
Siapa yang tidak kenal dengan Edgar Davidson, seorang CEO muda dan tampan yang dikagumi banyak orang. Pun kehidupan asmaranya tidak luput dari pantauan khalayak umum. Apalagi Kartika yang kerap kali membagikan momen kebersamaan antara dia dan Edgar, maka semakin tersebar lah kebenaran kalau seorang Edgar sudah memiliki kekasih nan cantik yang berprofesi sebagai seorang model.
Saat Edgar menggenggam tangan Laras memasuki klinik kandungan, para pekerja di klinik saling berbisik-bisik membicarakan Laras. Mereka mengatakan mungkin saja Laras adalah kekasih Edgar yang baru, atau kalau tidak wanita simpanan Edgar. Salah satu dari mereka menyambut kedatangan Edgar dan Laras dengan ramah, sebaliknya ada yang hanya bersikap ramah kepada Edgar saja, saat dia menatap Laras, ia memasang wajah sinis.
Laras semakin merasa rendah diri karena di tatap seperti itu.
Edgar sengaja memilih klinik yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai, hal itu dilakukan nya untuk menghindari dirinya dan Laras dari gosip-gosip miring, tapi sepertinya hampir seluruh penduduk Jakarta sudah mengenal siapa dirinya. Bisa di dengar olehnya, bisik-bisik para pekerja yang tengah membicarakan dirinya dan Laras.
Kalau tidak ingat dengan hukuman penjara, mungkin sudah Edgar bungkam mulut-mulut wanita penggosip itu dengan buku tangannya. Seharusnya mereka cukup bekerja dengan baik, tanpa menggosip para pelanggan yang datang ke klinik.
*
''Tuan,'' lirih Laras saat namanya di panggil untuk melakukan pemeriksaan.
''Tidak apa-apa Laras. Saya akan menemani kamu,'' balas Edgar dengan senyuman tipis. Senyuman yang tampak sangat menawan.
Sungguh, Laras merasa bahagia sekali, mendadak hati-hati berbunga-bunga, karena Ayah dari bayi yang dikandungnya mau bertanggungjawab, lelaki yang telah menghamili nya ternyata lelaki gentle.
"Berbaringlah Nyonya Edgar,'' ucap Dokter kandungan dengan senyuman ramah saat Edgar dan Laras sudah memasuki ruangan pemeriksaan.
Mendengar panggilan yang disematkan oleh dokter untuk dirinya, lagi-lagi Laras dibuat terkejut, ternyata Edgar telah melakukan pendaftaran dan nama Laras dia sebut dengan Nyonya Edgar. Laras semakin tersipu karena sikap manis yang berulangkali Edgar tunjukkan.
Kini, ketakutannya terhadap Edgar sudah berganti menjadi rasa kagum.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan, setiap tahapan yang dilakukan oleh sang dokter, Edgar dengan fokus mendengarkan dan memperhatikan.
Lagaknya sudah seperti suami Laras beneran.
''Nyonya Edgar, bisakah anda ke kamar mandi sebentar untuk melakukan tes urine dengan tes pack? Untuk memastikan kalau Nyonya memang lagi mengandung atau tidak, soalnya saat dilakukan USG tadi, janin nya masih belum kelihatan, mungkin masih terlalu kecil,'' jelas Sang Dokter.
''Bisa Dok,'' Laras mengangguk kecil.
Dia berdiri, mengambil tes pack dari tangan Dokter, lalu bersiap ke kamar mandi.
''Saya temani,'' tawar Edgar mengikuti Laras dari belakang.
''Tidak usah,'' tolak Laras malu. Wajahnya bersemu.
Alhasil Edgar hanya menunggu di depan pintu kamar mandi yang ada diruang periksa. Dia menunggu dengan tidak sabaran, dadanya berdebar-debar.
Sang dokter yang melihat Laras dan Edgar tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
''Kalian pengantin baru, ya? Apa kalian menikah karena di jodohkan? Kalian sungguh menggemaskan, masih malu-malu padahal sudah berhasil unboxing dan sudah tumbuh malaikat kecil juga di rahim istri mu,'' goda sang dokter kepada Edgar. Memang, dokter itu tidak mengenali siapa Edgar, karena waktunya memang habis dia gunakan untuk melayani ibu hamil dan melahirkan, tidak ada waktunya untuk nyinyir dan bergosip.
''Eh, ya seperti itulah Dok,'' jawab Edgar sembari menghembus nafas panjang.
Di dalam hati, dia bersyukur karena dokter tersebut tidak mengenali siapa dirinya.
Tidak lama setelah itu, pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Laras keluar, Edgar dengan sigap membimbing tubuh Laras. Sikapnya manis sekali, bagaimana Laras tidak klepek-klepek.
Duduk Laras di ujung kasur, lalu dia menyerahkan tes pack kepada Dokter.
Dokter memperhatikan tes peck sebentar, lalu sebuah senyuman terbit di bibir merahnya.
''Wah, hasilnya positif. Selamat, Nyonya dan Tuan muda. Jaga baik-baik ya kandungan mu nyonya cantik,'' kata sang dokter.
Edgar mengambil tes pack dari tangan dokter, sudut bibirnya tertarik keatas saat dia melihat sendiri garis dua tercetak jelas di alat tes urine.
Sungguh, Edgar tak menyangka, diusia ketiga puluh tahun nya, dia telah berhasil menanam benih di rahim seorang wanita.
