
''Hello, bagaimana?'' tanya Edgar pada lawan bicaranya. Ia sedang berbicara lewat sambungan telepon. Saat ini Edgar masih dalam perjalanan menuju Apartemen. Penampilan nya tampak begitu rapi dan terlihat tampan. Kemeja putih dipadukan dengan celana panjang bewarna senada membaluti tubuh tegapnya. Malam ini ia dan Laras akan menikah siri terlebih dahulu, hingga Laras melahirkan barulah ia akan menikahi Laras secara resmi. Itulah rencananya. Saat ini ia tidak ingin Laras di hujat oleh semua orang, ia ingin melindungi Laras.
''Semuanya sudah siap Bos. Penghulu dan beberapa saksi sudah tiba di Apartemen,'' ujar orang suruhan Edgar.
Mendengar itu, Edgar merasa lega, ia memutuskan panggilan. Lalu jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, ia menanyakan tentang kesiapan Laras. Tidak butuh waktu lama Laras langsung membalas pesannya. Laras mengatakan semuanya sudah siap, tinggal menunggu kedatangan Edgar saja.
''Bro, tolong tambah lagi kecepatan nya.'' Edgar menepuk kecil bahu Niko, sang sahabat sekaligus sang asisten pribadi yang lagi menyetir.
''Baik Bos. Tidak sabaran benget kek nya. Gue senang lihat lho bahagia. Semoga semuanya berjalan lancar.''
''Amin. Makasih Nik. Karena lho selalu mendukung keputusan gue.''
''Sama-sama Bos,'' balas Niko tulus. Pun Niko, penampilan nya tidak kalah tampan dibandingkan Edgar.
*
Akhirnya mobil yang membawa Edgar tiba di pelantaran Apartemen, keluar ia dari mobil dengan sedikit terburu-buru, ia meninggalkan Niko begitu saja.
Niko hanya bisa tersenyum sambil menggeleng kepala melihat tingkah sang sahabat, ia penasaran seperti apa wajah calon istri Edgar sehingga bisa membuat Edgar begitu tergila-gila. Iya, Niko memang belum pernah bertemu langsung dengan Laras, dan akhirnya ia pun ikutan melangkahkan kaki lebar mengejar langkah kaki Edgar, ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat Laras.
Setibanya di Apartemen Laras, Kakek Ridwan menyambut kedatangan Edgar dengan begitu ramah.
Kakek Ridwan berjalan berdampingan dengan Edgar menuju ruangan yang tidak terlalu ramai. Sebelum akad, ia mengajak Edgar mengobrol berdua terlebih dahulu.
''Laras sudah menjelaskan semuanya, sebenarnya Kakek ingin marah karena kamu telah membuat dia hamil diluar nikah. Tapi semua sudah terlanjur terjadi, kalian melakukan itu tanpa ada niatan, sekarang Kakek hanya bisa merestui hubungan kalian, semoga semuanya berjalan lancar. Jaga cucu Kakek baik-baik Edgar, buat ia bahagia, Kakek percaya sama kamu,'' tutur Kakek Ridwan.
''Iya Kek. Aku janji akan membuat Laras dan anak kami bahagia, akan aku jaga mereka dengan sebaik-baiknya,'' ucap Edgar sungguh-sungguh.
Kakek Ridwan mengangguk-anggukkan kepalanya, melihat dari sikap Edgar, ia yakin pria tampan itu tidak berbohong.
*
Laras keluar dari kamar dengan sedikit menundukkan wajahnya, ia merasa gugup karena semua pasang mata tengah tertuju kepadanya, yang paling membuat ia gugup adalah tatapan yang begitu dalam dari sang calon suami.
Edgar terpesona melihat kecantikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Kebaya putih kekinian dengan rambut di sanggul serta wajah dipoles make up tipis membuat Laras tampak begitu cantik.
__ADS_1
Begitu juga Niko, ia pun mengakui, Laras memanglah sangat cantik, lebih cantik dari Kartika.
''Hm, wajar saja, sudah cantik masih belia pula. Pintar juga Tuan Muda mencari calon istri.'' Niko berucap di dalam hati seraya tersenyum simpul.
Laras duduk di samping Edgar, Kakek Ridwan dan Pak Penghulu sudah siap untuk menikahkan Edgar dan Laras.
