
Sebelum benar-benar berlalu dari halaman rumah yang tidak terlalu luas, Laras dan Kakeknya menatap lamat-lamat rumah tempat mereka bernaung selama ini, di rumah sederhana itu banyak sekali kenangan yang telah tercipta.
Walaupun berat, tetapi mereka harus pergi. Karena mereka sudah tidak sanggup lagi hidup satu atap bersama orang-orang egois seperti Ida dan Dira.
Ida dan Dira berdiri dengan pongahnya di dekat pintu yang terbuka lebar, mereka menatap kepergian Laras dan Kakek Ridwan dengan senyuman remeh. Mereka begitu yakin akan ada waktunya Laras dan Kakek Ridwan kembali lagi ke rumah itu.
''Kita lihat saja besok Sayang, palingan mereka hanya sanggup 2 hari atau tiga hari hidup diluar,'' ucap Ida meremehkan Ayah serta keponakan nya sendiri. Ia tidak takut kualat karena telah menjadi anak durhaka.
''Iya, Bu. Aku juga yakin. Sok-sokan banget Laras itu, jijik banget aku liat dia,'' balas Dira mencebik kesal.
Lalu dua wanita itu masuk ke rumah, mereka menutup pintu serta mengunci nya dari dalam.
Sementara Laras dan Kakek Ridwan sudah tiba di jalan raya, bertepatan dengan itu, taksi yang di pesan Laras datang. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka langsung memasuki kendaraan roda empat yang tengah menyala.
''Jalan, Pak.'' Ucap Laras lembut saat dia dan kakek nya sudah duduk anteng di kursi belakang.
Supir taksi mengangguk, ''Baik Neng,'' balas nya. Lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan.
''Kek, aku seneng benget bisa berada di sisi Kakek seperti saat ini,'' ucap Laras memecah kebisuan yang sempat tercipta.
''Iya, Laras. Kakek juga senang. Apalagi bisa keluar bersama kamu. Rasanya sudah lama sekali Kakek tidak menaiki kendaraan roda empat dan menyaksikan betapa ramainya jalanan ibukota di waktu senja.''
''Besok, aku janji akan membawa Kakek jalan-jalan mengitari Ibukota setiap minggu atau bahkan kalau sempat setiap hari. Aku senang lihat Kakek senang.''
''Kamu memang cucu yang baik Laras. Kakek bersyukur dan bangga bisa memiliki cucu seperti mu,'' puji Kakek Ridwan.
Bukannya bahagia karena telah di puji, tapi mimik wajah Laras tiba-tiba berubah sendu dan salah tingkah. Dia mengalihkan wajahnya keluar ke kaca mobil.
''Aku tidak sebaik yang Kakek kira, Kek. Aku kotor. Aku sudah hamil diluar nikah. Entah bagaimana tanggapan Kakek setelah tahu kenyataan yang sesungguhnya,'' ucap Laras di dalam hati dengan perasaan pilu.
Kakek Ridwan menyentuh bahu Laras.
''Kamu kenapa, Laras?''
''Tidak Kek, aku tidak apa-apa. Aku cuma pengen lihat gedung-gedung serta kelap-kelip cahaya lampu di kota Jakarta,'' jawab Laras, ia kembali menatap kepada sang kakek, sudut bibirnya tertarik ke atas, ia memaksa senyum.
*
Dira dan Ida tengah asyik menyaksikan layar televisi yang menyala sembari menikmati cemilan yang berupa jajanan makanan ringan. Di mana televisi tersebut sedang menayangkan sinetron azab. Mereka tampak begitu fokus.
__ADS_1
Namun, ketukan di pintu, berhasil mengalihkan fokus mereka.
Ida dan Dira saling tatap.
Lalu mereka tertawa lebar.
''Ha ha ha, belum ada sejam, mereka sudah pulang. Ini kesempatan Ibu untuk menjadikan Laras sebagai pembantu di rumah ini, dan memaksa nya bekerja lagi supaya kita bisa jajan setiap saat,''
''Aku juga pengen banget ngerjain dia, Bu. Akan aku suruh dia mengerjakan tugas kuliah aku, dia kan pinter,'' timpal Dira.
''Ya sudah, ayo kita buka pintunya, lalu kita tertawa ngakak di depan mereka, menertawakan kebodohan mereka,'' ucap Ida.
