
Biasanya Kartika yang selalu memancing nafsu kelelakian nya, tapi kali ini tidak. Ia terjebak sendiri, ia yang menginginkan mencecap bibir ranum Laras.
Nafas Edgar semakin memburu, ingin meminta lebih, tapi ia sadar diri, ia masih menahan batasan yang tidak boleh dilanggar.
Tangannya bergerak membelai perut Laras yang masih datar, entahlah, di saat telapak tangannya bersentuhan dengan perut Laras, ada hal tak biasa yang dirasa, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah beberapa menit berlalu, barulah Edgar menarik wajahnya dari wajah Laras. Ciuman nya terlepas, bibir Laras nampak basah, perlahan Edgar menghapus bibir Laras dengan tangannya.
Laras hanya diam saja, wajahnya bersemu. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang begitu membuncah. Seperti nya benar, dia telah jatuh cinta kepada sosok Edgar. Kalau tak cinta dan tak tertarik, mana mungkin ia sudi bibir nya di cium oleh Edgar.
''Saya pamit pulang,''
''Iya.''
''Maaf,''
Laras mengangguk kecil.
''Besok setelah pulang dari kantor, saya akan ke sini, saya akan menjelaskan semuanya kepada Kakek,''
''Baiklah,'' lagi, Laras mengangguk.
''Jaga diri baik-baik,'' sebelum benar-benar melangkah pergi, Edgar mengusap pucuk kepala Laras dengan lembut, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Laras mendongak menatap Edgar lekat.
__ADS_1
''Hati-hati di jalan, ya,'' ucapnya. Kali ini Edgar yang mengangguk.
Setelah itu Edgar benar-benar berlalu dari Apartemen.
Selepas kepergian Edgar, punggung Laras bersandar pada pintu yang sudah tertutup.
Air matanya menetes, ia menangis karena terharu dengan perlakuan Edgar.
Selama ini, jarang sekali orang yang bersikap begitu lembut kepadanya.
*
Edgar tiba di rumah.
Ternyata Kartika masih belum pulang, ia menunggu Edgar, meminta penjelasan kepada sang kekasih.
Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
''Sayang, kamu di sini ternyata,'' ucap Edgar saat dirinya sudah berada di dekat Kartika.
Dada Kartika turun naik, sedari tadi sebisa mungkin ia menahan emosi nya agar tak meluap-luap.
''Dari mana saja kamu?'' tanya Kartika dengan wajah tak bersahabat. Di tatapnya wajah sang kekasih dengan tatapan tajam. Kedua tangannya menyilang melekap dada.
''Aku tadi habis ketemuan sama teman lama, biasa, kami mengobrol banyak hal hingga lupa waktu,'' jelas Edgar berbohong. Ia tersenyum tipis.
__ADS_1
''Terus kenapa ponsel mu mati?'' Kartika masih bertanya, ia belum puas mendengar jawaban dari sang kekasih.
''Em, ponsel aku lowbat Beib,''
''Mana? Aku pengen lihat,''
Sedikit ragu Edgar mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu ia serahkan kepada Kartika.
Setelah dilihat, ternyata benar ponsel Edgar lowbat.
Kartika menyerahkan kembali ponsel itu kepada sang pemiliknya.
''Lain kali kamu jangan pergi lagi tanpa memberitahu aku,'' kata Kartika dengan nada mulai melembut.
''Iya Edgar, Kartika tadi sangat mencemaskan mu,'' timpal sang oma.
"Iya, maaf,'' sahut Edgar.
Lalu mereka bertiga masuk ke rumah, Kartika belum mau pulang padahal malam sudah semakin larut, katanya dia ingin mengobrol dulu bersama Edgar.
Oma Risma pamit ke kamar, ia meninggalkan Edgar dan Kartika berduaan di sofa ruang tamu.
Selepas kepergian Risma, Kartika bergelayut manja di tangan Edgar. Bahkan dengan berani nya dia mengecup bibir serta pipi Edgar.
Bukannya merasa tertantang, kali ini Edgar malah bosan dan risih dengan ulah Kartika.
__ADS_1
Dia sendiri pun merasa heran, kemana rasa cinta nya yang dulu begitu menggebu-gebu untuk Kartika.
Bersambung.