Tangan Edgar dan Kakek Ridwan saling berjabat setelah itu acara di mulai.
.
.
"Sah.''
Riuh terdengar kata bahagia itu, itu menandakan kalau Laras dan Edgar sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
*
''Gue pulang. Baik-baik Bos di sini, awas hati-hati mainnya, jangan terlalu kasar,'' bisik Niko menggoda Edgar.
''Aman, semuanya biar gue yang urus.''
''Sip.''
Niko pamit kepada Edgar, Kakek Ridwan dan Laras. Ia adalah tamu undangan yang paling belakangan pulangnya.
''Kakek ke kamar dulu, ya. Udah ngantuk Kakek,'' ucap Kakek Ridwan sembari menguap lebar, lalu ia berjalan ke kamarnya.
''Kenapa mendadak semua orang meninggalkan kita hanya berdua saja,'' ucap Laras polos.
''Itu karena mereka ingin kita menghabiskan malam ini berdua saja,'' ucap Edgar tersenyum jahil. Usai berucap, Edgar lalu menggendong tubuh Laras ke kamar. Laras protes dengan memukul kecil dada bidang Edgar.
''Turunin, malu sama Kakek,'' ucap Laras malu-malu.
''Kakek udah bobok, lagian beliau tidak akan marah karena sekarang kamu sudah resmi menjadi milikku,'' balas Edgar.
__ADS_1
Kakek Ridwan yang masih berdiri di dekat daun pintu tersenyum mendengar perkataan Laras dan Edgar, ia jadi ingin menikah lagi. Hahaha, canda menikah lagi. Lagian udah tua juga, bisa-bisa pinggangnya encok kalau di bawa goyang.
Edgar meletakkan tubuh Laras dengan hati-hati di atas kasur yang bertaburan kelopak bunga mawar, kamar pengantin itu tampak indah, Laras menghiasi kamar sebisanya.
Lalu Edgar menutup serta mengunci pintu.
Laras duduk di atas kasur dengan perasaan tak menentu, antara bahagia dan grogi juga. Walaupun ia sudah hamil anak Edgar, tapi rasanya ia begitu gugup kalau Edgar menyentuh tubuh nya.
''Sayang, sini aku bantu buka kebaya nya,'' Edgar sudah duduk di samping Laras.
''E-eh, enggak usah, aku bisa sendiri,'' repleks Laras berdiri dari duduknya. Edgar tersenyum melihat itu.
''Yakin?''
''Iya, aku ke kamar mandi dulu, mau lepasin kebaya sekaligus mau bersihin diri juga,'' Laras berjalan buru-buru ke kamar mandi dengan wajah bersemu merah.
''Jangan lama-lama,'' goda Edgar.
''Iya,''
Kini Edgar duduk sendiri di kasur.
Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu ia menulis pesan untuk sang oma.
''Aku tidak pulang malam ini Oma. Oma jangan tunggu aku, beristirahat lah dan tidur yang nyenyak ya Oma.'' Send. Pesan terkirim, walaupun sang oma tak merestui hubungan nya dengan Laras, tapi Edgar tetap akan berusaha menjadi cucu yang baik.
Di tempat berbeda, Risma merasa amat geram setelah membaca pesan dari Edgar.
"Oma pastikan, cepat atau lambat wanita itu akan menghilang dari kehidupan mu Edgar,'' gumam Risma dengan emosi yang begitu membuncah.
Risma sangat-sangat emosi saat ini karena orang suruhan nya gagal menghabisi Laras serta menggagalkan pernikahan Laras dan Edgar. Namun hal itu tidak membuat ia menyerah begitu saja, malahan ia semakin ingin menyingkirkan Laras.
''Oma, hatiku begitu sakit sekarang. Aku harus bagaimana lagi Oma agar Edgar mau kembali kepada ku,'' ucap Kartika yang duduk di sisi Risma.
Risma begitu terluka melihat wajah Kartika yang tak seceria serta secerah dulu lagi. Kini hanya ada air mata di pipi Kartika.
__ADS_1
''Kamu tenang saja ya Sayang. Semuanya biar Oma yang beres, kamu harus percaya sama Oma,'' Risma menggenggam tangan Kartika, meyakinkan Kartika kalau Edgar akan kembali lagi kepada Kartika.