Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Niat Edgar


__ADS_3

Di perusahaan.


''Nik, nanti setelah jam makan siang, aku akan pergi ke suatu tempat. Kamu gantiin aku di kantor, ya. Tolong handle semua pekerjaan ku,'' kata Edgar kepada Asisten pribadi sekaligus teman dekatnya yang seusia dengan nya.


''Baik Bos. Memangnya Bos mau pergi ke mana?'' tanya Niko kepo.


''Ada deh,''


''Pasti Bos mau jalan sama Kartika. Alaahh nggak usah pakai rahasia rahasia segala, sudah ketebak soalnya,'' ucap Niko sok tahu.


Mereka duduk berhadapan dengan satu meja sebagai pembantas.


Niko masuk keruangan Edgar karena mengantarkan beberapa berkas yang harus di tangani oleh sang bos.


''Kali ini tebakan mu salah,''


''What? Lalu Bos mau ke mana?''


''Kamu tidak perlu tahu Nik. Yang penting handle semua pekerjaan yang ada, kalau tidak bonus bulanan mu aku potong. Dan satu lagi, kalau Kartika datang ke sini mencari keberadaan aku, kamu katakan saja, kamu tidak tahu aku pergi ke mana,'' tutur Edgar serius.


Niko mengangguk-angguk kecil seakan mengerti.


''Asiaap Bos.'' Niko tak banyak bertanya lagi, karena dia takut sang bos memotong bonus bulanan nya. Meskipun sebenarnya dia merasa penasaran mau kemana sang bos.


Niko permisi keluar, kini tinggallah Edgar sendiri di ruangan nya yang luas.


Dia duduk di kursi kebesaran nya menghadap layar laptop serta tumpukan berkas, tapi pikirnya tertuju kepada satu orang wanita, yaitu Laras.


Dia merasa sangat merindukan Laras serta janin yang ada dikandungan Laras.


Tiba-tiba Edgar terbayang-bayang saat mereka berciuman tadi malam, mengingat itu, ia jadi senyum-senyum sendiri, persis seperti seseorang yang tengah kasmaran.


''Kira-kira Laras mau di bawa apa nanti, ya? Mangga muda? Rujak? Atau apa? Ah, aku lupa tadi malam minta nomer ponselnya,'' ucap Edgar di dalam hati.


''Wanita itu, dia telah berhasil menghipnotis aku, membuat aku jatuh cinta dengan paras cantik alami serta sikap lugu nya,'' sambungnya masih tersenyum-senyum sendiri.


Benar lah sekarang, di hati Edgar, nama Kartika sudah tergantikan dengan nama Laras.


Lama-lama pacaran membuat Edgar bosan, apalagi Kartika yang selalu menolak untuk dinikahi, ada-ada saja alasannya.


Edgar berpikir Kartika hanya buang-buang waktu saja, padahal usia mereka sudah berangsur tua. Pun Oma Risma, ia begitu menginginkan keturunan dari Edgar, sama seperti Edgar. Dan Laras lah yang bisa memberikan dia keturunan. Meskipun Laras bukan lah wanita karir yang memiliki pergaulan luas, tapi kepolosan nya sudah berhasil membuat Edgar jatuh cinta.


Padahal Edgar banyak sekali kenal dengan wanita cantik nan modis, apalagi karyawan wanita di perusahaan nya, bisa di bilang semuanya cantik-cantik, tapi bisa-bisanya Edgar jatuh cinta kepada Laras.

__ADS_1


Laras berbeda, ia wanita spesial.


Benarlah kata sebagian orang, kalau cinta itu buta.


*


Saat jam makan siang datang, buru-buru Edgar keluar dari ruangan nya. Tadi malam dia sudah berjanji kepada Laras, dan ia harus menepati janjinya itu. Ia tak ingin membuat Laras kecewa.


"Eh, Pak Edgar mau ke mana?'' tanya Nara, karyawan yang menjabat posisi HRD. Nara adalah wanita yang menjebak Edgar malam itu, dia sudah lama sekali menyimpan perasaan suka kepada Edgar, dan ia sangat menginginkan hubungan Edgar dan Kartika kandas.


''Saya mau keluar,'' jawab Edgar dengan wajah datar tanpa menoleh kearah Nara.


Kini, Nara sudah mensejajarkan langkah dengan Edgar.


''Aku ikut ya,'' ucap Nara genit.


''Tidak. Kamu tetaplah stand by di kantor, bekerja lah dengan baik,''


''Tapi...'' wajah Nara dibuat sendu.


