
🌹🌹 Don't be afraid to move, because the distance of 1000 miles starts by a single step🌹🌹
Next....
"Tuan muda dimana sofa di Kamar ini mengapa tiba-tiba menghilang..?" Ucap Ayara bingung
Arkana yang sedari sibuk dengan handphonenya beralih menatap Ayara.
"Tadi pas sebelum makan malam masih ada kenapa tiba-tiba menghilang.." ucapnya lagi
Keduanya memang tak sadar tadi ketika masuk hingga ketukan pintu mengalihkan arah pandang mereka berdua.
Tok tok tok...
"Arkana ini papa.."
Arkana mengernyitkan dahinya dengan keberadaan papanya diluar kamar dan membukakan pintu untuknya
"Tumben papa ke kamar ku ... Mengapa tidak menyuruh pelayan saja untuk memanggilku?"
"Ayara dimana..." Bukan jawaban melainkan pertanyaan yang ia lontarkan
"Didalam masuk saja..."
"Papa..." Ucap Ayara ketika melihat papa mertuanya masuk kedalam kamarnya.
"Papa langsung saja, pasti kalian bingung dengan kehadiran papa disini dan hilangnya sofa dikamar ini"
Mereka saling pandang dan Arkana langsung bisa menebak kehadiran papanya yang tumben masuk kedalam kamarnya.
"Sebenarnya papa yang mengambil sofa di Kamar ini tanpa izin dari Arkana karena menurut papa sofa itu sangat nyaman untuk tempat duduk nya orang yang sudah tua seperti papa.."
Arkana sudah tahu niat papanya ia memutar bola matanya dengan malas
"Alasan apa itu... Tidak masuk akal" gerutu Arkana dalam hati
"Apa nak Ayara keberatan..? Nanti papa ganti dengan kursi disini"
"Tentu saja tidak, papa yang berhak disini lagi pula sofa itu tidak terlalu berguna disini jadi tidak masalah bagiku.." ucap Ayara panjang lebar tapi sebenarnya ia sedang bingung kalau sofa itu tidak ada terus aku harus tidur dimana.
"Kalau kau Arkana papa sudah tahu jawabanmu pasti tidak masalah kan istrimu saja tidak masalah.." timpal papa Zain lagi tapi ia tahu kalau Arkana sedang memakinya dalam hati.
"Belum aku jawab sudah mengambil kesimpulan seenaknya saja.."
"Yasudah papa keluar ini sudah malam lebih baik kalian tidur... Selamat malam" ucap Zain sebelum keluar kamar
"Malam pah.." kompak keduanya
__ADS_1
Setelah kepergian papa Zain keduanya terlihat canggung Arkana segera merebahkan tubuhnya dikasur sedang Ayara masih berdiri mematung ia bingung mau tidur dimana namun ia segera bertanya pada Arkana
"Tuan muda dimana saya harus tidur...?"
"Terserah... Ruangan ini luas kau bebas memilih dimana saja kau mau tapi tidak dengan kasur ini kau paham.."
"Tapi.... saya bingung harus tidur dimana tidak mungkin kan saya tidur dilantai..?"
"Kau itu selalu pakai bahasa formal kau akan ku hukum"
"Tuan muda saya eh aku hanya lupa janji setelah ini aku akan mengingatnya.." ucap Ayara tersenyum yang sontak membuat jantung Arkana bergetar
"Manis sekali..."
"Ya sudah cepat tidur... Aku terpaksa membagi ranjang ini dengan kau"
"Sungguh... Terima kasih tuan muda" ucap Ayara naik keatas ranjang
" sebenarnya aku juga terpaksa seranjang dengan kau jika bukan karena papa mertua yang mengambil sofa itu sudah jelas aku tidak mau seranjang dengan kau dasar arrogant .. " gerutu Ayara.
Ayara membuat dinding pemisah antara dirinya dan Arkana dengan menaruh bantal guling ditengah
"Ingat ya tuan muda jangan menerobos dinding ini ok.."
