Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
11 | Hal yang tak terduga


__ADS_3

"Ini tempatnya, Rin?" tanya Giselle memastikan sambil melihat bangunan dihadapannya.


Suara dentuman musik dari dalam yang tedengar sampai keluar, dan bau alkohol yang menguar ditempat ini. Membuat Giselle yang tadi begitu yakin kini menjadi ragu untuk masuk kedalam.


"Iya lokasinya udah bener, yaudah ayo masuk," ajak Catherine, Giselle pun mengangguk.


Mereka pun berjalan masuk untuk mencari sosok manusia yang tengah mereka cari. Bau alkohol dan suara dentuman musik yang ada ditempat ini membuat Catherine pusing dan merasa muak.


Ia benci berlama-lama disini, dan juga banyak mata laki-laki berhidung belang yang menatap mereka berdua sedari mereka memasuki tempat ini, membuatnya merasa sangat risih.


"Duh! Mereka dimana sih?! Mana nih tempat rame banget lagi!" Catherine menggerutu karena tak kunjung menemukan Sebastian dan teman-temannya yang lain.


Berbeda dengan Catherine yang sibuk menggerutu, Giselle kembali melihat-lihat sekitar sampai akhirnya ia melihat bagian belakang seseorang yang sepertinya  ia kenali.


"Rin, Rin, liat deh! Itu si Sarah bukan?" tunjuk Giselle. Catherine pun mengikuti arah tunjukan Giselle.


"Iya kayaknya, kita deketin aja,"


Mereka berdua pun berjalan mendekati gadis berambut pirang yang mereka lihat dari belakang.


Saat Catherine ingin membuka suara, ia langsung mengurungkan niatnya saat gadis berambut pirang itu menyiramkan sebuah jus yang ada digenggaman Takumi di wajah dan kepala Gavin.


"Kamu bilang kamu akan berubah, kamu bilang kamu gak akan main ke tempat seperti ini, bilang akan setia sama aku. Tapi apa, Gavin?!"


Sarah berteriak kepada Gavin dengan bahasa Indonesia nya yang lancar, gadis itu terlihat sangat marah dan kecewa. Airmata yang ditahan gadis itu terlihat sangat jelas dengan wajahnya yang memerah.


Gavin terlihat menyesal saat gadis itu meluapkan amarahnya, dan saat Sarah berlari dari tempat ini, Gavin lagsung mengejar gadis itu sambil meneriakkan namanya. "Sar, Sarah!"


"Eh, Mi. Alex sama Rean mana?" tanya Giselle.


Takumi mendengus. "Si Rean katanya mau cari udara seger, kalo Alex ini gue gak tau pergi kemana. Mana tuh anak mabuk banget tadi,"


Giselle sedikit tak percaya, Alex yang ia tahu biasanya tidak berbuat seperti ini. Apa yang tiba-tiba membuat laki-laki itu berubah?


"Dia sama siapa? Sendirian aja?" tanya Giselle.


"Sama cewek, namanya Melly kalo gak salah," ucap Takumi sambil mengingat-ingat.


"Melly?!" ujar Catherine dan Giselle bersamaan.


"Kita cari Alex sekarang, ntar kalo dia ngelakuin yang aneh-aneh gimana?! Lagian kalian kenapa mau-mau aja sih diajak sama tuh cewek?!" kesal berdumel kesal.


"Gue juga sebenernya gak mau kali, tapi si Alex sama Gavin tuh yang maksa,"


"Tumben banget Alex maksa untuk ikut yang beginian, kalo Gavin mah gue gak heran," kata Giselle yang membuat Catherine terusik.

__ADS_1


'Apa gara-gara masalah kemarin? Tapi gak mungkin juga karena itu, lo jangan kepedean deh, Rin.' batin Catherine.


"Yaudah gih, kita cepet cari. Kita pencar aja biar lebih cepet ketemu." perintah Giselle.


Catherine dan Takumi pun mengangguk dan mulai mencari keberadaan Sebastian.


Catherine kemudian menyusuri lorong yang banyak berisi kamar untuk melakukan hal yang tak dilakukan sebelum menikah itu.


Ia bisa mendengar suara laknat itu terdengar dari dalam kamar yang tidak kedap suara disebelahnya.


Membuat Catherine mengutuk tempat ini dan orang-orang yang melakukan hal itu ditempat ini.


Setelah beberapa saat dirinya berjalan, ia melihat seseorang yang ia kenali tengah memegang ponselnya seperti merekam sesuatu.


Itu salah satu anggota geng Melly, Farah.


Catherine langsung menghampiri gadis itu. "Eh, ngapain lo?!" ketusnya. "Dimana ketua lo itu?"


Farah terlihat gelagapan kemudian langsung pergi berlalu begitu saja, membuat Catherine bertanya-tanya.


Tak lama kemudian, terdengar suara perempuan didalam ruangan dengan pintu setengah terbuka tepat Farah tadi berdiri.


"Lex... gue mohon jangan..."


