BALAS DENDAM SANG PRESDIR

BALAS DENDAM SANG PRESDIR
17. Manis Manis Jambu Air.


__ADS_3

Pedebatan yang terjadi berakhir dengan harapan manis pada seorang Lidya Cintya Dermawan. Nama Dermawan diganti oleh sang nenek Rani Dermawan saat Hendra resmi berpisah dengan dengan Irma dan menghapuskan nama Irawan dari keluarga itu.


pagi itu semua anggota keluarga sedang berkumpul di meja makan menikmati sarapan.


"ma, bagaimana jika kita hubungi Lidya.?" usul Hendra pada istri nya yang sejak malam masih saja merajuk tak menentu.


"boleh" sahutnya singkat.


"cepat habiskan sarapan mu ma, kita ke kamar." lanjut Hendra.


"kenapa harus di kamar.? disini saja kenapa.?" masih dengan nada ketus Aurel menyahuti semua ucapan suami nya.


Hendra menarik nafas nya dalam dalam berusaha meredam emosi nya.


"baiklah " ucap Hendra akhir nya menyetujui.


mereka berpindah keruang keluarga, mencoba menghubungi putri kesayangan keluarga itu.


"halo sayang..." suara Aurel begitu kuat saat Lidya menerima panggilannya.


"mama, sejak pulang ke indo.? mama nggak lupa kan dengan pesanan Lidya." Seru nya dari seberang sana.


"tentu tidak dong., kamu apa kabar disana, apa mereka menyakiti mu nak.?" tanya nya menyelidiki keadaan putri nya.


"tidak ma, mereka bersikap baik baik saja, oia bagai mana jika kita vidio call aja ma, aku kangen mama," rengek nya.


"oke sayang.." jawab Aurel dengan nada manja.


"apa suami mu itu tidak berada dirumah sayang.?" tanya Aurel memastikan.


"Tidak ma, mas Daniel sudah berangkat keluar kota tadi pagi" jawab nya.

__ADS_1


"bagaimana Nak, apa ada perkembangan dengan rencana kita.?" tanya Hendra tak sabaran.


"sikap mas Daniel sudah mulai manis manis jambu air pa," jawab nya.


semua bernafas lega dengan jawaban Lidya.


"baiklah sayang kamu tetap ingat akan tujuan kamu, buat dia benar benar jatuh cinta pada mu, dan ingat jangan sampai kamu terjebak dalam permainan." ucap Hendra lagi memperingati putri nya.


deg.


ucapan Hendra seakan menusuk hati Lidya. dengan susah payah ia menelan ludah nya lalu menjawab.


"iya pa. oia Lidya tutup dulu pa ma, Lidya harus keluar ada urusan." ucapnya berbohong.


"oke sayang, daghhh.. "lambaian tangan Aurel hanya dibalas senyum ringan oleh Lidya lalu buru buru menutup panggilan.


"Bagaimana ini, yang dikatakan papa benar adanya, saat ini sepertinya aku sudah mulai mempunyai rasa pada mas Daniel."ucapnya dalam hati.


****


Di sisi lain, tampak Daniel tersenyum miring saat ia mendapat notifikasi melalui pesan whatsApp mengenai perdebatan Hendra dan istrinya akibat pernikahan nya dan Lidya tanpa sepengetahuan istri nya.


"tidak salah Ray mengirim orangnya dan menyamar sebagai asisten disana." ucap nya.


seketika ia juga teringat dengan pesan pesan orang tua Lidya saat mereka melakukan Video call beberapa menit yang lalu. yang masih tetap dipantau oleh Daniel.


"papa tidak sadar berhadapan dengan siapa saat ini" senyum sinis terukir di bibir Daniel.


Sore pun tiba, seperti yang tadi siang ia dengar jika dirinya harus bersikap manis manis jambu air, maka kali ini harus seperti manis manis jambu klutuk.


senyum manis sebisa dipasang di bibir Daniel ia memasuki rumah.

__ADS_1


"assalamualaikum." seru Daniel saat masuk kedalam rumah.


"walaikumsalam " sahut Irma dan April bersamaan. yang kebetulan sedang asyik bergibah di depan televisi.


"kak, sini deh." panggil April sambil menepuk bagian sofa yang kosong di sebelahnya.


"Ada apa adik kaka yang paling manis." goda Daniel seraya mendaratkan bokong nya duduk tempat yang ditunjuk adik nya itu.


"kak, senin depan pengajuan magang akan dilaksanakan, kira kira April magang dimana ya." tanya nya meminta pendapat kakaknya.


"Dermawan grup." Jawab nya santai.


jawaban Damiel membuat jantung mama Irma seperti berhenti berdetak.


"kenapa harus disana kak.? " Tanya nya lagi.


"nanti malam kita berkumpul di ruang kerja kakak, ini adalah waktu yang tepat untuk kamu mengetahui semua nya." jawab Daniel.


"Tapi Niel apa ini tidak terlalu buru buru.?" Irma berusaha mencegah putra nya menunggu waktu lain.


"April sudah cukup dewasa ma, maka ini sangat momen yang tepat." ucapnya meyakinkan sang ibu.


"Baiklah." jawab Irma pasrah.


Bersambung.....


🏵🏵🏵🏵


kembali di aku..


bantu like comen dan vote nya sayang kuu..

__ADS_1


salam 🙏💕


__ADS_2