
''Saya hanya ingin memastikan keadaan mu, apakah sudah baikan?'' ucap Edgar. Duduk dia di sisi kasur, Laras semakin beringsut menjauhi Edgar.
Tampan sih, tapi mengingat perbuatan Edgar malam itu, Laras jadi takut dan membenci sang tuan.
''Saya rasa sampai kapanpun saya tidak akan pernah baikan. Mungkin perlahan fisik saya akan terlihat baik, tapi hati saya tidak. Tuan telah berhasil membuat saya trauma.'' Lirih Laras menunduk. Dia tidak berani menatap Edgar. Sementara Edgar terus menatap Laras lekat.
Di luar, Retno terus berusaha menguping. Samar-samar suara Laras dan Edgar terdengar, Retno tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dua orang berbeda kasta tersebut. Edgar berasal dari keluar kaya, sementara Laras, tumbuh dalam keluarga tak sempurna dan menyedihkan.
"Kalau kamu mau, saat kamu sudah sembuh, pergilah kamu dari sini, pindah keluar kota atau luar negeri. Atau bahkan kamu bisa melanjutkan pendidikan di universitas ternama, gunakan kartu kredit yang saya beri. Saya berdoa, semoga suatu saat hidup mu bahagia dan menemukan seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya.'' Tutur Edgar. Dia merasa sangat bersalah kepada Laras atas kejadian malam itu.
Laras tak menyahut lagi, dia diam seribu bahasa. Lidahnya seakan kelu untuk berbicara dengan pria yang telah merenggut kesuciannya.
Mengingat itu, sesak sekali dada Laras. Namun, sebisa mungkin dia move on, dia tak ingin semakin berlarut-larut dengan masalah yang ada, karena apapun yang akan dilakukannya, keperawanan nya tak akan kembali lagi.
Berdiri Edgar, lalu dia meninggalkan kamar Laras.
''Jahat sekali dia. Apa dia ingin mengusir aku dari sini. Dasar, kebanyakan orang kaya memang sombong dan angkuh. Mereka pikir dengan uang dan dengan kekuasaan mereka bisa bisa berbuat apa saja.'' Ucap Laras di dalam hati. Air matanya menetes lagi.
Tiba-tiba Retno masuk ke kamarnya, cepat Laras menghapus air matanya dengan punggung tangan.
''Laras, kamu kenapa nangis? Apa Tuan Muda menyakiti kamu?'' tanya Retno khawatir melihat kondisi Laras.
''Enggak Bik. Aku tidak kenapa-kenapa. Tuan Edgar tidak menyakiti aku.'' Laras memaksa senyum.
''Sungguh?''
''Iya Bik.''
''Kamu kalau lagi ada masalah jangan sungkan cerita sama Bibi ya, Bibi siap kapan saja mendengar keluh kesah mu.''
''Makasih Bi.''
*
Pagi-pagi sekali, Laras sudah sibuk dengan pekerjaannya menyapu halaman rumah yang luas, halaman bak taman, di penuhi bunga-bunga serta kolam ikan.
Pagi ini kondisinya sudah membaik.
Sementara itu, Edgar buru-buru memasuki kendaraan roda empat miliknya, dia akan pergi ke Bandara untuk menjemput Sang Oma serta Sang Kekasih.
Saat mobil sudah berjalan pelan, bisa Edgar lihat Laras yang tengah menyapu.
__ADS_1
''Syukurlah, akhirnya dia sudah bisa beraktivitas. Aku harap dia tidak membocorkan kepada siapa-siapa tentang rahasia kami.'' Gumam Edgar tersenyum lega.
*
Setiba di Bandara.
"Hai, Honey. Aku kangen banget sama kamu.'' Kartika memeluk serta mengecup pipi Edgar. Tidak tertinggal bibir mereka juga sempat beradu beberapa saat.
Sang Oma tersenyum melihat keromantisan Edgar dan Kartika. Dia berharap, Edgar dan Kartika segera meresmikan hubungan mereka ke jenjang lebih serius. Menikah.
Selanjutnya gantian Edgar memeluk Sang Oma.
''Duh, cucu Oma makin ganteng aja.'' Puji Oma Risma.
''Aku tahu, cucu kesayangan Oma ini 'kan memang ganteng dari lahir.'' Balas Edgar percaya diri.
