Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Hilangnya Keperawanan


__ADS_3

Larasati tak menyangka, peristiwa di malam itu berhasil membuat dia berbadan dua.


Bermula saat dia membuka pintu untuk sang tuan muda yang pulang pada pukul 2 dini hari. Sang Tuan pulang dalam kondisi mabuk, sempoyongan dia berjalan memasuki rumah, dari tubuh nya tercium bau alkohol yang menyengat.


''Heh... Pelayan, tolong bantu aku berjalan ke kamar,'' ucap Edgar.


Larasati ingin menolak perintah yang dirasanya aneh tersebut, tapi dia takut Sang Tuan memarahinya, yang lebih ia takuti dia malah dipecat. Akhirnya Laras memegang tubuh Edgar, tangan Edgar merangkul pundaknya. Mereka berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas. Setibanya di lantai atas, Larasati langsung membimbing tubuh Edgar menuju kamar.


"Tuan, sudah.'' Kata Laras seraya melepas tangan Edgar dari pundaknya. Kini, Edgar sudah duduk di kasur king size.


Tanpa disangka, Edgar malah menarik tangan Laras, sehingga tubuh Laras terjatuh di atas kasur, Laras gelagapan, dia berusaha bangun, tapi Edgar malah menindih tubuh itu.


Tatapan mata Edgar begitu tajam menatap Laras, seperti seseorang yang berhasil menerkam mangsa nya.


''Tuan, aku mohon, jangan sentuh tubuh ku. Jangan nodai aku!'' Larasati berulangkali memohon seraya menangis terisak-isak. Dia memukul dada bidang Edgar, menyingkirkan tangan kekar itu, tapi tenaga nya kalah kuat. Alhasil, pria yang tengah mabuk itu berhasil melepaskan pakaian yang di pakai Laras, dengan rakus tangan serta mulutnya menelusuri setiap inci tubuh wanita yang tak berdaya yang ada di bawah nya itu.


''Diam lah Sayang. Aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya begitu gerah, aku akan menyalurkan hasrat ku padamu agar rasa gerah ini segera tuntas. Tolonglah.'' Racau Edgar dengan mata tertutup. Hembusan nafasnya menerpa wajah Laras, dia mencium bibir tipis itu, lidahnya memaksa masuk ke mulut Laras, tapi Laras tak memberi kesempatan sama sekali.


Tak ada celah bagi Laras untuk meminta tolong, karena Edgar terus membekap mulut Laras dengan bibirnya.


Hingga beberapa saat setelah itu.


"Tuan, jangan!'' jerit Larasati saat Edgar menancapkan benda tumpul miliknya ke organ inti milik Laras.


Malam itu, seorang Larasati sudah kehilangan mahkota berharga nya. Dia sudah tidak perawan lagi, keperawanan nya di renggut paksa oleh Sang Tuan Muda.

__ADS_1


Mahkota yang selama ini begitu di jaganya, dia berjanji kelak akan memberikan keperawanannya kepada kekasih halal nya di malam pertama setelah pernikahan, tapi nyatanya, perbuatan Edgar telah meluluh lantakkan impian nya selama ini.


Usai menyalurkan hasratnya, tanpa rasa bersalah sedikitpun, pria bertubuh tegap dengan wajah tampan itu langsung pulas di atas tempat tidur di sisi Laras.


Laras masih menangis, tidak hanya hatinya saja yang sakit, tapi dia merasa ************ juga begitu sakit. Perih nyut-nyutan.


Turun dia dari tempat tidur, dia memungut satu persatu pakaiannya yang tergeletak asal di lantai, lalu memakai dengan cepat.


Setelah itu dengan langkah kaki gontai dia keluar dari kamar sang majikan, dia akan ke kamarnya, kamar pelayan yang ada di lantai bawah di bagian belakang dekat dapur.


''Seharusnya tadi aku tidak membuka pintu untuk Tuan Edgar. Kalau saja aku masih tetap diam di kamar ku, kejadian naas ini tidak akan menimpaku. Bodoh, bodoh sekali kamu Laras. Kini hidup mu sudah hancur. Lelaki mana yang sudi memperistri wanita yang sudah tak perawan lagi. Hiks!'' Laras menangis terisak-isak. Dia duduk di kamar mandi di bawah guyuran shower, membiarkan air menimpa kepala nya lalu turun membasahi seluruh anggota tubuh nya. Laras berulangkali membersihkan tubuh nya dengan sabun, dia ingin menghapus sisa-sisa ciuman Edgar di kulit halusnya. Kini, Laras begitu frustasi. Diusia nya yang masih cukup muda, dia harus mendapatkan cobaan yang begitu berat.


