
''Kamu tuh ya, kenapa nggak tahu diri banget jadi orang. Kenapa kamu malah pulang Laras! Lihat Kakek, Kakek sudah semakin tua dan renta, jangan jadi beban keluarga lagi kamu! Dapat kerjaan yang bagus di rumah orang kaya kok malah memilih pulang. Dasar bodoh!'' Ida menunjuk-nunjuk wajah Laras dengan jarinya. Ia merasa amat geram melihat kepulangan Laras yang tiba-tiba.
Bukan sambutan hangat yang Laras dapatkan, yang ada hanya cacian.
Sungguh menyedihkan nasib anak yatim-piatu, tiada berayah tiada beribu.
Di ruang tengah yang tak terlalu luas, Laras hanya bisa menunduk sembari memilin ujung pakaian nya. Belum sempat dia duduk , tapi sang tante sudah memakinya habis-habisan.
Sementara sang kakek hanya menatap iba cucu nya itu, kalau dia membela Laras, sudah pasti Ida akan semakin geram, dan suaranya akan semakin melengking hingga terdengar ke rumah tetangga. Pria tua itu tidak ingin sampai terjadi hal demikian, alhasil ia hanya bisa diam sembari mengatur tarikan nafas agar tetap sabar. Selama Ida tak main tangan dengan Laras, ia rasa semua masih bisa di maafkan.
"Maaf, Tan. Tapi aku lagi enggak enak badan. Sedari pagi aku hanya berbaring di kamar, aku tidak melakukan pekerjaan apapun di sana, aku merasa sungkan sama pelayan lain dan majikan aku, Tan. Makanya aku memilih pulang saja.'' Lirih Laras berucap. Takut-takut dia menatap sang tante, sedari kecil, sang tante sering memarahi nya, sehingga menimbulkan rasa trauma tersendiri di dirinya.
''Oh... Jadi kamu pikir kalau kamu udah di sini kamu bisa nyantai nyantai gitu? Kamu berharap Tante yang akan mengurus kamu? Jangan mimpi, Laras! Tante udah enggak mau lagi mengurus kamu, Tante udah capek, saat kamu masih kecil, Tante yang urus, lah... Saat udah gede begini masih tetap minta di urus, keterlaluan sekali kamu! Di kasih hati malah minta jantung!'' berang Ida dengan wajah memerah.
''Iya, dasar benalu kamu Laras. Merepotkan Kakek dan Ibu ku saja. Kenapa kamu tidak ikut orangtua mu ke kuburan saja, menyebalkan!'' Timpal Dira, anak nya Ida. Usianya lebih tua satu tahun dari Laras. Dia sekarang sedang mengeyam pendidikan di sebuah universitas.
''Dira, jaga bicara mu!'' seru sang kakek. Akhirnya suaranya kelepasan juga. Sungguh, dia tidak tega melihat Laras di keroyok oleh dua orang yang tak punya hati.
''Kakek sedari dulu selalu saja begitu. Selalu membela Laras. Padahal aku 'kan kasihan sama Ibu dan Kakek, aku tak ingin kalian kerepotan kerena kehadiran Laras di rumah ini.'' Ucap Dira sedih, wajahnya sendu. Lalu dia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju kamar nya. Dia ngambek, itulah kebiasaannya.
''Kamu lihat kan Laras. Kamu itu memang wanita pembawa sial. Baru beberapa detik kamu pulang, sudah bikin keributan di rumah ini. Sebelumnya kami adem ayem, tapi .... Argh. Sudahlah.'' Ida ikut berlalu dari hadapan Laras, ia pun masuk ke kamar.
Dengan langkah kaki gontai, sang kakek menghampiri Laras, lalu membimbing tubuh Laras menuju kamar belakang, kamar yang paling kecil dan paling jelek di rumah itu.
Saat sudah tiba di kamar, mereka duduk bersisian di kasur lantai yang tipis.
''Kek, maafkan Laras, ya.'' Laras menengadah sejenak, mencegah air matanya agar tak tumpah.
__ADS_1
''Kamu tidak melakukan kesalahan apapun Laras. Keputusan kamu untuk pulang sudah benar, Kakek sudah merindukan kamu. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu kamu pergi meninggalkan rumah ini, dan Kakek bersyukur masih bisa melihat wajah ayu mu di sisa-sisa usia Kakek. Jangan bersedih lagi, cantik mu jadi berkurang.'' Sang Kakek tersenyum simpul menatap Laras. Sedari dulu Pria tua itu memang selalu berusaha untuk membuat Laras tersenyum, karena dia tahu, hanya dia yang benar-benar tulus menyayangi cucunya itu.
''Bagaimana keadaan Kakek? Apakah Kakek masih sakit?'' akhirnya Laras pun memaksa senyum. Meskipun banyak beban yang menggangu pikirannya saat ini, dia berusaha terlihat ceria di depan sang kakek.
''Kakek sehat sehat saja. Hanya batuk-batuk kecil, mungkin karena faktor usia.''
''Lho, satu bulan yang lalu kata Tante, Kakek sakit sakitan. Apa Tante udah membawa Kakek berobat?''
