BALAS DENDAM SANG PRESDIR

BALAS DENDAM SANG PRESDIR
23. Dermawan Group.


__ADS_3

Daniel hanya menyodorkan sendok berisikan nasi goreng buatan Lidya kepada Aprilia, saat Aprilia memasukan Sendok kedalam mulut dan mulai mencicipi, seketika matanya membulat dan memuntahkannya ke lantai.


"seumur hidup ku baru ini aku merasakan makanan seperti ini rasa nya yang sangat nikmat, sampai aku tidak sanggup untuk menelannya." ucap Aprilia sambil meraih air minum di depan kakaknya dan dengan cepat ia meneguk air itu hingga tandas tak bersisa.


"kakak, tolong suruh chef Rudy untuk melatih nya memasak, jika begini terus bagaimana jadinya kita yang setiap hari harus makan makanan yang rasanya, ah entah lah susah untuk aku ekspresikan." Tambah nya lalu meninggalkan Daniel dan Lidya di meja makan.


Daniel hanya menatap tajam istri bohongan nya.


"Jadi istri terbaik seorang Daniel merupakan impian kamu bukan, maka dari itu berlatih lah dalam segala hal yang berkaitan dengan kesukaan ku dan keluarga. " Ucap Daniel dengan penekanan dalam setiap kalimat nya. sebelum Ia beranjak pergi meninggalkan ruang makan.


Lidya hanya dapat menundukkan kepala nya, sepeninggal Daniel, Lidya langsung membersihkan meja dan membuang semua sisa makanan yang entah Ia juga enggan untuk mengetahui rasa nya.


****


Malam berganti disambut oleh pagi yang cukup mendung, ini Hari kedua Aprilia melakukan aktivitas magang nya di perusahaan Dermawan, yang tidak lain.adalah ayah kandung nya sendiri.


Pekerjaan nya Ia lakukan dengan baik namun otak nya tetap berputar keras saat mendengar bahwa Tuan Dermawan sudah tiba di perusahaan dan sedang berada di ruangan.


"Aprilia," panggil seseorang yang sedari tadi memanggil namanya namun tidak di sahut oleh pemilik nama, sehingga Ia menepuk bahu Aprilia agar tersadar dari lamunan.


"eh.. em, ada apa.? tanya Aprilia gelagapan karena kaget saat seseorang menepuk bahu nya dengan tiba tiba.


"kalau kerja jangan melamun, nih kamu antar keruangan presdir.!" ucap Mike yang merupakan pempimpin devisi itu.


"ah ia baik" jawab Aprilia lalu beranjak dari duduk nya.


Langkah kaki Aprilia berdiri tepat di depan pintu ruangan presdir, dari daun pintu yang transparan ia melihat sosok pria paruh baya yang katanya pria itu adalah ayah nya.

__ADS_1


tok tok tok,,,


"masuk.!" seru si empunya ruangan.


"permisi pak, ini laporan keuangan yang bapak minta,." ucap Aprilia dengan sopan sambil meletakkan sebuah map di hadapan Pemimpin itu.


menyadari tidak ada respon dari lawan bicaranya Aprilia berinisiatif untuk pergi.


"maaf pak, jika tidak ada lagi yang bapak perlukan, saya permisi pak," ucap Aprilia sambil membungkukan badan Ia mulai melangkah dari tempat nya berdiri,


"tunggu.!" seru Hendra membuat Aprilia menghentikan langkah nya.


"Ada apa pak.?" tanya Aprilia seraya membalikan tubuh nya.


"apa kamu karyawan baru disini.? kenapa saya tidak pernah melihat kamu.?" tanya Hendra mengamati Aprilia dari atas hingga ujung sepatu nya.


"maaf pak, saya mahasiswa yang sedang melakukan magang disini, dan baru dua hari ini saya masuk." Jelas Aprilia, kini matanya menatap jelas pria paruh baya yang menjadi pemimpin perusahaan dan sekaligus pertama kalinya Aprilia melihat wajah ayah kandung nya.


"iya pak, mungkin hanya bagian itu yang memerlukan tenaga magang seperti saya, padahal itu bukan jurusan saya." jawab Aprilia


"hmm.. baiklah." Hendra mengangguk anggkukan kepalanya tanda mengerti.


"maaf pak, kalau begitu saya permisi," Aprilia pamit undur diri, dengan cepat ia meninggalkan ruangan itu. Aprilia khawatir tidak dapat menahan diri akibat emosi dan sakit hati nya sudah mulai mengumpul jadi satu.


"cukup menarik," gumam Hendra saat melihat punggung Aprilia menghilang di balik pintu ruangan megah nya itu.


...🏵🏵🏵...

__ADS_1


Langkah Aprilia gontai memasuki ruang utama rumah nya, bayangan ayah nya seperti menari nari di matanya. Dendam dan kebencian semakin kuat di hati Aprilia.


Bagaimana tidak, dua puluh dua tahun lamanya ia tidak pernah melihat langsung wajah ayah kandung nya, dan kini dengan semua luka dan duka yang sudah Ia lalui bersama ibu dan kakak nya Ia dapat melihat kembali sosok penghianat itu.


"ma..." Tanpa sadar Aprilia berlari memeluk sang mama, tangis nya pecah di pelukan mamanya, hatinya bagai di cabik cabik.


"ada apa sayang.?" Mama Irma bingung melihat anak nya menangis pilu seperti itu.


"Aku sudah melihat pria tua penghianat itu ma," jawab Aprilia di sela tangis nya.


"lalu,.?" Tanya Irma penasaran. sambil menuntun anak nya duduk di sofa.


"sepertinya dia sama sekali tidak mengenali ku ma," lagi lagi Aprilia menangis dengan suara yang lebih keras


"lalu kenapa kamu menangis.? apa dia berbuat sesuatu ?" selidik Irma.


Aprilia hanya menggeleng.


"mama tahu jika kamu ingin melampiaskan amarah mu sekarang juga, tapi mama minta agar kamu bersabar sedikit lagi nak, ingat perjuangan kakak mu, dan mama harap kamu tidak mengecewakan nya." ucap Irma sambil membelai lembut pucuk kepala putrinya.


Aprilia menganggukan kepala nya tanda mengerti. beberapa saat kemudian saat suasana hati nya sudah sedikit membaik Aprilia pamit kekamar.


"ingat kehancuran mu di ambang pintu." batinya dengan senyuman sinis terpancar jelas di bibir indah gadis cantik itu.


🏵🏵🏵🏵


halo halo readers ku sayang,

__ADS_1


bantu like dan jangan pelit Votenya ya cinta ku hhehe


love you 💕🙏


__ADS_2