Ida dan Dira berjalan menuju pintu, saat pintu sudah terbuka, tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang bertamu, mereka langsung tertawa lebar persis seperti orang gila. Mulut mereka terbuka lebar dengan mata menyipit.
Pria tampan yang berdiri di depan mereka merasa bingung sendiri.
''Ini beneran alamat rumah Laras bukan? Kok malah wanita-wanita stres yang keluar,'' ucap Edgar di dalam hati seraya menggaruk kening nya yang tak gatal sama sekali.
Dira dan Ida berhenti tertawa, dan betapa kagetnya mereka melihat siapa yang ada di depan mereka sekarang.
Mereka terdiam, terpesona dengan ketampanan Edgar.
Ternyata mereka memang tidak salah lihat.
''Bu, kita salah orang, Bu. Yang datang kok malah pangeran aku. Duh, jadi malu aku nya,'' bisik Dira di dekat telinga Ida.
''Dia bukan pengeran kamu Dira. Tapi dia adalah calon papa tiri kamu,'' balas Ida tak mau kalah.
''Ibu kali ini ngalah aja ya sama yang muda. Dia pantasnya bersanding dengan ku,''
''Tidak Dira!''
Ida dan Dira sibuk berdebat memperebutkan pria yang masih belum mereka ketahui apa tujuan nya datang bertamu.
Edgar semakin pusing melihat tingkah dua wanita yang ada di depannya.
Akhirnya dia bersuara.
''Ehm, permisi. Apa benar di sini Laras tinggal?'' tanya Edgar dengan suara nya yang tegas.
__ADS_1
''Laras?'' Ida dan Dira saling pandang.
''Iya, Larasati,'' ucap Edgar memperjelas.
''Laras si anak yatim-piatu itu tidak tinggal di sini, dia sudah pergi, sudah saya usir.'' Ujar Ida.
''Pergi kemana dia?''
''Kami tidak tahu dia pergi kemana, Tuan. Emangnya kenapa Tuan Tampan mencari wanita jelek itu?'' tanya Dira.
Karena merasa tidak berhasil menemukan Laras, akhirnya Edgar memutuskan untuk mencari Laras ke tempat lain saja. Dia melangkahkan kaki lebar menuju mobilnya.
Sungguh, rasanya malas sekali dia berbasa-basi sama dua wanita yang dianggapnya begitu aneh.
''Tuan, jangan pergi dulu. Kenapa Tuan tak mencari aku saja? Aku lebih cantik dibandingkan Laras!'' seru Dira. Dia mengikuti langkah kaki Edgar dari belakang.
Karena merasa terganggu dengan ulah Dira, Edgar membalikkan tubuhnya, lalu dia menatap Dira dengan tatapan tak bersahabat.
''Jangan ikuti Saya lagi. Kamu bukanlah wanita tipekal Saya. Saya sama sekali tidak tertarik dengan mu!'' bentak Edgar.
Dira merasa amat terhina setelah mendengar bentakan Edgar.
''Dasar pria sombong. Padahal aku tadi sudah sempat menghayal bisa menjadi kekasih mu.'' Teriak Dira, lalu dia menangis terisak-isak.
Ida menghampiri Dira.
''Sudah, ayo kita masuk lagi. Lagian salah kita juga tadi, ngapain kita pakai ketawa ngakak saat membuka pintu, 'kan jadinya Tuan Tampan itu malah ilfil sama kita,'' ucap Ida seraya menggandeng tangan Dira. Dira masih tetap menangis, sungguh dia tidak menyangka akan kedatangan pria tampan ke rumahnya.
*
''Kemana lagi aku harus mencari Laras? Dia sepertinya sengaja ingin menghindari aku,'' ucap Edgar di dalam hati seraya mengemudi.
''Tapi... Kenapa aku malah begitu keukeh ingin mencari nya? Seharusnya aku senang dong karena dia tidak meminta pertanggungjawaban dari aku. Dengan begitu hubungan aku dan Kartika tidak akan terancam, nama baik aku tidak akan tercemar karena telah menghamili seorang pelayan,'' gumam Edgar.
''Argh, tapi semua yang terjadi tidak sesederhana itu. Bayangan wajah Laras selalu menari-nari di benakku, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.'' Edgar memukul setir mobil dengan tangan nya.
Dia memutuskan akan tetap mencari Laras sampai ketemu.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah berkenan mampir ke novel aku yang ini.