''Tidak, Laras. Tante tidak pernah membawa Kakek berobat. Dia hanya membelikan obat-obatan yang di jual di toko-toko. Tante mu itu menipu mu. Dia hanya ingin memeras hasil kerja keras mu. Kasihan sekali kamu, kamu sama sekali tidak dapat menabung. Tante kamu itu benar-benar sudah keterlaluan. Padahal Kakek sudah berkali-kali menasehatinya agar jangan terlalu kejam kepada mu, tapi nasehat Kakek sama sekali tidak dia dengar.''
''Kek, kita pergi aja ya, dari rumah ini. Kakek ikut aku. Mau, ya.'' Laras menatap lekat wajah penuh kerutan yang ada dihadapannya.
''Kita mau pergi ke mana, Laras? Kita tidak punya uang. Kakek tidak mau kita jadi gelandangan. Uang hasil penjualan tanah Kakek udah habis di pakai oleh Tante Ida, dia gunakan uang itu untuk membayar biaya kuliah Dira, sama untuk membeli motor serta membeli semua kebutuhan Dira. Habis semuanya. Hak kamu pun dia rampas. Maafkan Kakek. Karena sudah tua, sehingga Tante Ida tak merasa takut lagi sama Kakek.''
''Sudah, tidak apa-apa Kek. Kita jangan bersedih lagi. Bukankah itu yang Kakek katakan tadi. Pokoknya Kakek tenang aja. Kita tidak akan menjadi gelandangan. Aku jamin itu. Kalau kita pergi dari rumah ini, aku yakin, kedepannya hidup kita akan jauh lebih tenang, nyaman dan aman. Aku punya uang, Kek.''
''Nanti saat kita sudah mendapatkan tempat tinggal baru, aku akan menceritakan semuanya, Kek. Dari mana aku bisa dapat uang untuk pegangan. Kakek tenang aja, uang yang ada padaku halal kok, aku enggak nyuri dan nggak ngepet juga.''
''Iya, iya. Baiklah, Kakek akan ikut kamu. Di usia Kakek yang sudah renta ini, Kakek memang perlu suasana yang nyaman. Di rumah ini sumpek, di tambah lagi mulut Tante mu yang selalu nyerocos setiap harinya, bikin kuping sakit saja.''
Dua manusia berbeda usia tersebut lalu tertawa kecil. Menghibur diri mereka sendiri.
Setelah itu Kakek Ridwan dan Laras mulai mengemas barang-barang yang di rasa cukup diperlukan ke dalam tas.
Mereka tidak akan membuang-buang waktu lagi, secepat mungkin mereka akan meninggalkan rumah.
Sore menjelang magrib, Laras keluar terlebih dahulu, dia menunggu sang kakek. Berdiri dia di halaman rumah sembari menjinjing tas.
__ADS_1
Laras memesan taksi online untuk membawa mereka, untung lah di dalam tasnya sudah terdapat uang sebanyak lima juta rupiah, sengaja dia tarik sebelum dia sampai di rumah tadi. Rencananya uang itu akan dia berikan kepada Ida separo, tapi akhirnya ia urung memberikan.
Dan dia juga sudah membeli obat serta vitamin untuk mencegah rasa mualnya. Sehingga kini keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya.
Di dalam rumah, Kakek Ridwan pamit kepada Ida dan Dira.
''Kalau Ayah berani meninggalkan rumah ini, maka rumah ini bukan milik Ayah lagi. Rumah ini sudah menjadi milikku.'' Ancam Ida dengan tidak sopannya.
''Terserah kamu saja Ida. Ayah sudah capek melayani sikap keras kepala mu, sikap angkuh mu, sikap semena-mena mu itu. Capek Ayah. Di sisa sisa usia Ayah, Ayah hanya ingin hidup tenang bersama Laras.''
''Ya sudah, sana Ayah pergi bersama cucu kesayangan Ayah itu. Kalau ada apa-apa, jangan datang ke sini.''
''Hati-hati, Kek. Jangan nyesel ya, kalau nanti Kakek hanya akan di manfaatkan oleh Laras, nanti Kakek malah di jadikan pengemis di jalanan. Jadi, berpikirlah terlebih dahulu sebelum pergi dari rumah ini.'' Ucap Dira.
''Laras itu gadis yang baik. Kakek yakin dia akan memperlakukan Kakek dengan baik. Assalamualaikum.''
Kakek Ridwan berbalik menghadap pintu, dia berjalan sedikit gemetar. Tangan kanannya memegang dada, lama-lama berhadapan dengan Dira dan Ida membuat jantungnya bermasalah.
*
Di tempat berbeda, Edgar tengah bersiap-siap. Dia sudah mendapatkan alamat di mana Laras tinggal.
Saat dia sudah duduk di kemudi dan hendak menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Wajah Kartika terpampang jelas di layar.
''Sayang, jemput aku. Aku lagi di studio nih,'' ujar Kartika manja.
Edgar tak langsung menyahut, dia tengah berpikir, apakah akan menjemput Kartika atau menemui Laras. Dia dilanda kebingungan sekarang.
__ADS_1
Bersambung.