
Malam hari tiba.
Di sebuah Restoran, Edgar dan Kartika ketemuan. Pertemuan yang terjadi atas permintaan Edgar, karena ia akan segera mengakhiri hubungan nya dan Kartika. Ia tak ingin menunda-nunda lagi, Laras pantas untuk diperjuangkan, karena wanita itu tengah mengandung anaknya.
Usai menyantap pesanannya, Kartika menggenggam kedua tangan Edgar yang ada di atas meja, lalu ia berkata.
''Beib, aku senang benget deh, akhirnya kamu ngajak aku ketemu malam ini. Kamu tau tidak, beberapa hari ini aku tuh sempat berpikir yang aneh-aneh tentang kamu, karena sikap kamu yang terkesan cuek sama aku, kamu jarang memberikan aku kabar, kamu juga tak menanyakan sedang apa aku. Aku tuh sempat berpikir kamu punya wanita lain dibelakang aku. Tapi malam ini, sepertinya semuanya masih sama. Kamu masih tetap kekasih ku yang baik, yang sabar dan yang mengerti akan semua mau aku. Makasih ya Sayangku. Maaf, atas semua praduga ku,'' Tutur Kartika panjang lebar, ia menatap Edgar lekat dengan senyum mengembang.
Edgar salah tingkah, ia yang awalnya begitu percaya diri ingin memutuskan Kartika, tiba-tiba saja rasa percaya dirinya berubah ragu saat mendengar perkataan Kartika.
Ia tahu, Kartika pasti akan sangat murka dan terluka jika ia mengatakan kata putus.
Namun, setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Edgar mendapatkan ide agar ia tak dianggap terlalu kejam jadi orang.
''Sayang, mau kah kamu menikah dengan ku dalam waktu dekat ini?'' tanya Edgar.
''Menikah?'' ulang Kartika.
''Iya, menikah. Aku bosan kalau harus terus berpacaran tidak jelas kayak sekarang. Aku pria normal, aku butuh menyalurkan hasrat ku sebagai seorang pria dan aku juga butuh keturunan,''
Kartika menghembus nafas panjang, ia menarik tangannya dari tangan Edgar.
''Pacaran tidak jelas? Hubungan kita jelas kok. Aku mencintai kamu dan kamu mencintai aku. Dan untuk soal hasrat mu itu, aku bersedia kamu sentuh tanpa kita harus menikah terlebih dahulu dan kalau soal keturunan, maaf, aku belum mau mengandung. Aku belum siap, karir ku lagi bagus bagus nya sekarang,'' tegas Kartika. Ternyata prinsipnya masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, ia tetap tidak mau menikah dan tidak mau memberikan Edgar keturunan.
Edgar tersenyum sinis, jadi sekarang semuanya sudah jelas. Tak ada gunanya ia mempertahankan Kartika. Cinta yang dimiliki Kartika untuk nya hanyalah bualan semata, toh, dia tetap mementingkan dirinya sendiri, tetap mementingkan karirnya.
''Kalau begitu ayo kita putus,'' kata Edgar tegas dan jelas.
''Putus? Kamu jangan becanda Beib,'' sontak netra Kartika melebar.
__ADS_1
''Aku tidak becanda. Aku serius. Aku sudah bosan terus berpacaran, aku butuh seorang istri dan keturunan diusia ku yang semakin matang. Dan kamu, kamu tetap tidak mau menikah dengan ku, jadi untuk apa aku masih terus mempertahankan kamu dari tahun ke tahun. Buang-buang waktu saja,'' Edgar berdiri dari duduknya, bersiap untuk meninggalkan Restoran. Ia rasa semua sudah jelas, kata putus darinya sudah terucap jelas, dan Kartika mendengar itu.
''Please, tunggu aku beberapa tahun lagi Beib. Bersabarlah hingga aku siap melepaskan karir yang telah mengangkat nama ku,'' bujuk Kartika dengan netra berkaca-kaca. Ia ikutan berdiri.
''Tidak. Malam ini semuanya sudah jelas. Antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kita sudah putus!'' tekan Edgar, lalu ia berjalan meninggalkan Kartika.
