mengambang dihatinya.
Ini tidak boleh terjadi, ia harus memikirkan suatu cara.
Tapi tunggu dulu, bukankah saat ini ada kesempatan besar di depan matanya? Ia pun kembali mengukir senyumannya.
__ADS_1
"Eh, Sel. Gue dapet pesan dari Takumi katanya Alex lagi sakit. Gimana kalo lo jenguk dia?"