Bad Girl Meet Karma

Bad Girl Meet Karma
22 | Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Catherine baru saja keluar dari toilet wanita yang berada di kafe tersebut, bola matanya sedikit membelalak ketika ada seorang laki-laki yang tengah menggebrak meja dengan cukup kuat hingga seluruh pandangan yang ada di kafe tersebut menuju ke arahnya.


Tak lama, laki-laki itu langsung pergi dengan langkah yang terlihat terburu-buru.


Dapat ia lihat ekspresi marah dan kesal yang tak bisa ia sembunyikan di wajahnya, rahang laki-laki itu terlihat mengeras sehingga tulang rahangnya terlihat dan tercetak dengan sangat jelas.


"Dia kenapa sih?" batinnya bingung. Dirinya pun bisa melihat dari jauh bahwa sahabatnya memasang ekspresi yang sama sepertinya.


Karena tak ingin tersesat dalam kebingungan yang tak berujung, ia pun mengejar laki-laki itu yang sudah melangkahkan kaki keluar dari kafe ini.


Saat ia telah sampai di tempat parkiran yang ada di kafe tersebut, Catherine membuka suara untuk memanggil laki-laki itu yang sudah berada jauh di depannya. "Tunggu!"


Wajah laki-laki itu pun menoleh dan kakinya pun berhenti melangkah. Dia menatap Catherine dengan tatapan nya yang dingin dan netra matanya yang terlihat menggelap dan kosong.


Catherine pun sedikit berlari untuk berhadapan dengan laki-laki itu. Ia pun sedikit mendongak karena laki-laki itu lebih tinggi darinya. "Sebenernya lo kenapa sih?"


Laki-laki itu tersenyum kecut, "Seharusnya lo udah tahu jawabannya," ujarnya ketus.


Catherine semakin tak mengerti maksud laki-laki di hadapannya ini. "Maksud lo apa sih?" ia mengerutkan kedua alisnya.


"Maksud gue, bisa gak lo henti in rencana lo untuk ngedeketin gue sama sahabat lo itu?! Kalo lo memang gak suka sama gue, lo bilang secara jelas!


Gue gak suka lo maksa-maksa gue untuk deket sama sahabat lo itu!" cecar Sebastian secara tiba-tiba meluapkan seluruh amarahnya membuat gadis itu tertegun dan tersentak.


"Gue suka sama lo, gue cinta sama lo! Tapi kalo lo gak bisa ngebales itu semua, lo bilang secara jelas! Lo jangan maksa gue untuk sama cewek lain! Gue muak!" lanjutnya dengan nada meninggi, tapi suara nya juga terdengar sedikit lirih.


Laki-laki itu mendengus frustasi seraya mengusap wajahnya kasar, lalu berbalik meninggalkan Catherine yang tengah tertunduk.


Sungguh, amarah dan kesedihan kini menjadi satu lalu mengendalikan pikiran dan hati laki-laki bersurai hitam ini, tak ada lagi hal yang bisa ia rasakan kecuali rasa kecewa yang begitu besar untuk dibendung oleh hati kecilnya.


"Lo pikir gue juga suka ngelakuin hal ini?" ucap gadis itu lirih masih setia menunduk dan menjeda kalimatnya. "Lo pikir... lo aja yang muak dengan semua ini..?!" teriaknya dengan nada tercekat.


"Gue juga muak... gue benci! Gue bingung....!" gadis itu meremas rok panjang yang ia kenakan dengan kuat.


Sebastian dapat melihat airmata yang jatuh ke tanah di balik wajahnya yang tertutup oleh rambutnya yang tergerai dengan bebas. Gadis itu... terlihat sangat frustasi, sama seperti dirinya.

__ADS_1


"Di saat sahabat lo suka sama mantan lo, tapi mantan lo suka sama diri lo! Gue benci semua drama murahan ini! Gue bingung dengan perasaan gue!" ia kembali berteriak frustasi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Melihat gadis itu yang terlihat frustasi, Sebastian ingin sekali merengkuh gadis itu dan mendekapnya erat di pelukannya seraya mengusap airmata cantik nya yang terus mengalir.


Tapi seperti ada sesutatu yang menahan tangannya yang terulur untuk meraih gadis itu, tubuhnya seakan tak mendengar perintah hatinya.


Sehingga ia hanya menatap dalam gadis itu yang terlihat tengah bergelut dengan batinnya yang berkecamuk.


"Gue minta maaf kalo semua perbuatan gue udah bikin lo kesel dan muak. Tapi, apa lo pernah mikirin perasaan gue sebagai perantara di antara kalian?" tanyanya dengan nada lirih yang hampir tertelan.