Baru tahun lalu Laras lulus SMA, dia merupakan siswi pintar dan berprestasi tapi dia tak melanjutkan pendidikan ke Universitas karena kondisi ekonomi keluarga yang tak memungkinkan.


Kedua orangtuanya sudah lama meninggal dunia, selama ini dia tinggal bersama Sang Kakek serta Tante dan sepupunya di rumah sederhana yang ada di pinggir kota di kawasan padat penduduk.


Pagi yang cerah. Cahaya matahari menelusup melewati fentilasi jendela, membuat kamar Edgar yang ada di lantai atas menjadi sedikit terang.


Edgar bangun dari tidurnya, duduk dia diatas kasur dengan punggung bersandar pada kepala ranjang.


''Huahh.'' Dia menguap lebar dengan jari-jari tangan mengusap mata.


Lalu matanya terbuka. Dia mengedarkan pandangan ke arah jendela, bisa dia lihat diluar sudah terang benderang, pagi menjelang siang.


"Payah. Aku kesiangan.'' Gumam Edgar seraya memukul kasur.

__ADS_1


Di rumah yang megah itu, dia memang tidak memperbolehkan Para Pelayan untuk membangunkan nya.


Orang yang boleh membangunkan nya hanya Oma nya saja. Kebetulan saat ini sang oma lagi tidak berada di rumah, sang oma lagi diluar negeri, liburan bersama kekasih Edgar.


''Ya ampun. Apa-apaan ini?'' Mata Edgar melotot. Dia kaget begitu menyadari saat ini tubuh nya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang menutupi. Dia juga melihat pakaiannya yang tergeletak secara asal di lantai.


Susah payah dia mengingat kejadian semalam, hingga beberapa saat setelah itu dia ingat semuanya.


Semalam dia datang ke pesta ulangtahun sahabat nya. Nara. Nara merupakan sahabat nya sedari SMA, kini Nara menjabat posisi penting di perusahaan Edgar, di bagian HRD.


Di pesta, Nara memberikan segelas Wine kepada Edgar, tanpa pikir panjang Edgar langsung meminumnya hingga tandas.


Beberapa saat setelah itu, Edgar merasa tubuhnya begitu panas, gerah dan tiba-tiba saja adik kecilnya yang ada di balik celana bangun. Adik kecilnya berdiri tegang.


Edgar juga merasa kepalanya begitu pusing. Sebelum nya tidak pernah dia merasa seperti ini, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang.


Nara mencegah Edgar, dia meminta agar Edgar menginap di rumahnya, tapi Edgar tidak mau. Dia tetap keukeh ingin pulang, karena dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara Nara dan kekasihnya. Selama ini sang kekasih memang tidak suka melihat kedekatan antara Edgar dan Nara. Dia cemburu, sebagai sesama wanita, dia tahu kalau Nara memiliki perasaan khusus kepada Edgar.


Nara begitu kesal karena rencananya untuk menjebak Edgar gagal.


Edgar pulang, hingga sampai di rumah dalam keadaan setengah sadar dia telah menyalurkan hasratnya kepada pelayan yang paling muda di rumah nya.


''Ya ampun. Apa yang telah aku lakukan tadi malam!'' Edgar memegang kepalanya yang mendadak pusing setelah berhasil mengingat semuanya.


Dia menyingkirkan selimut dari kasur, hingga dia semakin dibuat kaget saat melihat bercak darah tercetak jelas di spring bed bewarna putih.

__ADS_1


''Darah segar. Pelayan itu? Dia masih perawan? Aku yang telah merenggut keperawanan nya? Bagaimana keadaan nya saat ini?'' pertanyaan itu begitu menyiksa Edgar. Bangkit dia dari kasur, dia lalu membersihkan dirinya di kamar mandi, nanti setelah mandi dia akan menemui sang pelayan yang telah dia nodai.


Bersambung.


__ADS_2