''Kalian pasangan yang serasi. Tampan dan cantik. Saya jadi penasaran, pasti anak kalian akan sangat menggemaskan. Teruslah periksa kandungan mu ke sini, ya. Supaya saya bisa memeriksa perkembangannya. Ini ambillah obat dan vitamin nya, ini obat pereda mual, tidak akan berefek samping untuk kandungan mu,'' ucap Dokter yang bernama tag Reni dengan ramah.
''Baiklah Dokter, terimakasih banyak,'' Laras mengambil obat dan vitamin, setelah itu mereka pamit.
*
''Aku tidak ingin beli apa-apa Tuan,''
''Yakin?''
''Iya Tuan. Tuan, bagaimana dengan Oma Risma dan Kakek aku? Kakek pasti akan bertanya dari mana aku malam-malam begini. Dan saat perut ku sudah mulai membesar nanti beliau pasti akan banyak bertanya, aku bingung harus menjawab apa,'' Laras mengungkapkan kegelisahan yang tengah di rasa.
''Kamu tenang saja, semuanya biar saya yang urus,'' jawab Edgar santai. Tampak santai di luar, tapi pikirannya pun tengah memikirkan banyak cara agar kandungan Laras bisa tumbuh selayaknya tanpa adanya tekanan dari orang-orang sekitar.
''Tuan, setahu saya Tuan sudah memiliki kekasih. Saya tidak mau menjadi orang ketiga di dalam hubungan Tuan. Maafkan saya Tuan,'' ucap Laras lagi. Dia menunduk, wajahnya sendu. Rasa bersalah kepada kekasih Edgar kentara sekali dia rasa.
''Kamu jangan memikirkan apa-apa lagi Laras, biar saya yang urus semuanya. Tugas kamu cukup jaga benih saya yang ada dikandungan mu, biarkan benih itu tumbuh subur, makan dan beristirahat lah yang cukup kamu nya,'' jawab Edgar yang berhasil membuat Laras merasa tenang.
Setelah itu tak ada pembicaraan apa-apa lagi antara mereka, hingga mobil berhenti dihalaman Apartemen.
Dengan sigap Edgar membuka pintu mobil untuk Laras, setelah itu dia mengambil barang belanjaan Laras yang ada di bagasi, dia membawa nya.
''Cukup sampai di sini saja Tuan,'' Laras ingin mengambil alih barang belanjaan yang ada ditangan Edgar, tetapi Edgar malah melarangnya.
__ADS_1
''Biar saya saja yang bawa. Saya akan mengantarkan kamu hingga ke atas, saya akan berbicara sama Kakek mu kalau dia bertanya dari mana kamu,''
Semakin terkesima lah Laras dengan sikap gantelmem pria yang ada di hadapannya.
Lagi-lagi mereka berjalan bersisian menuju Apartemen yang di sewa Laras.
Saat sudah sampai di depan pintu, Laras membuka pintu dengan cardlock yang ada padanya.
''Silahkan masuk Tuan,''
Edgar memasuki Apartemen, lalu dia letakkan barang belanjaan Laras di atas meja.
Laras pamit untuk memanggil sang kakek, saat sudah tiba di kamar, dia melihat sang kakek sudah terlelap dengan dengkuran halus nya.
Laras kembali menemui Edgar.
''Tuan, Kakek aku sudah tidur.''
''Baiklah kalau begitu. Biarkan beliau tidur, kalau begitu saya permisi dulu,''
''Tuan, tidak minum dulu?''
''Tidak usah. Malah sudah larut. Kamu beristirahat lah. Saya akan segera pulang,''
''Baiklah. Hati-hati di jalan Tuan,'' ucap Laras. Tatapannya dan Edgar bertemu, saling memandang lekat beberapa saat, entah kenapa, melihat wajah cantik polos Laras, membuat jiwa kelelakian Edgar terusik, Laras sangat lah mempesona dengan penampilan apa adanya. Bibir ranumnya tanpa dibaluti lipstik membuat Edgar ingin mencicipi bibir tersebut.
Entah keberanian dari mana, wajah Edgar semakin bergerak mendekati wajah Laras, lalu bibir mereka bertemu. Edgar sudah berhasil menempelkan bibir nya dengan bibir Laras.
Pun Laras, dia hanya diam, saat bibir Edgar sudah menyentuh bibirnya, tubuhnya seakan terpaku ditempat. Netranya di pejamkan, dia hanya bisa pasrah saat Edgar ******* bibirnya dengan lembut.
Kini, tubuh keduanya sama-sama berdebar dan menghangat. Semakin dekat, dekat, lalu sama-sama mendekap.
Sepertinya perasaan cinta itu sudah tumbuh tanpa mereka sadari, apalagi semenjak kehadiran sang bayi, semakin kuatlah ikatan batin antara mereka.
Awalnya Edgar melakukan semua kebaikan kepada Laras karena dia tak ingin anak yang dilahirkan Laras kelak akan bernasib sama seperti nya, tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua.
Namun kini, sepertinya dia telah terjebak, dia telah jatuh cinta kepada sosok wanita sederhana seperti Laras.
Bersambung.
Yuk. Yamg yang baca tinggalkan jejak. Vote dan kasih hadiah nya juga, supaya aku semakin semangat melanjutkan nya.
__ADS_1