''Idih, kamu percaya diri sekali, Honey.'' Timpal Kartika bercanda.
Lalu mereka bertiga tertawa kecil.
Mereka memasuki mobil, Kartika dan Edgar duduk di kursi depan, sementara Oma Risma duduk di kursi belakang.
''Ke mana kita? Langsung pulang atau mau mampir dulu di restoran?'' tanya Edgar. Kartika merebahkan kepalanya pada bahu kekar sang kekasih.
''Siap Oma ku Sayang.'' Sahut Kartika cepat.
''Kalian kapan akan menikah? Oma sudah tidak sabar lagi ingin menimang Cicit.''
Mendengar itu, Edgar dan Kartika saling pandang beberapa saat.
''Aku sih terserah Kartika saja, Oma. Saat ini kalau dia minta dinikahi aku bersedia.''
''Eh, tapi aku belum siap Oma. Aku 'kan masih pengen kerja menjadi modeling, aku masih pengen meniti karirku. Kalau aku nikah terus hamil, pasti bentuk tubuh ku akan berubah, aku akan gendut dan tak menarik lagi. Lah, siapa coba yang mau menjadikan aku model lagi,'' jelas Kartika keberatan.
Edgar dan Oma Risma hanya mampu menghembus nafas panjang setelah mendengar penuturan Kartika. Selalu saja begitu, Kartika masih tetap menolak untuk menikah, padahal dia dan Edgar sudah berpacaran cukup lama.
Kalau Edgar mau, banyak sekali wanita yang mengejarnya secara terang-terangan, tapi dia masih mengharapkan Kartika untuk menjadi ibu dari anak-anak nya.
Setibanya di rumah, langsung saja Oma Risma turun dari mobil.
Begitu tahu sang majikan sudah pulang dari liburan, Retno berjalan cepat menghampiri, ia membantu mendorong koper Oma Risma.
__ADS_1
Sedangkan koper Kartika belum diturunkan, karena nanti Edgar akan mengantarkan Kartika pulang.
''Bagaimana rumah, Retno? Apakah semuanya aman?'' tanya Oma Risma.
''Alhamdulillah, semuanya aman terkendali Nyonya.'' Jawab Retno sopan.
Oma Risma langsung berjalan ke kamarnya yang ada di lantai atas, dia sangat merindukan tempat pembaringan nya itu, rasanya ia ingin segera merebahkan diri di kasur empuknya.
Edgar dan Kartika juga masuk ke kamar Edgar.
Setibanya di kamar, cepat Edgar mengunci pintu kamar dari dalam.
''Sayang, kangen.'' Ucap Kartika manja, dia memeluk tubuh tegap Edgar dari belakang.
Edgar membalikkan tubuhnya.
''Aku juga kangen banget banget sama kamu Sayangku.''
Sepasang kekasih itu saling menatap lekat dengan nafas saling memburu.
Lalu, Edgar mendaratkan bibirnya pada bibir Kartika.
Mereka berciuman hangat, penuh nafsu dan cukup lama.
Mereka memang sudah terbiasa berciuman, tapi percaya lah, Edgar tidak pernah meminta lebih kepada Kartika. Dia masih menjaga baik-baik harga diri kekasihnya itu. Meski sering kali Kartika menawarkan diri nya kepada Edgar, tapi Edgar tak mau melakukan hal hina itu.
Hanya Laras, iya, hanya Laras seorang wanita yang pernah ditidurinya, itupun dalam keadaan tidak sadar.
*
Satu bulan berlalu.
''Huek, huek.'' Berlari cepat Laras ke kamar mandi, dia merasa mual yang begitu hebat. Akhir-akhir ini, dia merasa tubuhnya begitu lemas dan sering juga pusing berkunang-kunang.
Mungkin aku kurang darah, pikirnya waktu itu.
Tapi kali ini, mendadak dia takut sendiri. Dia curiga kalau ia sedang berbadan dua, apalagi dia telat datang bulan, bulan ini.
''Tidak, ini tidak boleh terjadi.'' Laras menangis frustasi dengan nafas terengah-engah. Ia memuntahkan air yang cukup banyak, sehingga membuat dia merasa sedikit sesak.
Bersambung.
__ADS_1
Hai, Hai.
Dukung terus karya aku yang satu ini, ya. Like, komen dan kasih vote dan hadiahnya juga.