BALAS DENDAM SANG PRESDIR

BALAS DENDAM SANG PRESDIR
11.Satu minggu pernikahan.


__ADS_3

Satu minggu setelah hari pernikahan berlalu. tidak ada yang berbeda. bahkan kehadiran nya di rumah ini sama sekali tak di anggap oleh keluarga tuan Daniel. yang lebih tepat nya suami nya saat ini.


"apa yang harus gue lakukan saat ini." tanya nya pada dirinya sendiri.


Lidya mengambil benda pipih milik nya lalu menghubungi Hendra papanya.


"kali aja papa bisa bantu."


"halo pa," sapa Lidya saat panggilannya terhubung.


"ada apa sayang, tumben tumbennya kamu menghubungi papa." Jawab Hendra pada putri kesayangan nya itu.


"Lidya kangen pah, Lidya gak betah lama lama disini." keluhnya


"apa yang sudah dia perbuat pada mu nak,? Tanya Hendra lagi.


"nggak ada apa pun pah, bahkan sepertinya dia lupa kalau aku berada di rumah ini dan sudah menjadi istri nya, dia mengabaikan ku begitu saja." jelas Lidya pada ayah nya.


"bagus dong, jadi kamu tidak perlu capek capek melayani semua kebutuhan nya."


"tapi pah bagaimana dengan rencana selanjutnya nya.?" tanya Lidya.


"hmmm. (nampak Hendra berfikir lalu sebuah senyum licik terukir di bibir nya.) sayang kamu dengar papa baik baik. bersandiwara lah nak, buat dia sampai benar benar jatuh hati padamu, lakukan semua kewajiban mu sebagai istri tapi jangan sampai merelakan dirimu untuk nya. kamu paham kan maksud papa.?" tanya Hendra memastikan.


"hm, iya pa aku ngerti, yasudah Lidya tutup telfon nya dulu ya pa,." ucap Lidya lalu memutus hubungan dengan sang ayah.


di waktu yang sama di tempat yang berbeda tuan muda daniel tampak tersenyum miring mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.


Daniel pulang lebih awal. badan tegap dan kekar itu nampak memasuki rumah besar itu.


"Ma,, Niel perlu bicara sebentar, kita bicara di ruang kerja Niel ya ma." pinta Nya pada mama Irma.


setibanya di ruang kerja Daniel


"ada apa nak?" tanya sang mama

__ADS_1


"mulai hari ini Niel akan memperlakukannya selayaknya istri istri lainnya, Niel akan tidur sekamar dengannya dan Niel mau mama sedikit lebih ramah, ini hanya sandiwara ma." jelas Daniel


"tapi mama khawatir kamu terjebak di dalam permainan kamu sendiri nak, mama khawatir kamu benar benar jatuh cinta padanya" Irma khawatir pada putra sulung nya tersebut.


"tidak ma, Lidya itu adik tiri Daniel meskipun dia bukan darah daging mama, tapi tetap saja darah irawan mengalir di tubuh nya." jelas Daniel meyakin kan mamanya.


"baik lah nak, tapi mama mohon jangan pernah lupa diri, dia adik mu juga."


"Iya ma., makasih ma selalu dukung Niel." Daniel memeluk mamanya.


malam tiba Daniel sudah duduk di meja makan menunggu yang lainnya berkumpul.


" bi panggilkan non Lidya." pintanya pada seorang asisten yang kebetulan lewat.


"baik tuan" sahut nya lalu berlari kecil menuju kamar Lidya.


"permisi non.," panggil Yuni sang asisten sambil beberapa kali mengetuk pintu kamar Lidya.


"ada apa ?" ucap Lidya saat dirinya sudah berdiri di depan pintu.


"maaf non, non Lidya di panggil sama Tuan." ucap Yuni menundukkan kepala nya.


"baiklah,." jawabnya lalu melangkah menuju ruang makan.


"duduk.!" perintah Daniel mengisyaratkan dengan mengangkat dagu nya menunjuk kursi di sebelah nya.


raut wajah Lidya terlihat kebingungan, dia bingung harus bersikap bagaimana. dengan sedikit menundukkan kepala Lidya duduk di sebelah Daniel. badan nya terasa sangat kaku.


"makan lah, apa kau tidak suka dengan masakan nya? " ucap Daniel tiba tiba.


"eh hmm,, aku aku tidak biasa makan berat di malam hari tuan.." kalimat Lidya terbata bata.


"ada apa dengan lidah mu.? kenapa kamu begitu gugup.?" Daniel mulai memancing sifat asli dari Lidya.


"ehmmm tidak apa apa tuan." jawab Lidya.

__ADS_1


seketika meja makan itu hening hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar dari ruangan itu.


"saya sudah selesai Tuan, saya permisi kembali kekamar." pamit Lidya seraya berdiri bermaksud kembali ke kamarnya.


"hm tunggu dulu." cegah Daniel.


"mulai malam ini kamu tidur di kamar utama rumah ini bersama ku," lanjut nya lagi.


sontak mata Lidya terbelalak,


"tapi tu..


"kamu istri ku, maaf jika satu minggu ini aku membiarkan kamu tidur di kamar itu, karna aku ingin kamu merasa nyaman dulu dengan keadaan rumah ini, aku tau pernikahan kita tiba tiba tapi bukan berarti aku bermain main." jelas Daniel memotong perkataan Lidya.


"baiklah jika itu kehendak Tuan saya akan mengambil barang barang saya dari kamar lalu pindah ke kamar tuan." jawab Lidya.


"tidak perlu, banyak pekerja di rumah ini yang akan melakukan nya, jadi kamu tidak perlu menguras tenaga mu, siap kan saja tenaga mu untuk ku malam ini." goda Daniel.


blam.. wajah putih bersih milik Lidya berubah menjadi memerah . Lidya tersipu malu lalu pergi meninggalkan ruang makan.


sepeninggal Lidya tampaj anak dan ibu saling mengedipkan mata dan tersenyum puas.


"Niel ke kamar duluan ma.." ucap niel lalu melangkah kan kaki nya menuju kamar.


April yang sedari tadi melihat adegan itu bingung ada apa dengan kakaknya.? katanya hanya menikahi saja tapi kok tiba tiba.? banyak pertanyaan yang timbul di fikiran adik semata wayang presdir itu melihat perubahan sang kakak.


bersambung.


🏵🏵🏵


hai readersss


maaf beberapa hari ini tidak up sebab banyak pekerjaan yang menyita waktu author.


mohon dukungan nya sayangku jangan lupa di like di komentar, dan jangan ketinggalan vote sebanyak banyak nya ya gaessss

__ADS_1


love you.


salah dunia halu. 💕🙏🙏🙏


__ADS_2