Tapi sayangnya, Edgar sama sekali tak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya.


Masuk dia ke dalam mobil tanpa memperdulikan Nara, Nara mengetuk-ngetuk kaca mobil minta dibukakan.


Edgar menggeleng melihat sikap Nara yang sudah diluar batas.


Sebenarnya Nara adalah anak dari salah satu petinggi perusahaan, Ayahnya merupakan seorang pemimpin di perusahaan lain, tapi karena ingin mendekati Edgar, ia rela berkerja di perusahaan Edgar.


Edgar yang sudah lama berteman dengan Nara merasa sungkan kalau harus memecat Nara, alhasil sekarang dia tetap memperkerjakan wanita kegatelan itu.


*


Edgar menghentikan mobil nya di depan warung rujak, lalu ia membeli rujak sebanyak 2 porsi.


Menurut sepengetahuan nya, wanita hamil suka sekali menyantap rujak serta buah-buahan yang memiliki rasa yang asem.


Aneh memang. Begitu pikirnya.


Selesai membeli Rujak, Edgar singgah lagi di warung martabak, ia membeli martabak telur serta martabak kacang untuk Kakek Laras.


Niat Edgar benar-benar serius, bahkan dia sudah kepikiran untuk memperistri Laras. Iya, dia ingin menikahi Laras dalam waktu dekat, sebelum kandungan Laras membesar. Ia tak ingin Laras di hina karena hamil diluar nikah, ia takut Laras stres dan berakibat patal pada janin yang di kandung.


Dan secepatnya juga dia akan mengakhiri hubungan nya dengan Kartika.

__ADS_1


*


Edgar tiba di depan pintu Apartemen dengan tangannya menenteng plastik.


Ia memencet bel beberapa kali, tidak lama setelah itu pintu di buka dari dalam.


Dadanya mendadak berdebar-debar saat melihat wanita yang dicintai muncul dihadapan, apalagi hari ini Laras tampak cantik dengan rambut hitam indah tergerai sepunggung.


''Silahkan masuk Tuan,'' ucap Laras dengan wajah merona. Ia senang, karena Edgar menepati janjinya.


Saat sudah tiba di dalam, mendadak Edgar dilanda rasa gugup saat melihat Kakek Ridwan tengah duduk di sofa.


Kakek Ridwan berdiri dari duduknya, lalu ia mempersilahkan Edgar duduk.


''Duduklah anak muda. Kamu tampan sekali,'' ucap Kakek Ridwan.


Tadi Laras sudah mengatakan kalau mereka akan kedatangan tamu.


"Ini, untuk Kakek,'' Edgar meletakkan plastik berisi kotak martabak di atas meja di depan Kakek Ridwan.


''Dan ini untuk mu,'' lanjut Edgar, menyerahkan plastik berisi rujak kepada Laras. Laras menerima nya cepat.


''Kenapa plastiknya berbeda?'' tanya Kakek Ridwan heran.


''Karena isinya berbeda Kek. Ini punya Kakek, makanlah. Mumpung masih panas,'' kata Edgar menunjuk kota martabak.


Kakek Ridwan langsung saja mengeksekusi martabak tersebut, sudah lama sekali dia tidak menikmati martabak makanan kesukaan nya itu.


Laras tersenyum melihat sang kakek begitu lahap, pun dirinya juga sudah tidak sabar ingin menyantap rujak. Dari aromanya, Laras sudah bisa menebak kalau itu adalah rujak.


''Ternyata Tuan Edgar pengertian juga. Tau aja dia kalau aku lagi kepengen makan rujak,'' ucap Laras di dalam hati.


Setelah beberapa menit, pembicaraan serius akhirnya akan di mulai. Edgar akan menceritakan semuanya kepada Kakek Ridwan, agar niatnya untuk menikahi Laras semakin mudah.


Mereka sudah duduk di sofa, Laras duduk di samping sang kakek, sedangkan Edgar duduk di depan di sofa yang berbeda.


Tidak hanya Edgar, Laras pun sama gugup nya.


Ia harap sang kakek akan mengerti, ia hamil bukan maunya, semua terjadi tanpa diduga. Yang terpenting sekarang Edgar mau bertanggungjawab.


''Kek, perkenalkan nama saya Edgar, saya adalah pria yang akan menikahi cucu kakek,'' Edgar berucap langsung ke poin nya, hal itu membuat Laras kaget.


Ia menatap Edgar dengan perasaan sulit diartikan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2