"Gue capek..., gue capek..," gadis itu masih setia mencurahkan seluruh hati nya yang selama ini ia pendam dan kubur dalam-dalam.


Pandangan orang-orang sekitar seakan tak mengganggu gadis itu untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.


Dengan telapak tangan yang masih setia menutupi wajahnya cantiknya, ia pun meneteskan airmatanya yang sangat sangat jarang ia tumpahkan.


Angin yang berhembus seakan berusaha menenangkan diri gadis itu yang tengah dikendalikan emosi yang tak dapat ia kontrol, mereka berdua hanya berdiri diam di tempat parkiran itu.


Namun tak lama dari itu, terdengar suara feminim yang terdengar sangat tidak asing di indra pendengaran mereka.


"Apa itu semua bener?"


Tubuhnya seakan kaku seperti patung, untuk membalikkan badan dan menolehkan wajah pun rasanya susah sekali untuk dilakukan.


Tapi gadis itu melawan itu semua, lalu memutar badannya dan menatap gadis yang tengah memasang ekspresi terkejutnya tak percaya.


Suara nya kembali tercekat, seperti ada sebuah pil yang besar menyangkut di tenggorokannya dan menahan suaranya yang hendak keluar. 


Dengan suara lirih yang hampir tenggelam, ia pun berkata. "Gi.. selle..?"


...°°°...


Walaupun ia tadi terpaksa mencurahkan isi hatinya, namun entah kenapa ia merasa lega sekarang.


Matanya sembab, hidungnya memerah, rambut nya acak-acakan.

__ADS_1


Secangkir teh hangat telah tersedia untuk diminum berada dihadapannya, tapi ia tak selera bahkan hanya untuk menyentuh gagang cangkir teh mungil itu.


Seorang gadis bersurai pirang dengan netra biru nya tampak menatap khawatir gadis bersurai hitam legam yang ada dihadapannnya.


Gadis bersurai hitam itu tampak memandang secangkir teh buatannya dengan pandangan kosong, sebenarnya apa yang sudah terjadi disini?


Mereka berdua tengah duduk di sofa empuk milik gadis besurai pirang itu dengan keheningan yang mengisi kehadiran.


Karena rasa penasaran yang tak dapat lagi dibendung, gadis bule itu mulai membuka percakapan dengan hati-hati. "Are you okay?" tanya Sarah disertai dengan raut kekhawatiran yan menghiasi wajah cantiknya.


"Ya," jawab Catherine singkat, ia tak tahu apa dirinya baik-baik saja atau tidak setelah kejadian drama itu terungkap.


"Oh come on, kamu pikir i would believe that? Beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi," desak nya, karena ia tahu, memendam rasa sendirian itu sangat tidak enak.


Catherine mulai mengulurkan tangannya untuk menggengam gagang cangkir teh itu lalu menyesap minuman herbal yang menghangatkan badan itu. "Akhirnya semua drama konyol ini terungkap," ucapnya.


"Drama konyol? What do you mean, exactly?" tanya Sarah bingung.


"Cinta segitiga ini. Cinta yang ngeselin dan juga nyakitin." ujarnya seraya tersenyum kecut. "Kalo misalnya sahabat lo suka sama mantan lo, dan mantan lo suka sama lo, apa yang bakal lo lakuin?" tanyanya.


Sarah melipat kedua tangannya didepan dada sambil menghembuskan nafas pelan. "Before I answer that, aku mau nanya dulu sama kamu. Do you still love your ex?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.


Catherine terdiam. Bagaimana caranya membalas pertanyaan sederhana itu? Ia tak bisa merangkai kata untuk menjawab pertanyaan sederhana yang membingungkan tersebut.


"Yah pertanyaan itu harus kamu tanyakan pada diri kamu sendiri. If you can't answer that question to yourself, lalu gimana kamu mau memecahkan masalah ini?"


Perkataan itu sangat mengenai hatinya, ia bahkan tak tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Di satu sisi ia merasa bersalah, dan satu lagi ia merasa kan perasaan hangat yang dulu telah lama ia kubur.


Perasaan hangat itu kembali mengapung dan mengambang di hatinya, ia tak tahu harus bagaimana agar perasaan itu kembali tenggelam ke bagian yang paling dalam di hatinya.


Akh, sial.


Semua ini sangat membingungkan dan menyebalkan.

__ADS_1


Ingin rasanya ia memutar waktu dan memilih untuk tidak tahu apa-apa. Tapi itu semua sudah pasti mustahil.


Karena dunia akan selalu melangkah ke depan, dan tak akan pernah melangkah ke belakang.


__ADS_2