"Kau membuat dinding pemisah..? Bagus kalau sadar diri"
"Aku tidak berjanji untuk itu..." Ucap Arkana membelakangi Ayara.
Ini pertama kalinya mereka tidur seranjang namun entah mengapa tubuh Arkana langsung bereaksi hanya tidur seranjang dengan Ayara padahal Ayara masih menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Sial ada apa dengan tubuhku...".
Dilain tempat Zain sedang tertawa dengan rencana konyolnya ia telah berhasil membuat Arkana dan Ayara tidur seranjang.
"Kau akan tersiksa putraku...".
Flashback.
Zain : mau kemana kau pagi-pagi begini..?
Pelayan : saya dipanggil oleh tuan muda Arkana untuk
membersihkan apartemen nya yang ditinggali semalam bersama istrinya nona muda Ayara
Zain :oh yasudah pergilah
Pelayan : baik tuan besar saya mohon pamit
__ADS_1
Zain : hmm.
Ketika sang pelayan mulai menjauh Zain kembali memanggilnya
Zain : eh pelayan kembali
Pelayan: iya tuan besar
Zain :aku memerintahkan mu untuk melihat keadaan Apartemen itu terutama di Kamar Arkana carilah informasi dan beri tahu aku jika ada hal yang mengganjal yang terjadi antara Ayara dan Arkana
Pelayan : laksanakan tuan besar
Pukul 12:00 pelayan itu baru kembali disaat semua orang sedang tidur siang .
Zain : apa yang kau dapat...?
Pelayan : kalau saya tidak salah tuan besar sepertinya nona muda Ayara dan tuan muda Arkana tidur terpisah
Zain :maksudnya (mengerutkan dahi tidak mengerti)
Pelayan :seperti yang saya lihat nona muda Ayara tidur disofa sedangkan tuan muda Arkana tidur di Ranjang karena terdapat selimut dan bantal di sofa itu kemungkinan besar karena di Apartemen itu hanya terdapat satu Kamar yang termasuk kamar utama jadi nona Ayara terpaksa tidur di Sofa itu.
Zain : mengapa kau menyimpulkan seperti itu..?
Pelayan : karena yang saya lihat kemungkinan nona muda dan tuan muda kesiangan bangunnya jadi tidak sempat untuk menata kembali Kamar itu dan kenapa saya menyimpulkan tuan muda yang tidur di Ranjang karena terdapat rambut pendek yang tertinggal dibantal itu.
Zain :hmm bagus kau bisa ku andalkan, ini upah untuk kau dan tutup mulutmu, hanya aku yang tahu informasi ini.
Pelayan : baik tuan besar.. terima kasih saya mohon undur diri
Zain : Hmmm
Aku harus turun tangan jika begini terus Arkana akan menceraikan Ayara dengan sangat mudah dan tak akan memberikanku seorang cucu Dasar anak durhaka
Flash off.
Arkana masih tidak bisa tidur dengan kehadiran seorang wanita disampingnya bagaimana tidak satu kamar saja tubuhnya langsung meremang apa lagi satu kasur bisa dibayangkan.
"Sial sial sial ini pasti kerjaan papa..."
Dibalikkan kan tubuhnya menghadap Ayara ia menatap gadis yang masih menggunakan kerudung dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Mengapa kau bisa menggetarkan hatiku dan membuat tubuhku bereaksi, apa keistimewaanmu..?" Ucap Arkana memandang wajah bersih itu yang sedang terlelap.
"Kau sangat cantik, unik dan Sholehah kau hampir mendekati kesempurnaan .. bahkan kau tidur masih menggunakan kain penutup semahal itukah kamu untuk dilihat " tanpa sadar Arkana memuji kelebihan Ayara.
Arkana membuang guling pembatas itu ia ingin sekali memeluk gadis mungil didepannya alhasil ia melingkarkan tangan kekarnya di tubuh yang sangat pas dan nyaman untuk dipeluk, perlahan Arkana mulai memejamkan matanya dan memasuki mimpi indah nya disana.
__ADS_1