Laki-laki itu tengah berciuman dengan Melly dengan bergairah. Membuat drinya langsung memasuki kamar itu dan menarik laki-laki itu yang posisiya tengah menindih Melly hingga berdiri.


PLAK!!


Tangan Catherine melayang kepipi Sebastian dengan matanya yang melotot karena amarah yang kini mengendalikan dan menguasai dirinya. "LO APAIN ANAK ORANG, BRENGS*K?!!" teriaknya sambil menatap tajam kearah laki-laki itu.


Membuat Melly yang tadi langsung terduduk kini terkejut dengan Catherine yang terlihat sangat marah, tapi ia hanya punya satu tujuan disini, dan tujuannya kini sudah terselesaikan. Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut tanpa sepengetahuan Catherine.


Sebastian kini menatap Catherine dengan tatapan kosongnya, laki-laki itu sangat mabuk, bahkan berdiri pun laki-laki itu oleng dan hampir terjatuh. "Oh, lo ternyata... mantan." racaunya.


Sebenarnya berapa banyak gelas yang laki-laki ini minum sampai bisa seperti ini?


Melihat keadaan laki-laki itu seperti ini membuat hati Catherine seakan teriris, mengapa dirinya tiba-tiba menjadi seperti ini?


Kenapa sejak kemarin, perasaan ini terus menggerogoti dirinya? Kenapa ia merasa dirinya sangat marah saat melihat laki-laki itu bercumbu dengan perempuan lain?


Kenapa tiba-tiba.... rasa benci yang ia layangkan pada laki-laki itu beberapa tahun lepas, kini menghilang...?


Catherine menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang seluruh pikiran itu, dan berniat memapah laki-laki itu untuk kembali mengantarnya pulang.


Tapi laki-laki itu tiba-tiba mendekatinya dan menangkup wajahnya, sedetik kemudian Catherine mendapati bibir laki-laki itu menempel di bibir miliknya.

__ADS_1


Ia membelalakkan matanya dan mendorong laki-laki itu menjauh darinya sekuat mungkin, tapi ia tak bisa.


Seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku saat bibir hangat itu tertempel di bibirnya.


Tenaga laki-laki itu terlalu kuat hingga tak mundur sedikitpun. Bau alkohol dengan jelas masuk ke indra penciumnnya, membuat Catherine mual.


Beberapa saat kemudian, Sebastian menjauhkan wajahnya dan memeluk Catherine dengan erat dalam dekapannya.


Catherine dapat merasakan jantungnya berdegup kencang, saat sosok laki-laki itu yang tinggi dihadapannya ini mendekapnya dengan tubuhnya yang hangat seakan tak ingin melepaskannya.


Laki-laki itu berbisik dengan suara yang sangat parau dan rendah yang mana seakan mengiris hati Catherine. "Jangan hilang dari hidup gue lagi.... gue mohon..."


Seketika airmata jatuh begitu saja dari matanya, Catherine merasa kesal dan hatinya yang beku seakan mencair begitu saja.


Ia benci dengan dirinya sendiri!


Kenapa perasaan itu dengan seenaknya datang kembali...?


...°°°...


"Gimana, Far? Udah kayak beneran belum akting gue?"


Farah tersenyum. "Udah kok, Mel. Tinggal diedit dikit aja baru sempurna,"


Melly tersenyum kemenangan, "Bagus, besok liat aja gimana nasibnya Sebastian. Kalo gue gak bisa nyakitin Catherine, maka gue bisa nyakitin orang terdekatnya,"


"Tapi, Mel. Kenapa gak Catherine aja yang kita taruh didalam video ini?" tanya Lara.


"Gue mau jadi kayak korban, biar semua orang jadi kasihan sama gue," ujar Melly sambil tersenyum miring. "Tapi, Sebastian itu kayaknya mantannya Catherine deh,"


Lara, Farah, Rara, dan Ruru kini terkejut tak percaya. "Lo serius, Mel?!" tanya Farah.


"Gak mungkin lah Catherine suka sama cowok modelan Sebastian. Memang sih tuh anak ganteng, tapi dia kan gak tajir," sahut Lara.


"Ya gue gak tahu juga, sih. Tapi, pas gue ciuman sama tuh cowok, dia bilang kalo Catherine tuh mantannya," ucap Melly sambil mengangkat bahunya.


"Masa sih?" tanya Lara masih tak percaya.


"Yaudahlah, lagian ngapain juga kita ngurusin urusan Catherine. Yang penting sekarang kita tunggu aja gimana hebohnya kampus besok hahaha!" ucap Melly.


Memikirkan bagaimana hari esok saja membuat Melly mengembangkan senyumnya, membayangkan wajah Catherine yang dipenuhi amarah membuatnya terkikik.


Daripada membayangkannya terus, lebih baik dirinya pergi ke alam mimpi agar lebih cepat mencapai hari esok.


'Tunggu balasan dari gue, Catherine.'

__ADS_1


__ADS_2