Kartika mengejar langkah Edgar dari belakang, air matanya sudah turun membasahi pipi.
Ia tak menyangka, Edgar berani memutuskan hubungan mereka. Ia yang selalu menganggap Edgar begitu mencintai nya, namun pada akhirnya Edgar menyerah juga.
Pengunjung yang ada di Restoran yang sama menatap mereka, menyaksikan apa yang terjadi pada artis ternama serta pengusaha muda tersebut.
Bahkan salah satu dari pengunjung Restoran sengaja mengambil vidio saat Kartika mengejar Edgar dengan tangis yang berderai. Ia berpikir, vidio itu pasti akan viral dan berguna.
Hingga sampai di parkiran, Kartika berkata lantang.
''Siapa wanita itu?'' tanya Kartika yang berhasil membuat Edgar berhenti. Edgar membalikkan tubuhnya menghadap Kartika.
Sungguh, Edgar tak ingin nama Laras mencuat, ia tak ingin Laras dianggap orang ketiga dan dianggap sebagai wanita yang menyebabkan putus nya hubungan Edgar dan Kartika.
Sebisa mungkin Edgar menyembunyikan Laras dari khalayak umum. Apalagi saat ini ia sadar, dirinya dan Kartika tengah di soroti oleh beberapa orang dengan menggunakan kamera ponsel.
''Kamu berbohong, aku kenal betul siapa kamu. Aku tahu, seorang wanita sudah berhasil merebut hati kamu dari aku. Katakan siapa wanita itu? Akan aku peringatkan dia, kalau kamu hanyalah milikku seorang!'' teriak Kartika tak tahu malu.
Edgar masuk ke mobil nya, ia tak ingin lagi mendengarkan ocehan Kartika yang terus menyudutkan nya.
Mesin mobil sudah menyala, lalu perlahan Edgar melajukan kendaraan roda empat nya meninggalkan Kartika yang masih terus meraung.
''Edgar, kamu jahat! Kamu tega!'' racau Kartika, lalu ia terduduk di parkiran Restoran. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa memedulikan orang-orang yang masih memvidiokan nya. Mungkin besok, berita putusnya Edgar dan Kartika akan menjadi trending topik.
__ADS_1
*
''Apa ini?''
''Oma lihat sendirikan, aku sudah memutuskan hubungan kami yang tak jelas itu,'' kata Edgar.
Tiba di rumah, sang oma langsung menodong nya dengan memperlihatkan layar ponsel yang tengah menyala memutar vidio. Vidio saat Kartika menangis karena di putuskan. Ternyata tidak perlu menunggu hari esok, beberapa menit saja, vidio tersebut sudah menyebar. Itulah hebatnya zaman sekarang, zaman teknologi semakin canggih. Apa-apa semakin gampang viral dan tersebar.
''Edgar, kasihan Kartika. Lihatlah, sepertinya ia begitu terluka karena kamu putuskan,''
''Aku sudah tak mencintai dia lagi Oma. Dan aku juga sudah bosan sama hubungan kami yang tidak ada kemajuan,''
''Bersabarlah dulu, Oma akan berusaha untuk membujuknya agar dia mau menikah dengan mu,''
''Oma, tidak usah. Oma tidak usah repot-repot membujuk wanita itu. Keputusan aku sudah bulat Oma,'' Edgar memegang kedua bahu Risma. Meyakinkan sang oma kalau dia baik-baik saja meski tanpa Kartika.
''Kamu benar sudah tak mencintai dia lagi? Secepat itukah rasa cinta mu yang begitu dalam pergi?''
''Benar Oma,''
''Apa benar sudah ada wanita lain dihatimu yang berhasil menggantikan posisi Kartika?'' tanya sang oma serius.
Edgar mengangguk.
''Benar Oma,'' jawab Edgar jujur.
Risma penasaran, wanita mana yang sudah berhasil membuat sang cucu berani memutuskan seorang Kartika yang cantik lagi memiliki karir bagus.
''Siapa dia? Apakah dia lebih cantik dari Kartika? Lebih pintar dari Kartika? Bawa dia kesini, Oma ingin berkenalan dengannya.''
__ADS_1
Bersambung.