
''Menikahi cucu saya? Kamu serius anak muda?'' tanya Kakek Ridwan dengan kening berkerut.
''Iya, saya serius Kek,'' jawab Edgar sembari mengangguk.
''Kata Laras, kamu adalah majikannya tempat dia bekerja, memangnya apa yang membuat kamu ingin menikahi cucu saya? Apa yang kamu lihat dari dia? Apa kamu yakin? Saya tidak ingin kamu mempermainkan cucu saya. Pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral, niatkan hanya satu kali seumur hidup, Kakek selama ini sangat berharap Laras menemukan pendamping hidup yang tepat, yang bisa membuat dia bahagia. Bukan apa-apa, asal kamu tahu saja, sedari kecil Laras sudah menderita, kedua orangtuanya sudah lama tiada. Maka dari itu saya harap kamu benar-benar serius dengan niat baik mu itu,'' tutur Kakek Ridwan panjang lebar.
Edgar manggut-manggut seakan mengerti.
''Saya serius Kek,'' ujar Edgar.
''Bagaimana dengan kamu Laras? Apa kamu bersedia menikah dengan Edgar?'' tanya Kakek Ridwan menatap Laras.
"A-aku bersedia Kek,'' jawab Laras sedikit gugup.
Kakek Ridwan tersenyum simpul.
''Sepertinya kalian memang sudah saling mencintai. Kakek merestui hubungan kalian. Semoga saja rasa cinta di hati kalian akan tetap abadi hingga ajal menjemput. Karena dengan adanya cinta di hati, maka insyaAllah rumah tangga kalian akan berjalan dengan baik,'' Kakek Ridwan berkata dengan bijak. Ia merasa lega, karena di usia tuanya sudah ada pria yang datang ingin meminang cucu nya.
*
__ADS_1
''Apa tidak asam?''
''Tidak. Ini enak sekali. Rasanya pas. Terimakasih Tuan, aku suka,'' Laras begitu lahap menikmati rujaknya. Edgar tersenyum senang melihat pemandangan tersebut.
''Kamu yang suka apa anak yang ada di perut mu?'' goda Edgar, saat ini dia dan Laras sedang berada di dapur, mereka duduk di kursi, Edgar terus memperhatikan Laras menikmati rujak yang ia beli.
Wajah Laras bersemu mendengar perkataan Edgar.
''Tuan beneran serius ingin menikahi aku? Apa Tuan tidak malu? Bagaimana dengan Oma? Bagaimana dengan kekasih Tuan?'' Laras mencecar Edgar dengan beberapa pertanyaan yang beberapa waktu mengganjal hati serta pikirannya.
Tangan Edgar bergerak menyentuh tangan Laras, lalu ia menggenggam tangan putih mulus itu. Ia menatap Laras lekat.
''Aku takut Tuan,''
''Apa yang kamu takutkan?''
''Aku takut Oma tak merestui hubungan kita, dan aku juga takut Kartika memusuhi aku,''
''Kamu tenang saja, saya akan selalu ada untukmu. Saya akan melindungi kamu dan anak kita,''
__ADS_1
Laras mengangguk, ia berharap omongan Edgar bisa dipercaya.
Edgar dan Laras lalu berpelukan, berada diperlukan Edgar, membuat Laras merasa nyaman dan merasa dicintai.
Kakek Ridwan lagi beristirahat di kamar, beliau tidur siang setelah menghabiskan beberapa potong martabak yang di bawa Edgar.
Makanya Edgar dan Laras bebas berpelukan.
Tidak sampai di situ, berada di dekat Laras, selalu membuat Edgar ingin mencicipi bibir ranum Laras.
Edgar memegang dagu Laras, lalu.
Cup.
Mereka berciuman lagi, Laras semakin berani, bahkan tangannya sudah meraba dada bidang Edgar.
''Sayang, aku mencintai mu. Aku ingin segera menikahi mu, agar kita bisa sama-sama terus, agar aku bebas menjajah tubuh mu yang molek,'' bisik Edgar di telinga Laras. Laras merinding karena hembusan nafas Edgar yang menerpa daun telinga.
Di panggil dengan sebutan sayang, semakin membuat hati Laras berbunga-bunga.
__ADS_1
Bersambung.