Benih Tuan Muda

Benih Tuan Muda
Respon Risma


__ADS_3

Laras turun dari mobil, Edgar dengan cepat menggenggam tangan nya, agar Laras merasa lebih percaya diri untuk bertemu Oma Risma.


Dua pelayan yang menyaksikan mereka tadi dibuat kaget begitu tahu wanita beruntung yang bisa satu mobil dengan sang tuan muda adalah Larasati, mantan pelayan di rumah itu.


Saat melihat Edgar menggenggam tangan Laras, semakin terkaget-kaget lah mereka, mereka masih tidak percaya, Laras yang hanya seorang pelayan bisa memiliki nasib yang begitu beruntung karena bisa menjadi kekasih Edgar.


''Wah, ternyata wanita itu adalah Laras,''


''Dia semakin terlihat cantik saja ya, lihatlah, pakaian serta barang-barang yang dimilikinya sungguh indah,''


''Sejak kapan mereka memiliki hubungan spesial? Laras ternyata licik juga ya, bisa-bisanya dia merebut Tuan Muda dari Non Kartika,''


''Apa jangan-jangan Laras sudah menyerahkan keperawanannya kepada Tuan muda secara cuma-cuma? Lihatlah, perutnya sedikit membuncit, apa jangan-jangan dia hamil? Bukankah sebelum keluar dari rumah ini, dia lagi enggak enak badan, dia terus muntah-muntah, apa dia sengaja menyerahkan keperawanannya untuk menjerat Tuan Muda?''


''Wah perkataan mu ada benarnya juga.''


Dua orang pelayan itu terus membicarakan Laras, mereka mencari-cari celah kekurangan Laras karena mereka merasa iri melihat Laras.


Tidak hanya mereka yang kaget begitu mengetahui Laras lah yang menjadi alasan Edgar memutuskan Kartika.

__ADS_1


Semua pekerja di rumah megah itu merasa kaget, termasuk Retno, kepala pelayan yang selama ini sudah begitu baik kepada Laras.


*


Netra wanita paruh baya itu menyipit saat Edgar membawa seorang wanita muda kehadapan nya.


Saat ini mereka sudah berada di ruang keluarga.


Dengan intens Risma menatap Laras, dari ujung kaki hingga kepala.


Laras merasa begitu grogi dan salah tingkah, Apalagi sapaannya tak dibalas oleh Risma.


Sebenarnya ia juga merasa ketar-ketir, takut sang oma menentang hubungan nya dan Laras.


''Dia Laras, 'kan? Mantan pelayan di rumah ini?'' ucap Risma dangan nada datar. Ia masih duduk di sofa, sementara Laras dan Edgar masih berdiri di depannya.


Para pekerja mengintip di balik dinding. Mereka kepo, apa yang akan terjadi setelah ini.


''Iya, Oma. Dia Laras. Kekasih aku yang sekarang.''

__ADS_1


Edgar menjawab lancar.


Risma berdiri dari duduknya, ekpresi wajahnya yang tadinya datar kini berubah sinis dan memerah karena hatinya tak bisa menerima jawaban sang cucu.


''Apa? Oma tak salah dengar, 'kan? Bisa-bisanya kamu menggantikan Kartika hanya karena Laras. Sejak kapan kalian berhubungan? Oma pikir kamu akan membawa wanita yang jauh lebih berkelas kehadapan Oma!'' lantang Risma berucap.


Laras menunduk takut.


''Iya, Oma. Aku lebih memilih Laras dibanding Kartika. Karena sekarang Laras tengah mengandung anak aku, dialah wanita yang pantas menjadi pendamping aku,'' ujar Edgar tanpa takut. Bagaimanapun juga, dia memang harus jujur kepada sang oma.


Risma memegang dadanya, sungguh, perkataan Edgar barusan berhasil membuat dadanya terasa sesak disertai gemuruh hebat.


''Sejak kapan selera mu menjadi rendahan Edgar? Kamu itu seorang pengusaha sukses, sementara dia hanyalah wanita rendahan dan murahan! Pasti dia sengaja menjebak kamu agar dia berhasil mengandung anak mu. Semua itu ia lakukan demi untuk menjerat kamu kedalam perangkap nya. Dia ingin hidup enak tanpa harus capek-capek bekerja,'' ucap Risma geram.


Laras mendongak, netranya berkaca-kaca, setelah itu tangisnya pecah.


Ia tidak terima Risma menuduh nya yang bukan-bukan.


''Tidak Oma. Aku tidak pernah berniat apalagi merencanakan seperti apa yang telah oma tuduhkan. Aku tidak serendah itu Oma,'' serak Laras berucap.

__ADS_1


''Jangan panggil saya dengan sebutan Oma. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerima kamu menjadi istri dari cucu kesayangan saya. Tidak sudi saya. Yang pantas menjadi istri Edgar hanya Kartika seorang. Dia berpendidikan, memiliki karir yang bagus dan juga cantik. Hanya dia yang pantas!'' tekan Risma.


__ADS_2